Peringati HUT ke-50, SD Babarsari Gelar Aksi Kemanusiaan Donor Darah Bersama PMI Depok

Sleman — Sekolah Dasar (SD) Babarsari memperingati hari ulang tahunnya yang ke-50 atau usia emas dengan cara yang menyentuh sisi kemanusiaan. Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kapanewon Depok, sekolah tersebut menyelenggarakan aksi donor darah yang melibatkan guru, orang tua siswa, serta masyarakat sekitar pada Sabtu (10/1/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk memupuk jiwa sosial di lingkungan sekolah sekaligus membantu mengamankan stok darah di wilayah Depok dan sekitarnya.

Aksi sosial yang berlangsung di lingkungan sekolah ini mendapat sambutan hangat dari para pendaftar. Berdasarkan data panitia, terdapat 49 calon pendonor yang mendaftarkan diri. Setelah melalui pemeriksaan kesehatan yang ketat, sebanyak 43 orang dinyatakan lolos dan memenuhi syarat untuk diambil darahnya. Tingginya antusiasme ini menunjukkan besarnya kepedulian komunitas sekolah terhadap sesama.

Pengurus PMI Kapanewon Depok, Hening, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak sekolah yang telah memilih aksi donor darah sebagai bagian dari perayaan ulang tahun. Menurutnya, kontribusi sekecil apa pun dari masyarakat sangat berarti bagi mereka yang sedang membutuhkan transfusi darah di rumah sakit.

“Kami sangat senang dan bangga dapat berpartisipasi dalam acara ini. Langkah SD Babarsari patut dicontoh karena membantu masyarakat yang sedang berjuang dan sangat membutuhkan darah. Satu kantong darah yang didonorkan hari ini bisa menyelamatkan nyawa orang lain di luar sana,” ujar Hening di sela-sela kegiatan.

Kepala Sekolah SD Babarsari, Sudarman, mengungkapkan bahwa pemilihan kegiatan donor darah ini disengaja agar perayaan ulang tahun ke-50 sekolah tidak hanya bersifat hura-hura, tetapi juga membawa manfaat nyata. Ia ingin mengajarkan kepada para siswa secara tidak langsung tentang pentingnya berbagi dan menolong orang lain melalui aksi nyata yang bisa dilihat langsung di lingkungan sekolah.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut secara rutin dan menjadi agenda tahunan. Momentum usia emas ini kami gunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya donor darah bagi kesehatan pendonor itu sendiri dan manfaatnya bagi orang lain. Kami ingin SD Babarsari terus hadir memberikan dampak positif bagi lingkungan di usianya yang ke-50 tahun ini,” tutur Sudarman.

Perayaan ulang tahun ke-50 SD Babarsari ini menjadi titik balik penting bagi sekolah untuk semakin aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Keberhasilan acara donor darah ini diharapkan dapat memicu semangat lembaga pendidikan lainnya di wilayah Depok untuk turut serta melakukan aksi serupa demi kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. (Lidya/KIM Depok)




PKK Kapanewon Depok Sosialisasikan Gerakan Gemar Makan Ikan untuk Perkuat Kesehatan Keluarga

Sleman — Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kapanewon Depok menggelar sosialisasi intensif mengenai pentingnya gerakan gemar makan ikan bagi masyarakat luas pada Sabtu (10/1/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk meningkatkan kesadaran warga tentang besarnya manfaat konsumsi ikan terhadap kualitas kesehatan sekaligus menaikkan angka konsumsi ikan di wilayah Depok, Sleman.

Acara yang dipusatkan di kantor kapanewon setempat ini dihadiri oleh puluhan ibu-ibu anggota PKK dari berbagai tingkatan. Selain pemaparan teori mengenai kandungan nutrisi, para peserta juga mendapatkan edukasi praktis mengenai cara pengolahan ikan yang benar agar kandungan gizinya tidak hilang saat dimasak namun tetap memiliki cita rasa yang lezat bagi keluarga.

