Antisipasi Dampak Negatif Gawai, Masjid Jami’ Darussalam Wedomartani Gelar Pengajian Bareng Ki Jenggot Kucir

Sleman — Mengisi kegiatan di bulan suci Ramadan, Takmir Masjid Jami’ Darussalam Pajangan, Wedomartani, Ngemplak, menggelar kegiatan pengajian sore atau ngabuburit rohani pada Sabtu (21/2/2026). Acara yang berlangsung di serambi masjid tersebut secara khusus menyoroti tantangan berat orang tua di era digital, yakni pesatnya perkembangan teknologi informasi yang mulai mengikis adab dan perilaku generasi muda jika tidak difilter dengan baik.
Ketua Takmir Masjid Jami’ Darussalam, Gunadi, mengungkapkan bahwa inisiatif mengundang pakar dalam pengajian ini didasari atas keprihatinan pengurus takmir terhadap ketergantungan remaja pada gawai. Menurutnya, arus informasi yang tanpa batas saat ini bisa menjadi bumerang bagi tumbuh kembang anak jika tidak dibarengi dengan benteng spiritual yang kokoh. Ia berharap kegiatan ini menjadi pembekalan penting bagi orang tua di wilayah Pajangan agar lebih bijak dalam mendampingi aktivitas digital anak-anak mereka.
“Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini memberikan dampak besar bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama para remaja. Informasi yang tidak terbatas bisa berdampak positif, namun seringkali justru membawa pengaruh negatif jika tidak ada filter khusus. Kami mengundang ahli di bidangnya agar para jamaah bisa lebih memahami peran strategis orang tua dalam menyikapi fenomena gadget dewasa ini. Semoga ilmu yang disampaikan memberikan manfaat nyata bagi ketahanan keluarga kita,” ujar Gunadi di hadapan para jamaah.
Hadir sebagai narasumber utama, Nyadi Kasmoredjo, yang lebih dikenal dengan sapaan Ki Jenggot Kucir. Sosok yang juga dikenal sebagai wartawan dan pegiat sastra di Paguyuban Pasbuja Kawi Merapi ini memberikan analogi bahwa telepon pintar atau gawai diibaratkan seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini sangat membantu manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan media dakwah, namun di sisi lain bisa menjadi alat perusak jika digunakan untuk menipu, merundung atau bullying, hingga mengakses konten pornografi.
Nyadi Kasmoredjo menekankan bahwa penggunaan gawai yang salah arah akan sangat merusak mental remaja yang secara psikologis masih labil. Ia mengingatkan para orang tua bahwa pengawasan tidak boleh dilakukan secara otoriter, melainkan melalui pendekatan pendidikan akhlak dan empati yang dimulai dari rumah. Masjid dan sekolah harus menjadi pendukung utama dalam membiasakan adab islami dalam berinteraksi di dunia maya agar teknologi tetap menjadi sarana peningkatan iman dan takwa.
“Penggunaan gawai yang negatif memberikan dampak buruk bagi mental remaja yang masih labil, sehingga diperlukan pengawasan khusus dari orang tua dan lingkungan. Dalam pandangan Islam, teknologi seharusnya digunakan untuk hal yang bermanfaat seperti silaturahmi dan mencari ilmu, bukan untuk bergibah atau melakukan perundungan digital. Kunci pencegahannya adalah penguatan pendidikan akhlak serta meningkatkan keimanan anak melalui pembiasaan adab yang baik di rumah maupun di masyarakat,” tegas Nyadi Kasmoredjo dalam tausiyahnya.
Kegiatan ini ditutup dengan tanya jawab interaktif antara jamaah dan narasumber mengenai tips praktis membatasi durasi penggunaan gawai pada anak. Melalui pengajian ini, Takmir Masjid Jami’ Darussalam berkomitmen untuk terus menjadikan masjid sebagai pusat edukasi sosial bagi warga, tidak hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai ruang solusi atas problematika kemasyarakatan yang berkembang di era modern. (Kusnadi/KIM Berbah)



