Ubah Kaos Bekas Jadi Produk Bernilai, PKK Padukuhan Kayen Gelar Pelatihan Batik Sibori

Sleman — Kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Padukuhan Kayen, Condongcatur, menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan perempuan melalui kreativitas yang ramah lingkungan. Melalui Sekolah Keterampilan “Sekar Kemuning”, sebanyak 20 ibu rumah tangga mengikuti pelatihan pembuatan batik Sibori yang berfokus pada pemanfaatan kaos bekas. Kegiatan yang berlangsung di Joglo Suratno Kayen pada Sabtu (14/2/2026) sore ini menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kemandirian ekonomi sekaligus menekan limbah tekstil di tingkat rumah tangga.
Inisiatif ini dirancang untuk memberikan bekal keterampilan baru bagi para ibu agar mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai jual. Batik Sibori, yang dikenal dengan teknik ikat dan celupnya, dipilih karena prosesnya yang relatif sederhana namun mampu menghasilkan motif unik yang modis. Dengan sentuhan kreativitas, pakaian lama yang sudah tidak terpakai dapat diubah menjadi produk baru yang tampil beda dan memiliki karakter personal bagi pemakainya.
Ketua PKK Padukuhan Kayen, Maria Febriyani, menjelaskan bahwa sekolah keterampilan ini merupakan wadah bagi para ibu untuk tetap produktif di sela-sela waktu luang mereka. Selain untuk konsumsi pribadi, keterampilan ini diharapkan bisa menjadi peluang usaha mikro di tingkat padukuhan. Menurutnya, pemberdayaan yang efektif adalah yang mampu menyentuh langsung aspek keterampilan teknis yang bisa segera diterapkan oleh masyarakat di rumah masing-masing.
“Kami sangat berharap ibu-ibu PKK dapat memanfaatkan Sekolah Keterampilan Sekar Kemuning ini untuk memproduksi kerajinan batik yang berkualitas. Ke depannya, kami akan mengadakan berbagai pelatihan keterampilan lainnya yang memiliki nilai ekonomi. Ini adalah upaya pemberdayaan agar ibu-ibu bisa membantu pendapatan keluarga disamping mengisi waktu luang dengan kegiatan positif,” ujar Maria Febriyani di lokasi pelatihan.
Pelatihan ini dipandu oleh Suci Winarti dan Giyarti yang merupakan tenaga ahli dari Pokja II PKK Kalurahan Condongcatur. Para peserta diajarkan teknik dasar Sibori, mulai dari teknik mengikat kain secara mengerucut menggunakan karet hingga proses pencampuran warna dengan larutan air dan waterglass. Setelah kain diwarnai sesuai selera, peserta diminta mendiamkannya sejenak sebelum ikatan dibuka dan diangin-anginkan selama 24 jam untuk mengunci warna agar tidak luntur saat dicuci tanpa detergen.
Ketua Sekolah Keterampilan Sekar Kemuning, Muslikhah, mengungkapkan bahwa filosofi nama “Sekar Kemuning” menjadi penyemangat bagi organisasi tersebut. Meski secara fisik bunga kemuning berukuran kecil, namun aroma wanginya dapat menyebar luas. Semangat inilah yang ingin ditularkan kepada para peserta agar kreativitas dari Padukuhan Kayen dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat melalui karya-karya yang inovatif dan orisinal.
“Setelah lebaran nanti, kami berencana mengadakan pelatihan keterampilan lain yang lebih inovatif. Harapan kami, sesuai filosofi Sekar Kemuning, meskipun kami kelompok kecil, harum prestasi dan kreativitas dari Kayen ini bisa semerbak dan dikenal luas oleh masyarakat melalui karya-karya nyata. Kami ingin meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui sentuhan seni yang unik,” ungkap Muslikhah dengan penuh optimisme.
Salah satu peserta pelatihan, Dwi Sukamti, mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. Baginya, mengubah kaos polos lama menjadi pakaian dengan motif Sibori yang keren memberikan kepuasan tersendiri. Ia menilai bahwa keterampilan ini sangat aplikatif dan bisa langsung ia praktikkan di rumah menggunakan barang-barang yang sudah ada. Melalui pelatihan ini, warga tidak hanya mendapatkan ilmu baru, tetapi juga kesadaran akan pentingnya mengolah kembali limbah pakaian menjadi barang yang fungsional dan modis. (Wasana/KIM Depok)



