HUT ke-38 PPPKMI Sleman, Edukasi Gejala Kanker Jadi Sorotan Utama

Sleman – Peringatan Hari Kanker Sedunia yang dirangkaikan dengan Hari Ulang Tahun ke-38 Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) Kabupaten Sleman, menjadi momentum strategis menguatkan kesadaran publik terhadap bahaya kanker. Kegiatan yang berlangsung di Pendhapa Rumah Dinas Bupati Sleman, Rabu (11/2/2026) ini menghadirkan Pengurus Yayasan Kanker Indonesia Cabang Kabupaten Sleman, Probosuseno, sebagai narasumber yang menekankan urgensi deteksi dini dan peningkatan literasi kesehatan masyarakat terkait gejala kanker.

Dalam paparannya, Probosuseno menegaskan bahwa kanker bukan lagi penyakit yang jarang ditemukan, melainkan telah menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia maupun dunia. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa banyak kasus kanker sebenarnya dapat ditangani secara lebih efektif apabila terdiagnosis pada stadium awal.

“Kunci utama menekan angka kematian akibat kanker adalah deteksi dini dan kesadaran masyarakat terhadap tanda serta gejala awal,” ujarnya.

Dijelaskan, salah satu tantangan utama dalam pengendalian kanker adalah rendahnya pemahaman masyarakat mengenai gejala awal yang sering kali bersifat samar. Gejala seperti penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, benjolan yang tidak kunjung hilang, perdarahan abnormal, perubahan pola buang air besar atau kecil, hingga batuk kronis berkepanjangan kerap diabaikan.

“Padahal, gejala-gejala tersebut dapat menjadi sinyal awal adanya keganasan yang memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut,” tandas Probosuseno.

Ia pun menyoroti pentingnya pemeriksaan skrining berkala, terutama bagi kelompok berisiko. Ia menyebutkan bahwa pemeriksaan seperti pap smear dan IVA untuk kanker serviks, SADARI dan mammografi untuk kanker payudara, serta pemeriksaan kolonoskopi untuk kanker kolorektal merupakan bentuk deteksi dini yang terbukti efektif menurunkan angka kesakitan dan kematian.

“Jangan menunggu sampai muncul keluhan berat. Skrining adalah investasi kesehatan,” tegasnya.

Probosuseno menekankan bahwa faktor risiko kanker sangat berkaitan dengan gaya hidup. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pola makan tinggi lemak dan rendah serat, kurang aktivitas fisik, serta paparan zat karsinogenik menjadi determinan penting dalam peningkatan insiden kanker. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventif harus berjalan beriringan dengan layanan kuratif.

Momentum peringatan Hari Kanker Sedunia, seharusnya tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi penggerak kolaborasi lintas sektor. Ia mengapresiasi peran PPPKMI Kabupaten Sleman yang selama 38 tahun konsisten mengedepankan edukasi dan promosi kesehatan berbasis masyarakat. Menurutnya, promotor kesehatan memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pemeriksaan dini.

Probosuseno pun mengingatkan pentingnya dukungan keluarga dalam proses deteksi dan pengobatan kanker. Stigma dan rasa takut sering kali membuat pasien menunda pemeriksaan. Padahal, keterbukaan dan dukungan psikososial berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan terapi.

“Kanker bukan akhir segalanya. Dengan deteksi dini dan penanganan tepat, banyak pasien yang dapat kembali produktif,” katanya.

Peringatan Hari Kanker Sedunia dan HUT ke-38 PPPKMI di Kabupaten Sleman tersebut diharapkan menjadi pengingat kolektif bahwa pengendalian kanker memerlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Melalui peningkatan literasi kesehatan, skrining rutin, serta perubahan perilaku hidup sehat, angka kesakitan dan kematian akibat kanker dapat ditekan secara berkelanjutan khususnya di wilayah Sleman. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Hari Kedua Latihan Bela Negara di Sumberadi Kian Semarak, 75 Peserta Tunjukkan Semangat Nasionalisme

Sleman — Hari kedua pelaksanaan latihan dasar bela negara di Kalurahan Sumberadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, berlangsung kian semarak dan penuh semangat, Rabu (12/2/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sleman ini, diikuti 75 peserta dari berbagai unsur masyarakat setempat.

Sejak pagi, para peserta mengikuti orientasi lapangan dengan mengitari kawasan Sumberadi. Dengan langkah tegap, mereka menyanyikan lagu-lagu nasional dan meneriakkan yel-yel bela negara. Suasana kebersamaan dan nasionalisme pun terasa kental, mencerminkan tekad kolektif untuk memperkuat persatuan.

