Isu Sampah Jadi Perhatian Utama Pasar Bela Negara Edisi ke-22

Sleman — Persoalan sampah yang kian mendesak tidak lagi sekadar isu lingkungan, melainkan telah menjadi persoalan kebangsaan. Isu tersebut mengemuka dalam Pasar Bela Negara edisi ke-22 yang digelar Jumat (6/2/2026), di kawasan utara Lapangan Pemda Sleman.

Pasar Bela Negara merupakan ruang publik tematik yang diinisiasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman bersama Carya Budhi Chantya, sebuah lembaga pendamping UMKM. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah pemberdayaan ekonomi warga, tetapi juga sarana edukasi nilai-nilai bela negara yang relevan dengan tantangan zaman.

Salah satu bahasan utama dalam edisi kali ini adalah tema “Cinta Bumi dan Tanah Air melalui Pengolahan Sampah Mandiri Keluarga”. Hadir sebagai narasumber, dosen FISIPOL Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Oktiva Anggraini menegaskan bahwa spektrum bela negara di era sekarang sangat luas.

“Bela negara tidak selalu identik dengan angkat senjata. Peduli pada sampah dan lingkungan adalah bentuk bela negara yang nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Oktiva memaparkan kondisi persoalan sampah yang semakin serius, ditandai dengan meningkatnya volume sampah serta TPA Piyungan yang mendekati penutupan total. Menurutnya, situasi ini menjadi peringatan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan aktif seluruh warga negara.

Ia menekankan bahwa sampah bukan semata masalah lingkungan, melainkan juga masalah kebangsaan. Kerusakan lingkungan dinilai sebagai ancaman langsung bagi keberlangsungan bangsa, sejalan dengan amanat UUD 1945 Pasal 27 Ayat 3 tentang hak dan kewajiban warga negara dalam bela negara.

“Cinta tanah air tidak cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata, mulai dari hal paling kecil, yakni mengelola sampah keluarga,” tegasnya.

Dalam paparannya, Oktiva menjelaskan pentingnya pengolahan sampah mandiri dari rumah, diawali dengan memilah sampah organik, anorganik, dan residu. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos dan pupuk cair. Sementara sampah anorganik dapat dimanfaatkan menjadi kerajinan, cinderamata, hingga ditabung melalui bank sampah.

“Sampah yang dikelola dengan benar berubah dari masalah menjadi berkah,” katanya.

Pengelolaan sampah juga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi keluarga, seperti penghematan biaya pembuangan sampah, menekan pengeluaran rumah tangga, serta membuka peluang usaha kreatif berbasis daur ulang.

Selain itu, pemanfaatan kompos dan pupuk cair turut mendukung ketahanan pangan keluarga melalui optimalisasi pekarangan rumah. Sayuran dan tanaman pangan dapat diproduksi sendiri, sehingga mengurangi ketergantungan dan memperkuat kemandirian keluarga.

“Keluarga yang mandiri pangan adalah fondasi bangsa yang kuat,” ujarnya.

Dari sisi pemerintah, gerakan pengelolaan sampah mandiri dinilai mampu mengurangi beban pengelolaan sampah, menekan volume sampah ke TPA, serta mendukung kebijakan lingkungan berkelanjutan sebagai solusi konkret menghadapi krisis sampah.

Pasar Bela Negara edisi ke-22 ini menegaskan bahwa bela negara dapat diwujudkan melalui kesediaan warga meluangkan waktu, tenaga, dan membangun kebiasaan baru demi lingkungan.

“Ketika warga bergerak, negara menjadi lebih kuat. Ayo kelola sampah dari rumah, cintai bumi, cintai tanah air, dan jadilah pelaku Bela Negara sejati,” pungkas Oktiva. (Andy Ahmad – KIM DSN NGAGLIK)




Muhadjir Effendy Tekankan Penguatan Pilar Ekonomi Muhammadiyah Hadapi Ketidakpastian Global

Sleman – Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji sekaligus Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menegaskan pentingnya penguatan pilar ekonomi Muhammadiyah sebagai strategi utama menghadapi kompleksitas dan ketidakpastian global.

Menurutnya, perubahan zaman yang kian cepat menuntut sensitivitas kolektif dan kemampuan adaptasi agar persyarikatan tetap bertahan dan berkelanjutan.

