25 Penggiat Forum Seyegan Resik Ikuti Bimtek Pengelolaan Sampah 2026 di Puskesmas Seyegan

Sleman – Sebanyak 25 penggiat sampah yang tergabung dalam Forum Seyegan Resik mengikuti bimbingan teknis (bimtek) pengelolaan sampah tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Puskesmas Seyegan. Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai II Puskesmas Seyegan, pada Selasa (24/2/2026), dengan menghadirkan Kawat Kemakmuran Kapanewon Seyegan, Kepala Tata Usaha Puskesmas Seyegan, dan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman.
Kepala Tata Usaha Puskesmas Seyegan, Ari Hertiningsih dalam sambutannya menegaskan bahwa persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di berbagai wilayah.
“Sampah masih mendominasi permasalahan di banyak wilayah. Untuk itu diperlukan pengelolaan yang baik dan benar,” ujarnya.
“Praktik membakar sampah masih sering dilakukan. Ini menunjukkan bahwa sosialisasi pengelolaan sampah yang benar perlu terus kita galakkan,” sambung Ari.
Ia juga menyampaikan bahwa Puskesmas Seyegan menjadi percontohan pengelolaan sampah tingkat kabupaten dalam mendukung Kapanewon Sehat.
“Kami mohon doa restunya, karena Puskesmas Seyegan menjadi contoh pengelolaan sampah tingkat kabupaten. Harapan kami, pemilahan sampah yang menjadi kegiatan pokok di lingkungan Puskesmas dan sekitarnya dapat menjadi modal utama menuju Puskesmas sehat,” ungkap Ari.
Sementara itu, Kawat Kemakmuran Kapanewon Seyegan, Rini Nurhidayati menyampaikan bahwa kesadaran masyarakat dalam memilah sampah masih perlu ditingkatkan.
“Masyarakat kita umumnya belum melakukan pemilahan sampah. Kesadaran masih kurang, meskipun edukasi terus dilakukan,” katanya.
Menurut Rini, bimtek ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran kader dan praktisi sampah.
“Kegiatan ini sangat penting sebagai bekal bagi para praktisi dan kader untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Sementara, salah satu anggota tim kerja seksi Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Leni Triastuti selaku narasumber memaparkan neraca pengelolaan sampah tahun 2025 berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN).
“Persentase sampah terkelola mencapai 26,58%, naik 3,87% dari tahun 2024. Namun timbulan sampah tahun 2025 masih mencapai 583,3 ton per hari, dan yang belum terkelola sebesar 429,75 ton per hari,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pengurangan sampah mengalami kenaikan 3,55% dari tahun sebelumnya, terutama di sektor komposting rumah tangga. Meski demikian, praktik pembakaran dan pembuangan ilegal masih banyak terjadi.
Terkait penutupan TPA Piyungan, Leni menjelaskan bahwa pengelolaan sampah kini dioptimalkan melalui tiga TPST, yakni TPST Tamanmartani, TPST Sendangsari, dan TPST Donokerto.
“Era membuang sampah sudah berakhir dengan ditutupnya TPA Piyungan. Sekarang kita memasuki era memilah dan mengolah sampah,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan bahaya membakar sampah.
“Pembakaran sampah menghasilkan SO₂ dan NOx yang dapat menyebabkan hujan asam serta menghasilkan emisi gas rumah kaca. Sementara pembuangan sampah ke sungai yang bermuara ke laut berpotensi menimbulkan mikroplastik,” paparnya.
Sebagai solusi, Leni mendorong penerapan prinsip refuse, repurpose, dan recycle. “Mengelola sampah itu adalah kebutuhan, bukan hanya kewajiban. Perubahan paradigma ini harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