Kegiatan dilanjutkan dengan praktik senam komando yang dipimpin instruktur dari Kodim 0732/Sleman. Gerak langkah yang kompak dan aba-aba yang tegas menjadi penanda keseriusan peserta dalam mengikuti setiap rangkaian latihan. Setelah itu, peserta mendapatkan materi praktik Peraturan Baris Berbaris (PBB) dasar, dan tata upacara yang dipandu instruktur dari Polresta Sleman.

Kader Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, Sunardi yang turut menjadi instruktur, menegaskan bahwa latihan tersebut bukan sekadar pembinaan fisik. “Kegiatan ini bertujuan membentuk kedisiplinan, menumbuhkan jiwa kebersamaan, serta melatih kepemimpinan. Bela negara dimulai dari karakter yang kuat dan sikap yang tertib,” ujarnya.

Memasuki sesi materi, peserta diajak merefleksikan aktualisasi nilai-nilai Pancasila di era digital bersama Kepala Pusat Studi Pancasila UGM, Diasma Sandi Swandaru. Ia menekankan pentingnya literasi digital dan sikap kritis dalam menyaring informasi agar ruang digital tidak menjadi sumber perpecahan.

Menurut Diasma, budaya kecakapan digital perlu dibangun melalui pengenalan perbedaan sejak dini, membiasakan diri berteman dengan siapa pun tanpa sekat, serta membuka ruang dialog di berbagai forum, termasuk dalam interaksi di media sosial dan grup percakapan daring. Ia juga mengajak peserta berbudaya Indonesia dengan berbagi manfaat melalui cerita, pesan, gambar, maupun video yang membawa nilai persatuan, kerukunan, dan kemajuan, serta mampu membedakan ruang privat dan ruang publik.

“Ruang digital harus menjadi medium persatuan, bukan ajang polarisasi,” katanya.

Penguatan nilai kebangsaan juga diperkaya melalui materi bertajuk ‘Melestarikan Budaya Lokal sebagai Wujud Cinta Tanah Air’ yang disampaikan Kepala Seksi Lembaga Budaya Dinas Kebudayaan Sleman, Khrisna Wicaksono.

Ia menegaskan bahwa bela negara tidak selalu identik dengan baris-berbaris atau latihan fisik. Tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap warisan budaya.

“Melestarikan tradisi, kesenian, bahasa daerah, hingga kearifan lokal adalah bentuk konkret cinta tanah air. Budaya adalah identitas bangsa yang harus dirawat bersama,” ujar Khrisna.

Ia mendorong generasi muda untuk aktif dalam kegiatan budaya di lingkungan masing-masing, serta memanfaatkan ruang digital sebagai sarana promosi budaya lokal agar tetap relevan di tengah arus globalisasi.

Materi terakhir tentang Peran Masyarakat dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), disampaikan oleh perwakilan BNN Sleman, Ari Sutyasmanto.

Ia menegaskan bahwa ancaman narkoba merupakan tantangan serius bagi ketahanan bangsa dan membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

“Upaya P4GN tidak bisa hanya mengandalkan aparat. Peran keluarga, lingkungan, dan komunitas sangat menentukan dalam menciptakan generasi yang sehat dan berdaya,” ujarnya.

Melalui rangkaian kegiatan hari kedua ini, latihan dasar bela negara di Sumberadi tidak hanya menjadi ajang pembinaan fisik. Tetapi juga penguatan wawasan kebangsaan, budaya, dan karakter.

Semangat yang terbangun diharapkan terus tumbuh menjadi energi kolektif dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, mulai dari lingkungan terdekat hingga ruang publik yang lebih luas. (Andy Ahmad – KIM DSN NGAGLIK)




PPPKMI Sleman Gelar Seminar Awam sebagai Upaya Cegah Kanker Sejak Dini

Sleman – Penerapan gaya hidup sehat menjadi strategi fundamental dalam upaya pencegahan kanker di masyarakat. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta, Tri Siswati, dalam seminar awam penggerakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

Kegiatan dengan tema “Bersatu dalam Keunikan, Bergerak untuk Kesadaran Kanker dan Harapan yang Lebih Baik” ini diselenggarakan oleh Persatuan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) Kabupaten Sleman, dalam rangka HUT ke-38, di Pendhapa Rumah Dinas Bupati Sleman, Rabu (11/2/2026).

