Tim Penanggulangan Kemiskinan Ngaglik dan Baznas Sleman Salurkan Bantuan bagi 60 Penerima Manfaat

Sleman — Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Pendopo Kapanewon Ngaglik pada Jumat pagi (13/3/2026). Puluhan warga yang terdiri dari masyarakat dhuafa, anak yatim piatu, lansia, hingga penyandang disabilitas berkumpul untuk menerima penyaluran bantuan dalam program bertajuk “Ngaglik Peduli”. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Tim Penanggulangan Kemiskinan (TPK) Kapanewon Ngaglik dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sleman.

Program Ngaglik Peduli hadir sebagai langkah konkret pemerintah dalam memberikan perlindungan sosial bagi warga yang membutuhkan. Kehadiran Wakil Ketua Baznas Sleman, Muhaimin, bersama jajaran pemerintah kapanewon dan unsur jawatan sosial dalam acara tersebut menjadi bukti kuat bahwa penanganan masalah kemiskinan membutuhkan sinergi lintas sektor agar bantuan yang diberikan dapat menjangkau sasaran secara akurat dan tepat guna.

Sebanyak 60 penerima manfaat dari berbagai desa di wilayah Ngaglik menerima bantuan yang diharapkan mampu membantu mencukupi kebutuhan harian mereka. Seluruh penerima sebelumnya telah melalui proses verifikasi data oleh TPK, PKH, dan TKSK setempat guna memastikan bantuan jatuh ke tangan yang paling berhak. Bagi warga, perhatian ini bukan sekadar bantuan materiil, melainkan wujud kehadiran pemerintah di tengah kesulitan mereka.

Panewu Ngaglik, Wawan Wodiantoro, menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat berjalan sendiri dalam mengentaskan kemiskinan. Dukungan dari lembaga zakat seperti Baznas serta partisipasi aktif masyarakat sangat krusial dalam mempercepat peningkatan kesejahteraan warga. Ia berharap bantuan ini menjadi penyemangat bagi para penerima manfaat untuk terus menjalani kehidupan dengan penuh optimisme.

“Program ini menjadi wujud kepedulian bersama kepada masyarakat yang membutuhkan. Kami berharap bantuan yang diberikan dapat sedikit meringankan beban para penerima manfaat dan memberikan kebahagiaan, terlebih menjelang momentum kebersamaan di tengah masyarakat saat ini. Sinergi ini sangat penting untuk memastikan program sosial berjalan dengan baik dan tepat sasaran,” ujar Wawan Wodiantoro di sela-sela acara.

Selain aspek bantuan sosial, Ngaglik Peduli juga diarahkan untuk memperkuat kembali nilai gotong royong dan solidaritas antarwarga di Kabupaten Sleman. Pemerintah Kapanewon Ngaglik berkomitmen untuk menjadikan program ini sebagai inspirasi bagi wilayah lain dalam memperkokoh kepedulian sosial secara berkelanjutan. Dengan adanya kolaborasi yang terus terjalin, diharapkan manfaat nyata dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat kurang mampu. (ESK/KIM DSN Ngaglik)




Dukung Pendidikan Usia Dini, Pemerintah Kalurahan Banyuraden Salurkan Insentif bagi Guru Pos PAUD

Sleman — Pemerintah Kalurahan Banyuraden memperkuat komitmennya dalam memajukan kualitas pendidikan di tingkat akar rumput dengan memberikan insentif kepada para guru Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tahun 2026. Penyerahan apresiasi tersebut dilakukan langsung oleh Ketua Tim Penggerak PKK Banyuraden, Kwintartiningsih Pospoputri, di ruang rapat Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman, Jumat (13/3/2026).

Langkah ini diambil sebagai bentuk pengakuan atas peran vital tenaga pendidik dalam meletakkan fondasi karakter dan kecerdasan anak sejak usia dini. Sebanyak 17 guru yang berasal dari tiga lembaga pendidikan, yakni Pos PAUD Cahaya Pelangi Banyumeneng, Pos PAUD Mutiara Hati Somodaran, dan Pos PAUD Anggrek Sukunan, menerima tunjangan tersebut sebagai suntikan motivasi untuk terus meningkatkan mutu pelayanan pendidikan di lingkungan masing-masing.

Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama, menegaskan bahwa keberadaan Pos PAUD di tingkat padukuhan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya kalurahan menciptakan lingkungan ramah anak. Menurutnya, dedikasi para guru yang dengan penuh kesabaran membimbing anak-anak di tengah masyarakat layak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah.

“Momentum ini menjadi bentuk apresiasi pemerintah kalurahan terhadap dedikasi para guru Pos PAUD yang selama ini berperan penting dalam memberikan pendidikan dasar bagi anak-anak usia dini di wilayah Banyuraden. Peran guru PAUD tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga mendampingi proses tumbuh kembang anak secara menyeluruh guna membentuk generasi yang cerdas dan berakhlak baik,” ujar Hendy Indra Utama di hadapan para pendidik.

Ketua Tim Penggerak PKK Banyuraden, Kwintartiningsih Pospoputri, menambahkan bahwa pendidikan yang diterima anak pada masa awal kehidupan akan sangat menentukan kemampuan sosial dan mental mereka di masa depan. Ia menilai para guru PAUD adalah garda terdepan dalam pembangunan sumber daya manusia karena mereka menangani fase usia emas yang paling menentukan perkembangan manusia.

“Pemberian insentif ini bukan sekadar bantuan finansial, melainkan bentuk penghargaan tulus atas kerja keras dan pengabdian para guru yang membimbing anak-anak dengan penuh kasih sayang. Kami ingin sinergi antara pemerintah, PKK, dan tenaga pendidik ini terus diperkuat agar layanan pendidikan anak usia dini di Banyuraden semakin berkualitas dan merata,” jelas Kwintartiningsih Pospoputri.

Sejalan dengan hal itu, Kamituwa Banyuraden, Agus Nurdalmadi, menyoroti pentingnya keberadaan PAUD sebagai salah satu pilar pembangunan wilayah. Pemerintah Kalurahan berharap dukungan ini dapat mempertebal semangat pengabdian para guru agar terus konsisten menjalankan peran mulianya dalam mendidik generasi penerus bangsa. Dengan pendidikan yang layak sejak dini, diharapkan setiap anak di Banyuraden memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh menjadi pribadi yang unggul. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Tekan Angka Stunting, Pemerintah Kalurahan Condongcatur Salurkan Paket Makanan Tambahan bagi Puluhan Warga

Sleman — Pemerintah Kalurahan Condongcatur terus berkomitmen dalam upaya penanggulangan masalah gizi buruk dan percepatan penurunan angka stunting di wilayahnya. Sebagai langkah nyata, pihak kalurahan menyerahkan bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) periode Maret 2026 kepada 40 penerima manfaat yang terdiri dari balita di bawah dua tahun (baduta) kategori stunted serta ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK). Penyerahan bantuan ini berlangsung di Pendopo Kalurahan Condongcatur pada Jumat (13/3/2026).

Program PMT ini dirancang untuk memberikan dukungan gizi tambahan melalui penyediaan bahan makanan bermutu guna mencukupi kebutuhan nutrisi harian kelompok rentan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan PLKB Kapanewon Depok, KKB Condongcatur, serta jajaran pengurus PKK setempat sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor dalam menangani permasalahan kesehatan masyarakat di tingkat kalurahan.

Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam, menjelaskan bahwa penyaluran PMT ini merupakan bagian dari implementasi program nasional yang bertujuan memperbaiki status gizi anak-anak sejak dini. Menurutnya, intervensi berupa pemberian bahan makanan bergizi adalah instrumen penting untuk memutus mata rantai stunting agar anak-anak di Condongcatur dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

“Bantuan berupa bahan makanan ini diharapkan dapat mendukung pemenuhan gizi para penerima manfaat secara langsung. Hal ini merupakan bentuk kepedulian nyata dari Pemerintah Kalurahan Condongcatur dengan harapan besar dapat mencegah sekaligus menanggulangi kasus stunting di wilayah kita secara lebih efektif,” ujar Al Thouvik Sofisalam saat memberikan sambutan.