“Jangan dikira sederhana membawa Muhammadiyah ke depan. Ketidakpastian harus menjadi atensi bersama dan ukuran kemampuan kita beradaptasi agar tetap survive (bertahan dari kondisi sulit),” tegas Muhadjir dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata (MEBP) PP Muhammadiyah serta Seminar Nasional Outlook Perekonomian Indonesia 2026 di Hyatt Regency Yogyakarta, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Kamis (5/2/2026).

Muhadjir menjelaskan, dunia saat ini berada dalam lanskap VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) yang menuntut respons strategis dan terukur.

Untuk itu, ia mendorong Muhammadiyah menyongsong era tersebut dengan memperkokoh pilar ketiga persyarikatan, yakni ekonomi.

“Kalau pilar ketiga itu kokoh, Muhammadiyah akan memiliki daya tahan dan daya dorong yang kuat,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan gerak bersama dalam membangun pilar ekonomi.

“Jangan menunggu orang lain. Jika kita tidak bergerak, kita tidak bisa berbuat banyak. Pilar ekonomi ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi berkelanjutan dan berdampak ke depan,” tambahnya.

Dalam perspektif historis, Muhadjir mengingatkan bahwa ekonomi telah menjadi denyut awal dakwah Muhammadiyah.

“Sejak awal, Muhammadiyah dipelopori para ekonom, pelaku usaha, dan pedagang. Bahkan, putra Kiai Ahmad Dahlan, Raden Haji Dhurie, didorong belajar bisnis ke Eropa. Ini menunjukkan perhatian serius Persyarikatan pada pilar ekonomi,” ungkapnya.

Muhadjir juga menegaskan karakter khas bisnis Muhammadiyah yang berwatak korporasi sosial (social corporation).

“Keuntungan bisnis Muhammadiyah bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk organisasi dan dikembalikan bagi kemaslahatan masyarakat luas. Muhammadiyah itu inklusif, untuk seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya warga Muhammadiyah atau umat Islam,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyebut pilar ekonomi telah ditetapkan sebagai pilar ketiga persyarikatan selama satu dekade terakhir, berdampingan dengan pendidikan dan kesehatan. Karena itu, ia mengajak seluruh jajaran MEBP memperkuat komitmen dan implementasi konkret.

“Marilah kita berjuang habis-habisan memperkokoh pilar ekonomi Muhammadiyah agar benar-benar memberi kesejahteraan bagi masyarakat dan menjamin keberlanjutan Persyarikatan di masa depan,” tandasnya. (Athiful/KIM Depok)




Reorganisasi TP-PKK Banyuraden Momentum Penguatan Peran Pemberdayaan Keluarga

Sleman – Reorganisasi pengurus Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kalurahan Banyuraden dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran kelembagaan PKK di tingkat kalurahan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Kantor Kalurahan Banyuraden, Kabupaten Sleman, Kamis (5/2/2026), sebagai bagian dari persiapan penyusunan kepengurusan masa bakti 2026 – 2031.

Lurah Banyuraden, Sudarisman dalam sambutannya menekankan bahwa TP-PKK memiliki peran penting sebagai mitra strategis pemerintah kalurahan dalam mendukung pembangunan berbasis keluarga. Menurutnya, reorganisasi bukan sekadar pergantian struktur, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen, integritas, dan profesionalisme pengurus dalam menjalankan 10 Program Pokok PKK.

Selain itu, reorganisasi ini guna memastikan kesinambungan program PKK sekaligus menyesuaikan struktur kepengurusan dengan dinamika dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

“Melalui penataan ulang kepengurusan, diharapkan TP-PKK Banyuraden mampu bekerja lebih efektif, responsif, dan adaptif terhadap berbagai isu pemberdayaan keluarga,” ucap Sudarisman.

Pada kesempatan ini, ia pun berterima kasih dan mengapreasiasi kepada pengurus Tim Penggerak PKK periode 2021 – 2026 atas dedikasi dan pengabdiannya yang luar biasa. Sehingga program – program seperti penanganan stunting, ketahanan pangan, dan administrasi telah berjalan dengan baik.

Proses pembentukan kepengurusan baru yang dipimpin oleh Ketua TP-PKK Banyuraden, Kwintartiningsih Pospoputri dilakukan secara musyawarah dengan mengedepankan prinsip partisipatif dan keterwakilan.

Setiap unsur yang terlibat seperti kelompok kerja (pokja), kamituwa, dan perwakilan perempuan di Badan Permusyawaratan Kalurahan Banyuraden diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan dan masukan. Sehingga struktur kepengurusan yang terbentuk benar-benar mencerminkan kebutuhan dan potensi warga Banyuraden.

Kwintartiningsih menyampaikan bahwa reorganisasi ini juga menjadi ajang evaluasi terhadap kinerja kepengurusan sebelumnya. Evaluasi tersebut diharapkan mampu menjadi pijakan dalam menyusun langkah-langkah strategis guna meningkatkan kualitas program dan pelayanan kepada masyarakat.

“Reorganisasi pengurus Tim Penggerak PKK Banyuraden perlu dilakukan untuk menjaga soliditas organisasi sekaligus meningkatkan kapasitas kelembagaan,” tandasnya.

Harapannya, Kepengurusan masa bakti 2026 – 2031 mampu menjadi motor penggerak pemberdayaan keluarga, khususnya dalam bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Sekaligus mampu menghadirkan program-program inovatif yang berdampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Banyuraden. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




KIM Depok Raya Bekali Santri Nurul Ummah Pelatihan Kepenulisan

Sleman – Sekretaris Forum Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Depok Raya Kabupaten Sleman, Athiful Khoiri memberikan pelatihan kepenulisan bagi santri Asrama Mahasiswa dan program Takhassus Pondok Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta, Kamis (5/2/2026). Pelatihan ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat budaya literasi tulis, meningkatkan kemampuan menuangkan gagasan secara sistematis, serta menumbuhkan keberanian santri untuk menulis dan mempublikasikan karya.

Dalam pengantarnya, Athiful menegaskan bahwa menulis merupakan keterampilan dasar yang dapat dipelajari oleh siapa pun, termasuk santri, sepanjang disertai tekad, latihan, dan konsistensi. Menurutnya, persoalan utama yang sering dihadapi penulis pemula bukan terletak pada keterbatasan kemampuan, melainkan pada keberanian memulai dan kedisiplinan menjaga kebiasaan menulis.

“Menulis itu sebenarnya mudah dan menyenangkan. Kuncinya adalah tekad, menulis secara rutin, dan konsisten. Jika tiga hal ini dijaga, kemampuan menulis akan berkembang dengan sendirinya,” ujarnya.

Athiful mengajak peserta mengenali berbagai hambatan yang kerap menjadi alasan seseorang enggan menulis, seperti merasa tidak memiliki cukup waktu luang, kesulitan menuangkan ide dan gagasan, keterbatasan sarana, hingga rasa kurang percaya diri saat membaca ulang tulisannya sendiri.

Ia menekankan bahwa hambatan tersebut perlu disikapi secara realistis dan tidak dijadikan alasan untuk berhenti belajar. Menurutnya, keberanian menulis draf awal jauh lebih penting daripada tuntutan menghasilkan tulisan sempurna sejak awal.

Pada sesi berikutnya, Athiful memaparkan strategi menggali ide dengan menekankan pentingnya kebiasaan membaca, mendengar secara serius, berdiskusi, dan mengamati lingkungan sekitar. Ia menegaskan bahwa kualitas tulisan sangat dipengaruhi oleh kualitas bacaan.

“Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Semakin banyak membaca, semakin kaya sudut pandang dan pilihan kata dalam tulisan. Apa yang kita baca akan tersimpan dan memengaruhi cara kita menulis,” katanya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali tahapan menulis secara runtut dan praktis. Athiful menjelaskan langkah-langkah menulis mulai dari menentukan tema, memilih waktu dan tempat yang kondusif, menyiapkan referensi, menuangkan gagasan ke dalam paragraf, menyunting dan merapikan kalimat, meneliti data, hingga menentukan judul. Ia menekankan bahwa proses penyuntingan merupakan bagian penting dalam menghasilkan tulisan yang rapi, akurat, dan layak dibaca publik.

Selain aspek teknis penulisan, Athiful juga menyampaikan materi mengenai etika dan strategi mengirimkan tulisan ke media massa. Ia mengingatkan pentingnya memahami karakter media tujuan, mempelajari tulisan yang pernah terbit, serta menyiapkan naskah yang rapi dan sesuai kaidah jurnalistik. Menurutnya, pemahaman tersebut akan membantu penulis pemula agar karyanya lebih mudah diterima redaksi.

