Adi Yananta: Menjadi Relawan Seumur Hidup Demi Kemanusiaan

Sleman — Bagi Adi Yananta, kerelawanan bukan sekadar aktivitas sosial musiman, melainkan sebuah jalan hidup yang ditempuh dengan kesadaran penuh dan ketulusan hati. Pria kelahiran Gunungkidul, 25 Januari 1970 ini telah mengakrabkan diri dengan dunia kemanusiaan sejak usia sekolah. Perjalanannya dimulai dari Palang Merah Remaja saat duduk di bangku SMP, berlanjut ke Korps Sukarela di tingkat SMA, hingga kini aktif sebagai Tenaga Sukarela di Palang Merah Indonesia Kapanewon Depok dan Kabupaten Sleman.
Keterlibatan panjang tersebut bukanlah sebuah kebetulan semata. Sejak awal, Adi memandang kerja kemanusiaan sebagai kebiasaan yang tumbuh dari kepedulian mendalam terhadap sesama. Setiap kali ada kegiatan PMI, baik di tingkat kapanewon maupun kabupaten, ia selalu hadir tanpa banyak pertimbangan. Baginya, panggilan jiwa untuk membantu orang lain adalah dorongan yang paling kuat dibandingkan alasan apa pun.
“Menjadi relawan sudah seperti bagian dari hidup saya yang tidak bisa dipisahkan. Ketika ada kebutuhan kemanusiaan di lapangan, saya merasa terpanggil secara alami untuk ikut terlibat. Semua saya jalani dengan prinsip sederhana, yaitu membantu sesuai kemampuan tanpa mengharapkan pamrih sedikit pun,” ujar Adi Yananta saat ditemui pada Senin (12/1/2026).
Sebagai relawan senior di PMI, Adi telah terlibat dalam berbagai tugas pelayanan yang kompleks. Mulai dari menjaga pos kesehatan saat Natal dan Tahun Baru, pengamanan jalur Lebaran bersama lintas instansi, hingga pendirian pos PMI untuk berbagai kegiatan skala daerah maupun nasional. Ia juga aktif dalam penanganan darurat kebencanaan dan promosi donor darah untuk memastikan ketersediaan stok darah bagi masyarakat yang membutuhkan.
Pengalaman yang paling membekas dalam ingatannya adalah saat terjun langsung dalam dua bencana besar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika gempa bumi melanda Bantul pada 2006, Adi turun bersama relawan lainnya untuk menghimpun bantuan dan mendampingi warga yang kehilangan tempat tinggal. Empat tahun berselang, saat Gunung Merapi meletus hebat pada 2010, ia kembali berada di garis depan untuk membantu pengamanan jalur evakuasi di kawasan rawan bencana Kaliurang.
“Saat Merapi meletus, situasi sangat mencekam namun kami harus tetap tenang. Kami berjaga siang dan malam agar warga tetap aman dan alur evakuasi berjalan tertib. Di saat seperti itulah kerja sama tim dan kedisiplinan yang dibentuk sejak masa pramuka sangat terasa manfaatnya. Hidup menjadi lebih bermakna ketika kehadiran kita, sekecil apa pun, mampu menumbuhkan kembali semangat orang lain yang sedang tertimpa musibah,” tutur Adi mengenang masa-masa sulit tersebut.
Kesiapan Adi di lapangan memang didukung oleh pelatihan dasar kepalangmerahan dan pertolongan pertama yang ia tekuni sejak muda. Baginya, kerja relawan tidak hanya memberi dampak langsung bagi masyarakat terdampak, tetapi juga memicu tumbuhnya kesadaran kolektif warga untuk saling membantu secara mandiri. Meski sering menghadapi perbedaan pandangan di lapangan, ia selalu kembali pada niat awal bahwa kerja kemanusiaan harus dijalani dengan hati yang lapang.
Kepada generasi muda, Adi menitipkan pesan reflektif yang mendalam. Ia menekankan bahwa pendidikan formal memang penting, namun kepekaan sosial dan rasa kemanusiaan adalah hal yang harus diasah melalui interaksi langsung di tengah masyarakat. Ia berharap semangat tolong-menolong tetap lestari di tengah dunia yang kini cenderung semakin individualistik. Kiprah Adi Yananta menjadi bukti nyata bahwa pengabdian tanpa batas masih ada dan terus dirawat oleh mereka yang memilih untuk hadir bagi sesama. (Athiful/KIM Depok)