Selain penyaluran bantuan fisik, program ini juga diperkuat oleh peran Tim Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) Condongcatur. Ketua Tim Dashat, Tatik Sukarsih, memaparkan bahwa pihaknya tidak hanya fokus pada pendistribusian makanan, tetapi juga masif melakukan edukasi pola makan seimbang kepada keluarga berisiko. Tim ini bertugas melatih para kader dan orang tua dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi menu sehat yang bergizi namun tetap ekonomis.

“Kami melakukan pendampingan gizi kepada keluarga berisiko stunting agar mereka mampu menyajikan makanan sehat secara mandiri di rumah. Selain itu, pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai pentingnya gizi pada seribu hari pertama kehidupan menjadi fokus utama kami agar masyarakat paham betul cara mencegah stunting sejak masa kehamilan,” jelas Tatik Sukarsih terkait teknis pendampingan di lapangan.

Melalui sinergi antara bantuan materiil dan edukasi berkelanjutan ini, Pemerintah Kalurahan Condongcatur berharap status gizi masyarakat dapat meningkat secara signifikan. Langkah konkret ini diharapkan mampu menciptakan generasi masa depan yang lebih sehat dan tangguh, sekaligus menjadi bukti kehadiran pemerintah dalam menjamin kesejahteraan kesehatan warga di tingkat paling dasar. (Wasana/KIM Depok)




Lazismu PKU Muhammadiyah Yogyakarta Salurkan THR dan Parsel Lebaran bagi Masyarakat Dhuafa

Sleman — Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan Tablig Akbar Ramadan yang digelar pada Kamis (12/3/2026) di Selasar Utara Hemodialisa, Gedung RS PKU Muhammadiyah Gamping. Kegiatan yang diselenggarakan oleh LAZISMU PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Gamping, dan Sleman ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus penyaluran bantuan THR dan parsel lebaran kepada masyarakat sekitar rumah sakit serta komunitas binaan.

Acara yang berlangsung pada sore hari tersebut dihadiri sekitar 600 peserta dari berbagai komunitas mitra rumah sakit dalam kegiatan bertajuk Ramadan Bahagia Bersama PKU.

“Sekali lagi kami ucapkan selamat datang kepada seluruh peserta Tablig Akbar Ramadan Bahagia bersama PKU di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping,” ujar pembawa acara, H. Alfis Khoirul, saat membuka kegiatan.

Acara diawali dengan pembukaan dan doa bersama, kemudian dilanjutkan sambutan dari Direktur Pelayanan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Safiqulatif Abdillah. Dalam sambutannya ia menyampaikan rasa syukur karena kegiatan berbagi di bulan suci Ramadan dapat kembali dilaksanakan melalui program pentasarufan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dari para dokter dan pegawai rumah sakit.

“Alhamdulillah pada kesempatan sore hari ini kita masih diberikan karunia oleh Allah sehingga dapat bersilaturahmi dalam rangka pentasarufan ZIS dari para dokter di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Gamping, dan Sleman,” ujarnya.

Ketua Kantor Layanan LAZISMU RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan Gamping, Tawakal Akbar Darojat, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap Ramadan.

Ia menyebutkan bahwa pada tahun ini penyaluran THR dan kado lebaran mencapai total sekitar Rp170 juta. Setiap penerima mendapatkan paket sembako senilai Rp250 ribu serta uang tunai sebesar Rp125 ribu.

Bantuan tersebut diberikan kepada berbagai komunitas masyarakat dhuafa yang sehari-hari bekerja di sekitar rumah sakit, seperti tukang becak, pedagang kaki lima, pedagang asongan, pengemudi ojek dan taksi daring, juru parkir, petugas kebersihan, hingga pekerja pendukung di lingkungan rumah sakit.

