Kawal Program Makan Bergizi Gratis, Muhammad Fakhri Avaqo Jadi Ujung Tombak Pemenuhan Gizi di Gamping

Sleman — Kabupaten Sleman terus memperkuat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui optimalisasi kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di barisan terdepan operasional dapur gizi yang melayani ribuan penerima manfaat tersebut, muncul sosok muda yang memegang tanggung jawab besar, yaitu Muhammad Fakhri Avaqo. Sebagai Kepala SPPG Gamping Banyuraden 2, pria yang akrab disapa Avaqo ini menjadi motor penggerak utama dalam memastikan ribuan porsi makanan sampai ke tangan siswa dengan kualitas dan keamanan pangan yang terjamin.
Unit layanan yang dipimpinnya berlokasi di Banyuraden, Kapanewon Gamping, dengan kapasitas layanan yang mampu mencapai penerima manfaat. Saat ini, SPPG Gamping Banyuraden 2 telah melayani penerima manfaat dengan dukungan 30 relawan. Tantangan logistik menjadi makanan sehari-hari, mengingat jangkauan distribusi mencapai enam kilometer dengan standar waktu pengantaran maksimal dua jam setelah produksi guna menjaga kesegaran makanan.
Avaqo mengungkapkan bahwa ketangguhan mental dan kedisiplinan yang ia terapkan di dapur gizi merupakan hasil tempaan pendidikan militer dan manajerial selama tiga bulan di Rindam IV Diponegoro, Magelang. Fondasi integritas dan loyalitas tersebut ia terjemahkan ke dalam manajemen operasional yang sangat ketat. Baginya, setiap detail proses, mulai dari pemilihan bahan baku hingga distribusi, harus berjalan presisi karena menyangkut kesehatan generasi masa depan.
“Saya sangat menyadari bahwa posisi kepala SPPG adalah ujung tombak keberhasilan program ini. Setiap porsi makanan yang disajikan merupakan amanah besar dari negara untuk menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045. Kami ditempa secara fisik dan mental di Rindam agar memiliki kedisiplinan tinggi, dan bekal itulah yang menjadi fondasi dalam memimpin unit layanan ini di daerah,” ujar Muhammad Fakhri Avaqo pada Minggu (8/2/2026).
Operasional harian SPPG bukannya tanpa hambatan. Avaqo mengakui bahwa tantangan utama terletak pada koordinasi relawan yang mayoritas merupakan warga sekitar, bukan tenaga profesional di bidang kuliner. Untuk mengatasinya, ia terus melakukan penyempurnaan sistem kerja agar tidak terjadi keterlambatan distribusi yang bisa berdampak domino pada jadwal makan siswa. Selain itu, seluruh menu disusun secara ketat oleh ahli gizi sesuai pedoman Badan Gizi Nasional (BGN) dengan pengawasan berlapis.
“Kami terus melakukan evaluasi sistem kerja agar setiap divisi dapat bekerja presisi. Selain memastikan standar gizi, kami juga mengedukasi penerima manfaat untuk melakukan cek mandiri secara organoleptik guna memastikan makanan benar-benar aman sebelum dikonsumsi. Kepuasan batin terbesar adalah saat mendengar langsung ucapan terima kasih dari anak-anak yang mendapatkan manfaat dari program ini,” tambah alumnus Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga tersebut.
Selain fokus pada pemenuhan gizi, SPPG Gamping Banyuraden 2 juga berperan sebagai penggerak ekonomi lokal di Kabupaten Sleman. Avaqo menegaskan komitmennya untuk menggandeng pelaku UMKM di Pasar Gamping guna memasok kebutuhan beras dan sayuran, serta bekerja sama dengan petani salak di wilayah Turi dan Tempel. Dengan skema ini, manfaat ekonomi dari program Makan Bergizi Gratis diharapkan dapat berputar dan dirasakan langsung oleh masyarakat serta petani lokal di Bumi Sembada. (Athiful/KIM Depok)