Wakil dari Pokja 3 PKK Kapanewon Depok, Purwanti, menekankan bahwa ikan merupakan salah satu sumber protein hewani terbaik yang sangat terjangkau. Menurutnya, pemenuhan gizi berbasis ikan sangat krusial terutama dalam masa pertumbuhan anak-anak dan bagi kesehatan ibu hamil guna mencegah risiko masalah gizi kronis.

“Makan ikan sangat penting bagi kesehatan, terutama untuk menunjang tumbuh kembang anak-anak dan menjaga kebugaran ibu hamil. Ikan kaya akan protein, omega-3, serta berbagai nutrisi penting lainnya yang sangat baik untuk perkembangan otak dan daya tahan tubuh. Kami ingin masyarakat memahami bahwa sehat itu tidak harus mahal,” ujar Purwanti di hadapan para peserta.

Selain memberikan pengetahuan tentang gizi, dalam acara ini masyarakat juga diajarkan berbagai teknik memasak ikan yang kreatif agar anak-anak tidak merasa bosan. Edukasi ini mencakup cara memilih ikan segar di pasar hingga tips menyajikan hidangan ikan yang menggugah selera tanpa harus menggunakan bahan tambahan pangan yang tidak sehat.

“Kami sangat berharap dengan adanya sosialisasi ini, masyarakat dapat lebih gemar makan ikan dan menjadikannya sebagai menu utama di meja makan setiap hari. Jika konsumsi ikan meningkat, maka kesehatan keluarga secara otomatis akan ikut meningkat pula. Harapannya, gerakan ini dapat dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga di rumah masing-masing,” tambah Purwanti.

Acara ini diharapkan mampu menjadi pemicu perubahan pola makan masyarakat Depok ke arah yang lebih sehat dan bergizi. Dengan meningkatnya kesadaran tentang pentingnya nutrisi ikan, diharapkan wilayah Depok dapat mencatatkan angka konsumsi ikan yang lebih tinggi serta melahirkan generasi yang lebih cerdas dan kuat di masa depan. (Lidya/KIM Depok)




Gelar Tabligh Akbar di Pusat Perbelanjaan, PDM Sleman Galang Dana Bangun Gedung Dakwah Terpadu

Sleman — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman menggelar acara Tabligh Akbar dan Penggalangan Dana yang berlangsung di Atrium Shinta, Sleman City Hall (SCH), Sabtu (10/1/2026). Perhelatan yang menjadi bagian dari rangkaian Muhammadiyah Sleman Expo (MSE) perdana ini dihadiri langsung oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dahlan Rais, serta jajaran tokoh persyarikatan se-Kabupaten Sleman.

Acara ini bukan sekadar ajang silaturahmi biasa, melainkan langkah nyata PDM Sleman untuk mewujudkan impian memiliki kantor pusat yang representatif. Saat ini, operasional kantor PDM Sleman masih berbagi ruang di area Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sleman. Kondisi kantor tersebut kian terbatas seiring pesatnya perkembangan layanan kesehatan di rumah sakit tersebut.

Direktur RS PKU Muhammadiyah Sleman, Yoga Wiratama, menceritakan sejarah di balik lokasi kantor saat ini. Pada tahun 2021, PDM Sleman dengan ikhlas merelakan lahan kantornya demi perluasan instalasi rumah sakit guna menampung belasan ribu pasien BPJS. Pengorbanan tersebut kini coba dibalas oleh warga persyarikatan dengan mendukung pembangunan gedung mandiri.

“Bapak-bapak PDM waktu itu mengikhlaskan kantornya agar kebermanfaatannya bagi masyarakat luas bisa lebih maksimal melalui rumah sakit. Saat ini, PKU Sleman telah melayani belasan ribu pasien per tahun. Inilah saatnya kita bergerak bersama membantu PDM untuk memiliki gedung sendiri yang layak dan mampu menunjang aktivitas dakwah yang semakin besar,” ujar Yoga Wiratama di hadapan para jemaah.

