Inovasi Keripik Gembus Asal Margoagung, Olahan Limbah Tahu yang Tembus Pasar Supermarket

Sleman – Limbah tahu yang selama ini hanya dipandang sebelah mata dan sebatas dimanfaatkan sebagai pakan ternak, kini naik kelas menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Di tangan kreatif Rahayu, pemilik rumah produksi 2Dhe yang berlokasi di Krapyak X, Margoagung, Seyegan, Sleman, limbah tersebut disulap menjadi camilan renyah berupa keripik gembus yang sukses menembus rak-rak supermarket ternama di Yogyakarta.
Wilayah Krapyak X memang dikenal sebagai sentra produksi tahu di Sleman bagian barat. Melimpahnya ketersediaan bahan baku sisa produksi tahu mendorong Rahayu untuk melakukan eksperimen sejak sepuluh tahun silam. Ia menyayangkan jika sisa produksi tersebut hanya berakhir di kandang ternak tanpa memberikan nilai tambah finansial yang signifikan bagi warga sekitar.
“Awalnya limbah tahu di sini hanya dipakai untuk pakan ternak. Saya berpikir bagaimana caranya supaya limbah ini bisa punya nilai jual lebih dan bisa dinikmati sebagai camilan yang enak. Setelah melalui berbagai percobaan, akhirnya terciptalah keripik gembus ini,” ujar Rahayu saat ditemui di rumah produksinya pada Sabtu (3/1/2026).
Untuk memenuhi permintaan pasar, setiap hari Rahayu membutuhkan sekitar tiga ember limbah tahu yang kemudian diolah menjadi 14 hingga 15 kilogram keripik gembus. Meskipun skalanya sudah masuk ke pasar modern, operasional usaha ini masih dikelola secara mandiri oleh Rahayu bersama suami dan dibantu seorang karyawan. Selain keripik gembus, rumah produksi 2Dhe juga memproduksi keripik kenikir, usus crispy, dan keripik pare berdasarkan pesanan.
Keberhasilan menembus pasar ritel modern tidak didapatkan secara instan. Rahayu aktif mengikuti berbagai pembinaan, mulai dari gebyar UMKM, Pasar Tani, hingga proses kurasi ketat yang dilakukan oleh dinas terkait. Melalui proses kurasi tersebut, ia mendapatkan banyak masukan teknis mengenai standar kualitas rasa, ketahanan produk, hingga estetika kemasan yang sesuai dengan permintaan pasar menengah ke atas.
“Setelah rutin ikut kurasi, saya banyak belajar soal standar rasa dan kemasan yang profesional. Perubahan pada aspek kemasan dan kualitas rasa inilah yang akhirnya membuka jalan bagi produk kami untuk mendapatkan tawaran masuk ke supermarket. Saat ini produk kami sudah tersedia di beberapa jaringan supermarket besar di Yogyakarta dan mampu bertahan hingga tiga bulan tanpa pengawet tambahan,” ungkap Rahayu dengan bangga.
Demi menjaga stabilitas produksi, Rahayu menjalin kerja sama dengan tiga perajin tahu di lingkungannya sebagai pemasok bahan baku utama. Tidak hanya berorientasi pada keuntungan, ia juga sangat memperhatikan aspek lingkungan dengan menyiapkan sumur resapan khusus untuk mengelola limbah cair sisa produksinya. Komitmennya pada lingkungan ini bahkan menjadikan rumah produksinya sering dijadikan objek penelitian oleh mahasiswa, mulai dari kajian pengolahan limbah hingga inovasi pembuatan tepung dari ampas tahu.
Meski telah sukses di pasar luring, Rahayu mengakui bahwa tantangan cuaca masih menjadi kendala utama karena sangat memengaruhi proses pengolahan gembus sebelum digoreng. Selain itu, ia berencana untuk mulai merambah platform digital guna memperluas jangkauan pasar yang lebih luas di masa depan. Ia percaya bahwa konsistensi dan ketelatenan dalam mengolah bahan baku lokal adalah kunci utama UMKM untuk tetap bertahan dan berkembang. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



