Ki Aldi Gedrug, Dalang Muda Seyegan Penjaga Tradisi Wayang di Era Modern

Sleman — Kapanewon Seyegan memiliki sosok muda potensial yang konsisten menjaga api tradisi melalui seni pedalangan. Aldi Rizqi Abdiel Muhammad, atau yang akrab disapa Ki Aldi Gedrug, menjadi potret nyata generasi milenial yang tidak canggung bergelut dengan wayang kulit. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, pemuda ini telah membuktikan bahwa kecintaan pada budaya lokal bisa berjalan beriringan dengan latar belakang pendidikan formal yang tinggi.
Ketertarikan Aldi pada dunia wayang telah tumbuh sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Berawal dari kegemarannya mengoleksi boneka wayang, rasa penasaran itu berkembang menjadi keinginan kuat untuk memainkan karakter-karakter tersebut di atas panggung. Perjalanan Aldi sebagai dalang pun dimulai secara profesional saat ia berusia 14 tahun. Kala itu, ia dipercaya menjadi dalang pembuka dalam pagelaran reuni alumni SMP Negeri 1 Mlati dengan membawakan lakon Aji Narontoko secara memukau selama 30 menit.
Demi memperdalam kemampuannya, Aldi tidak hanya belajar secara otodidak. Ia berguru langsung kepada para dalang senior untuk mendalami pakem cerita serta karakter tokoh wayang. Keseriusannya juga tercermin dari jalur pendidikan yang ia tempuh, mulai dari SMKI Bugisan Yogyakarta hingga menyelesaikan jenjang sarjana dan magister seni karawitan di Universitas Negeri Yogyakarta. Saat ini, ia tengah menempuh program doktoral pada jurusan Bahasa, Sastra, dan Budaya di universitas yang sama.
Saat ditemui di kediamannya pada Sabtu (17/1/2026), Aldi mengungkapkan pandangannya mengenai tantangan regenerasi seniman tradisional saat ini. Menurutnya, ketertarikan generasi muda terhadap wayang sebenarnya cukup besar, namun sering kali berhenti pada tahap rasa ingin tahu saja. Ia melihat adanya kesenjangan antara penikmat seni dan pelaku seni yang bersedia terjun langsung menjaga keberlangsungan budaya.
“Sebenarnya banyak sekali generasi milenial yang menyukai wayang, tetapi kebanyakan masih sebatas ingin tahu atau senang mengoleksi boneka wayang saja. Belum banyak yang sampai pada tahap menjadi pelaku seni untuk melestarikan budaya secara aktif. Hal ini diperparah dengan minimnya ruang berkarya. Sampai sekarang belum ada tempat yang benar-benar representatif sebagai laboratorium seni bagi generasi muda untuk bebas berkarya dan bereksplorasi,” ujar Aldi.
Sebagai langkah nyata mengatasi kegelisahan tersebut, Aldi mendirikan sanggar Laras Ayodya di rumahnya yang berlokasi di Padukuhan Jamblangan, Margomulyo. Sanggar ini ia proyeksikan menjadi wadah latihan seni bagi warga sekitar, terutama anak-anak dan remaja. Saat ini, latihan rutin karawitan di sanggarnya telah mulai diikuti oleh siswa-siswa SD Negeri Jamblangan, meski kegiatan latihan lainnya masih bersifat situasional menjelang pementasan tertentu.
Dalam setiap penampilannya, Ki Aldi Gedrug juga melakukan terobosan agar wayang tetap relevan dengan selera zaman tanpa merusak nilai-nilai dasarnya. Ia kerap mengusung konsep pakeliran padat, sebuah format pementasan yang menawarkan durasi lebih singkat namun tetap padat makna. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menarik minat penonton dari berbagai usia yang mungkin memiliki keterbatasan waktu namun tetap ingin menikmati esensi cerita wayang.
“Saya mencoba mengemas pagelaran wayang dengan konsep pakeliran padat. Kita tetap berpegang teguh pada pakem dan lakon yang ada, tetapi durasinya dibuat lebih singkat dan alur ceritanya disesuaikan agar bisa dinikmati semua usia, termasuk anak muda. Kita harus beradaptasi tanpa harus kehilangan jati diri tradisi itu sendiri,” jelas Aldi mengenai strategi pementasannya.
Kiprah Ki Aldi Gedrug kini telah merambah ke berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta hingga merambah ke Kota Semarang, Jawa Tengah. Dukungan dari organisasi seperti Persatuan Pedalangan Indonesia sangat ia harapkan untuk dapat menciptakan ekosistem seni yang lebih produktif. Melalui dedikasinya, Aldi berharap seni wayang tidak hanya menjadi memori masa lalu, tetapi tetap menjadi identitas bangsa yang terus hidup dan berkembang di tangan generasi mendatang. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



