1.591 Siswa Ikuti Wisuda Akbar Baca Tulis Hafal Al-Qur’an SMP Muhammadiyah se-Sleman

Sleman – Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Badan Kerjasama Sekolah SMP Muhammadiyah Sleman menyelenggarakan Wisuda Akbar Baca Tulis Hafal Al-Qur’an ke-6, pada Selasa (17/2/2026). Kegiatan berlangsung di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan diikuti sebanyak murid dari 25 SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman.

Para peserta wisuda terbagi dalam beberapa kategori, yakni hafal Al-Qur’an lebih dari 10 juz, hafal 6–10 juz, hafal 1–5 juz, kategori jayyid, serta mumtaz. Capaian tersebut menjadi bukti komitmen sekolah Muhammadiyah dalam membangun generasi Qur’ani yang unggul secara akademik sekaligus kuat dalam nilai keislaman.

Ketua Majelis Dikdasmen PDM Sleman, Surrahmad, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga kepada seluruh murid yang telah menunjukkan kesungguhan dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an. Ia menegaskan bahwa prestasi ini merupakan hasil kerja keras siswa, guru, dan dukungan orang tua.

Sementara itu, Sekretaris PDM Sleman, Arif Mahfudz berharap para wisudawan tidak hanya berhenti pada capaian hafalan, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Achmad Muhammad, turut mengajak seluruh hadirin untuk semakin akrab dengan Al-Qur’an, terlebih menjelang datangnya bulan Ramadan.

Turut hadir Bupati Sleman, H. Harda Kiswaya, yang memberikan apresiasi atas prestasi murid SMP Muhammadiyah se-Sleman.
“Kami mengapresiasi prestasi murid SMP Muhammadiyah se-Sleman dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an. Berpegang teguhlah pada Al-Qur’an sampai akhir hayat. Saya doakan ananda meraih kesuksesan di dunia dan akhirat,” pesannya.

Acara wisuda semakin semarak dengan berbagai penampilan kreatif murid, di antaranya grup band dari SMP Muhammadiyah 2 Depok, duo vokal dari SMP Muhammadiyah 1 Moyudan, tari dari SMP Muhammadiyah 1 Prambanan, serta hadroh kontemporer gabungan murid beberapa SMP Muhammadiyah Kabupaten Sleman.

Sebelum prosesi wisuda, kegiatan diawali dengan pengajian Tarhib Ramadan oleh Ustaz Saijan, sebagai bekal menyambut bulan suci yang tinggal menghitung jam. Pengajian tersebut diikuti tamu undangan, wisudawan, guru dan karyawan, serta perwakilan orang tua dari sejumlah sekolah terdekat, di antaranya SMP Muhammadiyah 1 dan 2 Gamping, SMP Muhammadiyah 1 dan 2 Godean, serta sekolah lainnya.

Melalui wisuda akbar ini, diharapkan semangat mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an semakin tumbuh di kalangan generasi muda, sekaligus memperkuat peran sekolah Muhammadiyah dalam membentuk karakter religius di Kabupaten Sleman. (Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi)




Konferensi Anak Cabang Fatayat NU Tempel, Atik Robikah Rahayu Pimpin Periode 2026–2030

Sleman – Regenerasi kepemimpinan organisasi perempuan muda kembali menunjukkan dinamika positif. Melalui Konferensi Anak Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama tingkat kapanewon yang digelar di Aula MAN 5 Sleman, Kapanewon Tempel, Senin (16/2/2026), kepemimpinan resmi beralih dari Sri Amanah kepada Atik Robikah Rahayu untuk masa khidmat 2026–2030.

Konferensi yang dihadiri jajaran Muspika Kapanewon Tempel serta pengurus badan otonom NU di wilayah tersebut menjadi momentum konsolidasi kader sekaligus penegasan arah gerakan organisasi otonom perempuan muda di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

Mengusung tema “Sinergi Kader Fatayat: Tangguh Hadapi Tantangan, Ikhlas Berkhidmat untuk Umat,” forum ini menyoroti pentingnya kesinambungan kepemimpinan dan penguatan peran perempuan dalam ruang sosial, pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat.

Dalam sambutannya, Sri Amanah menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah perjuangan.

“Organisasi ini tumbuh karena kerja kolektif kader. Saya percaya kepemimpinan baru akan membawa energi segar untuk melanjutkan program yang telah dirintis,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh anggota untuk menjaga soliditas dan semangat khidmat sebagai fondasi gerakan perempuan muda berbasis nilai keagamaan dan sosial.