Ketua Panitia Penggalangan Dana, Nasirun, memaparkan rencana strategis pembelian tanah Unit 2 yang berlokasi di Jalan Jejamuran. Lahan yang diincar tersebut berada tepat bersisihan dengan area pengembangan RS PKU Muhammadiyah. Ke depan, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi kompleks Muhammadiyah Center Sleman yang terintegrasi.

“Sangat ironis melihat Sleman memiliki 154 Ranting, 79 SD, dan puluhan SMK hebat, tetapi kantor PDM-nya untuk parkir kendaraan saja masih susah. Kami menargetkan penggalangan dana tahap kedua ini fokus untuk membebaskan lahan di sekitarnya agar mimpi membangun pusat dakwah terpadu ini bisa segera terwujud secara fisik,” tegas Nasirun.

Berdasarkan laporan panitia, dana sebesar Rp5,4 miliar telah berhasil dikelola pada tahap pertama untuk pembelian tanah dan gedung senilai Rp3,5 miliar. Tantangan selanjutnya adalah membebaskan lahan tambahan dengan estimasi harga pasar mencapai Rp3,5 juta hingga Rp4 juta per meter persegi. Ketua PDM Sleman, Harjaka, menekankan bahwa kontribusi warga adalah bentuk latihan spiritual untuk membersihkan diri dari sifat bakhil.

“Kami mengumpulkan jemaah sekalian bukan sekadar untuk meminta bantuan nominal, tetapi mengajak kita semua bersedekah agar bersih dari sifat kikir. Lokasi pameran di pusat perbelanjaan ini sudah strategis dan memudahkan kita, maka mari kita sambut kemudahan ini dengan aksi nyata melalui wakaf tanah, baik sepuluh meter persegi atau semampunya,” ajak Harjaka.

Dahlan Rais yang hadir sebagai pembicara inti memberikan apresiasi tinggi atas gerak cepat PDM Sleman dalam mengonsolidasi kekuatan ekonomi umat. Merujuk pada tafsir Al-Qur’an, ia mengingatkan bahwa bukti syukur yang paling utama adalah dengan amal nyata yang lebih baik. Ia menyebut kontribusi warga Muhammadiyah laksana sang surya yang terus memberi tanpa mengharap kembali.

“Syukur dengan lisan itu benar, dengan sujud syukur juga boleh. Namun jika merujuk pada firman Allah, syukur harus ditunjukkan dengan berbuat dan beramal yang lebih baik. Perbuatan baik itu pasti akan kembali kepada diri kita sendiri. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus terus bergerak memberi manfaat bagi semesta tanpa lelah,” tutur Dahlan Rais dalam tausiyahnya.

Acara diakhiri dengan sesi lelang tanah simbolis dan pengumpulan infak spontan dari para jemaah yang hadir. Dengan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas persyarikatan, Muhammadiyah Sleman optimis pusat dakwah yang megah di Bumi Sembada akan segera berdiri tegak, sejajar dengan kemajuan bidang pendidikan dan kesehatan yang telah mereka raih selama ini. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Sambut Ramadhan 1447 H, Muhammadiyah Banyurejo Dorong Penguatan Iman, Pendidikan, dan Kemandirian Umat

Sleman — Menjelang hadirnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, berbagai komunitas Muslim di Indonesia mulai mengintensifkan kegiatan pembinaan keagamaan sebagai bagian dari persiapan spiritual. Di wilayah Banyurejo, Tempel, Sleman, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Banyurejo menggelar Pengajian Akbar yang menekankan pentingnya perbaikan diri sekaligus penguatan peran sosial umat di tengah tantangan zaman yang kian dinamis.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (10/1/2026) di Masjid An Nur Karang Kulon, Sleman, ini diikuti oleh jemaah lintas usia dengan penuh antusias. Mengusung tema Ramadhan sebagai Momentum Peningkatan Kualitas Iman, Taqwa, dan Pendidikan Umat, pengajian tersebut memposisikan bulan suci bukan hanya sebagai agenda ritual tahunan, melainkan sebagai ruang transformasi karakter dan pengasahan kepedulian sosial secara kolektif.

Ketua PRM Banyurejo, R. Dwi Atmiyanta, menegaskan bahwa Ramadhan harus dimaknai sebagai proses pembaruan diri yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan pribadi dan lingkungan masyarakat luas. Ia berpendapat bahwa tantangan sosial yang semakin kompleks menuntut umat Islam untuk tidak berhenti pada aspek ibadah personal semata, namun juga harus memperkuat etika sosial dan tanggung jawab moral terhadap sesama.

“Ramadhan adalah kesempatan emas bagi kita semua untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan, sekaligus membentuk pribadi yang lebih bermanfaat bagi orang lain. Ibadah kita harus terpancar dalam perilaku sosial yang positif dan kepedulian terhadap permasalahan di sekitar kita,” ujar R. Dwi Atmiyanta dalam sambutannya di depan para jemaah.

Lurah Banyurejo, Saparjo, turut memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan tersebut sembari menekankan pentingnya integrasi antara pembinaan spiritual dan penguatan ekonomi warga. Menurutnya, kemandirian umat dapat terbangun jika setiap individu memiliki keberpihakan terhadap potensi ekonomi di lingkungan terdekatnya. Ia mendorong warga untuk saling menguatkan melalui dukungan terhadap unit usaha kecil milik tetangga atau sesama jemaah.

“Jika ada UMKM di sekitar kita, seyogianya yang pertama kita dukung adalah tetangga sendiri. Dari langkah sederhana itulah ekonomi komunitas akan tumbuh dan kemandirian umat yang kita cita-citakan bisa benar-benar terbangun secara kokoh. Kita harus menjadi pasar bagi produk-produk saudara sendiri,” kata Saparjo menekankan pentingnya ekosistem ekonomi lokal.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tempel, Samsul Alam, mengajak jemaah untuk memperluas makna ibadah sosial melalui gerakan ekonomi. Ia menilai keberpihakan pada produk kader dan warga binaan merupakan wujud nyata dari keadilan ekonomi yang berkelanjutan. Puncak acara kemudian diisi dengan tausiyah oleh Saijan, yang mengingatkan bahwa Ramadhan adalah madrasah kehidupan untuk melatih konsistensi atau istiqomah dalam beribadah dan berakhlak mulia.

“Istiqomah di bulan Ramadhan bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah latihan. Harapan terbesarnya adalah kebiasaan-kebiasaan baik yang kita bentuk selama bulan suci itu tetap terus hidup dan konsisten dilaksanakan bahkan setelah Ramadhan berakhir. Kita butuh integrasi antara iman dan pendidikan agar mampu menjawab tantangan moral di era modern ini,” tutur Saijan dalam ceramahnya.

Kegiatan ini secara keseluruhan mencerminkan arah gerakan keislaman yang semakin kontekstual dengan memadukan aspek spiritual, pendidikan karakter, dan kemandirian ekonomi. Praktik yang tumbuh di tingkat komunitas Banyurejo ini menjadi potret nyata tentang bagaimana umat Islam memaknai Ramadhan sebagai momentum transformasi menyeluruh bagi individu maupun kehidupan sosial bangsa. (Ratna Zuliastuti/KIM Senyum Tempel)




Sancoko, Sang Maestro Seni Penjaga Marwah Desa Wisata Budaya Grogol

Sleman — Di tengah arus modernisasi yang kian kencang, denyut seni tradisi di Padukuhan Grogol, Margodadi, Seyegan, Sleman, tetap terjaga dengan kokoh. Salah satu sosok sentral di balik lestarinya kekayaan budaya tersebut adalah Sancoko, pria yang oleh banyak kalangan dijuluki sebagai maestro seni sekaligus pengawal utama Desa Wisata Budaya Grogol. Melalui dedikasi yang tak pernah padam sejak tahun 1982, ia mendirikan Sanggar Wijaya Kusuma yang hingga kini menjadi ruang hidup bagi regenerasi seni tradisi.

