Lindungi Generasi Muda dari Dampak Negatif Medsos, Kominfo DIY Dorong KIM Jadi Pelopor Literasi Digital

Sleman — Menghadapi derasnya arus informasi digital yang kian tak terbendung, Pemerintah Provinsi DIY mengambil langkah tegas untuk melindungi kelompok rentan, khususnya anak-anak. Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) DIY, pemerintah resmi menyosialisasikan aturan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun kepada perwakilan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) se-DIY di Aula Kresna, Senin (30/3/2026).

Langkah strategis ini merujuk pada pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau yang dikenal sebagai PP TUNAS. Regulasi ini mewajibkan seluruh penyedia platform digital untuk memperketat verifikasi usia pengguna serta memperkuat sistem pelindungan data pribadi anak guna meminimalisir paparan konten negatif seperti kekerasan dan misinformasi.

Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo DIY, Riris Puspita Wijaya Kridaningrat, menegaskan bahwa kehadiran regulasi ini adalah bentuk nyata kepedulian negara terhadap masa depan generasi muda. Namun, ia menyadari bahwa aturan hukum saja tidak cukup tanpa adanya pendampingan dan edukasi yang masif di tingkat akar rumput. Di sinilah peran KIM menjadi krusial sebagai jembatan informasi yang bersentuhan langsung dengan aktivitas warga sehari-hari.

“Kami sangat berharap rekan-rekan penggiat KIM bisa menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi literasi digital di tengah masyarakat. Dengan adanya kebijakan pembatasan ini, orang tua diharapkan menjadi lebih bijak dalam memantau konsumsi konten digital anak-anak mereka. Tantangannya adalah bagaimana pesan regulasi ini sampai ke ruang keluarga dengan bahasa yang sederhana namun menggugah,” ujar Riris Puspita Wijaya Kridaningrat di hadapan perwakilan KIM dari lima kabupaten/kota.

Lebih lanjut, Riris menjelaskan bahwa pembatasan akses ini bukan bertujuan untuk mengekang kreativitas, melainkan untuk mengarahkan anak-anak agar tumbuh di lingkungan digital yang sehat. Sosialisasi yang dikemas dalam kegiatan peningkatan kompetensi penulisan feature ini sengaja dilakukan agar para anggota KIM mampu mengemas pesan-pesan literasi digital menjadi narasi yang menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Melalui pendekatan yang lebih humanis, anggota KIM diharapkan mampu mengubah pola pikir orang tua agar lebih sadar, cerdas, dan bertanggung jawab dalam mengawasi aktivitas digital buah hati mereka. Upaya kolaboratif antara pemerintah dan komunitas informasi ini menjadi harapan besar bagi terciptanya ekosistem ruang digital yang aman bagi anak-anak di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Pada akhirnya, sinergi antara regulasi pemerintah dan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan perlindungan anak di era internet. Harapannya, masyarakat tidak hanya melihat pembatasan ini sebagai kendala teknis, tetapi sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga mentalitas dan karakter generasi penerus bangsa dari pengaruh buruk dunia maya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Syukuran Panen Melimpah, Warga Padukuhan Yapah Sleman Gelar Tradisi Wiwitan dan Kirab Bergodo

Sleman — Ratusan warga Padukuhan Yapah, Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, menggelar upacara adat Wiwitan sebagai wujud syukur atas hasil panen padi yang melimpah, Minggu (29/3/2026). Tradisi turun-temurun ini berlangsung khidmat dengan iringan Kirab Bergodo Singonolo yang membawa nuansa budaya agraris yang kental di tengah hamparan sawah hijau.

Wiwitan merupakan ritual adat masyarakat Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri atau Dewi Padi sebelum prosesi pemanenan dimulai. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Panewu Ngaglik, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Sukoharjo, serta jajaran Pemerintah Kalurahan Sukoharjo. Acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat, Purwanto, yang kemudian dilanjutkan dengan pemotongan padi secara simbolis.

Kepala Dukuh Yapah, Joni Pranata, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kekompakan seluruh warga, khususnya Kelompok Tani Sedio Utomo dan Pasukan Bergodo Singonolo, yang telah berkolaborasi menghidupkan kembali tradisi ini. Menurutnya, sinergi antara petani dan pelestari budaya menjadi kunci keberhasilan acara yang juga didukung penuh oleh pemerintah daerah.

