Sendang Keramat Bagusan, Jejak Spiritual Kyai Raden Bagus Khasantuko di Senuko Godean

Sleman — Sendang Keramat Bagusan yang berada di Dusun Senuko, Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Sleman, hingga kini masih menjadi tujuan ziarah spiritual masyarakat dari berbagai daerah. Sendang ini merupakan petilasan yang diyakini sebagai tempat bersuci Kyai Raden Bagus Khasantuko, seorang aulia besar penyebar agama Islam sekaligus cikal bakal berdirinya Dusun Senuko.

Menurut kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat, berendam di Sendang Bagusan dipercaya dapat menjadi wasilah terkabulnya hajat. Meski demikian, masyarakat setempat memaknai ritual tersebut sebagai bentuk ikhtiar. Sementara hasil akhirnya tetap diserahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Setiap harinya, Sendang Bagusan ramai dikunjungi peziarah, baik dari wilayah Godean maupun luar daerah. Tak sedikit peziarah yang datang dari Gunungkidul, Magelang, Semarang, bahkan dari Jawa Timur dan daerah lainnya.

Anggapan mengenai kekeramatan Sendang Bagusan tidak dapat dilepaskan dari sosok Kyai Raden Bagus Khasantuko, yang makamnya berada tepat di sebelah utara sendang, pada lokasi yang lebih tinggi. Sosoknya dikenal luas sebagai aulia yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

“Kyai Khasantuko merupakan salah satu putra Sunan Amangkurat III, Raja Mataram Islam yang berkedudukan di Surakarta Hadiningrat,” jelas Supardiana Saputra, yang akrab disapa Mbah Bhe, juru kunci sekaligus Ketua Paguyuban Pengelola Makam Kyai Raden Bagus Khasantuko dan Sendang Bagusan, Rabu (14/1/2026).

Mbah Bhe menuturkan, Kyai Raden Bagus Khasantuko pada masa mudanya bernama Raden Bagus Kemuning. Namun akibat konflik internal kerajaan, Raden Bagus Kemuning meninggalkan kehidupan istana dan memilih mengembara, hidup membaur bersama masyarakat kecil.

Dalam pengembaraannya, Raden Bagus Kemuning berguru kepada para ulama dan kyai di berbagai daerah untuk memperdalam ilmu agama Islam, sekaligus berdakwah menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat.

Ia juga menyampaikan bahwa Raden Bagus Kemuning memiliki garis keturunan ulama besar di Jawa Tengah. Salah satu putranya, KH Abdurrauf, merupakan pendiri Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Gunung Pring, Magelang, yang kemudian diteruskan oleh putranya KH Abdurrahman dan melahirkan aulia besar Kyai Dalhar Kedungpring Magelang.

“Jika dirunut, Kyai Raden Bagus Khasantuko atau Raden Bagus Kemuning merupakan eyang buyut Kyai Dalhar Watucongol Gunung Pring Magelang,” tutur Mbah Bhe, yang juga merupakan warga asli Dusun Senuko.

Keberadaan makam Kyai Raden Bagus Khasantuko dan Sendang Bagusan memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar. Banyaknya peziarah yang datang turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat Dusun Senuko. Aktivitas ziarah berlangsung hampir setiap hari, dengan jumlah peziarah meningkat pada malam Selasa Kliwon, malam Jumat, dan akhir pekan.

“Peziarah datang terutama untuk berziarah dan mendoakan Kyai Raden Bagus Khasantuko. Pada bulan Rajab dan Ruwah menjelang Ramadan, jumlah peziarah meningkat drastis. Setiap hari bisa datang puluhan bus dari berbagai daerah,” ungkap Mbah Bhe menutup penjelasannya.