Sementara, Ketua terpilih, Atik Robikah Rahayu, menekankan pentingnya inovasi program yang adaptif terhadap perubahan zaman.
“Fatayat harus hadir menjawab kebutuhan masyarakat hari ini, mulai dari pemberdayaan perempuan, pendidikan keluarga, hingga penguatan literasi sosial. Amanah ini bukan tugas pribadi, melainkan tanggung jawab bersama,” katanya.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi strategi utama agar organisasi tetap relevan dan berdampak luas, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga dalam jejaring nasional kader perempuan muda.

Panewu Tempel, Dakiri dalam sambutannya menilai konferensi anak cabang memiliki arti strategis dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan dan kaderisasi.

“Selain memilih pengurus, forum ini menjadi ruang evaluasi program serta penyusunan agenda kerja jangka panjang yang selaras dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Dalam konteks yang lebih luas, dinamika organisasi perempuan berbasis komunitas dinilai berkontribusi besar terhadap penguatan partisipasi publik, khususnya di bidang pendidikan keluarga, kesehatan masyarakat, dan advokasi sosial.

Dengan kepemimpinan baru, kader Fatayat diharapkan mampu memperluas gerakan sosial yang inklusif dan responsif terhadap tantangan zaman. Regenerasi ini sekaligus menegaskan bahwa organisasi perempuan muda terus memainkan peran penting sebagai motor perubahan di tengah masyarakat.

Konferensi ditutup dengan doa bersama serta komitmen kolektif kader untuk melanjutkan perjuangan organisasi, menandai babak baru kepemimpinan yang diharapkan membawa inspirasi bagi gerakan perempuan di berbagai daerah di Indonesia.

(SBD KIM SENYUM TEMPEL)




Kembang Teater Seyegan Angkat Kepahlawanan Nitiprojo Lewat Sineprak “Kidung Kasetyan”

Sleman – Upaya pelestarian budaya lokal kembali digaungkan Paguyuban Seni Kembang Teater Seyegan melalui garapan sinema kethoprak (Sineprak) berjudul “Kidung Kasetyan”. Karya ini terinspirasi dari tokoh historis yang memiliki kaitan erat dengan Kesultanan Yogyakarta, serta sejarah wilayah Sleman bagian barat, yakni Kanjeng Raden Tumenggung Nitiprojo.

Naskah kethoprak ini ditulis sekaligus disutradarai oleh Sugiman Dwi Nur Setyo. Proses pengambilan gambar dilaksanakan selama dua hari, Jumat dan Sabtu (14–15 Februari 2026), di enam lokasi bersejarah yang seluruhnya berada di Kalurahan Margomulyo, Seyegan. Beberapa titik penting yang menjadi lokasi shooting antara lain Padukuhan Gerjen, Bulak Si Keri Kamal Kulon, Embung Depok, Padukuhan Ngemplak, dan Padukuhan Sompokan.

Padukuhan Gerjen memiliki nilai historis yang kuat karena diyakini sebagai lokasi “Pertempuran Gerjen”, sekaligus tempat dimakamkannya Tumenggung Nitiprojo. Ia dikenal sebagai salah satu punggawa keraton yang berpengaruh di wilayah Sleman barat.

Kisah dalam “Kidung Kasetyan” tidak lepas dari konteks sejarah Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830). Dalam perang tersebut, Nitiprojo yang juga bergelar Kiai Tumenggung Nitinegoro tercatat sebagai salah satu tokoh penting. Ia merupakan menantu dari Hamengkubuwono II dan berada dalam barisan pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kolonialisme Belanda.

Dikisahkan, dalam peristiwa pertempuran di Nglengkong, pasukan Diponegoro sempat terdesak dan membangun pertahanan di wilayah Beteng Margoagung, Seyegan. Pertempuran kemudian berlanjut di Gerjen. Dalam situasi tersebut, Tumenggung Nitiprojo tertinggal dan menghadapi penghadangan di Dusun Gerjen hingga akhirnya gugur dan dimakamkan di sana. Masyarakat setempat juga mengenal sosok Putri Keri sebagai salah satu kerabat Diponegoro yang tertinggal di wilayah itu.

Nilai kepahlawanan dan kesetiaan Nitiprojo inilah yang diangkat oleh Kembang Teater dalam Sineprak “Kidung Kasetyan”. Suparjianto, salah satu pemain yang ditemui di lokasi shooting, menyampaikan bahwa ide cerita ini juga bertujuan mengedukasi masyarakat dan membangkitkan jiwa nasionalisme.

