Panewu Mlati Dorong Pembentukan KIM demi Perkuat Literasi Informasi Warga

Sleman – Pembentukan Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) tingkat kapanewon dinilai strategis dalam memperkuat arus informasi publik yang akurat, partisipatif, dan berbasis kebutuhan warga. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan pembentukan KIM Kapanewon Mlati yang difasilitasi Panewu Mlati di Gedung Serbaguna Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Rabu (4/2/2026).

Panewu Mlati, Dyah Purwanti dalam sambutannya menegaskan bahwa keberadaan KIM di tingkat kapanewon sangat penting untuk menjawab tantangan derasnya arus informasi, termasuk hoaks dan disinformasi. Menurutnya, KIM berperan strategis sebagai mitra pemerintah dalam menyampaikan kebijakan, program pembangunan, serta potensi wilayah kepada masyarakat secara tepat dan berimbang.

Selain itu, KIM juga diharapkan mampu mengangkat isu-isu lokal dan aspirasi masyarakat agar dapat tersampaikan secara konstruktif kepada pemangku kebijakan.

“Dengan demikian, proses pembangunan dapat berjalan lebih partisipatif dan berbasis kebutuhan riil warga di tingkat bawah,” ujar Dyah Purwanti di hadapan peserta rapat.

Hadir sebagai narasumber, Ketua Forum KIM Sembada Kabupaten Sleman, Adnan Iman Nurtjahjo, menyampaikan bahwa pembentukan KIM tingkat kapanewon merupakan langkah penting dalam membangun ekosistem informasi yang sehat dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa KIM bukan sekadar komunitas penyebar informasi, melainkan ruang belajar bersama bagi masyarakat.

Menurut Adnan, KIM memiliki peran ganda, yakni sebagai produsen informasi lokal sekaligus filter informasi yang beredar di tengah masyarakat.

“Oleh karena itu, pengurus dan anggota KIM perlu dibekali kapasitas jurnalistik dasar, literasi digital, serta pemahaman etika komunikasi publik,” sambungnya.

Ia juga mendorong agar KIM Kapanewon Mlati mampu bersinergi dengan KIM di tingkat kalurahan yang sudah terbentuk sebelumnya di Kalurahan Sinduadi dan Sendangadi, maupun jejaring KIM di tingkat Kabupaten Sleman. Sinergi tersebut dinilai penting untuk memperluas jangkauan informasi sekaligus memperkuat identitas dan potensi lokal Mlati di ruang publik.

Dalam sesi diskusi, peserta rapat menyambut baik pembentukan KIM tingkat kapanewon dan menyampaikan berbagai pandangan terkait peran KIM ke depan. Sejumlah peserta berharap KIM dapat menjadi motor penggerak promosi potensi UMKM, budaya, dan kegiatan sosial masyarakat di wilayah Mlati.

Berdasarkan keaktifan dalam kegiatan kemasyarakatan di wilayah Kapanewon Mlati dan memiliki rekam jejak keterlibatan dalam kegiatan sosial, kemasyarakatan, atau komunitas, maka forum sepakat memilih Edy Setyoharjo sebagai Ketua terpilih KIM Kapanewon Mlati untuk periode 2026 – 2030.

Dengan terbentuknya KIM Kapanewon Mlati, pemerintah setempat berharap tercipta masyarakat yang lebih cakap informasi, kritis, dan berdaya. Keberadaan KIM diharapkan mampu memperkuat komunikasi dua arah antara pemerintah dan warga, sekaligus mendukung terwujudnya tata kelola informasi publik yang inklusif dan berkelanjutan di Kabupaten Sleman. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Gandeng LazisMu UMY, SD Muhammadiyah Banyuraden Tingkatkan Literasi Siswa

Sleman – SD Muhammadiyah Banyuraden menyelenggarakan program pengembangan literasi siswa melalui kerja sama dengan layanan perpustakaan keliling Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LazisMu) UMY. Program ini menjadi bagian dari ikhtiar sekolah dalam memperkuat budaya membaca dan pemerataan akses bahan bacaan bagi seluruh peserta didik.

Kepala SD Muhammadiyah Banyuraden, Maria Ulfa, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut telah berlangsung hampir dua tahun dan diikuti oleh seluruh siswa dari kelas I hingga kelas VI.

“Karena jumlah siswa cukup banyak, layanan perpustakaan keliling dijadwalkan dua minggu sekali dengan dua sesi dalam satu hari, yakni sesi pertama pukul – WIB dan sesi kedua pukul – WIB,” jelasnya, Rabu (4/2/2026).

Maria Ulfa menegaskan, kehadiran perpustakaan keliling di lingkungan sekolah diharapkan menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan minat baca sekaligus meningkatkan kualitas literasi siswa.

“Buku-buku yang disediakan menarik dan mudah dipahami, sehingga siswa lebih antusias membaca. Kegiatan ini mendorong perluasan wawasan serta melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif sejak dini,” ujarnya.

Menurutnya, program tersebut juga menjawab tantangan keterbatasan akses bahan bacaan yang masih dialami sebagian siswa. Melalui layanan bergerak yang rutin, pemerataan literasi diharapkan dapat terwujud.

