Cegah Salah Dosis, PAFI Sleman Edukasi Masyarakat Lewat Gerakan Tanya 5 O

Sleman — Minimnya pemahaman masyarakat terhadap informasi detail produk obat masih menjadi tantangan besar dalam dunia kesehatan. Ketidakseimbangan informasi antara tenaga kesehatan dan pasien berisiko memicu penggunaan obat yang tidak tepat, yang justru dapat membahayakan keselamatan jiwa. Merespons kondisi tersebut, Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Kabupaten Sleman menggelar aksi pengabdian masyarakat berupa sosialisasi edukasi penggunaan obat di Lapangan Pemda Sleman pada Minggu (1/2/2026).

Dalam kegiatan tersebut, para ahli farmasi turun langsung ke tengah masyarakat untuk memperkenalkan gerakan “Tanya 5 O”. Gerakan ini merupakan panduan lima pertanyaan mendasar yang wajib diketahui pasien sebelum mengonsumsi obat apa pun. Ketua PAFI Sleman, Wijaya, menegaskan bahwa obat bukan sekadar komoditas biasa yang bisa diminum sembarangan karena mengandung zat aktif yang memiliki aturan pakai serta dosis yang spesifik bagi setiap individu.

“Obat bukan sekadar produk yang diminum saat sakit. Di dalamnya ada kandungan zat aktif, aturan pakai, dosis, hingga efek samping yang perlu dipahami dengan benar. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang mengonsumsi obat tanpa mengetahui informasi dasarnya. Melalui tagline Tanya 5 O, kami mendorong masyarakat agar tidak pasif dan berani bertanya kepada tenaga farmasi atau membaca brosur obat secara teliti,” ujar Wijaya di tengah kerumunan warga.

Wijaya merinci bahwa poin pertama dalam Tanya 5 O adalah mengetahui nama dan kandungan obat. Masyarakat perlu memahami perbedaan nama generik dan nama dagang agar tidak terjadi konsumsi obat ganda dengan zat aktif yang sama. Poin kedua adalah memahami khasiat atau indikasi obat. Menurutnya, masyarakat harus sadar bahwa efektivitas obat berasal dari kandungan zatnya, bukan dari popularitas mereknya.

Selanjutnya, poin ketiga dan keempat berkaitan erat dengan keamanan konsumsi, yakni dosis dan cara penggunaan. Wijaya mengingatkan bahwa dosis tidak bisa disamaratakan karena bergantung pada usia dan berat badan. Penggunaan berlebihan dapat memicu keracunan, sementara penggunaan yang tidak tepat, seperti meminum obat tiga kali sehari tanpa memperhatikan jeda delapan jam, dapat mengurangi efektivitas penyembuhan.

“Dosis itu sangat personal dan tidak bisa disamaratakan. Penggunaan obat melebihi anjuran justru membahayakan. Selain itu, cara penggunaan juga harus benar; misalnya sirup kering wajib dilarutkan sesuai takaran, atau obat tetas mata yang harus digunakan dengan posisi yang tepat. Aturan minum tiga kali sehari itu artinya setiap delapan jam, bukan asal pagi, siang, dan malam,” jelas Wijaya lebih lanjut.

Poin terakhir yang tidak kalah penting adalah mengenai efek samping. Masyarakat diedukasi untuk mengenali potensi reaksi tubuh seperti rasa kantuk, pusing, hingga gangguan ginjal yang mungkin muncul sebagai efek tambahan. PAFI Sleman berharap melalui literasi obat yang kuat, masyarakat dapat menggunakan obat secara lebih rasional dan aman. Edukasi berkelanjutan ini diharapkan mampu menempatkan tenaga farmasi sebagai mitra terpercaya masyarakat dalam menjaga kualitas kesehatan nasional dari tingkat daerah. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Sasar Akurasi Bantuan, Kapanewon Depok Sleman Uji Coba Aplikasi Perlinsos Berbasis IKD

Sleman — Pemerintah Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, mulai menyosialisasikan pilot project aplikasi Perlindungan Sosial (Perlinsos) sebagai upaya memperkuat validitas data kemiskinan di wilayahnya. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan di Balai Dusun Demangan, Maguwoharjo, pada Senin (2/2/2026). Inovasi digital ini diharapkan mampu meningkatkan akurasi layanan serta mempermudah akses bantuan sosial bagi masyarakat melalui sistem yang lebih terintegrasi.

Aplikasi Perlinsos merupakan program percontohan yang saat ini hanya dilaksanakan di 40 titik di seluruh Indonesia. Salah satu keunikan sistem ini adalah syarat aksesnya yang wajib menggunakan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD). Melalui integrasi ini, pemerintah berupaya memastikan bahwa penerima manfaat adalah warga yang benar-benar terverifikasi secara resmi dalam database kependudukan nasional, sehingga meminimalisir risiko bantuan salah sasaran.

Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Subekti Handayani, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengantisipasi kendala teknis yang mungkin dihadapi masyarakat, terutama bagi kelompok lansia atau warga yang belum memiliki perangkat telepon pintar yang memadai. Menurutnya, pemerintah telah menyiagakan petugas untuk memberikan pendampingan langsung dalam proses aktivasi agar tidak ada warga rentan yang terhambat aksesnya.

“Bagi lansia atau warga dengan perangkat yang tidak mendukung, aktivasi IKD akan dibantu sepenuhnya oleh petugas kami. Proses aktivasi juga dapat dilakukan dengan mudah di kantor kecamatan terdekat. Kami ingin memastikan transisi ke sistem digital ini tidak meninggalkan mereka yang paling membutuhkan bantuan,” ujar Subekti Handayani di tengah sesi sosialisasi.

Lebih lanjut, Subekti memaparkan mengenai rencana penyaluran bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako yang dijadwalkan cair pada bulan Februari mendatang. Ia menekankan pentingnya pendampingan keluarga dalam proses pendataan, terutama bagi penerima manfaat lansia. Hal ini dilakukan agar dokumentasi kegiatan dan validasi data lapangan benar-benar akurat sesuai dengan kondisi riil di lingkungan tempat tinggal warga.

“Program ini merupakan langkah besar untuk memperkuat perlindungan sosial bagi keluarga penerima manfaat secara tepat sasaran. Melalui aplikasi Perlinsos, informasi penyaluran bantuan akan menjadi lebih transparan. Kami juga mewajibkan lansia didampingi anggota keluarga saat pendataan agar proses dokumentasi foto dan validasi data berjalan lancar,” tambahnya.

Selain membahas aplikasi, sosialisasi ini juga memberikan informasi terkait kebijakan layanan BPJS pada hari libur, di mana peserta diperbolehkan menanggung biaya terlebih dahulu untuk kemudian diklaim sesuai ketentuan pemerintah. Melalui rangkaian edukasi ini, Kapanewon Depok berharap masyarakat semakin akrab dengan mekanisme digitalisasi birokrasi, sehingga proses pendataan sosial di masa depan berjalan lebih efektif, transparan, dan berkelanjutan demi kesejahteraan warga Sleman. (Athiful/KIM Depok)




Urip Kudu Urup, Jamaludin Nur Ridho Sulap Margoluwih Jadi Eduwisata Kampung Nanas Jumbo

Sleman — Semangat pemberdayaan masyarakat pedesaan kini menemukan bentuk barunya di Padukuhan Barak I, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan. Melalui Jamal Farm, seorang pemuda bernama Jamaludin Nur Ridho berhasil mengembangkan konsep eduwisata bertajuk Kampung Nanas Amargoluwih Jumbo. Mengusung konsep budidaya dari hulu ke hilir, kawasan ini tidak hanya menjadi area produksi pertanian, tetapi juga pusat riset dan pembelajaran yang melibatkan berbagai unsur lokal mulai dari kelompok tani, PKK, hingga Karang Taruna.

Kisah sukses ini berawal dari program dana desa yang memberikan bibit nanas gratis kepada warga dengan konsep satu rumah satu bibit. Kini, kesadaran masyarakat telah meningkat pesat hingga setiap rumah rata-rata mengelola tiga sampai lima bibit. Selain dana desa, pengembangan kawasan ini juga didukung oleh pemanfaatan dana riset dosen serta penelitian mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ternama. Jamaludin yang juga menjabat sebagai Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian RI ini memegang teguh filosofi hidup masyarakat Jawa dalam menjalankan usahanya.

“Filosofi saya adalah urip kudu urup, artinya hidup itu harus memberi manfaat untuk orang lain. Kalau kita bertani hanya untuk memperkaya diri sendiri, itu belum cukup bagi saya. Saya ingin keberadaan Jamal Farm ini mengangkat ekonomi tetangga dan warga sekitar melalui kemitraan yang nyata,” ujar Jamaludin Nur Ridho saat ditemui di lokasi usahanya pada Minggu (1/2/2026).

Pemilihan jenis nanas jumbo Smooth Cayenne asal Filipina bukan tanpa alasan. Jamaludin menjelaskan bahwa varietas ini memiliki karakteristik yang sangat ramah untuk dikembangkan di lingkungan pemukiman. Selain budidayanya yang relatif mudah, nanas jenis ini memiliki duri yang minim sehingga aman bagi anak-anak yang berkunjung untuk belajar. Dari sisi konsumsi, buahnya tidak menimbulkan rasa gatal di mulut dan memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga sangat potensial untuk diolah menjadi sirup maupun selai.

