Pasbuja Kawi Merapi Resmi Miliki Penerbit Sendiri untuk Wadahi Karya Sastra Jawa

Sleman — Memasuki usia ketujuh, Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi melakukan terobosan besar dengan mendirikan unit penerbitan sendiri. Langkah strategis ini diambil untuk memfasilitasi produktivitas para anggota yang aktif menulis, baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Keberadaan penerbit mandiri ini diharapkan mampu memberikan keleluasaan bagi organisasi maupun individu anggota dalam membukukan karya-karya sastra mereka secara profesional.

Tokoh sastra sekaligus anggota Pasbuja, Budi Sarjono yang akrab disapa Budsar, menyatakan bahwa kepemilikan penerbit sendiri sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi organisasi. Pasbuja tercatat rutin menerbitkan buku antologi setiap tahun, ditambah lagi dengan banyaknya karya pribadi para anggota yang memiliki potensi besar untuk dibukukan namun sering terkendala jalur birokrasi penerbitan umum.

“Sudah saatnya Pasbuja memiliki mesin penerbitan sendiri agar kita lebih leluasa mewadahi kreativitas anggota. Mempunyai penerbit sendiri bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan sebuah terobosan nyata agar karya sastra Jawa dan Indonesia dari rahim Pasbuja bisa segera dinikmati pembaca tanpa proses tunggu yang terlalu lama di penerbit luar,” ujar Budi Sarjono dalam pertemuan anggota di Godean, Sleman, pada Minggu (11/1/2026).

Untuk mewujudkan hal tersebut secara legal, Pasbuja telah mempersiapkan berbagai persyaratan formal mulai dari pembentukan badan usaha hingga pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) dengan kode KBLI penerbitan buku. Selain itu, kelengkapan administrasi seperti NPWP perusahaan dan alamat kantor yang jelas menjadi fokus utama agar penerbit ini dapat segera bergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) demi menjamin kualitas dan legalitas buku yang dihasilkan.

Mewakili tim penerbit, Veronika Naning menjelaskan bahwa pada tahap awal di tahun 2026 ini, Pasbuja akan menggunakan sistem kerja sama penerbitan atau co-publishing. Sistem ini dilakukan dengan menggandeng penerbit mapan yang telah memiliki komponen lengkap untuk pengurusan perizinan seperti ISBN maupun QRSBN. Melalui metode ini, secara visual akan muncul dua logo pada buku yang diterbitkan, yakni logo Pasbuja dan logo penerbit mitra.

“Penerbitan secara co-pub ini sudah mulai kita coba terapkan pada buku antologi terbaru Pasbuja yang berjudul Nyesep Banyu Panguripan. Langkah ini kami ambil agar proses penerbitan tetap berjalan aman dan terstandar sambil kami terus mematangkan kesiapan teknis tim internal untuk nantinya bisa benar-benar mandiri secara utuh dalam mengelola izin terbit,” jelas Veronika Naning.

Naning menambahkan bahwa tim penerbit nantinya akan bertugas melakukan kurasi atau melihat kelayakan karya sebelum naik cetak. Selain membantu proses editing, layout, hingga desain sampul, tim juga akan membantu penulis dalam mengkalkulasi biaya produksi berdasarkan format buku dan jumlah halaman. Kerja tim penerbit akan didampingi pengecekan ulang oleh penulis hingga buku benar-benar siap cetak dan diserahkan secara fisik.

“Kami ingin membantu penulis dari tahap PDF hingga buku fisik ada di tangan mereka. Kerja tim penerbit berfokus pada kualitas produksi, sementara untuk urusan pemasaran tetap menjadi kewenangan dan hak penuh dari penulis masing-masing. Kami berharap kehadiran unit ini menjadi penyemangat bagi para penulis sastra Jawa untuk terus berkarya dan tidak lagi ragu untuk membukukan tulisan mereka,” pungkas Veronika Naning mengakhiri penjelasannya. (Kusnadi/KIM Berbah)




Perkuat Komitmen Pengabdian Sosial, Tim Formatur PSM Kapanewon Depok Bentuk Kepengurusan Baru Masa Bakti 2026-2031