Menutup pelatihan, Athiful memberikan sejumlah pesan motivatif agar santri tidak mudah menyerah dalam proses belajar menulis. Ia mengingatkan peserta untuk tidak takut menerima kritik, tidak membuang arsip tulisan yang belum berhasil terbit, serta tidak terjebak pada perfeksionisme berlebihan.

“Tulisan yang baik lahir dari proses panjang. Jangan menyerah hanya karena gagal sekali atau dua kali. Terus menulis dan memperbaiki,” tuturnya.

Melalui pelatihan kepenulisan ini, santri Asrama Mahasiswa dan Takhassus Pondok Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta diharapkan semakin terampil menulis secara sistematis, berani menyampaikan gagasan keilmuan dan keislaman secara bertanggung jawab, serta mampu berkontribusi dalam penguatan literasi publik melalui karya tulis yang mencerahkan.  (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Outing Class MI Ma’arif Bego Kenalkan Manfaat Air Hujan sebagai Sumber Kehidupan

Sleman — Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Bego, Sambego, Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menggelar kegiatan outing class edukatif di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Kamis (5/2/2026). Kegiatan ini menekankan pentingnya pengelolaan air hujan sebagai sumber kehidupan yang bernilai maslahat bagi manusia dan lingkungan.

Sebanyak 77 siswa kelas IV mengikuti pembelajaran luar kelas tersebut dengan pendampingan guru dan wali murid. Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa air hujan merupakan karunia Allah SWT yang melimpah, bersih, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan jika dikelola dengan benar.

Guru MI Ma’arif Bego, Suparti, dalam sambutan pengantar menyampaikan bahwa pengenalan pengelolaan air hujan sejak dini merupakan bagian dari pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan. Menurutnya, anak-anak perlu dibiasakan untuk menghargai nikmat air serta tidak bersikap boros dalam penggunaannya.

“Air hujan bukan sekadar turun lalu terbuang. Jika dikelola dengan baik, air hujan dapat menjadi solusi untuk kebutuhan air bersih, sekaligus mengurangi ketergantungan pada air tanah,” ujarnya.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari OISCA (Organization for Industrial, Spiritual and Cultural Advancement) International, organisasi nirlaba asal Jepang yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia dan pelestarian lingkungan. Dukungan tersebut diwakili oleh Nur Partiningsih, yang selama ini aktif mendampingi berbagai program edukasi lingkungan berbasis masyarakat.

Rombongan siswa diterima langsung oleh pengelola Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih atau Bu Ning, yang juga menjadi pemateri. Ia menjelaskan bahwa air hujan merupakan sumber air dari langit yang kualitasnya sangat baik dan potensinya besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Selama ini air hujan sering diabaikan, padahal semua orang bisa mengaksesnya secara gratis. Pemanfaatan air hujan dapat mengurangi eksploitasi air tanah yang berlebihan, menekan risiko krisis air, serta menjadi bagian dari upaya mengurangi bencana hidrometeorologi. Yang terpenting, ini adalah wujud rasa syukur kita atas anugerah Allah yang luar biasa,” kata Bu Ning.

Dalam sesi praktik, para siswa diajak mengukur kualitas air menggunakan alat TDS tester. Hasilnya menunjukkan air hujan yang dikelola dengan teknologi ISLAH di Banyu Bening memiliki tingkat Total Dissolved Solids (TDS) sekitar 7 ppm. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan air minum kemasan yang umum dikonsumsi, dengan kisaran 98–294 ppm. Sementara air hujan yang dibawa siswa dari rumah menunjukkan TDS sekitar 20–22 ppm.

Para siswa juga diajak meminum air hujan sebagai bagian dari pembiasaan, untuk mengenalkan bahwa air hujan aman dan layak dikonsumsi jika dikelola dengan tepat. Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang menunjukkan antusiasme siswa dalam memahami manfaat air hujan bagi kehidupan.

Melalui outing class ini, MI Ma’arif Bego berharap para siswa tumbuh menjadi generasi yang peduli lingkungan, bijak memanfaatkan sumber daya alam, serta senantiasa mensyukuri nikmat air sebagai karunia Tuhan yang harus dijaga bersama. (Andy Ahmad – KIM DSN NGAGLIK)