Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Lebaran, Pemkab Sleman Gelar Pasar Murah di Enam Wilayah

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan resmi meluncurkan rangkaian Pasar Murah Ramadhan guna melindungi daya beli masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Langkah strategis ini diambil untuk menekan potensi inflasi dan membantu warga mendapatkan komoditas pokok dengan harga terjangkau di tengah tren kenaikan harga pangan yang kerap terjadi menjelang hari raya.

Panewu Berbah, Djaka Sumarsono, mengonfirmasi program ini berdasarkan arahan resmi dari Pemerintah Kabupaten Sleman pada Senin (2/3/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Sleman bersama Bank Indonesia serta dukungan penuh dari berbagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Djaka menghimbau seluruh warga, khususnya di wilayah Kapanewon Berbah, untuk memanfaatkan momentum ini guna memenuhi kebutuhan dapur dengan harga di bawah pasar.

Operasi pasar murah ini dijadwalkan berlangsung secara maraton di enam lokasi berbeda yang mencakup berbagai zona wilayah di Sleman mulai tanggal 2 hingga 10 Maret 2026. Rangkaian kegiatan dimulai pada Senin (2/3) di GOR Tridadi untuk Zona Sleman Tengah, disusul Selasa (3/3) di Lapangan Baratan Pakem untuk Zona Utara, dan Rabu (4/3) di Stadion Maguwoharjo untuk Zona Timur. Selanjutnya, pasar murah bergeser ke Stadion TGP Seyegan pada Kamis (5/3), Lapangan Rejondani Ngaglik pada Senin (9/3), dan berakhir di Lapangan Sumbersari Moyudan pada Selasa (10/3).

“Pasar murah ini adalah bentuk kehadiran negara untuk memastikan ketersediaan bahan pokok bagi warga dengan harga yang sangat miring. Kami meminta masyarakat datang lebih awal mulai pukul WIB dan sangat disarankan membawa wadah belanja sendiri dari rumah untuk mendukung gerakan pengurangan sampah plastik,” ujar Djaka Sumarsono saat memberikan sosialisasi di Kantor Kapanewon Berbah.

Meskipun terbuka untuk umum, pemerintah memberikan prioritas utama kepada warga pemegang kartu miskin dan rentan miskin yang berdomisili di Sleman. Masyarakat cukup menunjukkan fotokopi KTP Sleman atau surat domisili sah dari pemerintah setempat untuk dapat bertransaksi. Pengetatan ini dilakukan agar penyaluran bahan pangan murah tepat sasaran kepada mereka yang paling terdampak oleh fluktuasi harga pasar.

Guna menjaga stabilitas stok, panitia menggandeng sejumlah mitra penyedia pasokan besar seperti Bulog Kanwil DIY, Pinsar Petelur Nasional Sleman, Gapoktan Sleman, hingga penyedia daging ayam PT Saliman Riyanto. Komoditas yang tersedia meliputi beras SPHP, beras premium, minyak goreng, gula pasir, telur ayam, dan daging ayam. Namun, pemerintah memberlakukan sistem pembatasan kuota per KTP untuk mencegah aksi borong, dengan batas maksimal seperti 10 kilogram beras dan 2 kilogram untuk komoditas telur maupun daging ayam.

“Kami berharap masyarakat bisa berbelanja dengan bijak dan membeli sembako sesuai dengan kebutuhan masing-masing, bukan berdasarkan keinginan untuk menimbun. Dengan pembatasan ini, kami ingin memastikan manfaat pasar murah bisa dirasakan secara merata oleh lebih banyak warga Sleman,” pungkas Djaka Sumarsono. (Kusnadi/KIM Berbah)




Stok Bahan Pokok Sleman Aman Jelang Lebaran, Warga Diminta Bijak Berbelanja dan Hindari Panic Buying

Sleman — Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Sleman bersama TPID DIY melakukan pemantauan intensif terhadap ketersediaan dan keterjangkauan harga bahan pokok pada Senin (2/3/2026). Langkah ini diambil guna memastikan stabilitas pangan di wilayah Sleman menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Peninjauan lapangan menyasar tiga titik strategis, yakni Pasar Sleman, Program Pasar Murah di GOR Tridadi, serta pusat perkulakan Indogrosir Sleman.

Kepala Biro Perekonomian dan SDA Setda DIY, Eling Priswanto, menjelaskan bahwa pemantauan ini merupakan bagian dari rangkaian inspeksi di lima kabupaten/kota se-DIY, di mana Sleman menjadi lokasi penutup. Secara umum, hasil pantauan menunjukkan bahwa ketersediaan logistik pangan di Sleman berada dalam kondisi aman. Meski terdapat fluktuasi harga pada beberapa komoditas, pemerintah menilai pergerakan tersebut masih dalam batas kewajaran dan belum memerlukan intervensi pasar yang drastis.