Sanggar ini bukan sekadar bangunan fisik tempat berlatih, melainkan kawah candradimuka bagi berbagai kesenian kerakyatan seperti jathilan, kesenian religius, hingga seni keprajuritan atau bergodo. Sancoko yang merupakan lulusan sarjana seni tari dari IKIP Yogyakarta ini memandang bahwa berkesenian adalah instrumen penting dalam membentuk jati diri masyarakat. Baginya, setiap gerak dan tabuhan dalam seni tradisi mengandung nilai filosofis yang mendalam tentang kehidupan manusia.

“Sanggar ini saya dirikan bukan sekadar tempat latihan teknis, tetapi sebagai ruang pembentukan karakter. Seni itu mendidik rasa, etika, dan kebersamaan. Jika nilai-nilai ini tertanam kuat, maka masyarakat akan memiliki ketahanan mental dan sosial yang luar biasa dalam menghadapi perubahan zaman,” ujar Sancoko saat ditemui di kediamannya yang sekaligus menjadi sanggar seni pada Sabtu (10/1/2026).

Sebagai seorang guru seni di SMP Negeri 1 Godean, Sancoko juga aktif menjadi narasumber dalam berbagai sarasehan budaya. Perannya merambah luas ke berbagai lini, mulai dari menjadi pembina Paguyuban Dalang Sleman Barat, penyusun naskah pertunjukan, hingga perajin gamelan. Ia dikenal sebagai relawan budaya yang tidak segan turun langsung mendampingi komunitas seni di tingkat akar rumput untuk memastikan warisan leluhur tidak berhenti pada generasi tua saja.

“Kalau seniman tidak mau turun ke masyarakat dan hanya berdiam di menara gading, budaya akan mudah ditinggalkan. Padahal budaya itu hidup karena masyarakatnya yang mencintai dan melakoninya setiap hari. Mengajar seni itu bukan hanya soal teknik gerak atau tabuhan, yang paling penting adalah menanamkan rasa cinta terhadap budaya sendiri agar mereka memiliki rasa bangga sebagai bangsa,” tutur Sancoko dengan nada penuh keyakinan.

Prestasi Sancoko pun telah diakui di level nasional, salah satunya dengan meraih penghargaan Pemeran Pria Terbaik Pertunjukan Rakyat di Lombok. Namun, bagi pria yang pernah mengawali kariernya sebagai pelawak di Teater Cantrik ini, penghargaan hanyalah bonus. Fokus utamanya adalah bagaimana seni tradisi tetap relevan dan mampu menghidupi para pelakunya secara layak tanpa harus kehilangan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Sancoko menyimpan harapan besar agar Sleman benar-benar menjadi pusat pelestarian budaya yang mampu menyinergikan sektor pendidikan dan pariwisata. Memasuki usia 70 tahun, pria humoris ini tidak pernah berhenti berpesan kepada generasi muda agar tetap memegang teguh kearifan lokal. Ia menekankan pentingnya menjaga identitas melalui prinsip bibit, bobot, dan bebet dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat.

“Jangan pernah meninggalkan bibit, bobot, dan bebet karena kearifan lokal adalah jati diri kita. Kalau identitas itu hilang, kita akan kehilangan arah di tengah pergaulan dunia. Berkesenian itu harus profesional dan mampu beradaptasi secara komersial, namun tidak boleh mengorbankan akar budaya yang kita miliki,” pungkas Sancoko. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)