“Sebagian rezeki yang diperoleh rumah sakit melalui berbagai ikhtiar pelayanan kesehatan merupakan hak masyarakat yang membutuhkan. Karena itu, Lazismu hadir sebagai jembatan untuk menyalurkan amanah tersebut kepada para penerima manfaat,” tutur Akbar.

“Sebagian dari apa yang selama ini diikhtiarkan bersama oleh ketiga rumah sakit ini adalah menjadi hak untuk Bapak Ibu sekalian. Karena itu kami memohon doa dan dukungan agar PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Gamping, dan Sleman dapat terus berkembang, sehingga manfaatnya semakin luas dan membawa keberkahan bagi semua,” sambungnya.

Acara dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an yang dipimpin oleh Ustaz Mansur Hidayah. Para peserta bersama-sama membaca sejumlah surah pendek sebagai pengingat pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai inspirasi dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Memasuki sesi berikutnya, panitia menggelar prosesi simbolis penyerahan THR dan kado Ramadan kepada sejumlah perwakilan komunitas binaan, di antaranya komunitas pengajian becak, perwakilan pekerja internal rumah sakit, relawan rukti jenazah, serta komunitas masyarakat sekitar.

Penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh jajaran direksi rumah sakit sebagai bentuk kepedulian sosial di bulan Ramadan. Turut hadir Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Gamping, Ahmad Faesol, Direktur Diklit dan Mutu, Nova Maryani, Direktur Pelayanan, Safiqulatif Abdillah, serta Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Sleman, Eka Yoga Wiratama.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausiyah Ramadan yang disampaikan oleh Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Gamping, Ahmad Faesol. Dalam ceramahnya ia mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai amalan yang membawa keberkahan hidup.

“Barang siapa yang senantiasa menjalin tali silaturahmi, maka dua keuntungan akan didapatkan, yaitu dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan usianya,” ujarnya Ahmad.

Ia juga mengajak jamaah memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadan untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa. Menurutnya, Ramadan merupakan momentum pendidikan spiritual agar setiap muslim mengalami peningkatan kualitas ibadah.

Melalui kegiatan Tablig Akbar ini, Lazismu PKU Muhammadiyah berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial dapat terus tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus mempererat hubungan antara rumah sakit dan komunitas sekitar.

Acara ditutup dengan buka puasa bersama, dilanjutkan salat Maghrib berjamaah, serta pembagian THR secara tertib kepada sekitar 650 penerima manfaat. (Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi)




Pengrajin Tahu Krapyak Bertahan di Tengah Menyusutnya Generasi Penerus

Sleman — Sentra produksi Tahu Krapyak telah lama menjadi salah satu trade mark kuliner di wilayah Seyegan, Kabupaten Sleman. Tiga kawasan padukuhan, yakni Krapyak VIII, Krapyak IX, dan Krapyak X, menjadi pusat para pengrajin yang menjaga eksistensi tahu khas tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah pengrajin terus berkurang.

Dari sekitar 160 pengrajin yang pernah tercatat, kini hanya tersisa 68 pengrajin yang masih aktif memproduksi tahu. Sebagian pengrajin telah meninggal dunia, sementara generasi muda banyak yang tidak lagi tertarik meneruskan profesi sebagai pembuat tahu.

Salah satu pengrajin yang masih bertahan adalah Irwanto. Ia meneruskan usaha keluarga yang telah digeluti secara turun-temurun dari orang tuanya. Sejak 2007, Irwanto menjalankan usaha tersebut secara mandiri dan telah hampir dua dekade menekuni profesi sebagai pengrajin tahu. Ia bahkan pernah dipercaya menjadi ketua asosiasi pengrajin tahu Krapyak.

Di rumah produksi yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya di Krapyak X RT 03 RW 25, Irwanto bersama istrinya setiap hari memproduksi tahu. Sekitar 80 kilogram kedelai diolah setiap hari untuk menghasilkan tahu yang kemudian dipasarkan.