Komoditas yang mencatatkan kenaikan harga di antaranya adalah daging ayam dengan rata-rata kenaikan sebesar per kilogram. Eling Priswanto menyebutkan bahwa tren kenaikan harga daging ayam ini merata terjadi di kabupaten dan kota lainnya di DIY. Namun, pemerintah tetap bersiaga untuk melakukan langkah darurat jika terjadi lonjakan harga yang tidak terkendali atau kelangkaan barang di pasar.

“Kalau kenaikan harganya masih wajar, kami mungkin belum melakukan intervensi. Tetapi kalau nanti terjadi lonjakan harga yang besar atau terjadi kelangkaan bahan pokok, maka TPID DIY bersama pemerintah kabupaten dan kota akan segera melakukan operasi pasar murah untuk menstabilkan keadaan. Kami ingin memastikan masyarakat tetap bisa mengakses kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau,” ujar Eling Priswanto di sela-sela pemantauan.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman untuk terus bersinergi dengan Pemerintah Daerah DIY dalam melakukan monitoring lapangan secara berkala. Berdasarkan data dan temuan di pasar, Danang memastikan bahwa stok pangan untuk mencukupi kebutuhan warga Sleman selama masa Ramadan dan Lebaran masih sangat mencukupi.

Danang Maharsa mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terjebak dalam perilaku belanja berlebihan atau panic buying. Menurutnya, ketersediaan yang terjamin seharusnya membuat warga lebih bijak dalam mengatur pola konsumsi dan keuangan keluarga. Pengaturan ekonomi rumah tangga yang matang dinilai penting agar dinamika harga menjelang hari raya tidak menimbulkan keresahan sosial yang tidak perlu.

“Kami sampaikan kepada seluruh masyarakat bahwa kebutuhan bahan pokok ini masih tersedia aman. Tidak perlu belanja berlebihan, belilah secukupnya saja sesuai kebutuhan. Tidak usah panik, dan tentunya kami berharap masyarakat bisa mengatur ekonomi secara matang sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang mengkhawatirkan di tengah situasi menjelang lebaran ini,” tegas Danang Maharsa.




Refleksi Hari Penegakan Kedaulatan Negara, Bupati Sleman Minta ASN Perkuat Integritas Birokrasi

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman menggelar upacara bendera khidmat untuk memperingati momentum bersejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Negara. Upacara yang berlangsung pada Senin (2/3/2026) ini menjadi ajang refleksi mendalam bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Sleman untuk menyelaraskan semangat perjuangan masa lalu dengan tantangan birokrasi modern.

Dalam amanat Bupati Sleman, Harda Kiswaya, yang dibacakan oleh Komandan Kodim 0732/Sleman, Reindi Trisetyo Nugroho, ditegaskan bahwa peristiwa 1 Maret merupakan simbol keberanian yang membuktikan eksistensi Republik Indonesia di mata dunia. Jika dahulu kedaulatan dipertaruhkan melalui pertempuran fisik, maka pada era sekarang, kedaulatan harus ditegakkan melalui profesionalisme dan kinerja birokrasi yang akuntabel.

Bupati menekankan bahwa makna kedaulatan saat ini telah bergeser ke ranah pelayanan publik. Birokrasi yang strategis dinilai sebagai birokrasi yang mampu mengelola sumber daya daerah demi kemakmuran rakyat secara luas. ASN diminta menjadi garda terdepan dalam memastikan kehadiran negara melalui pelayanan yang cepat, tepat, dan transparan di tengah masyarakat Kabupaten Sleman.

“Serangan tersebut bukan hanya operasi militer, tetapi tekad untuk mempertahankan martabat bangsa. Setiap pelayanan administrasi yang cepat dan tepat, serta kebijakan yang berpihak pada rakyat, adalah bentuk nyata penegakan kedaulatan di tingkat lokal. Birokrasi yang kuat harus disiplin, adaptif, dan responsif terhadap tantangan zaman, terutama di era transformasi digital ini,” ujar Reindi Trisetyo Nugroho saat membacakan amanat Bupati di lapangan upacara.

Momentum upacara bulan Maret ini terasa istimewa karena dirangkaikan dengan peringatan tiga hari besar satuan pengamanan dan perlindungan masyarakat. Agenda tersebut mencakup peringatan HUT ke-76 Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), HUT ke-64 Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), dan HUT ke-107 Satuan Pemadam Kebakaran (Damkar). Ketiga satuan ini dinilai memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas dan ketertiban umum di wilayah Sleman.

