Persiapan Matang Sarasehan Digitalisasi UMKM Tempel, KIM Perkuat Literasi Digital di Tingkat Lokal

Sleman — Transformasi digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tingkat lokal memerlukan kolaborasi lintas komunitas, pendampingan berkelanjutan, serta penguatan literasi digital di tingkat akar rumput. Hal tersebut menjadi poin utama dalam Rapat Persiapan Tunggal Sarasehan Digitalisasi UMKM Tempel yang digelar pada Selasa (6/1/2026) di Pringkuning 16, Gundengan, Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman.

Rapat tersebut dihadiri oleh penggagas kegiatan Sadhono Hadi, perwakilan Forum Komunikasi (Forkom) UMKM Kapanewon Tempel, serta Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Senyum Tempel, Muryana. Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan peran para aktor lokal dalam membangun ekosistem digital UMKM yang inklusif serta berkelanjutan di wilayah Tempel.

Dalam pertemuan tersebut, para peserta membahas kesiapan teknis pelaksanaan sarasehan dengan menitikberatkan pada kebutuhan riil para pelaku usaha. Sejumlah tantangan klasik masih dihadapi UMKM, mulai dari keterbatasan literasi teknologi, pemanfaatan media sosial yang belum optimal, hingga sistem pencatatan keuangan yang masih bersifat konvensional. Kondisi ini dinilai sangat memengaruhi kemampuan UMKM dalam memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing mereka di era modern.

Sadhono Hadi menegaskan bahwa rapat persiapan tunggal ini merupakan tahapan krusial agar kegiatan yang akan dilaksanakan tidak hanya bersifat seremonial belaka. Ia ingin memastikan bahwa sarasehan yang akan datang benar-benar memberikan dampak praktis bagi kemajuan ekonomi warga.

“Rapat ini kami gunakan untuk memetakan kebutuhan UMKM secara langsung. Sarasehan harus bersifat aplikatif dan memberi solusi konkret, terutama dalam hal strategi pemasaran, pengelolaan usaha, serta pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kapasitas para pelaku UMKM lokal,” ujar Sadhono Hadi di sela-sela rapat.

Senada dengan hal tersebut, Widyarsih selaku perwakilan dari Forkom UMKM Kapanewon Tempel menambahkan bahwa potensi UMKM di wilayahnya sangat besar namun masih memerlukan sentuhan literasi digital yang lebih mendalam. Ia berharap sarasehan ini menjadi titik awal kolaborasi yang lebih kuat antara pelaku UMKM, tenaga pendamping, dan pemangku kepentingan di tingkat lokal.

Konsultan UMKM dari Telkom Indonesia, Widarto, yang turut merancang materi untuk sarasehan tersebut, menekankan bahwa transformasi digital bagi pelaku usaha kecil perlu dilakukan secara bertahap dan terukur. Menurutnya, digitalisasi tidak harus dimulai dengan hal-hal yang kompleks, melainkan bisa melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten.

“Digitalisasi tidak harus rumit. UMKM bisa memulai dari pencatatan keuangan berbasis aplikasi, memaksimalkan media sosial sebagai etalase produk, serta memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar. Kuncinya adalah konsistensi dan pendampingan. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh perubahan pola pikir, pemahaman perilaku konsumen, serta kualitas konten promosi yang dihasilkan,” tutur Widarto.

Ketua KIM Senyum Tempel, Muryana, menegaskan komitmen organisasinya sebagai jembatan informasi dan penggerak literasi digital di masyarakat. KIM diproyeksikan sebagai aktor kunci dalam membangun ekosistem digital yang adaptif melalui penyebarluasan informasi dan edukasi yang berbasis komunitas.

“KIM siap mendukung penuh sarasehan ini melalui penyebarluasan informasi dan pendampingan berbasis komunitas. UMKM perlu didorong agar tidak sekadar menggunakan teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya secara cerdas, produktif, dan berkelanjutan untuk meningkatkan taraf hidup mereka,” tegas Muryana.

Rapat tersebut menyepakati bahwa Sarasehan Digitalisasi UMKM Tempel akan dilaksanakan pada Senin, 12 Januari 2026, bertempat di Kopi Sormindi, Nglengkong, Sumberrejo, Tempel. Acara ini direncanakan dihadiri oleh sekitar 20 pelaku UMKM terpilih serta jajaran Pemerintah Kapanewon Tempel dengan format materi yang mengedepankan praktik langsung dan studi kasus. (SBD/KIM Senyum Tempel)




KIM Pararta Guna Dukung Penguatan Literasi Santri Melalui Donasi Buku

Sleman — Donasi buku bacaan dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung peningkatan literasi anak sejak usia dini. Hal tersebut tercermin dalam kegiatan penyerahan donasi buku bacaan untuk Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Rutbatul Huda Banyuraden yang dilakukan oleh Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Pararta Guna Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo, kepada Pengasuh TPQ Rutbatul Huda di Cokrowijayan, Sleman, pada Senin (5/1/2026).

Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca santri sejak dini tersebut disambut antusias oleh pengelola serta para santri. Donasi berupa buku bacaan anak dan literatur edukatif sebanyak 165 buku ini diharapkan mampu memperkaya sarana belajar sekaligus menumbuhkan kebiasaan membaca di lingkungan pendidikan keagamaan nonformal. Langkah ini dipandang sebagai upaya konkret untuk mengimbangi paparan gawai pada anak-anak.

Adnan Iman Nurtjahjo menyampaikan bahwa donasi buku merupakan bentuk kepedulian nyata terhadap penguatan sumber daya manusia, khususnya generasi muda. Menurutnya, akses terhadap bahan bacaan yang layak dan menarik menjadi fondasi penting dalam membangun karakter, wawasan, serta kecakapan literasi anak-anak sebagai bekal masa depan mereka.

Ia pun menegaskan bahwa TPQ Rutbatul Huda yang berdiri sejak 21 April 2011 dan telah resmi terdaftar di Kementerian Agama Kabupaten Sleman ini memiliki peran ganda. Lembaga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembelajaran kitab suci Al-Qur’an, namun juga sebagai ruang pembentukan akhlak, nalar kritis, dan kebiasaan positif bagi anak-anak di wilayah Banyuraden.

“Kehadiran buku bacaan yang variatif kami nilai mampu melengkapi proses pendidikan yang sudah berjalan selama ini. Kami ingin para santri tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga memiliki wawasan umum yang luas melalui literatur edukatif yang kami berikan. Melalui literasi, kita sedang membangun fondasi berpikir mereka agar lebih kritis dan terbuka terhadap informasi yang bermanfaat,” ujar Adnan Iman Nurtjahjo saat menyerahkan bantuan tersebut secara simbolis.

Kegiatan donasi ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan KIM Pararta Guna Gamping dalam mendorong peran aktif masyarakat terhadap pembangunan pendidikan berbasis komunitas. KIM berkomitmen untuk terus menginisiasi kegiatan sosial-informatif yang memberikan dampak langsung serta meningkatkan kualitas informasi di tingkat akar rumput.

Sementara itu, Pengasuh TPQ Rutbatul Huda Banyuraden, Achmad Shofi, menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian dan dukungan yang diberikan oleh KIM Pararta Guna Gamping. Ia mengakui bahwa selama ini ketersediaan buku bacaan pendukung di lembaga yang dipimpinnya masih cukup terbatas, sehingga bantuan ini datang di waktu yang sangat tepat.

“Bantuan buku tersebut sangat bermanfaat bagi kami, mengingat keterbatasan fasilitas buku bacaan yang selama ini ada di TPQ. Kami akan memanfaatkan buku-buku ini sebagai media pendukung pembelajaran dan kegiatan literasi santri di sela-sela waktu mengaji. Kami berharap keberadaan pojok baca kecil ini dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, interaktif, dan tentunya tetap edukatif bagi seluruh santri,” tutur Achmad Shofi.

Sinergi antara organisasi masyarakat dan lembaga pendidikan keagamaan ini dinilai penting untuk menjawab tantangan pendidikan di era informasi. Pembangunan literasi bukan hanya tugas sekolah formal, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat demi mencetak generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Awali Tahun 2026, Lurah Margorejo Tekankan Peningkatan Motivasi dan Kinerja Pamong

Sleman — Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, mengawali langkah di tahun 2026 dengan menggelar agenda penguatan internal bagi aparatur pemerintahan kalurahan. Kegiatan yang berfokus pada peningkatan motivasi dan evaluasi kinerja ini dipimpin langsung oleh Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan, bertempat di Ruang Pertemuan Kalurahan Margorejo pada Senin (5/1/2026).

Acara tersebut diikuti secara antusias oleh seluruh Kepala Urusan (Kaur), Kepala Seksi (Kasi), serta staf pamong lainnya. Turut hadir memberikan pendampingan adalah Babinsa Margorejo, Anton Sutrisno, dan Bhabinkamtibmas Margorejo, Agung Priyono. Kehadiran unsur TNI dan Polri ini menjadi simbol sinergi yang kuat dalam mendukung tata kelola pemerintahan desa serta menjamin kualitas pelayanan publik yang aman dan kondusif bagi masyarakat.

Dalam arahannya, Abdul Azis Muh Ridwan menegaskan bahwa pergantian tahun harus dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat etos kerja serta kedisiplinan. Ia berharap seluruh aparatur tidak terjebak dalam rutinitas semata, melainkan terus berinovasi dalam memberikan solusi bagi persoalan warga di lapangan.

