Sinergi Sampah dan Pangan, Pasangan Asal Moyudan Sukses Bangun Ekosistem Ketahanan Pangan Mandiri

Sleman — Di tengah tantangan pemenuhan gizi keluarga yang semakin dinamis, inovasi dari lingkup terkecil yakni rumah tangga menjadi kunci utama. Pasangan suami istri Azis Nur Husna dan Tri Rahayu, warga Padukuhan Sombangan, Sumbersari, Moyudan, Sleman, berhasil membuktikan bahwa keterbatasan lahan dan pengelolaan sampah yang tepat dapat menjadi fondasi kuat bagi ketahanan pangan keluarga. Melalui sistem pertanian dan peternakan terintegrasi, mereka kini mampu memenuhi kebutuhan pangan harian secara mandiri dari halaman rumah sendiri.
Inovasi yang mereka kembangkan bermula dari kegelisahan terhadap tumpukan sampah rumah tangga. Tri Rahayu yang sehari-hari bekerja di Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta menyadari bahwa sampah organik memiliki potensi besar jika dikelola dengan teknik yang benar. Ia kemudian memanfaatkan sisa makanan sebagai media budidaya maggot. Larva tersebut menjadi pakan protein tinggi bagi ternak ayam dan lele yang mereka pelihara menggunakan kolam terpal, sehingga mampu menekan biaya pakan secara signifikan.
“Kita harus bisa mengintegrasikan sampah rumah tangga sebagai media pertanian dan peternakan. Setiap rumah pasti menghasilkan sisa makanan, dan di situlah kreativitas kita diuji. Maggot yang kami budidayakan dari sampah organik tersebut menjadi sumber pakan utama bagi ayam dan lele kami, sehingga siklusnya berputar dan tidak ada yang terbuang sia-sia,” ujar Tri Rahayu saat ditemui di kediamannya pada Sabtu (14/2/2026).
Saat ini, keluarga tersebut telah memelihara 24 ekor ayam buras yang mampu menghasilkan rata-rata 20 butir telur setiap harinya. Selain itu, mereka juga mengembangkan ayam kampung galur baru jenis KUB (Kampung Unggul Balitnak) yang memiliki produktivitas tinggi hingga 180 butir telur per tahun. Tidak hanya ternak, lahan sempit di sekitar rumah mereka juga dipenuhi berbagai jenis sayuran seperti cabai, bayam, kangkung, sawi, terung, hingga tomat yang ditanam menggunakan media galon bekas sebagai bentuk pemanfaatan sampah anorganik.
Tri Rahayu menambahkan bahwa pupuk untuk tanaman sayuran tersebut seluruhnya berasal dari kotoran ayam peliharaan mereka. Dengan model ini, mereka menciptakan sebuah ekosistem mandiri yang sehat dan hemat biaya. Ia ingin menunjukkan kepada lingkungan sekitar bahwa mewujudkan ketahanan pangan tidak selalu memerlukan lahan yang luas atau modal yang besar, melainkan konsistensi dan pemanfaatan bahan-bahan yang ada di sekitar kita.
“Kami memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam sayuran dan kotoran ayam sebagai pupuk organiknya. Hasil dari inovasi rumah tangga ini seluruhnya kami konsumsi sendiri untuk memastikan gizi keluarga tercukupi dengan bahan yang jelas kualitasnya. Kami ingin menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat diwujudkan dengan cara yang sangat sederhana namun tetap efektif,” kata Tri Rahayu menjelaskan visi di balik aktivitasnya tersebut.
Azis Nur Husna, sang suami yang merupakan pegawai Dinas Perhubungan Kabupaten Sleman, turut berperan aktif dalam menjaga ritme peternakan tersebut di tengah kesibukannya. Baginya, konsistensi waktu adalah kunci utama dalam merawat ekosistem pangan rumah tangga. Ia harus berbagi tugas memberi makan ternak pada pagi hari sebelum berangkat kerja dan sore hari setelah kembali dari kantor untuk memastikan seluruh siklus produksi di halaman rumahnya tetap berjalan lancar.
“Pagi sebelum berangkat kerja saya harus memberi makan ternak terlebih dahulu, begitu pula sore hari setelah pulang kerja. Ini adalah bentuk dedikasi kami untuk keluarga. Kami sangat berharap inovasi sederhana ini dapat menjadi inspirasi bagi keluarga-keluarga lain di Sleman untuk mulai bergerak mewujudkan ketahanan pangan secara mandiri sekaligus meningkatkan kualitas hidup,” pungkas Azis Nur Husna. (Giek/KIM Moyudan)



