Optimalkan Layanan Jaring Pengaman Sosial, KDK Donoharjo Sosialisasikan Prosedur BPJS PBI hingga Bantuan Antasena

Sleman — Pemerintah Kalurahan Donoharjo memperkuat koordinasi terkait penyaluran berbagai program jaring pengaman sosial dalam pertemuan rutin Kader Pemberdayaan Masyarakat (KDK) yang digelar di Padukuhan Gondang Lutung, Sabtu (14/3/2026). Pertemuan ini menjadi krusial guna menginformasikan perubahan status kepesertaan BPJS PBI, pendaftaran bantuan sosial (bansos) terbaru, hingga akses bantuan Antasena bagi penyandang disabilitas.

Kamituwa Donoharjo, Dani Prasetyo, menjelaskan bahwa dinamika anggaran tahun ini mengalami penyesuaian karena adanya prioritas pada program Ketahanan Pangan dan pembangunan infrastruktur desa. Meski demikian, pemerintah kalurahan tetap berkomitmen memastikan layanan dasar masyarakat, khususnya perlindungan kesehatan, tetap berjalan optimal melalui pendampingan pembaruan data kemiskinan.

“Banyak kepesertaan BPJS PBI yang dinonaktifkan karena penerima berada di luar kategori desil satu sampai lima. Kami meminta masyarakat untuk segera melakukan pengecekan mandiri menggunakan NIK dan tanggal lahir. Jika ditemukan status tidak aktif, warga dapat mengajukan kembali melalui pemerintah kalurahan dengan melampirkan persyaratan yang diperlukan agar hak layanan kesehatan mereka tidak terputus,” ujar Dani Prasetyo di hadapan para kader.

Tenaga Pendamping Sosial Kalurahan (TPSK) Donoharjo, Eri Marheni, menambahkan bahwa pada bulan ini hingga bulan depan pemerintah membuka kembali pendaftaran program perlindungan sosial. Syarat utama untuk mengakses layanan ini adalah kepemilikan Identitas Kependudukan Digital (IKD) yang aktif serta berada pada kategori desil satu sampai lima. Bagi warga yang masih tercatat pada desil enam ke atas namun merasa layak menerima bantuan, diimbau segera mengajukan pembaruan data.

“Bantuan sosial yang akan disalurkan memiliki nilai sekitar dua juta hingga dua koma empat juta rupiah untuk keluarga penerima manfaat yang memenuhi kriteria. Kami menargetkan antara 75 hingga 150 penerima. Batas akhir pengumpulan berkas, seperti fotokopi Kartu Keluarga, adalah tanggal 26 Maret 2026. Proses ini nantinya akan diikuti dengan survei lapangan dan pengambilan titik koordinat lokasi rumah untuk memastikan bantuan tepat sasaran,” jelas Eri Marheni.

Selain bantuan umum, pertemuan tersebut juga menyoroti bantuan spesifik bagi penyandang disabilitas melalui program Antasena. Ketua PPDI Kecamatan Ngaglik, Rohman, memaparkan bahwa terdapat dua kategori bantuan, yakni bantuan modal usaha dan bantuan nutrisi pangan dengan besaran antara dua hingga tiga juta rupiah. PPDI akan bertindak sebagai koordinator pengumpulan data sebelum diteruskan ke Dinas Sosial.

“Data calon penerima bantuan Antasena harus segera disusun, termasuk foto rintisan usaha atau usaha yang sudah berjalan serta Rencana Anggaran Biaya. Pengajuan berkas kami jadwalkan mulai 17 hingga 18 Maret, dan paling lambat semua berkas harus terkumpul pada 26 Maret 2026 agar bisa diserahkan kepada petugas sebelum masa mudik Lebaran dimulai,” ungkap Rohman.

Sinergi antara pemerintah kalurahan, pendamping sosial, dan organisasi disabilitas ini diharapkan dapat menjembatani warga Donoharjo dalam mengakses hak-hak sosial mereka secara transparan. Keaktifan warga dalam mengecek status administrasi kependudukan dan kepesertaan bantuan menjadi kunci agar program intervensi kemiskinan di wilayah Ngaglik dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Sasar Digitalisasi Data Kesehatan, Posyandu Anggrek Rejosari Gandeng Mahasiswa KKN Unriyo

Sleman — Pelayanan kesehatan dasar di Padukuhan Rejosari, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, kini mulai diarahkan menuju transformasi digital. Dalam pemeriksaan rutin bulanan yang digelar di rumah Dukuh Rejosari pada Sabtu (14/3/2026), para kader Posyandu Anggrek mendapatkan pendampingan khusus dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) untuk mengoptimalkan pencatatan data kesehatan masyarakat.