“Tahun baru ini merupakan kesempatan bagi kita semua untuk meningkatkan motivasi, memperbaiki kinerja yang masih kurang, dan memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Margorejo. Tantangan ke depan menuntut kita bekerja lebih profesional, solid, dan responsif. Saya minta seluruh pamong bertekad meningkatkan produktivitas dengan mengedepankan budaya pelayanan 5 S, yaitu Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun,” ujar Abdul Azis Muh Ridwan di hadapan para stafnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Babinsa Margorejo, Anton Sutrisno, mengingatkan bahwa pamong kalurahan merupakan garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan warga. Oleh karena itu, faktor disiplin dan loyalitas terhadap tugas menjadi harga mati yang harus dijunjung tinggi demi menjaga stabilitas dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

“Awal tahun ini menjadi momentum penting bagi seluruh pamong Kalurahan Margorejo untuk memperkuat kedisiplinan, loyalitas, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas negara. Kami dari unsur Babinsa siap bersinergi dan memberikan dukungan penuh kepada pemerintah kalurahan demi menjaga stabilitas wilayah serta memastikan seluruh pelayanan kepada masyarakat berjalan tanpa hambatan,” tutur Anton Sutrisno.

Senada dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas Margorejo, Agung Priyono, menekankan bahwa aparatur kalurahan harus mampu menjadi teladan bagi warga dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Dengan adanya koordinasi yang rutin seperti ini, Pemerintah Kalurahan Margorejo berharap soliditas internal semakin kokoh. Orientasi utama dari penguatan kinerja ini adalah terciptanya pemerintahan kalurahan yang efektif, transparan, dan sepenuhnya berpihak pada kepentingan masyarakat sepanjang tahun 2026 ini. (SBD/KIM Senyum Tempel).




Paguyuban SMSS Sekar Manunggal Sleman Sembada Matangkan Agenda Budaya 2026

Sleman – Paguyuban Sekar Manunggal Sleman Sembada (SMSS) secara resmi mematangkan agenda kegiatan budaya untuk tahun 2026 melalui rapat koordinasi yang digelar pada Minggu (4/1/2026). Pertemuan yang berlangsung di RM Muara Kapuas, Pandowoharjo, Sleman ini dihadiri oleh segenap pengurus inti serta perwakilan dari 17 Koordinator Kapanewon (KorKap) se-Kabupaten Sleman.

Rapat tersebut fokus membahas evaluasi kegiatan sepanjang tahun 2025 sekaligus menyusun program kerja tahun 2026. Salah satu poin utama yang menjadi perhatian adalah persiapan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-31 SMSS yang jatuh pada 1 Februari 2026 mendatang.

Ketua Paguyuban SMSS Sekar Manunggal Sleman Sembada, Panggih Hadipurwanto, menegaskan bahwa konsistensi menjadi komitmen utama paguyuban dalam menjaga kelestarian seni dan sastra Jawa di wilayah Sleman. Ia mengapresiasi loyalitas para anggota yang terus bergerak secara mandiri dalam merawat tradisi.

“Pada tahun 2025 kami telah sukses melaksanakan lima kali kegiatan besar SMSS, dan untuk tahun 2026 kami telah menyepakati jumlah yang sama, yaitu tetap lima kali kegiatan. Ini adalah wujud nyata komitmen kami dalam menjaga keberlangsungan kegiatan budaya di tengah masyarakat agar tidak luntur oleh zaman,” ujar Panggih Hadipurwanto.

Selain agenda rutin, paguyuban menyepakati pelaksanaan lima kali sarasehan budaya sepanjang tahun 2026. Sarasehan tersebut direncanakan bertempat di beberapa lokasi strategis seperti Puri Mataram, PringSewu, dan Bale Rasa dengan estimasi total peserta mencapai orang. Panggih menambahkan bahwa macapatan akan tetap menjadi inti dari setiap pertemuan karena sarat akan nilai filosofi dan identitas asli SMSS.

“Macapatan bukan sekadar melantunkan syair, tetapi menjadi identitas kami dalam merawat sastra Jawa yang adiluhung. Puncak peringatan HUT nanti akan kami gelar pada Sabtu malam Minggu, 1 Februari 2026, di Rumah Dinas Bupati Sleman dengan menampilkan pentas macapatan yang dibawakan oleh Sarbuni dan iringan karawitan dari kelompok seni Pakem,” tutur Panggih.