“Jenis nanas jumbo ini budidayanya relatif mudah, durinya minim jadi ramah anak-anak, dan yang terpenting buahnya tidak gatal di mulut saat dimakan. Kandungan airnya yang melimpah sangat cocok untuk produksi sirup, sementara serat daging buahnya sangat pas diolah menjadi selai berkualitas tinggi. Kami ingin Jamal Farm menjadi ruang belajar bersama, bukan hanya untuk petani, tapi juga mahasiswa dan generasi muda yang ingin melihat pertanian sebagai peluang masa depan,” jelas Jamaludin.

Kini, Jamal Farm telah bertransformasi menjadi tujuan kunjungan akademik bagi mahasiswa dari berbagai universitas besar seperti UGM, IPB, hingga UMY untuk kegiatan riset dan magang kewirausahaan. Selain melayani eduwisata, Jamal Farm juga merambah pasar digital dengan menjual bibit nanas dan pupuk ke berbagai pelosok Indonesia, mulai dari Sumatera Barat hingga Papua. Berbagai riset lanjutan pun tengah dikembangkan, termasuk inovasi pupuk berbahan daun nanas hingga pemanfaatan serat daun nanas sebagai bahan baku kain.

Eksistensi Kampung Nanas Jumbo ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi anak muda di sektor pertanian mampu menjadi penggerak ekonomi lokal. Melalui pemasaran digital yang masif di media sosial, Jamaludin berharap visi besarnya untuk mengajak generasi muda menjadi produktif dan inovatif dapat terwujud dalam menyongsong Indonesia Emas. Kiprahnya yang juga aktif sebagai relawan ambulans menunjukkan bahwa semangat pengabdian dan kewirausahaan dapat berjalan beriringan demi kesejahteraan masyarakat luas. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Sambut Ramadan 1447 H, Ratusan Warga Suruh dan Jetis Suruh Gelar Nyadran Lintas Agama

Sleman — Ratusan warga Padukuhan Suruh dan Jetis Suruh, Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, berkumpul di Area Makam Suruh pada Sabtu (31/1/2026) untuk melaksanakan tradisi Nyadran. Ritual tahunan menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah ini digelar sebagai bentuk persiapan spiritual sekaligus pelestarian budaya yang telah turun-temurun dijaga oleh masyarakat setempat. Peristiwa ini mencerminkan kuatnya akar budaya Jawa yang berpadu harmonis dengan nilai-nilai religius dalam menyongsong bulan puasa.

Acara yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga dari berbagai lapisan usia. Hadir sebagai penceramah utama, Makmum Kholid, yang mengupas tuntas makna dan filosofi di balik tradisi Nyadran. Dalam tausiyahnya, ia menjelaskan bahwa Nyadran bukan sekadar ritual rutin, melainkan sebuah proses akulturasi budaya yang mengandung nilai sosial sangat kuat sebagai sarana pembersihan diri lahir maupun batin.

“Nyadran adalah salah satu ikhtiar untuk membersihkan diri agar saat memasuki bulan Ramadan kita berada dalam kondisi siap menjalankan ibadah puasa dengan lebih khusyuk. Mendoakan para leluhur adalah bagian dari ajaran kebaikan, sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kehidupan di dunia ini bersifat sementara dan setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada sang pencipta,” ujar Makmum Kholid di hadapan para jamaah.

Lebih lanjut, Makmum Kholid menegaskan bahwa esensi Nyadran juga terletak pada penguatan harmoni sosial. Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan yang mampu meluruhkan sekat-sekat perbedaan dan mempererat tali silaturahmi antarwarga melalui semangat gotong royong. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran warga nonmuslim yang turut berpartisipasi aktif dalam rangkaian acara, menunjukkan bahwa Nyadran telah menjadi identitas budaya milik bersama di wilayah tersebut.

Kepala Dukuh Suruh, Agus Pranggono, menyatakan bahwa keterlibatan warga lintas agama dalam prosesi Nyadran merupakan pemandangan yang lazim dan menjadi bukti nyata toleransi di lingkungannya. Menurutnya, kerukunan yang terjaga selama ini merupakan warisan dari para leluhur yang harus terus dipelihara. Ia menilai bahwa ketika warga berkumpul di makam, fokus utama mereka adalah rasa hormat kepada pendahulu dan kebersamaan sebagai satu keluarga besar padukuhan.