“Melalui sineprak ini kami ingin generasi muda tahu bahwa Seyegan punya tokoh perjuangan yang luar biasa. Kalau sejarahnya dikenal, rasa memiliki terhadap budaya daerah pasti akan tumbuh,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).

“Kami berharap karya ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan agar masyarakat semakin peduli menjaga tradisi dan warisan leluhur,” tandasnya.

Produksi sineprak yang melibatkan 35 pemain ini mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman yang turut mendampingi selama proses shooting. Penggarapan dilakukan secara swadaya sebagai bentuk eksistensi Kembang Teater, paguyuban seni yang berdiri sejak tahun 1986 dan aktif mengikuti berbagai kegiatan budaya, termasuk Festival Upacara Adat dan Tradisi Kabupaten Sleman.

Rencananya, “Kidung Kasetyan” akan ditayangkan di televisi swasta. Diharapkan, sinema kethoprak ini mampu menarik minat generasi muda untuk mengenal sejarah dan budaya daerahnya, sekaligus mendorong kreativitas dalam melestarikan tradisi agar tidak tergerus zaman. Dukungan pembinaan berkelanjutan dari dinas terkait pun diharapkan agar para pelaku seni memiliki ruang lebih luas untuk mengeksplorasi kekayaan sejarah, budaya, dan tradisi lokal. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




MWC Gelar Public Hearing di Berbah, Serap Aspirasi Warga dan Siapkan Program Ramadhan

Sleman – Kegiatan public hearing atau dengar pendapat publik digelar Mbah Wanto Center (MWC) bersama warga Kapanewon Berbah, pada Minggu (15/2/2026) di Omah Dhahar Mbah Wanto, Jalan Berbah–Sampaan Kuton, Tegaltirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta.

Kegiatan ini dihadiri anggota DPRD Kabupaten Sleman, Mbah Wanto, Ketua MWC, Heriyanto, penasihat hukum MWC, Fedryansah Gea Arrysal, anggota MWC, serta tamu undangan.

Dalam sambutannya, Ketua MWC, Heriyanto menjelaskan bahwa public hearing merupakan rapat atau diskusi terbuka yang diselenggarakan legislatif untuk menyerap aspirasi, masukan, dan pendapat masyarakat terkait kebijakan, peraturan, maupun isu tertentu.

“Secara umum public hearing adalah jembatan yang menghubungkan dua arah antara masyarakat dengan pemerintah,” jelas Heriyanto.

Ia menambahkan, salah satu manfaat utama kegiatan ini adalah memastikan kebijakan yang diambil pemerintah tidak salah sasaran. Selain sebagai forum menyampaikan aspirasi, pertemuan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi serta persiapan menyongsong bulan Ramadan.

Menurutnya, MWC tengah menyiapkan sejumlah program untuk mendorong kesejahteraan bersama, sekaligus menjaga kesucian bulan Ramadan dengan meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Program yang belum terselesaikan pun akan dicarikan solusi terbaik.

“Kita kawal program MWC yang sudah berjalan, pererat tali silaturahmi, dan rapatkan barisan untuk kebersamaan,” tegasnya.

Sementara itu, Pembina MWC yang juga anggota DPRD Kabupaten Sleman Komisi D, Mbah Wanto, menyampaikan bahwa Komisi D membidangi Kesejahteraan Rakyat (Kesra), yang meliputi pendidikan, kesehatan, sosial, tenaga kerja, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, kepemudaan dan olahraga, kebudayaan, transmigrasi, pengendalian penduduk, serta keluarga berencana.

“Boleh dibilang Komisi D itu mengurusi ibu hamil, bayi lahir, sampai meninggal,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat dapat menghubungi timnya apabila menghadapi kendala dalam lingkup tugas Komisi D, seperti persoalan pendidikan maupun layanan kesehatan.

“Misalnya tidak bisa mengambil ijazah karena kendala biaya, kami akan mencarikan solusi terbaik. Jika ada masalah dengan jaminan BPJS, tim akan bantu secara maksimal,” katanya.

Mbah Wanto juga menegaskan bahwa bantuan diberikan tanpa membedakan latar belakang masyarakat.

“Dari tim tidak akan membedakan dari golongan mana mereka berasal, yang perlu dibantu akan kita bantu,” tandasnya.

