Buk Renteng Van der Wijck, Warisan Infrastruktur Kolonial Penopang Ketahanan Pangan

Sleman — Di tengah tantangan ketahanan pangan dan upaya pelestarian cagar budaya, sebuah bangunan peninggalan kolonial di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan bahwa warisan sejarah dapat tetap relevan dengan kebutuhan masa kini. Buk Renteng Van Der Wijck, infrastruktur irigasi peninggalan Hindia Belanda, hingga hari ini masih berfungsi mengalirkan air bagi lahan pertanian warga.

Dibangun sebagai bagian dari sistem pengairan kolonial, Buk Renteng Van Der Wijck dirancang dengan konstruksi batu berlengkungan dan dinding tebal yang mencerminkan teknik bangunan Eropa pada masanya.

Ketahanan struktur tersebut terbukti dari kemampuannya bertahan lintas generasi, bahkan ketika banyak bangunan modern memerlukan perbaikan berkala.

Keberadaan bangunan ini tidak hanya bernilai historis, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendukung produktivitas pertanian. Aliran air yang stabil dari saluran irigasi ini menjadi salah satu faktor penopang keberlanjutan sawah-sawah di sekitarnya, sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan di tingkat lokal.

Danarta Kalurahan Banyurejo, Sumitra menuturkan bahwa Buk Renteng Van Der Wijck telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga setempat. Sumitra menyaksikan langsung bagaimana bangunan tersebut terus dimanfaatkan lintas generasi, terutama dalam menunjang pengairan sawah warga.

Menurutnya, sejak dulu hingga sekarang, aliran air dari buk renteng ini tidak pernah lepas dari aktivitas pertanian masyarakat sekitar.

“Sejak saya kecil sampai sekarang, buk renteng ini tetap mengalirkan air ke sawah-sawah warga. Banyak petani yang menggantungkan pengairan dari sini. Karena itu, bagi kami, bangunan ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari,” tuturnya saat ditemui Kim Tempel, Selasa (27/1/2026)

“Buk Renteng Van Der Wijck adalah bukti bahwa warisan masa lalu masih memberi manfaat nyata hingga sekarang. Bangunan ini perlu dijaga bersama karena selain memiliki nilai sejarah, juga berperan dalam mendukung pertanian dan kehidupan masyarakat,” sambung Sumitra.

Selain fungsi irigasi, Buk Renteng Van Der Wijck menyimpan potensi sebagai destinasi wisata edukatif berbasis sejarah dan lingkungan.  Pemandangan alam yang asri, hamparan sawah, serta aliran air yang mengalir di bawah lengkungan bangunan menciptakan daya tarik visual sekaligus ruang belajar terbuka mengenai sejarah infrastruktur, pengelolaan air, dan hubungan manusia dengan alam.

Pengembangan situs ini sebagai wisata edukasi dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai saluran irigasi. Dengan pendekatan pelestarian yang tepat, Buk Renteng Van Der Wijck berpotensi menjadi contoh bagaimana cagar budaya dapat diintegrasikan dengan pembangunan berkelanjutan.

Di tengah arus modernisasi, Buk Renteng Van Der Wijck berdiri sebagai pengingat bahwa infrastruktur yang dibangun dengan visi jangka panjang mampu melampaui zamannya. Warisan kolonial ini tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga simbol kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. (Ratna Zuliastuti / KIM Senyum Tempel)




Pemkal Banyuraden Salurkan Beasiswa Dana Keistimewaan DIY kepada Sembilan Mahasiswa

Sleman – Pemerintah Kalurahan Banyuraden menyalurkan beasiswa pendidikan kepada sembilan mahasiswa yang memenuhi persyaratan dari keluarga kurang mampu dengan memanfaatkan anggaran Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penyerahan beasiswa tersebut dilakukan langsung oleh Sudarisman selaku Lurah Banyuraden di Kantor Pemerintah Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman, Selasa (27/1/2026).

Program beasiswa ini merupakan bentuk komitmen pemerintah kalurahan dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya bagi generasi muda Banyuraden yang memiliki keterbatasan ekonomi namun bersemangat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Sudarisman dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang sangat menentukan masa depan individu maupun kemajuan daerah. Oleh karena itu, pihaknya berupaya memastikan tidak ada warga Banyuraden yang terhambat mengenyam pendidikan tinggi hanya karena faktor ekonomi.

Menurutnya, pemanfaatan Dana Keistimewaan DIY untuk sektor pendidikan sejalan dengan semangat keistimewaan Yogyakarta yang menempatkan penguatan kebudayaan, kesejahteraan sosial, dan pengembangan sumber daya manusia sebagai pilar utama pembangunan daerah.

Sembilan mahasiswa penerima beasiswa tersebut berasal dari berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, dengan latar belakang keluarga miskin yang telah melalui proses pendataan dan verifikasi secara transparan oleh Pemerintah Kalurahan Banyuraden bersama masing-masing perguruan tinggi terkait.