“Tradisi Nyadran ini sudah menjadi milik bersama seluruh warga di sini, tanpa memandang perbedaan latar belakang. Semua terlibat mulai dari proses pembersihan hingga doa, karena tujuan utama kami adalah menjaga kebersamaan dan kerukunan yang sudah lama terjalin. Kami ingin memastikan nilai-nilai gotong royong ini tidak luntur dimakan zaman,” ungkap Agus Pranggono.

Rangkaian kegiatan diawali dengan tradisi besik, yaitu aksi gotong royong membersihkan nisan leluhur dan area pemakaman sebagai simbol penghormatan dan kepedulian lingkungan. Puncak acara ditutup dengan doa bersama dan tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Melalui pelaksanaan Nyadran ini, warga Suruh dan Jetis Suruh berharap nilai-nilai luhur tersebut dapat diwariskan kepada generasi muda sebagai pondasi karakter dalam bermasyarakat. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Atasi Krisis Air Bersih, Mahasiswa KKN UST dan Sekolah Air Hujan Banyu Bening Edukasi Warga Klaten

Sleman — Pemanfaatan air hujan sebagai solusi kemandirian air bersih terus dikampanyekan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap air tanah. Langkah strategis ini diwujudkan melalui kolaborasi antara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Padepokan 5 Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta dengan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman. Mereka menggelar sosialisasi pemanfaatan air hujan sebagai air minum sehat di Desa Kadilanggon, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, pada Minggu (1/2/2026).

Kegiatan ini menyasar berbagai elemen masyarakat, mulai dari perangkat desa, tokoh masyarakat, hingga ibu rumah tangga. Fokus utama peristiwa ini adalah memberikan pemahaman mendalam bahwa air hujan bukan sekadar sisa alam yang terbuang, melainkan sumber air minum alternatif yang sangat layak dikonsumsi jika dikelola dengan teknik yang benar. Di tengah tantangan penurunan kualitas air tanah di berbagai wilayah, edukasi ini menjadi oase bagi warga untuk mendapatkan sumber kehidupan yang lebih murah dan berkelanjutan.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Padepokan 5, Ahmad Syauqi Hidayatullah, menjelaskan bahwa air minum berkualitas adalah fondasi utama kesehatan keluarga. Ia menilai pemanenan air hujan merupakan solusi nyata bagi wilayah yang sering mengalami kendala akses air bersih. Menurutnya, air hujan memiliki nilai strategis yang selama ini sering terabaikan karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai sistem penampungan dan pengolahan sederhana yang efektif.

“Air hujan merupakan anugerah alam yang dapat dimanfaatkan secara optimal melalui pengelolaan yang tepat, sekaligus menjadi langkah menjaga keberlanjutan lingkungan. Kami ingin mengubah pola pikir masyarakat agar tidak lagi membiarkan air hujan mengalir sia-sia ke selokan, padahal jika diolah dengan benar, air ini jauh lebih sehat dan membantu ekonomi keluarga karena mengurangi ketergantungan pada air kemasan,” ujar Ahmad Syauqi Hidayatullah di hadapan warga Kadilanggon.

Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, yang hadir sebagai narasumber utama, membedah secara teknis prinsip dasar pemanenan air hujan. Ia menekankan bahwa kunci utama dari kualitas air minum ini terletak pada standar kebersihan wadah serta ketelatenan dalam merawat instalasi. Warga tidak hanya diberikan teori, tetapi juga diajak menyaksikan demonstrasi praktik filtrasi dan sterilisasi secara langsung agar mereka mampu mereplikasi sistem tersebut secara mandiri di rumah masing-masing.

“Jangan pernah takut mengonsumsi air hujan selama teknik penangkapannya benar. Yang paling krusial adalah memastikan talang dan wadah penampungan selalu dalam kondisi bersih serta menggunakan sistem penyaringan awal untuk membuang debu atau kotoran dari atap. Jika proses penyaringan dan pengolahan dilakukan sesuai standar, air hujan ini sangat aman, sehat, dan bahkan lebih segar dibandingkan sumber air lainnya,” tegas Sri Wahyuningsih saat memperagakan teknik filtrasi.

Antusiasme warga terlihat sangat tinggi selama sesi diskusi, terutama saat membahas mengenai keamanan jangka panjang dan efisiensi biaya instalasi. Banyak warga yang mulai menyadari bahwa ketergantungan tinggi pada air tanah dapat berdampak buruk bagi lingkungan di masa depan. Melalui sinergi antara akademisi dan praktisi lingkungan ini, diharapkan Desa Kadilanggon menjadi pelopor gerakan mandiri air yang bisa dicontoh oleh wilayah sekitarnya demi menjaga kedaulatan air di tingkat rumah tangga. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)