Sasar Generasi Muda, Siswa MI Ma’arif Sambego Jadikan Sekolah Air Hujan Banyu Bening Laboratorium Alam

Sleman — Sebanyak 77 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Sambego bersama para wali siswa melakukan aksi nyata dalam mengenal pelestarian lingkungan melalui kegiatan luar kelas atau outing class. Mereka menjadikan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening di Tempursari, Kabupaten Sleman, sebagai laboratorium alam untuk mempelajari teknik pemanfaatan air hujan sebagai sumber daya alternatif pada Kamis (5/2/2026). Langkah ini dilakukan untuk menanamkan pemahaman bahwa air hujan bukan sekadar sisa alam, melainkan anugerah yang bisa dikelola menjadi air minum sehat.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara MI Ma’arif Sambego dengan lembaga internasional asal Jepang, Organization for Industrial and Cultural Advancement (OISCA). Fokus utama dari kunjungan ini adalah memberikan pengalaman kontekstual kepada siswa mengenai tantangan krisis air bersih di masa depan. Melalui metode pembelajaran langsung, para siswa diajak melihat sistem instalasi penampungan hingga proses penyaringan air hujan yang telah terstandarisasi secara medis namun tetap sederhana untuk dipelajari.
Perwakilan OISCA sekaligus pendamping kegiatan, Nur Partiningsih, menjelaskan bahwa edukasi ini sangat krusial untuk mengubah pola pikir masyarakat sejak usia dini. Menurutnya, pemanfaatan air hujan adalah solusi cerdas untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam, dimulai dari lingkungan rumah tangga. Dengan melihat langsung prosesnya, para siswa diharapkan tidak lagi memiliki keraguan terhadap kualitas air hujan jika dikelola dengan teknik yang benar dan bersih.
“Pembelajaran berbasis pengalaman seperti ini mampu membentuk pola pikir siswa agar lebih peduli terhadap kelestarian sumber daya alam di sekitarnya. Kami ingin merubah cara pandang generasi muda, terutama dimulai dari lingkungan keluarga mereka, bahwa air hujan bisa dimanfaatkan sebagai air minum yang bersih, menyehatkan, dan tentu saja ramah lingkungan jika dikelola secara bijak,” ujar Nur Partiningsih di sela-sela pendampingan siswa.
Kedatangan rombongan siswa ini disambut hangat oleh pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih. Para siswa terlihat sangat antusias saat diajak berkeliling melihat instalasi pemanenan air hujan dan mencoba langsung proses filtrasinya. Baginya, antusiasme anak-anak sekolah dasar ini menjadi harapan baru bagi gerakan kemandirian air di masa depan, mengingat edukasi dini adalah fondasi terkuat dalam membangun karakter masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi terhadap isu lingkungan hidup.
“Edukasi sejak dini menjadi kunci dalam membangun generasi yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pengelolaan sumber daya air dan lingkungan hidup. Kami memberikan penjelasan yang sederhana namun interaktif agar anak-anak ini pulang membawa ilmu yang bisa diceritakan kepada orang tua mereka, bahwa air hujan yang jatuh di atap rumah mereka adalah harta karun yang tidak boleh dibuang sia-sia,” tegas Sri Wahyuningsih di hadapan para siswa.
Selain membekali siswa dengan kemampuan teknis, kegiatan ini juga menekankan nilai-nilai kedisiplinan dan tanggung jawab sosial. Pihak sekolah berharap kunjungan ini dapat menginspirasi madrasah dan sekolah lain untuk mengembangkan kurikulum kontekstual yang berorientasi pada pelestarian alam. Dengan membangun karakter peduli lingkungan sejak bangku sekolah dasar, diharapkan lahir generasi yang lebih bijak dalam memanfaatkan kearifan lokal demi keberlanjutan kehidupan di masa depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)