Dalam paparannya, Tri Siswati menegaskan bahwa kanker merupakan penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat, namun sebagian besar faktor risikonya dapat dikendalikan melalui perubahan perilaku. Ia menyebutkan bahwa gaya hidup tidak sehat seperti konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, kurang aktivitas fisik, merokok, serta paparan zat karsinogenik menjadi determinan utama meningkatnya risiko kanker.

Menurutnya, pendekatan promotif dan preventif melalui GERMAS harus diperkuat secara sistematis dan berkelanjutan.

“Pencegahan kanker tidak hanya bertumpu pada layanan kuratif di rumah sakit, tetapi dimulai dari rumah tangga, sekolah, dan lingkungan kerja melalui pembiasaan perilaku hidup sehat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pola makan seimbang berbasis gizi, konsumsi sayur dan buah yang cukup, serta pembatasan makanan ultra-proses berkontribusi signifikan dalam menurunkan risiko kanker. Selain itu, aktivitas fisik minimal 30 menit per hari dinilai mampu meningkatkan imunitas dan menjaga keseimbangan metabolik tubuh.

Tri juga menyoroti pentingnya deteksi dini sebagai bagian integral dari upaya pencegahan. Skrining kanker serviks, payudara, dan kolorektal, misalnya, dinilai efektif dalam menurunkan angka kematian apabila dilakukan secara rutin dan tepat sasaran. Ia mengajak masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, ia menekankan pentingnya literasi kesehatan yang memadai agar masyarakat mampu memilah informasi yang benar terkait kanker. Edukasi berbasis bukti ilmiah, harus menjadi rujukan utama dalam pengambilan keputusan kesehatan sehingga tidak terjebak pada mitos atau klaim yang tidak terverifikasi.

Lebih lanjut, Tri Siswati menegaskan bahwa upaya pencegahan kanker memerlukan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, organisasi profesi, institusi pendidikan, hingga komunitas masyarakat perlu bersinergi dalam membangun ekosistem yang mendukung gaya hidup sehat, termasuk penyediaan ruang terbuka hijau, fasilitas olahraga, dan akses pangan bergizi.

Seminar tersebut juga menjadi momentum refleksi bagi Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Kabupaten Sleman dalam menguatkan peran promosi kesehatan di tingkat lokal. Sebagai anggota PPPKMI Cabang Sleman, Tri menyampaikan bahwa peringatan HUT ke-38 PPPKMI menjadi pengingat komitmen organisasi untuk terus menggerakkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pencegahan penyakit tidak menular, khususnya kanker.

“Harapan terhadap penurunan kasus kanker akan terwujud apabila setiap individu mengambil peran aktif dalam menjaga kesehatannya. Bergerak bersama dalam keberagaman adalah fondasi menuju generasi yang lebih sehat dan berdaya,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Siswa APHP MAN 4 Sleman Kunjungi Pabrik Roti Ganep Solo, Dalami Industri Bakery Bersejarah

Sleman – Untuk memperluas wawasan dalam pengelolaan industri kuliner, khususnya produksi roti, siswa-siswi Kelas XII Program Keterampilan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) MAN 4 Sleman melakukan kunjungan industri ke Pabrik Roti Ganep Lintas Generasi di Solo, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026).

Sebanyak 38 siswa mengikuti kegiatan yang dikemas dalam bentuk bakery class dan tur pabrik. Para siswa tampak aktif dan antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari praktik hingga sesi berbagi pengalaman.

Kepala Bagian Pemasaran CV Ganep Lintas Generasi, Emi Yoeniastuti, menjelaskan bahwa perusahaan tersebut berdiri sejak tahun 1881 dan dianugerahi nama “Ganep” oleh Sinuwun Paku Buwono X, yang memiliki makna filosofis lengkap dan utuh.

“Perusahaan ini saat ini dijalankan oleh generasi keenam. Kami terus menjaga kualitas dan tradisi agar tetap relevan di setiap zaman,” paparnya.

Setelah sesi penerimaan dan pengenalan perusahaan, peserta dibagi menjadi empat kelompok untuk praktik membuat roti manis. Pembimbing praktik, Desi, telah menyiapkan peralatan, bahan, dan resep pembuatan roti.

“Untuk praktik, kita mulai dari pencampuran bahan, kemudian proses pembuatan adonan dan pencetakan. Ikuti prosesnya, yakinlah pasti mengasyikkan,” ujar Desi sambil mendampingi siswa dengan sigap dan ramah.

Guru Keterampilan APHP MAN 4 Sleman, Umi Hidayati, mengungkapkan bahwa banyak ilmu yang diperoleh siswa dari praktik tersebut, terutama teknik mengaduk adonan hingga kalis sempurna.

