Musrenbangkal Perubahan RPJMKal 2027–2028 Tegaskan Komitmen Pembangunan Partisipatif

Sleman – Upaya memperkuat pembangunan berbasis aspirasi masyarakat terus dilakukan di tingkat desa. Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kalurahan (Musrenbangkal) Perubahan RPJMKal Tahun 2027–2028, pada Kamis (12/3/2026).

Forum yang berlangsung terbuka tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah kalurahan, lembaga kemasyarakatan, serta perwakilan warga untuk menyelaraskan arah pembangunan desa agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman, Yohanes Purnama Kristiawan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa proses perencanaan pembangunan di tingkat desa harus mengedepankan transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas.

“Desa memiliki peran penting sebagai ujung tombak pembangunan nasional. Karena itu, proses perencanaan seperti Musrenbangkal harus mampu menjaring aspirasi masyarakat secara luas dan mengubahnya menjadi program yang konkret,” katanya.

Sementara itu, Plt Panewu Tempel melalui perwakilannya, Kepala Jawatan Projo Sri Lestari, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah desa, kapanewon, dan masyarakat dalam menyusun rencana pembangunan yang realistis namun visioner.

“Perencanaan pembangunan desa harus disusun secara matang, terukur, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan pada kesempatan itu menyatakan bahwa forum tersebut bersifat umum dan terbuka. Ia memaparkan pandangan umum terkait rencana kerja pemerintah kalurahan berdasarkan pencermatan RPJMKal untuk periode 2027–2028, termasuk berbagai usulan pembangunan dari tingkat padukuhan.

“Kami ingin memastikan bahwa pembangunan yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat, baik di bidang infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, maupun pelayanan publik,” kata Abdul Azis.

Ketua Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) Margorejo, H. Edy Triyanto, menambahkan bahwa peran masyarakat sangat penting dalam proses perencanaan pembangunan.

“Musrenbangkal menjadi forum demokratis yang mempertemukan aspirasi warga dengan kebijakan pemerintah desa. Dengan begitu, setiap program yang disepakati memiliki legitimasi sosial yang kuat,” ungkapnya.

Memasuki sesi musyawarah yang dipimpin Carik Margorejo Ariyanto Wibowo, peserta mendapatkan paparan rancangan tambahan RPJMKal Tahun 2027–2028 yang disampaikan oleh Kaur Pangripto. Paparan tersebut kemudian ditanggapi peserta melalui diskusi terbuka sebelum akhirnya disepakati bersama sebagai rancangan perubahan dokumen perencanaan pembangunan desa.

Sebagai bentuk komitmen bersama, hasil kesepakatan Musrenbangkal dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani oleh berbagai unsur perwakilan masyarakat, mulai dari lurah, ketua BPKal, anggota BPKal, pamong kalurahan, lembaga kemasyarakatan, tokoh masyarakat, hingga tokoh perempuan.

Forum ditutup dengan menyanyikan lagu nasional “Bagimu Negeri”, sebagai simbol komitmen bersama untuk membangun desa yang lebih maju dan sejahtera.

Melalui Musrenbangkal ini, Pemerintah Kalurahan Margorejo berharap arah pembangunan desa ke depan semakin inklusif, partisipatif, dan mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Model perencanaan seperti ini juga menjadi cerminan bagaimana pembangunan nasional sesungguhnya dimulai dari desa, melalui dialog, kesepakatan, dan gotong royong seluruh elemen masyarakat. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)




WKSBM Wonolelo Santuni 14 Lansia di Pondok 2, Wujud Kepedulian Sosial Warga

Sleman — Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) Wonolelo Padukuhan Pondok 2, Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, menggelar kegiatan santunan bagi para lanjut usia (lansia) di wilayah setempat, pada Kamis (12/3/2026). Kegiatan sosial tersebut berlangsung di Pendopo Kulon Omah, Padukuhan Pondok 2.

Dalam kegiatan tersebut, WKSBM Wonolelo memberikan santunan kepada 14 lansia yang tinggal di Padukuhan Pondok 2. Penyaluran santunan ini turut didampingi Suwarni dari Dinas Sosial Kabupaten Sleman.

Salah satu warga penerima manfaat, Suwarni menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas kepedulian yang ditunjukkan WKSBM Wonolelo terhadap para lansia. Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat membantu pemerintah, khususnya Dinas Sosial, dalam menangani berbagai persoalan sosial di masyarakat.

Ia menilai kepedulian masyarakat terhadap kelompok rentan seperti lansia menjadi bukti bahwa solidaritas sosial masih terjaga dengan baik di lingkungan masyarakat.

“Lingkungan yang ramah akan menjadikan para lansia tetap aktif dan memiliki kualitas hidup yang baik,” ujar Suwarni.

Ia juga berharap WKSBM Wonolelo dapat terus mempertahankan semangat pengabdian sosial di tengah berbagai tantangan yang semakin kompleks.