Empat tahun lalu, Irwanto mendapat hibah alat boiler dari Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memasak bubur kedelai. Kehadiran alat tersebut sangat membantu mempercepat proses produksi.

“Dengan boiler ini, memasak bubur kedelai hanya membutuhkan waktu sekitar 20 sampai 30 menit saja, jauh lebih cepat dibanding sebelumnya,” ujar Irwanto saat ditemui dikediamannya, Kamis (12/3/2026).

Ia memproduksi tahu putih dan tahu kuning dengan merek “Tahu Syifa”. Setiap hari sekitar 20 kilogram tahu dihasilkan dan kemudian dijual oleh istrinya di pasar.

Kelompok Sentra Tahu Krapyak sendiri pernah mendapatkan fasilitasi studi tiru ke Bandung untuk mempelajari pembuatan tahu susu dan tahu sutra. Namun saat ini hanya Irwanto yang masih memproduksi kedua jenis tahu tersebut, itupun dalam skala pesanan.

Proses pembuatan tahu membutuhkan waktu cukup panjang, sekitar empat hingga lima jam. Tahapannya dimulai dari merendam kedelai, menggiling, memasak bubur kedelai, menyaring sari kedelai, pembibitan, pencetakan, pengepresan, hingga pemotongan tahu.

Menariknya, limbah produksi tahu juga dimanfaatkan secara optimal. Ampas tahu tidak dibuang begitu saja, tetapi dimanfaatkan oleh pengrajin keripik gembus serta kelompok peternak sebagai pakan ternak.

Sementara itu, limbah cair dari produksi tahu dialirkan melalui saluran khusus menuju instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang menjadi sistem pengelolaan limbah bagi para pengrajin di kawasan tersebut.

Di balik keberlangsungan usaha tahu Krapyak, para pengrajin menghadapi tantangan besar, yakni ketergantungan pada kedelai impor yang mencapai sekitar 90 persen dari kebutuhan produksi. Hal ini terjadi karena pasokan kedelai lokal masih terbatas, kualitasnya tidak selalu seragam, dan kontinuitasnya belum terjamin.

“Produksi kedelai lokal belum mampu memenuhi kebutuhan harian produsen tahu, baik dari segi jumlah maupun kontinuitas,” jelas Irwanto.

Menurutnya, kedelai impor lebih disukai karena ukuran bijinya seragam dan mampu menghasilkan tahu lebih banyak serta lebih tahan lama dibandingkan kedelai lokal.

Namun ketergantungan tersebut juga membuat para pengrajin rentan terhadap fluktuasi harga global dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Kalau harga kedelai impor naik, produsen biasanya terpaksa memperkecil ukuran tahu, mengurangi produksi, atau mencampur sedikit kedelai lokal agar usaha tetap berjalan,” ungkapnya.

Pengalaman Irwanto selama hampir dua dekade membuat rumah produksinya sering menjadi tempat studi lapangan bagi mahasiswa. Beberapa perguruan tinggi bahkan mengundangnya sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman tentang pengelolaan usaha mikro dan kewirausahaan.

Rumah produksinya juga pernah dikunjungi wisatawan mancanegara dari Australia dan Amerika Serikat yang ingin melihat langsung proses pembuatan tahu tradisional. Mahasiswa dari UGM dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) juga pernah melakukan penelitian terkait pengelolaan limbah cair produksi tahu di tempat tersebut.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Irwanto tetap optimistis menjalankan usahanya. Berbagai suka duka telah ia alami dalam perjalanan panjang bisnis tahu yang dijalankannya.

Kini muncul peluang baru dengan hadirnya SPPG sebagai dapur penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Margoagung. Irwanto tengah dijajaki menjadi salah satu pemasok tahu untuk kebutuhan dapur tersebut.

Bagi Irwanto, mempertahankan usaha tahu bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjaga warisan kuliner yang telah menjadi identitas kawasan Krapyak.

“Selama masih ada yang mau makan tahu, kami akan terus memproduksi. Ini sudah menjadi bagian dari hidup kami,” tutupnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)