“Kami sangat bersyukur atas hasil bumi yang kami terima tahun ini. Upacara Wiwitan ini bukan sekadar ritual, tetapi cara kami menjaga kerukunan antarwarga dan memastikan kearifan lokal tetap hidup di tengah modernisasi. Dukungan dari berbagai pihak sangat memotivasi kami untuk terus menjaga tradisi ini setiap musim panen tiba,” ujar Joni Pranata di sela-sela acara.

Sebagai bagian dari tradisi, warga menyajikan hidangan khas sego wiwit yang terdiri dari nasi gurih, ayam ingkung, sayur menggono, telur rebus, sambal gepeng, dan gereh pethek. Sajian ini kemudian dinikmati bersama-sama oleh para pejabat dan warga di pinggir sawah, melambangkan kebersamaan dan rasa syukur yang mendalam atas berkah alam yang diberikan.

Perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Dekhi Nugroho, memberikan apresiasi tinggi terhadap antusiasme warga dalam melestarikan budaya agraris. Ia menekankan bahwa kebudayaan tidak hanya sebatas seni tari, tetapi juga mencakup tradisi pertanian seperti Wiwitan yang memiliki nilai filosofis tentang hubungan harmonis antara manusia dengan alam.

“Kebudayaan itu luas, dan Wiwitan adalah bagian penting dari identitas kita yang harus terus dilestarikan. Semoga dengan hasil panen yang melimpah di Padukuhan Yapah ini, budaya kita semakin lestari dan kesejahteraan petani semakin meningkat,” ungkap Dekhi Nugroho.

Senada dengan hal tersebut, Panewu Ngaglik, Wawan Widiyantoro, memuji ketekunan Kelompok Tani Sedio Utomo yang tetap tangguh meski tantangan di sektor pertanian semakin berat. Ia menilai bahwa kelestarian budaya agraris di tingkat desa akan berdampak langsung pada ketahanan pangan di wilayah Ngaglik.

“Saya sangat mengapresiasi kerja keras para petani sehingga berhasil melaksanakan panen raya. Meskipun tantangan pertanian saat ini tidak mudah, namun selama budaya agraris masih melekat kuat di masyarakat, ketahanan pangan kita akan tetap terjaga dengan baik. Semangat gotong royong inilah yang harus kita pertahankan bersama,” tutur Wawan Widiyantoro. (HY/KIM Sukoharjo, Ngaglik)




Asah Kreativitas Jurnalistik, Ketua PWI DIY Ajak Penggiat Informasi Sleman Kuasai Teknik Storytelling

Sleman — Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Sembada Kabupaten Sleman mendapatkan pembekalan eksklusif mengenai teknik penulisan jurnalistik mendalam dari tokoh pers regional. Bertempat di Aula Kresna, Dinas Komunikasi dan Informatika DIY menggelar peningkatan kompetensi penulisan feature dengan menghadirkan narasumber utama Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY, Hudono, Senin (30/3/2026).

Dalam pemaparannya, Hudono menegaskan bahwa feature merupakan mahakarya jurnalistik yang berpijak pada fakta namun disajikan dengan sentuhan narasi yang kuat. Berbeda dengan berita lempeng (hard news), feature menonjolkan kedalaman informasi serta nilai kemanusiaan (human interest) untuk menyentuh sisi emosional pembaca. Pendekatan ini dinilai sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan agar lebih komunikatif dan menggugah kesadaran publik.

Hudono menjelaskan bahwa dalam menulis feature, seorang penulis tidak perlu terpaku kaku pada pola piramida terbalik atau urutan 5W+1H yang konvensional. Penulis justru didorong untuk menggali aspek “mengapa” dan “bagaimana” secara lebih berani agar tulisan yang dihasilkan menjadi lebih reflektif, kontekstual, dan tetap relevan bagi pembaca dalam jangka waktu yang lama.

“Penulisan dengan gaya narasi ini akan membawa pembaca seolah-olah ikut masuk ke dalam tulisan kita karena sangat menyentuh perasaan. Kita harus mampu menghadirkan detail yang kuat dan data yang akurat agar kredibilitas tulisan tetap terjaga meskipun dikemas dengan bahasa yang luwes,” ujar Hudono di hadapan para penggiat informasi Sleman.

Lebih lanjut, Hudono membedah struktur penulisan feature secara sistematis, mulai dari pembuatan teras berita (lead) yang memikat, pengembangan alur yang runtut, hingga penutup yang memberikan kesan mendalam (punchline). Ia menyarankan para penulis untuk rajin membaca media arus utama sebagai referensi dalam mencari sudut pandang (angle) yang unik dan spesifik.

“Lead harus mampu menarik minat pembaca sejak kalimat pertama. Cobalah sering membaca media nasional untuk memperkaya perbendaharaan kata dan teknik bercerita. Gunakan teknik storytelling agar informasi yang berat sekalipun menjadi ringan dan enak dibaca,” tambahnya menekankan pentingnya riset dan kutipan narasumber yang kuat.

Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh jajaran KIM Sembada Kabupaten Sleman, di antaranya Suharno dari KIM Kertomandiri Turi, Adnan Iman Nurtjahjo Amir dan Suranto dari KIM Pararta Guna Gamping, Sugiyanto dari KIM Sumber Biwara Moyudan, Athiful Khoiri dari KIM Depok Raya, serta Sutarto Agus Raharjo dari KIM Margo Raras Seyegan. Keikutsertaan mereka diharapkan mampu mempertajam diseminasi informasi di tingkat daerah agar lebih berkualitas dan berdaya guna bagi masyarakat luas. (Athiful/KIM Depok)




Perkuat Diseminasi Informasi Lokal, KIM Sembada Sleman Asah Kemampuan Penulisan Feature

Sleman — Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Sembada Kabupaten Sleman terus berupaya meningkatkan kualitas produksi konten informasi publik melalui penguasaan teknik jurnalistik yang lebih mendalam. Langkah ini diwujudkan dengan partisipasi aktif dalam kegiatan peningkatan kompetensi penulisan feature yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY di Aula Kresna, Senin (30/3/2026).

Pelatihan ini dirancang sebagai upaya penguatan kapasitas bagi para penggiat informasi di tingkat akar rumput agar mampu mengemas berita dengan gaya tutur yang lebih menarik, humanis, dan informatif. Melalui penulisan feature, KIM diharapkan tidak hanya menyampaikan data mentah, tetapi juga mampu menyajikan cerita yang memiliki dampak emosional sehingga lebih mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat luas.

Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo DIY, Riris Puspita Wijaya Kridaningrat, menegaskan bahwa peningkatan kualitas tulisan merupakan momentum penting bagi eksistensi KIM. Menurutnya, kemampuan menulis yang baik akan berbanding lurus dengan efektivitas penyebaran pesan-pesan edukatif yang bermanfaat bagi warga.

“Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi anggota KIM DIY dalam mendiseminasikan konten yang edukatif dan berdampak bagi masyarakat. Kami ingin informasi yang disampaikan tidak hanya sampai, tetapi juga mampu menginspirasi pembacanya,” ujar Riris Puspita Wijaya Kridaningrat di sela-sela pembukaan acara.

Selain aspek teknis penulisan, Riris juga mengingatkan peran strategis KIM dalam mendukung program pemerintah pusat. Kementerian Komunikasi dan Digital RI saat ini mendorong KIM untuk turut aktif menyosialisasikan Peraturan Pemerintah Tunas Nomor 9 Tahun 2026. Sinergi ini diharapkan semakin kuat melalui audiensi rutin antara pengurus KIM dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk memperkokoh kelembagaan.

Ketua KIM DIY, Sapsuwitana, menyambut baik arahan tersebut dan menyatakan bahwa forum tingkat provinsi akan segera melakukan koordinasi intensif dengan Diskominfo DIY. Ia menekankan bahwa integritas dan etika merupakan pondasi utama yang harus dijaga oleh setiap anggota dalam menyampaikan informasi kepada publik.

“Kami berharap melalui kegiatan ini, seluruh anggota KIM mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terkait penulisan feature serta mampu menjaga integritas dan etika dalam menyampaikan informasi. Penting bagi kita untuk tetap fokus pada isu-isu yang konstruktif dan segera merealisasikan program kerja di masing-masing wilayah agar manfaatnya terasa nyata,” ungkap Sapsuwitana.