Pemerintah Kabupaten Sleman memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para personel Satpol PP, Linmas, dan Pemadam Kebakaran yang telah berdedikasi tinggi dalam memberikan perlindungan bagi warga. Sinergi antarlembaga ini diharapkan terus menguat demi mewujudkan visi Sleman yang aman dan sejahtera melalui kerja nyata yang berorientasi pada hasil.

“Saya berharap momentum ini memperkuat sinergi dalam mewujudkan Sleman yang aman dan sejahtera. Mari kita bekerja dengan semangat pengabdian, hadir sebagai solusi bagi masyarakat, dan membuktikan bahwa birokrasi Sleman adalah birokrasi yang melayani serta berorientasi pada hasil. Jadikan nilai-nilai perjuangan 1 Maret sebagai inspirasi dalam menjalankan tugas dengan penuh kolaborasi dan integritas,” pungkasnya menutup sambutan.

Upacara diakhiri dengan komitmen bersama seluruh jajaran perangkat daerah untuk menjadikan nilai-nilai kepahlawanan sebagai landasan utama dalam menjalankan roda pemerintahan. Dengan birokrasi yang solid, Kabupaten Sleman optimis dapat terus meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui inovasi pelayanan publik yang berkelanjutan.




Cerobong Sunyi di Beran, Menelusuri Jejak Industri Genting dan Memori Kelam 1965 di Seyegan

Sleman — Sebuah bangunan menjulang setinggi 12 meter masih berdiri kokoh di tepi jalan kampung Padukuhan Beran, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan. Struktur batu bata itu merupakan cerobong asap tobong genting yang kini tak lagi mengepulkan asap. Di balik sunyinya, cerobong ini menyimpan narasi panjang tentang kejayaan industri rakyat di masa lalu serta menjadi saksi bisu transisi sosial-politik yang drastis pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Industri genting di wilayah ini dirintis pada tahun 1964 oleh seorang perantau Tionghoa yang akrab disapa Koh Ting. Pada masanya, pabrik ini tergolong sangat modern karena telah menggunakan mesin pembuat genting dan sistem pembakaran yang tidak menggunakan kayu. Dua unit tobong dengan kapasitas masing-masing genting dioperasikan secara bergantian menggunakan kompor berbahan bakar residu solar, sehingga proses produksi menjadi lebih bersih tanpa meninggalkan sisa abu.

Mantan Carik Margodadi, Beni Sujendro, yang kediamannya hanya berjarak belasan meter dari lokasi tersebut, masih menyimpan memori kolektif tentang geliat industri itu. Beni mengenang bagaimana pabrik tersebut mempekerjakan sekitar sepuluh hingga dua belas tenaga ahli dari Kebumen, daerah yang populer dengan kualitas genting Soka, untuk menghasilkan genting jenis pres kodok bermutu tinggi dengan bahan baku tanah liat dari bumi Beran sendiri.

“Waktu kecil saya sering bermain di sana, bahkan sempat masuk ke dalam bangunan cerobong yang saat itu belum selesai dibangun bersama teman-teman sebaya. Pembakarannya dulu sangat modern, tidak pakai kayu, tapi pakai kompor yang menyemprotkan residu solar sehingga tidak ada abu sisa pembakaran. Saat itu, tempat ini adalah pusat aktivitas ekonomi yang sangat maju di kampung kami,” ujar Beni Sujendro saat ditemui di kediamannya pada Minggu (1/3/2026).

Namun, deru mesin dan kepulan asap dari cerobong tersebut tiba-tiba terhenti saat pecah peristiwa 30 September dan 1 Oktober 1965. Gejolak politik nasional seketika mematikan aktivitas industri milik Koh Ting tersebut. Sejak saat itu, suasana di sekitar tobong berubah drastis. Bangunan yang semula menjadi pusat produksi kemudian beralih fungsi menjadi panggung pertunjukan kesenian rakyat seperti kethoprak, yang menurut ingatan warga, kerap disisipi sebagai sarana propaganda politik pada era tersebut.

“Setelah peristiwa itu meletus, tobong sama sekali tidak beroperasi lagi. Kesibukan pabrik hilang dan berganti menjadi kegiatan kesenian. Saya yang saat itu masih anak-anak hanya ikut menonton saja tanpa memahami sepenuhnya situasi sosial-politik yang sedang bergejolak dan mencekam di luar sana. Cerobong itu tiba-tiba saja menjadi sunyi,” tutur Beni pelan sambil memandang ke arah bangunan tua tersebut.