Melalui forum public hearing ini, diharapkan komunikasi antara masyarakat dan wakil rakyat semakin terbuka. Sehingga berbagai persoalan sosial dapat ditangani secara tepat, cepat, dan berpihak pada kepentingan warga. (Kusnadi KIM Berbah)




Relawan Banyuraden Gandeng TNI dan Polri Perkuat Keamanan Wilayah Penyangga

Sleman — Kesadaran akan pentingnya menjaga kondusivitas wilayah pinggiran kota yang dinamis mendorong sejumlah komunitas relawan di Banyuraden, Gamping, Sleman, untuk mempererat barisan. Melalui inisiasi Komunitas Geplakan Siap Siaga (GSS), sebuah sarasehan strategis digelar di Sekretariat GSS Banyuraden pada Minggu malam, 15 Februari 2026. Pertemuan ini menjadi ajang konsolidasi besar yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari komunitas Kekandhangan, Tim Reaksi Cepat Gamping, Kalurahan Tangguh Bencana, hingga kelompok Jaga Warga dengan aparat keamanan dari unsur Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Sebagai kawasan penyangga yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta, Banyuraden memiliki tantangan sosial dan mobilitas penduduk yang sangat tinggi. Kondisi ini menuntut adanya sistem deteksi dini yang tidak hanya fokus pada kebencanaan, tetapi juga pada potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Sinergi antara relawan dan aparat dipandang sebagai kunci utama untuk menciptakan respon cepat yang terukur dalam menghadapi berbagai dinamika di lapangan.

Ketua Komunitas GSS, Bakoh Waluyo, menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan upaya untuk menyatukan frekuensi antarkerelawanan. Menurutnya, relawan harus memiliki pemahaman yang sama mengenai potensi kerawanan di wilayahnya agar tindakan yang diambil dapat lebih efektif. Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan kolektif yang terorganisir adalah kebutuhan mutlak bagi wilayah sepadat Banyuraden.

“Dinamika sosial dan potensi kerawanan di wilayah Banyuraden menuntut kesiapsiagaan kolektif yang terorganisir dengan baik. Sebagai kawasan penyangga perkotaan, kami memiliki mobilitas penduduk yang sangat tinggi. Oleh karena itu, jejaring relawan di sini harus responsif dan peka, tidak hanya soal bencana alam, tetapi juga persoalan sosial kemasyarakatan yang mungkin muncul sewaktu-waktu,” ujar Bakoh Waluyo saat memberikan sambutan.

Dukungan penuh datang dari unsur TNI dan Polri yang hadir secara langsung. Babinsa Banyuraden, Heri Prabowo dari Koramil 17/Gamping, menegaskan bahwa relawan adalah mata dan telinga aparat di tingkat paling bawah. Komunikasi yang terstruktur melalui kanal-kanal koordinasi relawan akan sangat membantu tugas aparat kewilayahan, terutama dalam situasi darurat maupun saat pengamanan kegiatan kemasyarakatan berskala besar.

Senada dengan hal tersebut, Bhabinkamtibmas Banyuraden, Suyanto dari Polsek Gamping, mengingatkan pentingnya kewaspadaan dini untuk menangkal konflik sosial hingga penyalahgunaan narkoba. Ia mengapresiasi keberanian para relawan yang secara sukarela membangun ruang dialog terbuka melalui sarasehan ini. Suyanto berharap kolaborasi ini menjadi benteng pertahanan pertama dalam mencegah potensi radikalisme dan tindakan kriminal di tingkat akar rumput.

“Kewaspadaan dini adalah kunci utama dalam mencegah konflik sosial maupun potensi gangguan kamtibmas lainnya. Kami sangat mengapresiasi inisiatif ini karena mampu membangun ruang dialog yang partisipatif. Relawan merupakan mitra strategis kami. Dengan adanya koordinasi yang solid, kita bisa mencegah banyak masalah sebelum berkembang menjadi lebih besar,” tegas Suyanto di hadapan para relawan.

Dalam forum diskusi yang berlangsung hangat, para peserta menyepakati sejumlah poin penting, termasuk penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) bersama. SOP ini akan mencakup mekanisme koordinasi saat terjadi bencana alam, kecelakaan lalu lintas, hingga penanganan kejadian sosial lainnya. Para relawan juga berkomitmen untuk memperbarui data personel serta melakukan pemetaan potensi wilayah secara lebih detail.

Kegiatan ini ditutup dengan komitmen untuk menggelar pelatihan bersama secara rutin, mulai dari simulasi penanganan kegawatdaruratan hingga peningkatan kapasitas komunikasi publik. Melalui langkah ini, komunitas relawan di Banyuraden berharap dapat bertransformasi menjadi unit yang lebih profesional dan terpercaya dalam melayani masyarakat. Sarasehan ini mempertegas bahwa kolaborasi antara warga dan aparat keamanan adalah fondasi paling kokoh dalam menciptakan lingkungan yang aman dan tangguh. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)