Sleman — Tim Formatur Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kapanewon Depok menyelenggarakan pertemuan strategis di Ruang PKK Kapanewon Depok pada Senin (12/1/2026). Pertemuan yang dimulai pukul WIB ini diikuti oleh seluruh anggota tim formatur sebagai bagian dari tahapan krusial dalam menyusun struktur kepengurusan PSM Kapanewon Depok untuk masa bakti 2026–2031. Langkah ini menjadi awal baru bagi penguatan peran relawan sosial di wilayah tersebut agar lebih terorganisir dan berdampak nyata.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana yang tertib dan penuh semangat pengabdian. Seluruh peserta yang hadir menyepakati pentingnya memperkuat peran PSM sebagai mitra strategis pemerintah dalam penanganan berbagai masalah kesejahteraan sosial. Pembahasan utama dalam agenda ini meliputi struktur organisasi, mekanisme pembentukan kepengurusan, serta penyelarasan visi agar PSM ke depan mampu bergerak lebih responsif dan solutif terhadap dinamika sosial di tengah masyarakat Kapanewon Depok yang kompleks.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kapanewon Depok, Ratna, yang memberikan arahan serta motivasi kepada tim formatur. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa PSM adalah garda terdepan dalam pelayanan sosial yang harus memiliki jiwa kerja sama lintas sektor. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program kesejahteraan sosial sangat bergantung pada sinergi yang kuat antara relawan, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Pekerja Sosial Masyarakat merupakan kader sosial yang berjuang tanpa pamrih dan bekerja atas dasar panggilan hati demi kepentingan masyarakat. Saya berharap kepengurusan yang baru nantinya mampu menjalankan tanggung jawab ini dengan integritas tinggi dan menjalin kerja sama yang kuat dengan berbagai pihak agar semua permasalahan sosial di wilayah kita dapat tertangani dengan baik,” ujar Ratna di hadapan anggota tim formatur.

Berdasarkan hasil musyawarah mufakat tim formatur, Tri Suhartati ditetapkan secara resmi sebagai Ketua PSM Kapanewon Depok untuk masa bakti 2026–2031. Penetapan ini disambut baik oleh seluruh anggota dengan harapan kepemimpinan baru ini dapat membawa PSM ke arah yang lebih solid dan profesional dalam menjawab tantangan sosial. Kepengurusan baru ini diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap struktur, tetapi menjadi motor penggerak perubahan positif bagi warga yang membutuhkan pendampingan sosial.

Sementara itu, Tri Suhartati selaku ketua terpilih menyampaikan komitmennya untuk segera tancap gas dalam meningkatkan kinerja organisasi. Ia menekankan bahwa dalam periode kepemimpinannya, PSM akan lebih aktif dalam mengakomodasi berbagai potensi lokal yang ada. Tri Suhartati mengajak seluruh pengurus untuk menjaga semangat gotong royong agar kontribusi PSM dapat dirasakan langsung secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat yang memerlukan bantuan kesejahteraan sosial.

“Saya berharap ke depan PSM Kapanewon Depok dapat terus meningkatkan kinerja dan menjalin kerja sama yang erat dengan seluruh pemangku kepentingan. Dengan semangat kebersamaan dan pengabdian, kita harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan sosial masyarakat. Kita akan bekerja secara optimal dan profesional untuk mengemban amanah besar ini demi kemajuan Kapanewon Depok,” tegas Tri Suhartati menutup pertemuan tersebut. (Tri Suhartati/KIM Depok)




SAH Banyu Bening Tingkatkan Kesadaran Ekologis Berkelanjutan Siswa SMAN 2 Sleman

Sleman — Edukasi lingkungan sejak dini menjadi kunci krusial dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Hal ini melatarbelakangi pelaksanaan kegiatan edukasi bertajuk Sekolah Air Hujan yang digelar di SMA Negeri 2 Sleman pada Senin (12/1/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mengubah paradigma pelajar mengenai pemanfaatan air hujan sebagai sumber daya yang bernilai tinggi dan berkelanjutan.

Program ini mendapatkan dukungan penuh dari Organization for Industrial, Spiritual and Cultural Advancement (OISCA), sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional yang konsisten mendorong pelestarian lingkungan. Perwakilan OISCA, Nur Partiningsih, memberikan bantuan nyata berupa pemasangan instalasi pemanen air hujan di lingkungan sekolah sebagai sarana praktik mandiri bagi para siswa. Menurutnya, sekolah harus menjadi pusat laboratorium alam yang mampu mengajarkan kemandirian sumber daya air kepada para siswanya.

“Air hujan memiliki potensi besar sebagai sumber air bersih yang melimpah jika dikelola dengan sistem yang tepat. Pelibatan generasi muda dalam isu lingkungan seperti ini merupakan investasi jangka panjang. Kami ingin sekolah menjadi ruang pembelajaran nilai-nilai keberlanjutan yang dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat nantinya,” ujar Nur Partiningsih di sela-sela pemasangan instalasi.

Pendiri Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, hadir sebagai narasumber utama yang mengupas tuntas konsep pemanenan air hujan. Dengan bahasa yang mudah dipahami, ia menguraikan proses mulai dari penampungan, penyaringan bertahap, hingga teknik pemurnian agar air hujan layak dikonsumsi bahkan digunakan sebagai air terapi. Para siswa diajak memahami siklus hidrologi dan tantangan krisis air bersih dunia melalui pendekatan yang interaktif.

Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga dilengkapi dengan simulasi pengujian kualitas air secara langsung. Siswa melakukan pengujian kadar partikel atau zat terlarut pada berbagai sampel, mulai dari air tanah sumur, air mineral kemasan, hingga air hujan. Hasilnya menunjukkan bahwa air hujan yang ditampung dan difilter dengan benar memiliki kadar partikel yang rendah dan berada dalam batas sangat aman untuk dikonsumsi. Momen ini dimanfaatkan beberapa siswa untuk langsung mencoba meminum air hujan hasil olahan tersebut.

“Forum ini adalah momentum penting dalam mengubah pandangan siswa terhadap air hujan yang selama ini sering dianggap tidak layak konsumsi atau bahkan dianggap penyebab penyakit. Kita harus menunjukkan dengan data dan praktik bahwa air hujan adalah anugerah yang bisa menjadi solusi krisis air jika kita tahu cara mengolahnya secara bijak,” tegas Sri Wahyuningsih.

Edukasi ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran ekologis yang mendalam dan membentuk perilaku bertanggung jawab terhadap alam di lingkungan sekolah maupun rumah tangga. Pemahaman mengenai potensi air hujan sebagai sumber air alternatif diharapkan menjadi bagian dari komitmen kolektif pelajar dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup demi mendukung pembangunan berkelanjutan di masa depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Tingkatkan Daya Saing, UMKM Tempel Sleman Percepat Transformasi ke Ekosistem Digital

Sleman — Upaya memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui transformasi digital terus digencarkan secara masif di tingkat wilayah. Di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pemerintah setempat bersama kelompok informasi masyarakat dan mitra swasta mendorong pelaku usaha lokal untuk berani tampil di ruang digital melalui penguatan komunikasi, literasi informasi, serta pemanfaatan media promosi yang lebih modern.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam Sarasehan Digitalisasi UMKM Kapanewon Tempel yang digelar di Kopi Sormindi, Nglengkong, Sumberrejo pada Senin (12/1/2026). Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 20 pelaku UMKM lintas sektor, mulai dari kuliner, jasa, kerajinan, hingga usaha berbasis pertanian. Acara tersebut turut dihadiri oleh Panewu Tempel Dakiri serta Danramil Tempel Edi Widodo yang memberikan dukungan penuh terhadap kemajuan ekonomi lokal.

Panewu Anom Tempel, Eni Yuliani, menekankan bahwa komunikasi dan literasi digital merupakan fondasi utama dalam penguatan UMKM di era saat ini. Ia memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif KIM Senyum Tempel yang menghadirkan Buletin UMKM KITA sebagai media informasi dan promosi usaha yang efektif. Menurutnya, pengelolaan informasi yang baik akan menjadi jembatan strategis bagi pelaku usaha untuk menjangkau peluang ekonomi yang lebih luas.

“Buletin UMKM KITA adalah contoh nyata bagaimana informasi yang dikelola dengan baik dapat menjadi jembatan antara pelaku usaha dengan konsumen, pasar, dan peluang ekonomi. Ini bukan sekadar media publikasi, tetapi bagian dari strategi penguatan UMKM agar mereka memiliki identitas yang kuat di mata pasar. UMKM harus mampu menyampaikan siapa mereka dan apa keunggulannya melalui komunikasi yang tepat agar tampil lebih profesional,” ujar Eni Yuliani.

Sarasehan ini menghadirkan narasumber utama, Widarta, yang merupakan Konsultan UMKM dari Telkom Indonesia. Dalam paparannya, Widarta menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi sebuah pilihan melainkan kebutuhan mendasar agar UMKM mampu naik kelas. Ia menekankan bahwa kualitas produk saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan keberadaan di ruang digital, pemahaman perilaku konsumen, hingga penguasaan sistem pembayaran elektronik.

“UMKM hari ini tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Mereka harus hadir di ruang digital dan memanfaatkan marketplace serta media sosial secara optimal. Tantangan terbesar sebenarnya bukan pada teknologi, melainkan pada perubahan pola pikir dan konsistensi dalam membangun identitas usaha. Jika dilakukan secara bertahap, jangkauan pasar akan meluas dan efisiensi akan meningkat secara nyata,” tegas Widarta dalam sesi diskusi tersebut.

Ketua KIM Senyum Tempel, Muryana, menambahkan bahwa peran kelompok informasi masyarakat adalah sebagai fasilitator yang menghubungkan pelaku usaha dengan pemerintah dan mitra strategis. Ia ingin memastikan bahwa pelaku UMKM di Tempel memiliki ruang untuk belajar dan tumbuh dalam sebuah jejaring yang saling menguatkan. Melalui sarasehan ini, diharapkan muncul keberanian kolektif dari para peserta untuk memulai transformasi digital secara serius.