“Program ini sebagai bentuk perhatian Pemerintah Kalurahan Banyuraden untuk menjamin kesetaraan akses pendidikan tinggi sehingga mahasiswa dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan yang sama dengan mereka yang mampu,” terang Sudarisman.

Beasiswa yang diberikan diharapkan dapat membantu kebutuhan pendidikan mahasiswa, mulai dari biaya kuliah hingga penunjang akademik lainnya, sehingga mereka dapat lebih fokus dalam menyelesaikan studi dan meningkatkan prestasi akademik.

Lebih lanjut, Sudarisman berpesan kepada para penerima beasiswa agar memanfaatkan bantuan tersebut dengan penuh tanggung jawab dan menjadikannya sebagai motivasi untuk belajar lebih giat serta berkontribusi positif bagi masyarakat di kemudian hari.

Sementara itu, Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama menyampaikan bahwa salah satu syarat penerima beasiswa dari Pemerintah Kalurahan Banyuraden adalah tidak sedang menerima program beasiswa lain terutama dari pemerintah seperti Program Indonesia Pintar (PIP), Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah atau yang lainnya.

Hal tersebut dilakukan demi menjaga akuntabilitas penggunaan anggaran karena Dana Keistimewaan Yogyakarta memiliki mekanisme pengawasan dan pertanggungjawaban yang ketat.

“Syarat ini memudahkan kami dalam pelaporan, audit, dan evaluasi, serta menghindari potensi temuan pelanggaran administrasi,” tandas Hendy.

Melalui program beasiswa Dana Keistimewaan DIY ini, Pemerintah Kalurahan Banyuraden berharap dapat melahirkan generasi muda yang berdaya saing, berkarakter, dan mampu menjadi agen perubahan bagi pembangunan sosial dan ekonomi di wilayah Banyuraden dan sekitarnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




AKSANSI Yogyakarta Kembangkan Pertanian Berintegrasi untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Sleman – Asosiasi KSM dan Sanitasi Seluruh Indonesia (Aksansi) mempunyai beberapa fungsi utama. Salah satunya adalah mengelola sumber daya manusia dan kapasitas yang tersedia untuk mengimplementasikan rencana kerja secara efisien dan berkelanjutan.

Untuk mewujudkan hal tersebut Aksansi Yogyakarta mengembangkan pola pertanian berintegrasi. Direktur Sekretariat Nasional Aksansi Yogyakarta, Prasetyastuti Puspo Wardoyo atau yang biasa disapa Mbak Prast, mengungkapkan bahwa pertanian berintegrasi adalah konsep pertanian yang menggabungkan beberapa komponen pertanian, tanaman, hewan, dan mikroorganisme dalam satu sistem yang terintegrasi.

Konsep tersebut sudah dimulai oleh Aksansi Yogyakarta yang berkantor di Balecatur Regeratif (Balerge) Pasekan Lor, Balecatur,Gamping, Sleman. Saat ini Aksansi telah memiliki 10 ekor domba, beberapa ekor ayam dan itik dalam satu lokasi.

“Di atas ayam dan itik, sebagai kandang domba,” tutur Mbak Prast pada Selasa (27/1/2026).

Ia berharap kegiatan tersebut nantinya dapat menghasilkan sumber protein, sekaligus sebagai mikroorganisme seperti bakteri yang berfungsi penghasil pupuk, dan sebagai agen pengontrol hama.

“Secara bertahap lahan kosong di sebelah kantor ini, akan kami tanami berbagai jenis tanaman sayur,” tandasnya.

“Ke depan tempat ini akan kami jadikan tempat pemasaran telur ayam, telur itik, dan sayuran sepekan satu kali. Pemasaran juga bisa menggunakan media online,” sambungnya.

Mbak Prast menuturkan sistem pertanian berintegrasi tersebut memiliki beberapa manfaat antara lain dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk, meningkatkan produksivitas tanaman dan hewan.

“Manfaat lainnya bisa mengurangi dampak lingkungan seperti polusi air dan tanah. Yang tak kalah penting bisa meningkatkan keamanan pangan dengan mengurangi penggunaan pestisida dan herbisida,” pungkasnya.  (Giek / KIM Moyudan)




Musyawarah Padukuhan Gempol Bahas Prioritas Pembangunan Tahun 2026

Sleman – Musyawarah Padukuhan (Musduk) merupakan forum musyawarah tingkat padukuhan yang bertujuan untuk membahas dan menentukan prioritas usulan rencana kegiatan pembangunan, baik fisik maupun pemberdayaan (nonfisik), yang akan dilaksanakan pada tahun berikutnya sebagai bahan penyusunan RKP Kalurahan.

Musduk Padukuhan Gempol dilaksanakan pada Selasa (27/1/2026), di Gedung Sarana dan Prasarana Padukuhan Gempol. Kegiatan ini dihadiri oleh Tim 2 Kalurahan Condongcatur yang terdiri dari Ulu-ulu, Carik, Staf Kalurahan, LPMK dan BPKal. Turut hadir Dukuh Gempol, pengurus RT dan RW, Karang Taruna, PKK, Kelompok Wanita Tani (KWT), serta tokoh masyarakat Padukuhan Gempol.