Sambil menunggu adonan mengembang, siswa diajak berkeliling pabrik dan diperkenalkan dengan “Roti Kecik”, produk unggulan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dan menjadi ciri khas Roti Ganep.

Menjelang proses pengovenan, para siswa diajak berdiskusi mengenai sejarah dan perjalanan bisnis Roti Ganep Tradisi Solo sembari menikmati teh hangat. Dalam kesempatan itu, Emi Yoeniastuti turut berbagi motivasi kepada para siswa.

“Fokuslah pada apa yang kita bisa, menjadi diri sendiri, dan perhatikan minat pelanggan agar bisa menjadi pengusaha sukses,” pesannya.

Salah satu siswa, Devika, mengaku kunjungan tersebut memberikan pengalaman baru dan berkesan. Ia tidak hanya mengetahui sejarah perusahaan, tetapi juga dapat mengamati langsung proses produksi serta praktik membuat roti.

Kunjungan industri ini menjadi pengalaman pembelajaran yang aplikatif bagi siswa APHP MAN 4 Sleman, sekaligus membuka wawasan tentang pentingnya menjaga kualitas, inovasi, dan nilai tradisi dalam membangun usaha kuliner yang berkelanjutan. (Edy KIM Sumber Biwara Moyudan)




Rakorpim Gamping Tekankan Jaga Kondusivitas Wilayah Selama Ramadan 1447 H

Sleman – Rapat Koordinasi Pimpinan Kapanewon Gamping membahas persiapan kegiatan pemerintah menjelang Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, guna memastikan kondusivitas wilayah. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Wirasuta Lantai II Kantor Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (11/2/2026), dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kapanewon (Forkopimkap), lurah, perwakilan instansi pemerintah terkait, serta Kelompok Informasi Masyarakat (KIM).

Panewu Gamping, Suyanto dalam arahannya menegaskan bahwa bulan Ramadan merupakan momentum yang membutuhkan pengelolaan tata kelola pemerintahan secara lebih intensif. Peningkatan aktivitas masyarakat, baik di bidang keagamaan, ekonomi, maupun sosial, memerlukan koordinasi lintas sektor agar potensi gangguan ketertiban umum dapat diantisipasi sejak dini.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah kapanewon, kalurahan, TNI, Polri, serta tokoh masyarakat menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Ia menekankan pentingnya pendekatan preventif dan persuasif dalam menghadapi dinamika sosial selama Ramadan.

“Pemerintah Kapanewon Gamping mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk menjaga toleransi serta menghormati kekhusyukan ibadah selama Ramadan,” ucap Suyanto.

Untuk mempererat silaturahmi Forkopim Kapanewon Gamping dengan pemerintah kalurahan dan masyarakat, pihaknya akan melaksanakan tarawih keliling di Masjid Al-Muttaqien Nogotirto, Masjid Al-Amin Trihanggo, Masjid A-Ikhlas Ambarketawang, Mushola Babusalam Banyuraden, dan Masjid Darussalam Balecatur.

Lebih lanjut, Kepala Kepolisian Sektor Gamping, AKP Bowo Susilo menyampaikan bahwa pihaknya akan meningkatkan patroli rutin, khususnya pada jam-jam rawan seperti menjelang sahur dan setelah salat tarawih. Langkah tersebut diambil untuk mencegah potensi gangguan seperti balap liar, penggunaan petasan, serta kerumunan yang berpotensi menimbulkan kerawanan sosial.

“Aspek ketertiban lingkungan turut menjadi perhatian, termasuk pengaturan jam operasional tempat usaha dan pengawasan kegiatan masyarakat pada malam hari,” imbuhnya.

Sementara itu, Komandan Koramil 17/Gamping, Kapten Infanteri Wahyani menegaskan kesiapan jajaran TNI dalam mendukung pengamanan wilayah melalui koordinasi terpadu. Ia menyebutkan bahwa stabilitas keamanan merupakan prasyarat utama agar masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan khusyuk dan nyaman.

Selain aspek keamanan, rapat koordinasi juga membahas perbaikan infrastruktur di ruas jalan wilayah Gamping demi mendukung aktivitas masyarakat. Melalui rapat koordinasi ini, Pemerintah Kapanewon Gamping berharap seluruh rangkaian kegiatan Ramadan 1447 Hijriah dapat berlangsung tertib, aman, dan kondusif.

“Komitmen kolaboratif lintas sektor diharapkan menjadi fondasi kuat dalam menjaga stabilitas wilayah sekaligus memperkuat harmoni sosial di tengah masyarakat,” tutup Suyanto. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)