Pupuk Berbahan Alam: Solusi Tingkatkan Kuantitas dan Kualitas Hasil Panen di Sleman

Sleman — Keluhan petani mengenai tingginya biaya operasional pertanian yang tidak sebanding dengan hasil panen menjadi perhatian serius bagi banyak pihak. Guna mematahkan anggapan bahwa bertani itu susah dan mahal, Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam) Moyudan memperkenalkan teknologi Biosaka dengan menghadirkan penemunya langsung, Muhammad Ansar, yang juga merupakan pendiri Teknologi Bio-SAKA Petani Muda Indonesia.
Acara edukasi ini digelar pada Minggu (18/1/2026) bertempat di Eduwisata Kebun Buah Bendosari, Sumbersari, Moyudan, Sleman. Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 80 peserta yang tidak hanya berasal dari wilayah Moyudan, tetapi juga dari berbagai kapanewon lain di Kabupaten Sleman, bahkan hingga peserta dari Kota Yogyakarta. Para peserta hadir dengan berbagai latar belakang profesi, mulai dari pegawai, petani, hingga kelompok pengelola sampah dan penggiat lingkungan.
Ketua Jatam Moyudan, Ihsan Efendy, dalam sambutannya menekankan bahwa peralihan ke pertanian organik merupakan kebutuhan mendesak, tidak hanya untuk ekonomi petani tetapi juga untuk kesehatan konsumen. Ia menyoroti banyaknya usia produktif yang terserang penyakit seperti diabetes, asam urat, dan kolesterol akibat pola makan yang didominasi bahan pangan mengandung residu kimia. Menurutnya, penggunaan pupuk berbahan alam adalah langkah awal untuk memutus rantai penyakit tersebut.
“Berdasarkan pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar beberapa waktu lalu, ditemukan fakta memprihatinkan bahwa dari 50 peserta usia produktif, 19 orang di antaranya sudah terkena diabetes. Hal ini salah satunya disebabkan oleh pola makan berbahan kimia. Oleh karena itu, Jatam Moyudan menghadirkan Muhammad Ansar untuk memperkenalkan teknik pembuatan pupuk dari alam agar kualitas pangan kita lebih sehat dan biaya pertanian lebih terjangkau bagi petani,” ujar Ihsan Efendy.
Dalam pemaparannya, Muhammad Ansar menunjukkan keunggulan hasil temuannya yang mampu mengatasi polusi udara dan bau menyengat dari limbah organik secara instan. Ia membuktikannya di hadapan peserta dengan menyemprotkan cairan hasil fermentasi alam ke bangkai ikan yang mengeluarkan bau menyengat hingga memenuhi ruangan. Dalam waktu singkat, bau tersebut menghilang. Ansar menjelaskan bahwa bahan tersebut sangat efektif untuk disemprotkan pada kotoran hewan maupun tumpukan sampah sebagai solusi ramah lingkungan.
“Bahan ini bisa disemprotkan pada kotoran hewan, tumpukan sampah, dan tempat yang berbau menyengat, insya Allah bau akan segera hilang. Kami ingin menunjukkan bahwa alam menyediakan solusi atas masalah limbah dan lingkungan jika kita tahu cara mengelolanya,” ungkap Muhammad Ansar di depan para peserta.
Selain itu, Ansar juga membedah cara pembuatan pupuk organik dari rumput yang selama ini dianggap sebagai tanaman pengganggu. Ia meluruskan anggapan bahwa pupuk organik berkualitas hanya berasal dari kotoran hewan. Secara logika, rumput adalah sumber energi bagi hewan, sehingga rumput itu sendiri sebenarnya mengandung unsur hara dan nitrogen yang sangat tinggi yang dibutuhkan oleh tanaman. Ia menambahkan bahwa proses pembuatannya cukup sederhana dengan merendam rumput di dalam air tanpa perlu tambahan gula.
“Coba kita pikir secara logika, hewan memakan rumput kemudian kotorannya dibuang, maka sebenarnya rumput adalah sumber utamanya. Rumput mengandung unsur hara, nitrogen, dan unsur gula alami. Manfaat Biosaka ini tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman, tetapi juga meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Dari sisi kesehatan, teknologi ini juga berkontribusi pada perbaikan kualitas udara, air, dan tanah di lingkungan kita,” pungkas Muhammad Ansar. (Giek/KIM Moyudan)