Kini, bangunan cerobong itu terkepung oleh rumpun bambu dan semak perdu. Pada bagian bawah struktur bangunan, masih terpatri tulisan “Genting SK” beserta tahun pembuatannya sebagai satu-satunya penanda identitas yang tersisa. Tidak ada lagi mesin yang berdengung maupun pekerja yang sibuk mencetak tanah liat. Bangunan setinggi 12 meter ini hanya tinggal menjadi monumen pengingat tentang sejarah industri yang sempat berjaya namun harus tumbang dihantam badai sejarah.

Bagi warga sekitar, cerobong sunyi tersebut merupakan warisan sejarah lokal yang tak ternilai harganya. Ia menceritakan tentang inovasi teknologi rakyat pada zamannya sekaligus mengingatkan pada fase perubahan zaman yang mengubah lanskap kehidupan masyarakat Beran secara permanen. Meski kini hanya berdiri tanpa fungsi, cerobong tersebut tetap menjadi bagian dari memori kolektif yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Hattrick Juara Umum, TPA Al-Ikhlas Rewulu Wetan Dominasi Festival Anak Sholeh Sidokarto #7

Sleman — Kalurahan Sidokarto kembali semarak dengan digelarnya Festival Anak Sholeh Sidokarto (FASSI) #7 yang dipusatkan di Kompleks Kalurahan Sidokarto, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, pada Minggu (1/3/2026). Ajang bergengsi tingkat kalurahan ini diikuti oleh 14 perwakilan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dari berbagai masjid di wilayah setempat. Kegiatan ini menjadi wadah strategis dalam memperkuat pembinaan karakter dan mentalitas generasi muda di bidang keagamaan sejak dini.

Dalam kompetisi tahun ini, TPA Masjid Al-Ikhlas Rewulu Wetan tampil mendominasi dengan memborong berbagai piala di sejumlah kategori perlombaan. Keberhasilan ini membawa mereka kembali menyabet gelar Juara Umum untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Prestasi gemilang tersebut membuktikan konsistensi pola pembinaan santri yang dijalankan secara berkelanjutan oleh para pengurus remaja masjid dan pembimbing TPA setempat.

Keunggulan TPA Al-Ikhlas Rewulu Wetan terlihat di berbagai cabang lomba yang dipertandingkan. Di kategori Adzan, Haidar sukses mengamankan posisi Juara 1 disusul Kenzhie Abidzar di posisi Juara 3. Pada bidang seni, Chayra Nadhifa meraih Juara 1 lomba mewarnai dan Fawziah Ramadhani menyabet Juara 2 kaligrafi. Sementara itu, pada cabang hafalan Al-Qur’an, Abrisam menempati Juara 3, serta tim yang beranggotakan Rizal Nabawi, Assyifa Nur Biatin, dan Rinjani Emili berhasil meraih Juara 3 di cabang Cerdas Cermat Agama (CCA).

Ketua Angkatan Muda-Mudi Islam Rewulu Wetan, Syahrul Adji Ramadhan, mengaku sangat bangga atas dedikasi yang ditunjukkan para santri selama masa persiapan hingga pelaksanaan lomba. Ia menekankan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari kolaborasi solid antara pengurus, orang tua, dan semangat belajar para santri yang tinggi. Syahrul berharap prestasi ini menjadi pemantik semangat bagi anak-anak lain di wilayahnya untuk semakin mencintai kegiatan keagamaan.

“Alhamdulillah, capaian sebagai Juara Umum untuk ketiga kalinya ini menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus membina adik-adik TPA agar semakin mencintai Al-Qur’an. Kami selalu menekankan kepada anak-anak bahwa prestasi ini bukan sekadar soal meraih piala, melainkan tentang menghargai proses pembinaan, melatih rasa percaya diri, dan mempererat kebersamaan di lingkungan masjid,” ujar Syahrul Adji Ramadhan saat ditemui di sela penyerahan trofi.

Penyelenggaraan FASSI Sidokarto secara rutin setiap tahun memang dirancang sebagai ajang ukhuwah antar-TPA sekaligus sarana evaluasi pendidikan Al-Qur’an di tingkat kalurahan. Panitia menyelenggarakan berbagai cabang lomba mulai dari da’i cilik hingga kaligrafi untuk mengakomodasi beragam minat dan bakat santri. Melalui kompetisi yang sehat, diharapkan lahir generasi baru yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kekokohan akhlak.

Antusiasme warga yang hadir mendampingi putra-putrinya menunjukkan bahwa dukungan keluarga menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pendidikan karakter anak. Pihak Kalurahan Sidokarto berharap ajang seperti ini terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Kabupaten Sleman dalam mencetak generasi qur’ani yang unggul. Festival ini ditutup dengan semangat kebersamaan seluruh peserta yang berkomitmen untuk terus menghidupkan syiar Islam di bumi Sidokarto. (Athiful/KIM Depok)