Petugas Promosi Kesehatan Puskesmas Berbah, Dedeh Kurniasih, menekankan pentingnya migrasi sistem pelaporan dari manual ke aplikasi digital. Langkah ini diambil guna memastikan integritas data kesehatan balita dan lansia agar lebih ringkas, aman, dan mudah diakses saat dibutuhkan. Meski demikian, ia mengakui adanya tantangan besar dalam transformasi ini, terutama bagi kader senior yang membutuhkan waktu lebih untuk beradaptasi dengan teknologi.

“Data menjadi lebih ringkas dan tidak akan hilang selama aplikasi terjaga dengan baik. Selain itu, pencarian data lama akan jauh lebih mudah ketika diperlukan untuk keperluan medis maupun kebijakan. Nantinya, kami akan mengadakan bimbingan teknis khusus tentang penggunaan aplikasi digital pelaporan posyandu ini agar seluruh kader semakin mahir,” ujar Dedeh Kurniasih saat memantau jalannya pemeriksaan.

Ketua Kader Posyandu Anggrek, Yantini, menyambut positif inovasi tersebut, namun ia berharap ada regenerasi kader muda untuk membantu kelancaran digitalisasi ini. Kehadiran 16 mahasiswa KKN Unriyo Kelompok KKB 18A di tengah warga dinilai menjadi jembatan awal yang sangat membantu proses transfer ilmu teknologi kepada para kader di tingkat padukuhan.

“Transformasi digital memang menjadi kesulitan tersendiri bagi kader yang masih gagap teknologi, sehingga kami sangat berharap ada kader-kader muda yang bersedia bergabung dalam kegiatan sosial ini. Adanya pendampingan dari mahasiswa KKN saat ini sangat membantu, namun kami berharap kerja sama ini berkesinambungan melalui program kampus yang berkelanjutan, tidak hanya berhenti saat masa KKN berakhir,” ungkap Yantini.

Ketua KKN Unriyo KKB 18A Rejosari, Egi Sahputra Rio, menjelaskan bahwa timnya bergerak cepat mengolah data di lapangan sejak awal Maret untuk menyusun program kerja yang tepat sasaran. Selain fokus pada pendampingan posyandu, kelompoknya juga menitikberatkan pada program Komunitas Keluarga Bencana (KKB). Hal ini didasari oleh letak geografis wilayah Berbah yang berada di jalur rawan gempa bumi karena kedekatannya dengan Sesar Opak.

Rencana program yang akan dilaksanakan mencakup berbagai lapisan usia, mulai dari pemeriksaan kondisi balita yang dimeriahkan dengan lomba fashion show, senam dan pemeriksaan kesehatan lansia, hingga pelatihan pemeriksaan kanker payudara mandiri bagi remaja. Tim KKN juga menjadwalkan pelatihan mitigasi bencana sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi kerawanan wilayah.

“Kami melakukan pendataan secara cepat agar program yang diajukan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Rejosari. Melalui kolaborasi dengan dukuh, kader, dan warga, kami ingin membekali remaja dengan kemampuan mitigasi bencana sekaligus mengajak semua warga berpartisipasi aktif dalam pengecekan kesehatan rutin,” jelas Egi Sahputra Rio. (Kusnadi/KIM Berbah)




Sasar Masyarakat Prasejahtera, Kalurahan Sumberharjo Jadi Titik Penutup Rangkaian Pasar Murah Ramadan Sleman 2026

Sleman — Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, resmi menjadi lokasi terakhir dari seluruh rangkaian program Pasar Murah Ramadan yang digelar Pemerintah Kabupaten Sleman tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di kompleks Kantor Kalurahan Sumberharjo pada Sabtu (14/3/2026) ini menjadi upaya pamungkas pemerintah dalam menstabilkan harga pangan di tingkat konsumen menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Program ini diinisiasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman untuk memfasilitasi masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga distributor. Intervensi pasar ini dinilai mendesak mengingat adanya kecenderungan lonjakan harga akibat ulah oknum pedagang yang memanfaatkan tingginya permintaan bahan pangan selama bulan puasa.

Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Kabupaten Sleman, Dwi Wulandari, menegaskan bahwa kehadiran pemerintah di tengah masyarakat melalui pasar murah bertujuan untuk menjaga daya beli warga, terutama bagi mereka yang terdampak kondisi ekonomi yang belum stabil. Sumberharjo sendiri dipilih menjadi satu dari 15 titik lokasi strategis berdasarkan pertimbangan tingkat kemiskinan dan kebutuhan masyarakat yang tinggi.

“Pada kondisi ekonomi seperti sekarang, pemerintah hadir membantu melalui program Pasar Murah Ramadan. Kami sangat selektif dalam menentukan titik lokasi, dengan melihat tingkat kemiskinan dan kemampuan penyerapan masyarakat. Sangat kurang bijaksana jika bahan pokok yang disediakan mitra tidak terserap secara optimal oleh warga setempat,” ujar Dwi Wulandari di sela kegiatan.

Sejumlah mitra strategis turut menyokong ketersediaan stok pangan dalam kegiatan ini, mulai dari Bulog, Pinsar Petelur Nasional (PPN) Sleman, hingga PT Sari Agrotama Persada. Komoditas yang ditawarkan meliputi beras, telur ayam, gula pasir, dan minyak goreng. Meski demikian, pada titik terakhir ini stok daging ayam potong tidak tersedia karena kendala teknis pengiriman dari pihak penyedia.

Manfaat pasar murah ini dirasakan langsung oleh masyarakat, salah satunya Dariyem, warga Jogotirto yang sengaja datang ke lokasi. Ia mengaku selisih harga yang ditawarkan sangat membantu anggaran rumah tangganya. Sebagai gambaran, telur ayam di pasar murah ini dibanderol per kilogram dibandingkan harga pasar yang mencapai , sementara gula pasir dijual dari harga normal per kilogram.

“Dengan harga yang lebih murah dari pasaran, pasar murah Ramadan ini sangat membantu masyarakat kelas bawah dalam mencukupi kebutuhan bulan puasa dan menjelang hari raya. Terima kasih kepada pemerintah yang sudah peduli dengan kondisi kami di tingkat bawah,” tutur Dariyem.

Penutupan rangkaian pasar murah di Sumberharjo ini menandai berakhirnya intervensi harga pangan secara massal oleh Pemkab Sleman untuk musim Ramadan tahun ini. Pemerintah berharap, meski kegiatan seremonial telah berakhir, ketersediaan stok di pasar umum tetap terjaga sehingga harga pangan tetap stabil hingga perayaan Lebaran tiba. (Kusnadi/KIM Berbah)




Perkuat Ketahanan Wilayah, Satlinmas Margorejo Dibekali Strategi Pengamanan Berbasis Masyarakat

Sleman — Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, terus berupaya memperkokoh sistem keamanan lingkungan dengan menggelar pembinaan intensif bagi anggota Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas). Kegiatan yang berlangsung di ruang pertemuan kalurahan setempat pada Sabtu malam (14/3/2026) ini bertujuan untuk memantapkan posisi Satlinmas sebagai garda terdepan dalam menjaga ketenteraman warga.

Forum ini menjadi ruang strategis bagi para personel Satlinmas untuk mendapatkan pembekalan langsung dari berbagai pemangku kepentingan. Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga dirancang untuk meningkatkan kesiapsiagaan personel dalam menghadapi dinamika keamanan yang kian berkembang serta memperkuat kemampuan koordinasi saat menghadapi situasi darurat di lingkungan masing-masing.

Jogoboyo Kalurahan Margorejo, Farhan Mei Ustadza, menekankan bahwa Satlinmas memiliki peran yang sangat vital karena berinteraksi langsung dengan warga setiap hari. Menurutnya, keberadaan Satlinmas bukan sekadar simbol formalitas keamanan di tingkat desa, melainkan instrumen penting yang menentukan kecepatan respons terhadap berbagai potensi gangguan ketertiban.

“Satlinmas bukan hanya simbol keamanan di tingkat desa, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun ketenteraman masyarakat. Peran mereka sangat dekat dengan warga sehingga respons cepat dan koordinasi yang baik menjadi kunci utama. Pembinaan rutin ini diperlukan agar anggota mampu menyesuaikan diri dengan dinamika keamanan yang terus berkembang saat ini,” ujar Farhan Mei Ustadza di hadapan para peserta.