Sendang Keramat Bagusan tidak hanya menjadi ruang spiritual dan ziarah. Tetapi juga menjadi bagian penting dari sejarah, budaya, serta kehidupan sosial masyarakat Senuko yang terus lestari hingga kini. (Kusnadi KIM Berbah)




Peringati Hari Desa Nasional, Pemkal Sumbersari Gelar Jalan Sehat dan Kerja Bakti

Sleman – Dalam rangka memperingati Hari Desa Nasional, Pemerintah Kalurahan Sumbersari menggelar jalan sehat dan kerja bakti, pada Kamis (15/1/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Pamong Kalurahan Sumbersari dan Babinkamtibmas Sumbersari, Aiptu Endri Destana. Dengan rintikan gerimis peserta antusias berjalan mengelilingi sebagian wilayah Sumbersari. Usai jalan sehat, acara dilanjutkan dengan kerja bakti membersihkan lingkungan kantor kalurahan.

Lurah Sumbersari, Sukadi dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa Hari Desa Nasional merupakan peringatan peran penting desa dalam pembangunan nasional.

“Untuk itu kita sebagai pelayan masyarakat harus bisa mampu meningkatkan kapasitas sebagai Pamong. Mari kita buktikan dan tunjukkan peran kita dalam pembangunan, dengan budaya kerja yang baik,” tutur Sukadi.

Ia juga mengungkapkan bahwa peringatan HDN tahun ini mengambil tema “Bangun Desa, Bangun Indonesia, Desa Terdepan untuk Indonesia”. 

“Tema tersebut merupakan cambuk bagi kita, bahwa desa merupakan garda terdepan keberhasilan pembangunan nasional. Adapun tagline HDN adalah Bangun Desa untuk Indonesia Emas 2045,” tandasnya.

Sukadi menjelaskan yang menjadi tujuan HDN adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan kontribusi desa dalam pembangunan ekonomi, sosial dan budaya.

“Hal tersebut diperlukan kerja keras dan kolaborasi dari pemkal, lembaga, dan seluruh warga,” tandasnya.

“Marilah HDN ini kita jadikan momentum untuk memperbaiki komitmen pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan desa yang mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

(Giek / KIM Moyudan)




MBG Buka Peluang Kerja dan Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Sleman – Pemerintah Kapanewon Moyudan menggelar rapat koordinasi Makan Bergizi Gratis (MBG), di Ruang Rapat Abhinaya Kapanewon Moyudan, pada Rabu (14/1/2026).

Rakor di pimpin oleh Panewu Anom Moyudan, Mahmudah Arfiyati dan dihadiri Forum Pimpinan Kapanewon (Polsek, Danramil) Moyudan. Hadir pula perwakilan Puskesmas Moyudan, Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Moyudan, koordinator UMKM, KWT, BUMKal dari empat kalurahan di Moyudan, dan mitra SPPG.

Panewu Anom Moyudan, Mahmudah Arfiyati, dalam arahannya menyampaikan bahwa MBG merupakan program pemerintah sebagai upaya pemenuhan gizi keluarga. Program ini merupakan langkah prefentif dalam penanggulangan stunting, dengan sasaran utamanya ialah ibu hamil, ibu menyusui, anak sekolah dan balita.

Selanjutnya Mahmudah mengajak kepada seluruh pihak terkait untuk bersinergi dan berkolaborasi untuk mendukung program tersebut.

“Bentuk sinergi dan kolaborasi yang dapat kita bangun adalah pemerintah dan unsur terkait mengawasi dan memberikan perlindungan hukum,” ungkapnya.

“Sinergitas yang lain SPPG sebagai penyedia makan Puskesmas dan PLKB mendata bumil, busui, dan balita sebagai pemerlu MBG. Selain itu kami harap KWT dan BUMKal bisa menjadi penyedia bahan mskanan,” sambung Mahmudah.

Ia pun berharap dengan adanya MBG, masyarakat Moyudan dapat menikmati berbagai dampak positif, seperti terserapnya tenaga kerja lokal, mendukung perceptan ekonomi, dan pemanfaatan lahan lokal.

“Untuk itu marilah kita dukung bersama, semoga tujuan mulia yakni terwujudnya generasi emas 2045 bisa terwujud,” pungkasnya.