“Membaca yang dikemas secara menyenangkan akan membentuk kebiasaan positif dan menjadi fondasi pembelajaran sepanjang hayat,” sambungnya.

Layanan Perpustakaan Keliling (Pusling) LazisMu UMY hadir dalam bentuk kendaraan serbaguna roda tiga yang dimodifikasi sebagai perpustakaan bergerak. Kehadiran Pusling ini merupakan wujud apresiasi dari Bank Indonesia kepada LazisMu UMY atas capaian juara pertama dalam Festival Ekonomi Syariah se-Jawa Tahun 2023 di Surabaya.

Melalui kolaborasi sekolah dan lembaga filantropi tersebut, SD Muhammadiyah Banyuraden menegaskan komitmennya untuk menghadirkan lingkungan belajar yang literat, inklusif, dan berkelanjutan, sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan dasar. (Athiful/KIM Depok)




UMY Terjunkan 120 Mahasiswa KKN di Kalurahan Wonokerto Turi

Sleman — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat. Pada Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026, UMY menerjunkan lebih dari mahasiswa ke berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan masa pelaksanaan selama satu bulan penuh.

Salah satu lokasi pelaksanaan KKN tersebut berada di Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman. Kegiatan penerjunan mahasiswa KKN UMY di wilayah ini dilaksanakan pada Selasa (3/2/2026).

Dalam acara penerjunan tersebut, Koordinator Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kapanewon Turi, Agus Nugroho Setiawan, mewakili Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bersama Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat, secara resmi menyerahkan 120 mahasiswa kepada Pemerintah Kalurahan Wonokerto.

Sebanyak 120 mahasiswa tersebut terbagi dalam 12 kelompok dan akan menjalankan berbagai program pengabdian masyarakat dengan pendampingan enam dosen pembimbing lapangan. Program KKN ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat sekaligus menjadi sarana pembelajaran lapangan bagi mahasiswa.

Dalam sambutannya, Agus Nugroho Setiawan menegaskan bahwa KKN memiliki dua dimensi utama, yakni sebagai proses pembelajaran akademik dan implementasi kerja nyata di tengah masyarakat.

“KKN menuntut mahasiswa mampu memotret kondisi sosial masyarakat, menganalisis berbagai permasalahan, serta mengidentifikasi potensi wilayah sebagai dasar penyusunan program kerja,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa program KKN harus benar-benar disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar program titipan dari kampus. Mahasiswa juga diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dalam bentuk kerja nyata yang berdampak positif bagi masyarakat.

“Keberhasilan KKN dapat dilihat dari sejauh mana program yang dijalankan mampu meningkatkan kemandirian dan keberdayaan masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu bekerja secara kolaboratif dengan warga dan pemangku kepentingan di Kalurahan Wonokerto,” tambahnya.

Sementara itu, Lurah Wonokerto, Riyanto Sulistyo B, menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN UMY. Ia berharap program yang dilaksanakan dapat berjalan efektif tanpa membebani masyarakat maupun mahasiswa.

“Mahasiswa diharapkan aktif berinteraksi, menjaga adab dan etika, serta menghormati kearifan lokal masyarakat Wonokerto. Kami berharap kegiatan KKN ini memberi manfaat besar bagi masyarakat sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lurah Wonokerto juga mengingatkan bahwa sebagian pelaksanaan KKN bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu, mahasiswa diminta untuk menghargai perbedaan praktik ibadah di masyarakat serta mampu menyesuaikan diri demi menjaga keharmonisan selama kegiatan berlangsung.

Pada kesempatan yang sama, Agus Nugroho Setiawan juga berpesan agar mahasiswa senantiasa menjaga nama baik almamater serta menjunjung tinggi nilai-nilai Muhammadiyah. Mahasiswa diharapkan turut memakmurkan masjid melalui shalat berjamaah, mengikuti kajian keagamaan, serta berperan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dengan penerjunan mahasiswa KKN ini, diharapkan terjalin sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas kehidupan sosial, ekonomi, dan keagamaan di Kalurahan Wonokerto. Program ini sekaligus menjadi wujud komitmen UMY dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat. (Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi)




Dari Sombangan, Sugiyanto Merawat Literasi dan Informasi Desa

Sleman – Di sebuah rumah di Dusun Sombangan, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Sugiyanto meneguhkan peran sebagai pegiat literasi desa. Sebagai Ketua Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Sumber Biwara Moyudan, Sugiyanto mengabdikan waktu dan gagasannya untuk memastikan informasi hadir, dipahami, dan dimanfaatkan warga secara tepat guna.

Baginya, KIM bukan sekadar wadah komunikasi, melainkan simpul literasi desa. Melalui KIM Sumber Biwara Moyudan, ia mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pengelola dan penyampai informasi yang bertanggung jawab.

“KIM harus hadir di tengah masyarakat sebagai sarana informasi yang dekat, mudah diakses, dan memberi manfaat nyata,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Misi tersebut diterjemahkan dalam langkah-langkah konkret. Pertama, KIM Sumber Biwara diposisikan sebagai sarana informasi warga dengan menjembatani kebutuhan data dan pengetahuan di tingkat lokal.