Melalui pelatihan ini, KIM Sembada Kabupaten Sleman diharapkan mampu menjadi mitra strategis pemerintah yang adaptif dalam menghadapi perkembangan media digital. Keterampilan yang didapat dari tingkat provinsi ini nantinya akan ditularkan kembali kepada anggota KIM di tingkat kapanewon dan kalurahan se-Kabupaten Sleman guna menciptakan ekosistem informasi daerah yang berkualitas dan tepercaya. (Athiful/KIM Depok)




Wujudkan Kepedulian Sosial, Komunitas Jum’at Berkah Jogja Salurkan 6 Ton Beras ke 25 Panti Asuhan

Sleman — Komunitas Jum’at Berkah (KJB) Jogja kembali menunjukkan komitmen nyatanya dalam menjembatani kebaikan umat melalui aksi sosial berskala besar. Bertempat di kediaman Taugah Budiyono di Sanggrahan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, komunitas ini menyelenggarakan kegiatan pentasyarufan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang menyasar puluhan lembaga sosial, Minggu (29/3/2026).

Aksi kemanusiaan ini menjangkau perwakilan dari 25 panti asuhan dan pondok pesantren yang tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta hingga Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Fokus utama penyaluran kali ini adalah pemenuhan kebutuhan pangan pokok dan pendukung operasional lembaga guna meningkatkan kesejahteraan para santri, anak asuh, serta kaum dhuafa di masing-masing wilayah.

Ketua KJB, Taugah Budiyono, menegaskan bahwa bantuan yang terkumpul pada periode ini mencapai jumlah yang sangat signifikan, yakni kurang lebih 6 ton beras. Seluruh bantuan tersebut merupakan akumulasi dari berbagai sumber dana umat, mulai dari zakat fitrah, zakat mal, infak, sedekah, hingga fidyah yang dipercayakan oleh para donatur kepada KJB.

“Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk nyata kepedulian sosial yang terus kami jaga keberlanjutannya. Kami mengundang perwakilan dari 25 panti asuhan dan pondok pesantren untuk menerima pentasyarufan ZIS yang terkumpul kali ini. Kami berharap bantuan pangan ini dapat meringankan beban operasional lembaga-lembaga tersebut,” ujar Taugah Budiyono saat memberikan sambutan.

Prinsip transparansi dan akuntabilitas menjadi ruh utama dalam pengelolaan dana di KJB. Perwakilan panitia, Kawit Wiyanto, menjelaskan bahwa setiap bantuan disalurkan secara tepat sasaran kepada lembaga yang telah terverifikasi. Selain konsumsi, KJB juga memberikan perhatian pada aspek pendukung pendidikan serta sarana prasarana bagi anak-anak asuh agar mereka mendapatkan fasilitas yang layak.

Daftar lembaga penerima manfaat mencakup cakupan wilayah yang luas, di antaranya Panti Asuhan Al Marina di Gunungkidul, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Buruj di Wonogiri, Panti Asuhan Baitul Qowwam di Sleman, hingga Panti Asuhan Muhammadiyah Ahmad Dahlan di Kokap, Kulon Progo. Pengasuh Panti Asuhan Rumah Yatim Kelor Gunungkidul, Arif Nurjayanto, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi KJB yang dinilai sangat membantu pemenuhan kebutuhan harian anak-anak yatim.

“Perhatian dari KJB Jogja sangat mendukung kami, khususnya dalam memastikan kebutuhan pokok dan pendidikan anak-anak tetap terjaga. Bantuan ini sangat berarti bagi kelancaran operasional panti asuhan kami,” ungkap Arif Nurjayanto.

Tak hanya menyasar lembaga besar, aksi sosial ini juga menyentuh warga sekitar lokasi kegiatan. Sebanyak 41 paket sembako disalurkan bagi warga dhuafa di wilayah Sanggrahan. Hal ini mendapat apresiasi dari perwakilan ketakmiran Masjid Hidayatul Fallah, Kholid, serta jajaran pengurus RT dan RW setempat yang turut membantu kelancaran acara.

Melalui semangat berbagi ini, KJB Jogja berupaya terus menjadi jembatan kebaikan yang berkelanjutan. Sinergi antara donatur, pengurus, dan pengelola panti diharapkan dapat memberikan dampak sosial yang lebih luas di masa mendatang, sekaligus mengajak lebih banyak pihak untuk terlibat dalam gerakan kemanusiaan yang terorganisir dengan amanah. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)