(Giek/KIM Moyudan)




Polresta Sleman Perkuat Persatuan Pemuda Lintas Iman di Ngaglik

Sleman – Dalam menjaga persatuan dan memperkokoh nilai-nilai kebangsaan, Polresta Sleman melalui Kapolsek Ngaglik menginisiasi rapat koordinasi lintas elemen kepemudaan dan tokoh masyarakat di wilayah Kapanewon Ngaglik. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (14/1/2026) di Rumah Makan Kopi Gajah, Sinduharjo, Ngaglik.

Kapolsek Ngaglik, AKP Yuliyanto menegaskan bahwa peran pemuda sangat strategis dalam menjaga keutuhan bangsa, terutama di tengah keberagaman agama, budaya, dan latar belakang sosial. Melalui pertemuan ini, Polsek Ngaglik mendorong terbentuknya wadah kepemudaan lintas agama yang inklusif, solid, dan berlandaskan semangat kebersamaan demi Indonesia yang rukun dan berdaulat.

“Kami mendorong terbentuknya wadah kepemudaan lintas agama yang inklusif, solid, dan berlandaskan semangat kebersamaan demi Indonesia yang rukun dan berdaulat,” ujarnya.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan remaja Gereja Katolik, remaja Gereja Kristen, Pemuda Ansor, Dukuh Minomartani, tokoh masyarakat, serta unsur Polsek Ngaglik. Seluruh peserta sepakat bahwa keberagaman bukanlah perbedaan yang memecah belah, melainkan kekuatan besar bangsa yang harus dirawat dengan toleransi, dialog, dan gotong royong.

Dalam arahannya, AKP Yuliyanto menyampaikan bahwa organisasi kepemudaan lintas iman diharapkan mampu menjadi ruang kolaborasi positif bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial, kemanusiaan, dan kebangsaan.

“Pemuda kami diharapkan menjadi agen perdamaian, penjaga kondusivitas wilayah, serta perekat persatuan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan ini juga menjadi sarana silaturahmi dan dialog terbuka antar pemuda lintas iman guna membangun saling pengertian, rasa saling menghormati, serta komitmen bersama dalam menjaga kerukunan dan stabilitas keamanan wilayah.

AKP Yuliyanto pun menyatakan kesiapannya untuk mendukung dan memfasilitasi setiap kegiatan kepemudaan yang positif, produktif, dan berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara.

Melalui kegiatan ini, Polresta Sleman menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat sebagai pengayom, pelindung, dan perekat persatuan, demi terwujudnya Kapanewon Ngaglik yang aman, rukun, harmonis, serta berkontribusi nyata bagi Indonesia yang kuat dan bermartabat. (ESK – KIM DSN)




Tukimun dan Agensia Hayati : Bertani dengan Menjaga Keseimbangan Alam

Sleman – Berbicara mengenai agensia hayati tidak bisa dilepaskan dari sosok Tukimun, petani unggulan asal Padukuhan Jlegongan, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Di tengah arus pertanian modern yang masih bergantung pada pestisida sintetis, Tukimun memilih jalan berbeda yaitu bertani dengan menjaga keseimbangan alam.

Agensia hayati sendiri merupakan bahan yang berasal dari alam dan dimanfaatkan untuk membantu budidaya pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan. Tukimun mulai mengenal konsep ini sejak tahun 2005. Ketertarikannya muncul dari kegelisahan melihat dampak jangka panjang penggunaan pestisida kimia.

“Saya mulai mengenal agensia hayati sejak tahun 2005, tapi baru benar-benar mengembangkannya secara serius sekitar tahun 2008. Waktu itu saya ingin mencari cara bertani yang tidak merusak lingkungan,” ujar Tukimun yang ditemui di rumahnya pada Rabu (14/1/2026).

Sejak 2008, ia mulai mengembangkan agensia hayati dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Akar bambu, akar tumbuhan putri malu, alang-alang, rumput gajah, hingga berbagai tumbuhan liar lainnya menjadi bahan utama.