Kedua, arus informasi antara pemerintah dan masyarakat, serta sebaliknya, diperlancar agar kebijakan publik tersampaikan dengan utuh dan aspirasi warga terakomodasi.

Ketiga, kapasitas anggota KIM diperkuat agar mampu mengakses, mengelola, dan mengembangkan informasi yang relevan dengan kebutuhan desa.

Menurut Sugiyanto, informasi yang baik harus berdampak pada peningkatan kualitas hidup. Karena itu, KIM Sumber Biwara berupaya mengembangkan konten yang memberi nilai tambah, mulai dari isu layanan publik, pembangunan desa, hingga praktik baik pemberdayaan masyarakat.

“Informasi tidak berhenti pada kabar. Informasi harus mendorong perubahan dan memberi solusi,” katanya.

Peran KIM juga diperluas sebagai penyerap aspirasi warga. Melalui diskusi, pendokumentasian kegiatan, dan publikasi, KIM Sumber Biwara menyampaikan suara masyarakat kepada pemerintah secara berimbang dan faktual.

“KIM berada di posisi strategis mendengar dari warga dan menyampaikan kepada pemerintah dengan bahasa yang konstruktif,” jelasnya.

Pandangan Sugiyanto tentang menulis menjadi fondasi kerja literasi tersebut. Menurutnya, menulis bukan semata berorientasi finansial, melainkan ruang penuangan ide dan gagasan untuk kemaslahatan bersama.

“Menulis adalah cara kami merawat ingatan kolektif desa dan menyampaikan gagasan agar bisa dibaca, dipahami, dan ditindaklanjuti,” tuturnya.

Dengan pendekatan yang konsisten dan kolaboratif, Sugiyanto menunjukkan bahwa literasi desa dapat tumbuh dari komunitas. Melalui KIM Sumber Biwara Moyudan, informasi dikelola secara bertanggung jawab, aspirasi warga disalurkan secara sistematis, dan budaya menulis dirawat sebagai ikhtiar membangun desa yang berpengetahuan, partisipatif, dan berdaya. (Athiful/KIM Depok)




Dinas Kominfo DIY Bekali Peserta SKI KID DIY Standar Pelayanan Informasi Publik

Sleman – Dinas Komunikasi dan Informatika DIY menegaskan komitmen penguatan pemahaman standar dan mekanisme pelayanan informasi publik di tingkat komunitas sebagai bagian dari upaya menjamin keterbukaan informasi yang akuntabel, transparan, dan berkeadilan. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Sekolah Keterbukaan Informasi Publik Komisi Informasi Daerah (KID) DIY, Selasa (3/2/2026).

Kegiatan yang diikuti pengurus Forum Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Sembada Kabupaten Sleman ini menjadi ruang pembelajaran untuk memahami secara utuh alur pelayanan informasi publik, mulai dari tahap permohonan hingga pemberian atau penolakan informasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Pemohon informasi publik dapat mengajukan permohonan informasi baik secara langsung maupun tidak langsung, termasuk melalui layanan daring. Dalam hal permohonan diajukan secara tidak langsung atau online, pemohon berkewajiban mengisi formulir permohonan yang tersedia pada portal website PPID,” ujar Staf Bidang Informatika dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika DIY, Ani Yuliatun.

Ani menjelaskan, setiap permohonan informasi yang masuk wajib dicatat oleh PPID dalam register permohonan. “Apabila permohonan dilakukan melalui surat, faksimili, atau sarana sejenis, PPID wajib mengirimkan nomor pendaftaran kepada pemohon atau menyertakannya bersamaan dengan informasi yang dimohon,” katanya.

Menurutnya, prinsip keterbukaan informasi harus diiringi dengan kepastian layanan dan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur.

“Jika informasi yang dimohon bersifat terbuka, PPID wajib memberikan akses kepada pemohon. Namun apabila informasi tersebut termasuk informasi yang dikecualikan, PPID wajib menyampaikan alasan penolakan secara tertulis,” jelas Ani.

Ia menambahkan, PPID memiliki kewajiban membantu pemohon dalam melengkapi persyaratan paling lambat tiga hari kerja sejak permohonan diajukan.

“Pemberitahuan tertulis sebagai jawaban badan publik disampaikan paling lambat 10 hari kerja sejak permohonan diregister dan dapat diperpanjang paling lama tujuh hari kerja sesuai standar operasional prosedur pelayanan informasi publik,” ujarnya.

“Apabila permohonan informasi ditolak, PPID wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis yang disertai Surat Keputusan PPID tentang Penolakan Permohonan Informasi, sehingga pemohon memperoleh kepastian hukum atas layanan yang diberikan,” sambung Ani.

Keikutsertaan pengurus KIM Sembada Kabupaten Sleman dalam kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat peran KIM sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam menyebarluaskan informasi publik yang benar, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, sejalan dengan semangat keterbukaan informasi publik di Kabupaten Sleman. (Athiful/KIM Depok)