“Mari kita tetap semangat dan terus meningkatkan kapasitas dalam gerakan sosial ini, karena permasalahan yang kita hadapi ke depan akan semakin kompleks,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua WKSBM Wonolelo, Syamsi Arifin, menjelaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya selama ini aktif melaksanakan berbagai kegiatan sosial di masyarakat. Pada kegiatan kali ini, fokus bantuan diberikan kepada para lansia di lingkungan padukuhan.

“Berdasarkan data yang kami miliki, terdapat 14 lansia di Padukuhan Pondok 2. Masing-masing kami berikan santunan sebesar Rp100 ribu,” ungkap Syamsi.

Ia berharap bantuan sederhana tersebut dapat sedikit membantu memenuhi kebutuhan para lansia sekaligus memberikan semangat dan kebahagiaan bagi mereka.

“Walaupun jumlahnya tidak seberapa, kami berharap para lansia tidak merasa terkucilkan. Dengan perhatian seperti ini semoga mereka merasa senang, dan dari rasa senang itu tumbuh kembali semangat,” tuturnya.

Syamsi juga memohon dukungan dan doa dari seluruh masyarakat agar WKSBM Wonolelo dapat terus menjalankan kegiatan sosial dan tetap berdiri kokoh dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Melalui kegiatan santunan ini, diharapkan semangat kepedulian dan gotong royong di tengah masyarakat dapat terus terjaga, sehingga para lansia tetap merasakan perhatian dan dukungan dari lingkungan sekitarnya. (Giek/ KIM Moyudan)




PPDI Condongcatur Bagikan Bingkisan Ramadhan untuk Penyandang Disabilitas

Sleman — Dalam semangat berbagi dan mempererat kepedulian di bulan suci Ramadan, Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Condongcatur menggelar kegiatan pemberian bingkisan kepada para penyandang disabilitas di wilayah Condongcatur, Kapanewon Depok.

Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (12/3/2026), sebagai bentuk kebersamaan sekaligus menyambut Hari Raya Idulfitri, di kediaman Ketua PPDI Condongcatur yang berada di Padukuhan Tiyasan, Kalurahan Condongcatur.

Pemberian bingkisan tersebut ditujukan kepada anggota penyandang disabilitas yang tergabung dalam PPDI Condongcatur. Selain diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan menjelang Idulfitri, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi antaranggota serta menumbuhkan semangat saling peduli di tengah masyarakat.

Ketua PPDI Condongcatur, Setyawati Marheni, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ini merupakan wujud kasih sayang dan perhatian organisasi kepada para anggotanya. Menurutnya, PPDI terus berupaya menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi para penyandang disabilitas.

“Pemberian bingkisan ini merupakan tanda tresna dan bentuk kepedulian kami kepada anggota. Semoga melalui kegiatan sederhana ini dapat menghadirkan kebahagiaan serta memperkuat rasa kebersamaan di antara anggota, khususnya di bulan Ramadan yang penuh berkah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa bulan Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menumbuhkan empati dan semangat berbagi, terutama kepada mereka yang membutuhkan perhatian lebih. Melalui kegiatan ini diharapkan para penyandang disabilitas tetap merasakan kebersamaan serta dukungan dari lingkungan sekitar.

Selain menerima bingkisan, momen tersebut juga dimanfaatkan sebagai ajang untuk saling menyapa serta mempererat hubungan antaranggota. Suasana hangat dan kekeluargaan pun terasa selama kegiatan berlangsung.

Melalui kegiatan berbagi ini, PPDI Condongcatur berharap semangat kebersamaan, kepedulian, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat dapat terus terjaga, sehingga para penyandang disabilitas tetap merasakan perhatian dan dukungan, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri yang identik dengan kebahagiaan dan kebersamaan. (Tri Suhartati KIM Depok)




Satlinmas Banyuraden Periode 2026–2031 Resmi Dibentuk Perkuat Kamtibmas

Sleman – Pemerintah Kalurahan Banyuraden membentuk kepengurusan baru Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) periode 2026–2031. Kegiatan tersebut berlangsung di ruang rapat Kalurahan Banyuraden pada Rabu (11/3/2026), sebagai langkah strategis dalam memperkuat sistem keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di tingkat kalurahan.

Kegiatan tersebut dihadiri Lurah Banyuraden, Sudarisman, didampingi Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama dan Sidig Wijanarko selaku Jagagaya, perwakilan lembaga kemasyarakatan, dan anggota Satlinmas Banyuraden.

Mereka bersama-sama mengikuti proses pembentukan kepengurusan baru yang dilakukan secara musyawarah guna menghasilkan struktur organisasi yang solid dan representatif.