“Semua bahan saya ambil dari alam sekitar. Alam sebenarnya sudah menyediakan solusi, tinggal bagaimana kita mau belajar dan memanfaatkannya dengan benar,” katanya.

Dalam proses pengembangannya, Tukimun mendapat pendampingan dari Balai Proteksi Tanaman Pertanian (BPTP) yang berkantor di Pandak, Bantul. Selain pendampingan teknis, BPTP juga memberikan starter atau isolat sebagai bahan awal pengembangan agensia hayati. Keunggulan agensia hayati ini terletak pada sifatnya yang ramah lingkungan, mampu menekan penggunaan pestisida, serta menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat dan aman dikonsumsi.

Namun, hasil tersebut tidak diraih secara instan. Tukimun membutuhkan waktu sekitar empat tahun hingga sistem produksi dan pemanfaatan agensia hayati benar-benar stabil.

“Tidak instan. Saya butuh sekitar empat tahun sampai hasilnya stabil. Banyak yang meragukan, tapi saya yakin kalau ekosistem diperbaiki, tanaman akan lebih sehat,” ungkapnya.

Tantangan terbesar justru datang dari aspek sosial. Agensia hayati belum populer di kalangan petani senior yang sudah terbiasa dengan pestisida kimia. Sementara itu, generasi muda atau petani milenial cenderung enggan terjun ke dunia pertanian.

“Petani yang sudah tua sulit menerima hal baru, sementara anak muda banyak yang tidak mau jadi petani. Akhirnya ya saya jalani sendiri dulu,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat Tukimun menjadi satu-satunya petani di wilayahnya yang secara konsisten mengembangkan dan memproduksi agensia hayati. Seiring berjalannya waktu, rumah Tukimun di Jlegongan pun berkembang menjadi rumah produksi agensia hayati sekaligus pusat pembelajaran.

“Rumah ini saya buka untuk siapa saja yang mau belajar. Kalau ilmunya dibagi, manfaatnya justru akan lebih luas,” kata Tukimun.

Rumah produksi ini tidak hanya menjadi tempat pembuatan agensia hayati, tetapi juga difungsikan sebagai tempat pelatihan, studi tiru, dan rujukan penanganan hama berbasis bahan alami. Kerja sama dengan perguruan tinggi pun terjalin, salah satunya dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mahasiswa semester IV Jurusan Agroteknologi secara rutin melakukan field trip untuk mempelajari pertanian ramah lingkungan dan teknik perkembangbiakan jamur.

Di bawah bendera CV Puspita Jaya Makmur, Tukimun mengembangkan berbagai produk unggulan agensia hayati, antara lain Beauveria bassiana, Trichoderma, serta pelatihan pembuatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan Corynebacterium sp.

Ketekunan dan konsistensi Tukimun membuahkan pengakuan luas. Ia tercatat sebagai Petani Berprestasi Kabupaten Sleman tahun 2014, Petani Berprestasi tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2015, Penyuluh Pertanian Swadaya Teladan Kabupaten Sleman tahun 2016, Penyuluh Pertanian Swadaya Teladan tingkat DIY tahun 2017, dan Juara I Kategori Perintis Lingkungan dalam Lomba Lingkungan Hidup tingkat Kabupaten tahun 2018 serta masih banyak lagi prestasi yang dihasilkan.

Bagi Tukimun, bertani bukan semata mengejar hasil produksi, melainkan upaya memperbaiki lingkungan dan menjaga ekosistem.

“Bertani itu bukan melawan alam, tapi menyeimbangkan. Kalau musuh alami dan hama seimbang, pestisida tidak perlu digunakan berlebihan,” tegasnya.

Sebagai bagian dari Regu Proteksi Tanaman, Tukimun memiliki visi memperluas penggunaan agensia hayati dalam pengendalian hama melalui produk-produk inovatif yang ramah lingkungan.

“Harapan saya sederhana, agensia hayati bisa digunakan lebih luas supaya lingkungan terjaga dan petani tetap sejahtera,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)