Dukuh Gempol, Ari Susanti mengatakan musduk kali ini fokus membahas program prioritas pembangunan fisik, yaitu normalisasi drainase dan pengaspalan jalan serta non fisik.

“Hal tersebut diharapkan dapat menunjang aktivitas dan meningkatkan kenyamanan warga Padukuhan Gempol,” katanya.

Sementara itu, Carik Kalurahan Condongcatur, Riska Dian Nur Lestari dalam sambutannya menyampaikan bahwa perencanaan pembangunan dilakukan berdasarkan hasil musyawarah warga dan skala prioritas. Ia juga menyampaikan sosialisasi Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 24 Tahun 2024 tentang Pemanfaatan Tanah Kalurahan, sebagai pedoman dalam pengelolaan dan pemanfaatan tanah kalurahan agar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Padukuhan Gempol terdiri dari 3 RW dan 18 RT, yang terletak di bagian paling utara Kalurahan Condongcatur. Melalui musduk ini diharapkan perencanaan pembangunan kedepan dapat lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” katanya. (Tri Suhartati KIM Depok)




Pompa Hidram Sonoharjo, Inovasi Mandiri Angkat Air Tanpa Listrik

Sleman — Di balik sebuah rumah sederhana di RT 06/23 Sonoharjo, Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan, mengalir gagasan besar tentang kemandirian air. Dari sumber mata air yang berada lebih rendah, Supriyono berhasil menaikkan air ke permukiman dan kolam ikan tanpa listrik, tanpa bahan bakar, dan tanpa emisi, hanya mengandalkan hukum alam.

Teknologi yang digunakan dikenal dengan pompa hidram (hydraulic ram pump), sebuah alat sederhana yang bekerja memanfaatkan energi potensial air dan tekanan hentakan hidrolik (water hammer). Ketertarikan Supriyono pada teknologi ini berangkat dari kebutuhan nyata di lingkungan sekitarnya. Kolam ikan yang ia kelola bersama warga berada lebih tinggi dari sumber mata air, sementara penggunaan pompa listrik dinilai mahal dan tidak ramah lingkungan.

“Saya melihat potensi mata air di belakang rumah, tapi letaknya lebih rendah dari kolam ikan warga. Dari situ saya berpikir bagaimana caranya air bisa naik dengan biaya semurah mungkin,” tutur Supriyono.

Pencarian solusi tersebut dimulai sejak tahun 2008. Selama bertahun-tahun, Supriyono melakukan berbagai percobaan, merakit, serta menyempurnakan desain pompa hingga akhirnya sistem hidram benar-benar dapat diandalkan. Kini, di wilayah Kapanewon Seyegan telah terdapat empat titik pompa hidram yang aktif, masing-masing berada di Padukuhan Sonoharjo, Grajegan, dan Somokaton, tiga padukuhan yang berada di wilayah Kalurahan Margokaton.

Saat ditemui di lokasi pompa, Selasa (27/1/2026), Supriyono menjelaskan bahwa sistem pompa hidram memerlukan bak penenang sebagai bagian penting dari instalasi. Bak ini berfungsi menstabilkan aliran air sebelum masuk ke pipa pompa sekaligus menyaring sampah agar tekanan air tetap optimal.

“Kalau airnya beriak atau banyak gelembung udara, tekanannya jadi turun. Bak penenang ini penting supaya kerja pompa maksimal,” jelasnya. Berkat pengalamannya, Supriyono kerap menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan terkait pemanfaatan air menggunakan pompa hidram.

Meski tergolong teknologi tepat guna, pompa hidram tidak lepas dari tantangan. Pada musim kemarau, debit air yang menurun menjadi kendala utama. Selain itu, kebiasaan sebagian masyarakat membuang sampah ke badan air serta masuknya siput atau keong ke dalam klep pompa kerap mengganggu kinerja alat.

Namun keterbatasan tersebut tidak memadamkan semangat Supriyono. Ia justru melihat peluang besar untuk pengembangan ke depan. Wilayah Seyegan yang kerap menjadi lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dinilai memiliki potensi besar sebagai laboratorium lapangan.

“Saya berharap suatu saat pompa hidram ini bisa menjadi objek penelitian, supaya ada masukan untuk pengembangannya,” ujarnya.

Tak berhenti pada pemompaan air, Supriyono juga memendam mimpi lanjutan untuk memanfaatkan aliran air yang sudah dinaikkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) skala kecil. Meski sederhana, ia berharap gagasan tersebut dapat menjadi prototipe pemanfaatan energi air yang berkelanjutan.

Di tengah tantangan krisis air dan energi, keberadaan pompa hidram di Sonoharjo menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium besar. Kadang, ia tumbuh dari halaman rumah, dari kegigihan seorang warga yang memilih berdamai dengan alam dan memanfaatkannya secara bijak. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)