Senada dengan hal tersebut, Carik Margorejo, Ariyanto Wibowo, menegaskan bahwa sistem keamanan berbasis masyarakat merupakan pilar utama dalam menciptakan iklim wilayah yang kondusif. Ia menilai bahwa aparat formal tidak dapat bekerja sendirian tanpa dukungan kuat dari masyarakat yang diorganisir melalui Satlinmas. Partisipasi aktif warga dalam menjaga ketertiban dinilai akan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan harmonis secara berkelanjutan.

“Keamanan lingkungan tidak bisa hanya diserahkan kepada aparat formal. Peran masyarakat melalui Satlinmas menjadi kekuatan utama dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan kondusif. Melalui pembinaan ini, kita harapkan koordinasi antara pemerintah kalurahan, aparat keamanan, dan unsur masyarakat semakin erat,” tegas Ariyanto Wibowo.

Bhabinkamtibmas Margorejo, Agung Priyatno, turut memberikan pembekalan mengenai teknis sinergi di lapangan. Ia memandang Satlinmas sebagai mitra strategis kepolisian yang berada di garis paling depan dalam mendeteksi permasalahan sosial sejak dini. Agung mengingatkan agar dalam menjalankan fungsi pengamanan, personel Satlinmas selalu mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis agar tetap dicintai serta dipercaya oleh warga.

“Satlinmas adalah mitra strategis kepolisian di tingkat akar rumput. Dengan komunikasi yang baik dan koordinasi yang kuat, berbagai potensi gangguan keamanan bisa dicegah sejak dini. Kami berharap rekan-rekan tetap mengedepankan pendekatan persuasif dalam menghadapi setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat,” jelas Agung Priyatno.

Kegiatan pembinaan yang berlangsung penuh keakraban ini diakhiri dengan diskusi interaktif mengenai tantangan keamanan terkini di tingkat padukuhan. Melalui penguatan kapasitas ini, Pemerintah Kalurahan Margorejo berharap Satlinmas dapat berfungsi lebih optimal sebagai penghubung antara warga dan aparat keamanan guna mewujudkan stabilitas wilayah yang kokoh. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Sambut Keberkahan Ramadan, Jemaah Masjid Al Arqom Tegalturi Gelar Khatmil Qur’an 30 Juz

Sleman — Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti Masjid Al Arqom Tegalturi, Karangasem, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, pada Sabtu (14/3/2026). Puluhan jemaah berkumpul untuk melaksanakan kegiatan Khatmil Qur’an sebagai bentuk penguatan spiritual dan kecintaan terhadap kitab suci di tengah momentum bulan suci Ramadan.

Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara bergiliran oleh para jemaah. Dengan duduk melingkar, jemaah melantunkan ayat demi ayat hingga tuntas mencapai 30 juz. Suasana tenang dan khusyuk tercipta selama prosesi berlangsung, mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga tradisi religius di lingkungan Padukuhan Gempol.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Bejo Subekti, sementara sesi doa khatmil Qur’an dipandu oleh Mudji Hamdani. Kehadiran tokoh agama setempat memastikan jalannya acara berlangsung tertib dan sarat makna. Program ini bukan sekadar rutinitas pengajian, melainkan upaya kolektif warga untuk meningkatkan indeks keimanan serta ketakwaan di lingkungan masyarakat perkotaan yang dinamis.

Widayat, salah satu jemaah yang hadir, menekankan bahwa kegiatan ini merupakan momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga. Menurutnya, tradisi membaca Al-Qur’an secara bersama-sama memiliki dampak positif dalam menumbuhkan semangat religiusitas yang lebih kuat di tengah masyarakat.

“Melalui kegiatan ini kami berharap Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan dalam khataman ini menjadi energi positif bagi kami untuk terus konsisten memperbaiki diri di bulan yang penuh berkah ini,” ujar Widayat di sela-sela kegiatan.

Acara ditutup dengan doa bersama agar keberkahan Al-Qur’an senantiasa menyertai setiap langkah kehidupan para jemaah. Masyarakat Tegalturi berharap kegiatan khatmil Qur’an rutin ini dapat terus terjaga sebagai identitas kampung yang religius, sekaligus menjadi pedoman bagi warga dalam menjalani kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan penuh keselamatan. (Tri Suhartati/KIM Depok)