Antusiasme peserta terlihat dari testimoni Resi, pemilik Kedai Mona Lumbungrejo, yang mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya promosi digital. Ia menyadari bahwa selama ini fokus usahanya terlalu berat pada produksi namun masih minim dalam hal promosi di jagat maya. Dengan bekal pengetahuan dari sarasehan ini, ia berkomitmen untuk mulai membangun identitas usaha yang lebih konsisten di media sosial guna menjangkau pelanggan yang lebih luas.

Menutup kegiatan tersebut, Eni Yuliani menegaskan bahwa hasil sarasehan harus segera ditindaklanjuti dalam bentuk aksi nyata dan pendampingan berkelanjutan. Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat informasi ini dapat terus terjaga sehingga UMKM Tempel mampu mandiri, inovatif, dan menembus pasar nasional. Dengan kolaborasi yang kuat, produk lokal diharapkan tidak hanya jago di kandang tetapi juga mampu bersaing di kancah yang lebih tinggi. (SBD/KIM Senyum Tempel)




MSE #1 Jadi Bukti Muhammadiyah Sleman Kuasai Etalase Ekonomi dan Pendidikan

Sleman — Atrium Rama Sleman City Hall berubah menjadi pusat perhatian ribuan warga selama tiga hari terakhir. Pusat perbelanjaan modern tersebut seolah menjadi markas besar bagi warga persyarikatan dalam perhelatan Muhammadiyah Sleman Expo (MSE) perdana yang berlangsung hingga Minggu (11/1/2026). Kehadiran ribuan pengunjung ini menegaskan posisi strategis Muhammadiyah dalam menggerakkan sektor ekonomi dan pendidikan di Kabupaten Sleman.

Tokoh nasional sekaligus anggota DPD RI, Ahmad Syauqi Soeratno, turut hadir di tengah kerumunan massa dan memberikan pesan tentang wajah baru dakwah di ruang publik. Dalam testimoninya, ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk eksposisi atau upaya berani Muhammadiyah untuk menunjukkan kualitasnya kepada dunia luar. Menurutnya, menampilkan kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah dan Organisasi Otonom adalah bagian dari strategi syiar yang modern.

“MSE ini bukan sekadar pameran biasa, tetapi sebuah eksposisi kekuatan umat. Syiar itu memiliki empat makna utama yaitu dakwah, berbagi ilmu, berbagi jejaring, dan berbagi manfaat. Apa yang kita saksikan di Sleman City Hall hari ini adalah bukti bahwa Muhammadiyah mampu hadir di ruang publik yang inklusif dengan cara yang sangat membanggakan,” tegas Ahmad Syauqi Soeratno di hadapan para pengunjung.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan pesan unik kepada para pengunjung mal agar tetap mengingat investasi akhirat di tengah suasana belanja. Ia mengajak warga untuk mendukung pembangunan gedung kantor PDM Sleman dengan menyisihkan sebagian dana belanja mereka. Ahmad Syauqi menyebut bahwa dukungan tersebut merupakan investasi yang tidak akan lekang oleh waktu dan menjadi modal sosial bagi kemajuan organisasi.

“Bagi Bapak dan Ibu yang rajin berkunjung ke mal, itu tentu baik-baik saja. Namun, jika saat belanja Anda mendapatkan diskon, sisihkanlah nilai diskon tersebut untuk investasi tanah kantor PDM. Harga per meternya hanya tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Ini adalah bentuk nyata kita dalam memperkuat dakwah lewat fasilitas yang memadai,” ajaknya yang disambut riuh antusiasme pengunjung.

Di sisi lain, Kepala Kantor Kemenag Sleman, Nadhif, turut memberikan pandangannya dengan menyebut acara ini sebagai etalase praktik baik yang sejalan dengan semangat moderasi beragama.

“Muhammadiyah Sleman Expo ini adalah dakwah sosial yang sangat menyejukkan dan solutif. Masyarakat bisa melihat langsung bagaimana layanan pendidikan dan kesehatan dikelola dengan profesional. Kami sangat mengapresiasi karena kegiatan ini memberikan dampak nyata bagi umat dan menjadi contoh praktik baik bagi organisasi lainnya,” ujar Nadhif yang hadir bersama Ketua PWM DIY, Muh Ikhwan Ahada.

Ketua PDM Sleman, Harjaka, menutup rangkaian acara dengan rasa syukur yang mendalam. Ia menilai pameran perdana ini sukses menjadi ruang temu publik untuk mengenal lebih dekat khidmat Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Melalui kesuksesan ini, Muhammadiyah Sleman optimis dapat terus memberikan kontribusi yang lebih masif bagi kesejahteraan masyarakat di masa mendatang (Ajeng/KIM DSN).