“Pembentukan kepengurusan baru Satlinmas ini menjadi bagian penting dari upaya penataan organisasi sekaligus penyegaran struktur kepengurusan yang diharapkan mampu meningkatkan kinerja serta profesionalitas anggota Satlinmas dalam menjalankan tugasnya di tengah masyarakat,” tutur Sudarisman.

Ia pun menegaskan bahwa keberadaan Satlinmas memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan lingkungan, membantu penanganan bencana, serta mendukung penyelenggaraan ketertiban masyarakat di tingkat kalurahan.

“Pembentukan kepengurusan baru ini bukan sekadar formalitas, namun dalam upaya memperkuat struktur satlinmas agarlebih siap dan tanggap terutama dalam menghadapi isu-isu aktual, potensi bencana maupun kegiatan sosial masyarakat,” tandasnya.

Lebih lanjut, Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama mengatakan bahwa terbentuknya kepengurusan yang baru dapat memperkuat koordinasi dan meningkatkan kesiapsiagaan Satlinmas dalam menghadapi berbagai potensi gangguan keamanan maupun kondisi darurat yang mungkin terjadi di wilayah Banyuraden.

Selain itu, Satlinmas juga memiliki peran penting dalam mendukung berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari pengamanan acara sosial kemasyarakatan hingga keterlibatan dalam upaya mitigasi bencana dan penanggulangan keadaan darurat di lingkungan kalurahan.

Melalui kepengurusan yang baru terpilih, Narvi Sariyanto (Ketua), Susanto (Sekretaris), dan Nuryanto (Bendahara), Satlinmas Banyuraden diharapkan dapat semakin meningkatkan kapasitas dan perannya sebagai mitra strategis pemerintah kalurahan dalam menjaga stabilitas keamanan, ketertiban, serta ketahanan sosial masyarakat.

“Kami berharap pengurus Satlinmas periode 2026–2031 mampu membangun sinergi yang lebih kuat dengan berbagai unsur di masyarakat, termasuk aparat keamanan, lembaga kemasyarakatan, serta relawan kebencanaan,” ucap Hendy.

Sementara itu, Jagabaya Banyuraden, Sidig Wijanarko menekankan kepengurusan yang baru agar dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, serta mampu menggerakkan seluruh anggota Satlinmas agar semakin aktif, tanggap, dan profesional dalam menjalankan tugasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Pemkab Sleman Perkuat Gerakan Keluarga Sehat Bebas Asap Rokok dan Kawasan Tanpa Rokok

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menyelenggarakan kegiatan sosialisasi (Gerakan Keluarga Sehat Bebas Asap Rokok) dan penguatan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kamis (12/3/2026).

Kegiatan yang dihadiri perwakilan pemerintah kalurahan termasuk beberapa lurah dan agent of change GASBRO di Kabupaten Sleman tersebut berlangsung di Aula Dekranasda Kabupaten Sleman.

Pemerintah Kabupaten Sleman terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan yang sehat melalui sosialisasi GASBRO dan KTR. Upaya ini diambil sebagai respons atas masih tingginya perilaku konsumsi rokok.

Dalam pernyataannya, Ketua Tim Kerja Promkes dan Tata Kelola Kesehatan Masyarakat, Cahya Prihantama menjelaskan bahwa strategi utama yang diusung adalah kolaborasi seluruh tingkatan melalui dukungan regulasi di tingkat kalurahan

“Langkah penting untuk dilakukan dengan melindungi kelompok rentan, terutama ibu hamil dan anak-anak agar tidak merokok di dalam rumah, serta meniadakan merokok dalam ruangan,” ungkapnya.

Selain upaya preventif, ia juga mengajak masyarakat yang ingin berhenti merokok untuk memanfaatkan layanan konseling Upaya Berhenti Merokok (UBM) yang telah tersedia di Puskesmas terdekat

Hal senada disampaikan salah satu Dokter Spesialis Paru RSUD Sleman, Bheti Yuliana Fitrianingsih, yang menegaskan bahwa Indonesia saat ini tengah berada dalam kondisi darurat perokok.

Menurutnya, seluruh produk tembakau baik rokok konvensional maupun rokok elektronik mengandung zat toksik seperti nikotin, tar, dan logam berat. Zat tersebut tidak hanya merusak perokok aktif, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat luas melalui paparan asap rokok tangan kedua (second-hand smoke) dan residu yang menempel pada lingkungan (third-hand smoke).

“Penyakit kronis seperti kanker Paru dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) kini menjadi ancaman nyata yang memberikan beban kesehatan besar. Dimana PPOK sendiri telah menjadi penyebab kematian nomor tiga di dunia,” jelasnya.

Bheti mengimbau masyarakat untuk segera melakukan skrining perilaku merokok dan pemeriksaan fungsi paru secara rutin guna mendeteksi gejala sejak dini. Langkah preventif ini penting dibarengi dengan penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) untuk menciptakan lingkungan sehat dan mendukung upaya pencegahan penyakit. (Wasana / KIM Depok)