Mengenai aspek pendanaan, rapat mencatat saldo kas paguyuban saat ini sebesar dengan estimasi kebutuhan anggaran HUT sekitar Rp1,5 juta. Anggaran tersebut akan dialokasikan untuk honor narasumber, penyusunan materi, konsumsi, hingga teknis karawitan. Pengurus menegaskan bahwa prinsip pembiayaan kegiatan tetap mengedepankan gotong royong dan kemandirian tanpa membebani pemerintah kalurahan.

“Kami telah sepakat untuk tidak meminta dana kepada pihak kalurahan. Prinsip kami adalah gotong royong dan mencari dukungan dari pihak-pihak yang memiliki kepedulian tulus terhadap pelestarian budaya. Kami ingin membuktikan bahwa kegiatan budaya bisa tetap hidup melalui kemandirian masyarakat,” tegas Panggih.

Selain persiapan HUT, SMSS juga merencanakan pelaksanaan macapatan tingkat Kabupaten Sleman mulai April 2026 serta berpartisipasi aktif dalam sarasehan lintas wilayah, termasuk di wilayah Cangkringan. Melalui rangkaian kegiatan ini, SMSS berharap dapat terus menjadi wadah silaturahmi budaya lintas generasi sekaligus menjadi pilar pelestarian seni tradisi di Kabupaten Sleman. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Jaga Aset Wakaf, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Banyuraden Terima Sertifikat Tanah Secara Resmi

Sleman — Penyerahan sertifikat tanah wakaf seluas 130 meter persegi berlangsung khidmat di Pesantren Murih Padhang, Banyuraden, Gamping, Sleman, pada Minggu (4/1/2026). Tanah tersebut diwakafkan oleh Mugiyono kepada Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kalurahan Banyuraden untuk memperkuat basis dakwah dan pelayanan sosial di wilayah tersebut.

Dalam prosesi tersebut, Mugiyono yang bertindak sebagai wakif secara resmi menyerahkan dokumen legalitas tanah kepada Suhartono yang mewakili jajaran pengurus Nahdlatul Ulama Banyuraden selaku nazhir atau pengelola wakaf. Penyerahan sertifikat ini disaksikan oleh sejumlah tokoh agama, pengurus pesantren, serta warga setempat sebagai penanda penting dalam penguatan tata kelola aset umat yang memiliki kepastian hukum.

Rois Syuriah Nahdlatul Ulama Banyuraden, Ahmad Shofi, menjelaskan bahwa lahan tersebut diperuntukkan bagi pengembangan kegiatan keagamaan dan sosial, khususnya untuk pembangunan fasilitas pendukung pesantren lanjut usia (lansia) bernama Pesantren Murih Padhang. Keberadaan tanah wakaf ini dinilai sangat krusial untuk memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan dan pengabdian masyarakat di Banyuraden.

“Lokasi Pesantren Murih Padhang ini sangat strategis untuk menunjang aktivitas pendidikan keislaman dan pemberdayaan umat secara berkelanjutan. Keberadaan tanah wakaf yang telah bersertifikat ini akan memperkuat peran pesantren sebagai pusat dakwah di tengah masyarakat Kalurahan Banyuraden. Kami sangat bersyukur atas amanah ini dan siap mengembangkannya demi kemaslahatan jemaah,” ujar Ahmad Shofi yang juga bertindak sebagai pengasuh pesantren tersebut.

Mugiyono selaku pemberi wakaf menyampaikan bahwa langkah ini merupakan ikhtiar pribadi keluarganya untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat luas. Ia menekankan bahwa wakaf tidak hanya harus bernilai ibadah secara spiritual, tetapi juga harus memiliki landasan hukum yang kuat agar dapat dikelola secara amanah, produktif, dan terhindar dari potensi sengketa di masa depan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama Banyuraden, Suhartono, mengapresiasi tinggi kepercayaan yang diberikan oleh pihak wakif. Menurutnya, kepemilikan sertifikat resmi merupakan fondasi utama bagi profesionalisme pengelolaan aset di tingkat ranting agar program-program keumatan dapat direncanakan secara matang dan berkelanjutan.

“Penyerahan sertifikat tanah wakaf ini menjadi langkah krusial dalam menjaga aset umat serta memastikan pengelolaannya sesuai dengan peruntukan syariat dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan kepastian hukum ini, kami sebagai pengurus memiliki dasar yang kuat untuk mengembangkan fasilitas pesantren lansia ini menjadi lebih baik lagi,” tutur Suhartono saat menerima dokumen tersebut.

Momentum ini juga diharapkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya tertib administrasi dalam berwakaf. Dengan diterimanya sertifikat tersebut, PRNU Banyuraden berkomitmen untuk mengelola amanah secara transparan dan bertanggung jawab guna memberikan manfaat nyata bagi pengembangan syiar Islam dan kesejahteraan sosial di lingkungan setempat (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping).