Staf Khusus Mendikdasmen: Guru Harus Kompeten dan Sejahtera

Sleman — Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional, telah diselenggarakan Sarasehan Pendidikan bersama Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) dengan mengangkat tema Pendidikan Bermutu untuk Semua. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan pendidik, kepala sekolah, pimpinan daerah Muhammadiyah Sleman, serta pemerhati pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMA dan SMK se-Kabupaten Sleman. Acara berlangsung di Sinta Hall, Sleman City Hall, Yogyakarta, pada Jumat (9/1/2026), sebagai bagian dari rangkaian Muhammadiyah Sleman Expo (MSE) perdana.
Dalam sarasehan tersebut, Staf Khusus Menteri Dikdasmen, Arif Jamali Muis, menegaskan bahwa kompetensi guru merupakan kunci utama keberhasilan pendidikan. Ia menyampaikan bahwa di era modern, guru tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus memiliki keseimbangan dalam kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Menurutnya, transformasi pendidikan yang sesungguhnya dimulai dari apa yang terjadi di dalam ruang kelas hari ini.
“Guru hari ini harus adaptif terhadap perubahan zaman, di mana kita menghadapi era algoritma dan kecerdasan buatan atau AI. Guru harus mampu memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus menjadi teladan dalam karakter dan akhlak bagi murid. Perubahan besar dalam dunia pendidikan itu dimulai dari kelas, dan transformasi masa depan sangat bergantung pada apa yang dilakukan guru saat ini,” tegas Arif Jamali Muis dalam pemaparannya.
Lebih lanjut, Arif menjelaskan bahwa esensi dari visi pendidikan bermutu mencakup empat pilar utama. Pertama, guru harus kompeten dan sejahtera agar mampu menghadapi perubahan zaman. Kedua, pembelajaran harus bersifat bermakna dan adaptif, mencontoh kegigihan Ahmad Dahlan dalam mengajarkan nilai-nilai agama secara mendalam hingga benar-benar terimplementasi. Ketiga, pemenuhan fasilitas yang memadai melalui revitalisasi gedung dan sarana pendukung. Keempat, pentingnya kolaborasi antarpihak dengan semangat berlomba-lomba dalam kebaikan.
Diskusi berlangsung interaktif saat para peserta mulai mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari kesejahteraan guru, kebijakan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), hingga konsep guru paruh waktu. Sekretaris BKS SMP Muhammadiyah se-Sleman, Apung Syaifuddin, memberikan catatan bahwa upaya pemerintah saat ini sudah mulai terlihat dalam mewujudkan pemerataan mutu pendidikan.
“Upaya yang dilakukan pemerintah sudah sedikit banyak membantu dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Namun, kami berharap peningkatan mutu ini terus dilakukan secara konsisten karena ini adalah tugas besar kita bersama,” ujar Apung Syaifuddin yang juga merupakan Kepala SMP Muhammadiyah 2 Kalasan.
Di sisi lain, Kepala SMP Muhammadiyah 2 Minggir, Yudi Megawanto, menyoroti tantangan moral di tengah perkembangan digital. Ia mempertanyakan apakah program yang ada saat ini sudah benar-benar menjawab esensi tugas guru sebagai penanam nilai-nilai akhlak bagi murid. Ia berharap proses mewujudkan guru kompeten tetap memprioritaskan fungsi pokok guru sebagai pendidik moral dan karakter di tengah perubahan zaman yang serba cepat.
Sarasehan ini diharapkan menjadi ruang refleksi mendalam bagi seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Sleman. Kepala SMP Muhammadiyah 2 Godean, Wahdan Arifudin, menutup rangkaian acara dengan menekankan bahwa komitmen bersama merupakan fondasi utama. Menurutnya, sinergi antara guru yang kompeten dan kebijakan yang mendukung kesejahteraan adalah jalan utama menuju terciptanya pendidikan yang bermutu serta berkeadilan bagi seluruh anak bangsa (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri).



