Tak Andalkan Bank Sampah, KSM Beteng Asri Kelola 80 Persen Sampah Lewat Sumur Kompos dan Tungku Mandiri

Sleman – Warga Padukuhan Beteng, Kalurahan Tridadi, Kapanewon Sleman, memilih jalur berbeda dalam pengelolaan sampah. Di tengah tren pembentukan bank sampah dan program sedekah sampah di berbagai wilayah, masyarakat Beteng justru membangun sistem mandiri melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Beteng Asri dengan sumur kompos dan tungku pembakaran sampah.
Langkah tersebut dilandasi pengalaman melihat sejumlah program pengelolaan sampah yang sempat berjalan namun tidak berkelanjutan. Di lokasi tungku pembakaran sampah di Durenan Beteng RT 3 RW 12, Rabu (18/2/2026), Ketua LPMKal Tridadi dan Penasehat KSM Beteng Asri, Tumiyarso menjelaskan alasan di balik keputusan itu.
“Kami belajar dari beberapa tempat. Di awal semangat membentuk bank sampah, tapi lama-lama pengurusnya lelah dan programnya tidak jalan. Kami ingin yang lebih sederhana dan bisa konsisten,” ujarnya.
Keputusan tersebut diwujudkan dengan membangun sedikitnya 40 sumur kompos yang tersebar di dua RW dan enam RT. Setiap sumur digunakan bersama oleh empat kepala keluarga. Sumur kompos dibuat dari buis beton sedalam sekitar 1,5 meter dengan diameter 80 sentimeter. Bantuan pengadaan dilakukan dalam dua tahap oleh Pemerintah Kalurahan Tridadi.
“Satu sumur bisa dipakai empat KK. Sampah organik langsung dimasukkan ke situ. Jadi tidak semua harus dibakar atau diangkut,” jelas Tumiyarso.
Menurutnya, keberadaan sumur kompos cukup efektif mengurangi volume sampah rumah tangga, khususnya sampah organik. Sementara untuk sampah lainnya, KSM Beteng Asri sebagai KSM induk membawahi KSM Jogo Resik (RT 01) dan KSM Ngudi Asri (RT 02) dalam pengelolaan operasional. Dua armada kendaraan roda tiga dikerahkan untuk mengangkut sampah dari rumah warga menuju tungku pembakaran.
Meski warga telah diimbau memilah sampah dari rumah, kenyataannya masih ditemukan sampah tercampur. Untuk mengantisipasi hal itu, disediakan sumur kompos tambahan di sekitar tungku pembakaran guna menampung sampah organik yang ikut terbawa.
Jadwal pembakaran pun diatur secara rutin agar tetap terkontrol. RT 1 dan RT 3 melaksanakan pembakaran setiap Kamis dan Minggu. Sedangkan RT 2 dan RT 4 pada Rabu dan Sabtu. Setiap proses pembakaran berlangsung sekitar tiga hingga empat jam hingga sampah habis.
“Pembakaran tidak setiap hari, supaya terkontrol. Sekali bakar bisa tiga sampai empat jam sampai habis,” katanya.
Untuk mendukung operasional, setiap kepala keluarga dikenai iuran per bulan. Dana tersebut digunakan untuk pembelian BBM, servis berkala kendaraan roda tiga, pembelian oli, pembayaran pajak kendaraan, serta jasa angkut.
“Kami hitung betul biayanya. Iuran itu murni untuk operasional, supaya armada tetap jalan,” tegasnya.
Sampah yang masih memiliki nilai jual dikelola sesuai kesepakatan wilayah. Di RT 02, hasil penjualan masuk ke kas PKK, sedangkan di RT 01 dimasukkan ke kas RT.
Dengan sistem tersebut, Tumiyarso menyebut sekitar 80 persen sampah di Padukuhan Beteng telah tertangani dengan baik dan tidak lagi menumpuk seperti sebelumnya.
“Kalau dihitung-hitung, sudah sekitar 80 persen sampah warga tertangani. Tidak lagi menumpuk seperti dulu,” ungkapnya.
Meski demikian, ia berharap adanya pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup, khususnya terkait uji emisi dan standar polusi asap dari tungku pembakaran agar pengelolaan berjalan sesuai aturan dan ramah lingkungan.
“Kami berharap ada uji emisi atau standarisasi, supaya pembakaran ini benar-benar aman dan sesuai aturan,” harapnya.
Warga juga menginginkan peningkatan fasilitas rumah pilah sampah serta sosialisasi berkelanjutan agar kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah semakin tertanam.
Bagi masyarakat Beteng, pengelolaan sampah bukan sekadar program jangka pendek, melainkan komitmen bersama. Dengan sistem yang disesuaikan kondisi lokal dan dijalankan secara gotong royong, mereka membuktikan bahwa solusi sederhana dapat berdampak besar apabila dijalankan secara konsisten. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



