Moyudan Gelar Muskap Reorganisi Koordinator Olahraga

Sleman – Sebagai langkah awal pembenahan dan pembinaan olahraga, Kapanewon Moyudan gelar Musyawarah Kapanewon (Muskap), pada Selasa (10/3/2026), di ruang Abhinaya kapanewon setempat.

Muskap tersebut dihadiri oleh Panewu dan Panewu Anom Moyudan, serta lurah se-Kapanewon Moyudan. Selain itu juga dikuti oleh Kamitua se- Kapanewon Moyudan dan penggiat beberapa cabang olahraga.

Panewu Moyudan, Agung Dwi Maryoto dalam arahannya menyampaikan bahwa olaraga merupakan kegiatan yang mengakar rumput dalam masyarakat. Sebagai langkah pembinaan, diperlukan regenerasi pengurus koordinator olahraga tingkat kapanewon.

“Bukan berarti meninggalkan pengurus lama, tetapi sebuah organisasi diperlukan penyegaran, agar ada semangat baru,” tuturnya.

Ia juga berharap agar pengurus baru bisa secara konsisten meningkatkan prestasi olahraga di Kapanewon Moyudan.

Panewu Anom Moyudan, Mahmudah Arfiyati menambahkan bahwa dengan Muskap ini berharap kegiatan olahraga dari seluruh cabang bisa tersetruktur dengan baik. Selain itu kita bisa bersinergi dengan Koni Kabupaten Sleman dalam melakukan pembinaan.

“Semoga setelah reorganisasi pengurus, semua cabang olahraga di Kapanewon Moyudan lebih terkoordinasi dengan baik,” ujarnya.

Ia pun berharap agar pengurus nantinya juga bisa mengembangkan olahraga tradisional dan petmainan rakyat.

“Olahraga tradisional dan permainan rakyat merupakan warisan budaya yang harus kita lestarikan,” pungkas Mahmudah.

Muskap berjalan penuh kebersamaan yang mengutamakan rasa gotong royong secara mufakat memutuskan Sukadi Lurah Sumbersari sebagai koordinator olahraga Kspanewon Moyudan. Krpengurusan juga dilengkapi dengan sekretaris, bendahara, dan koordinator masing-masing cabang olahraga.   

(Giek / KIM Moyudan)




Jelang Lebaran Idulfitri 1447 H, Puskesmas Seyegan Gelar Operasi Pasar di Pasar dan Toko Swalayan

Sleman – Menjelang Hari Raya Idulfitri, kegiatan operasi pasar kembali digelar di wilayah Kapanewon Seyegan, Sleman, Selasa (10/3/2026). Kegiatan ini difasilitasi oleh Puskesmas Seyegan dengan melibatkan berbagai unsur, guna memastikan keamanan produk pangan yang beredar di masyarakat.

Operasi pasar tersebut melibatkan sekitar 40 personel yang disebar di lima wilayah kalurahan di Kapanewon Seyegan. Tim terdiri dari unsur Kapanewon Seyegan seperti Satuan Polisi Pamong Praja dan Kawat Kemakmuran, Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), pemerintah kalurahan melalui Ulu-ulu, Babinsa/Bhabinkamtibmas, serta petugas dari Puskesmas Seyegan.

Adapun sasaran kegiatan meliputi toko, swalayan, pasar tradisional hingga distributor parcel lebaran yang berada di wilayah Seyegan. Pengawasan dilakukan melalui inspeksi dan sidak guna memastikan produk yang dijual aman dan layak dikonsumsi masyarakat.

Panewu Seyegan, Agung Endarta menyampaikan bahwa tujuan utama operasi pasar ini adalah melindungi konsumen dari risiko kesehatan akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang tidak layak, rusak, maupun telah melewati masa berlaku.

Menurutnya, meningkatnya permintaan kebutuhan pangan menjelang lebaran kerap dimanfaatkan oleh oknum pedagang untuk menjual produk yang sudah mendekati atau bahkan melewati masa kedaluwarsa.

“Operasi pasar ini bertujuan memberikan edukasi kepada pedagang. Sifatnya pembinaan, bukan penindakan,” ujar Agung.

Sementara itu, Penanggung Jawab Kesehatan Lingkungan Puskesmas Seyegan, Amalia Susanti, menjelaskan gambaran teknis pelaksanaan operasi pasar, termasuk penggunaan formulir monitoring yang akan diisi oleh tim selama kegiatan berlangsung.

Menurut Amalia, fokus pengawasan kali ini diarahkan pada produk yang banyak beredar menjelang lebaran, khususnya parcel lebaran yang kerap berisi produk dengan masa kedaluwarsa yang sudah dekat atau kemasan yang hampir rusak.

“Fokus sasaran operasi adalah parcel lebaran yang sering kali berisi produk dengan masa kedaluwarsa dekat atau kemasan yang hampir rusak,” jelasnya.

Selain parcel, tim juga memeriksa berbagai produk pangan olahan seperti makanan kaleng, kue kering, bahan makanan, dan minuman kemasan yang dijual di supermarket maupun minimarket.

Di pasar tradisional, pengawasan difokuskan pada bahan pangan segar seperti daging, ikan, dan sayuran. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kesegaran produk serta memastikan tidak adanya bahan berbahaya seperti formalin atau boraks.

Amalia menambahkan, beberapa aspek yang menjadi perhatian dalam pemeriksaan produk meliputi tanggal kedaluwarsa, izin edar seperti PIRT atau BPOM, kondisi kemasan, serta kelengkapan label produk yang memuat informasi nutrisi, komposisi, dan keterangan halal.

Apabila ditemukan pelanggaran, tim operasi pasar akan mengumpulkan produk tersebut dan meminta pemilik toko untuk menghubungi pemasok atau distributor guna dilakukan pemusnahan.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk edukasi kepada pemilik usaha agar tidak melakukan praktik “cuci gudang” dengan menjual barang rusak atau kedaluwarsa menjelang Lebaran.

“Diharapkan dengan operasi pasar ini keamanan konsumen lebih terjamin ketika membeli produk yang aman dan layak konsumsi,” tandas Amalia.

Dari hasil pemeriksaan di beberapa titik pasar tradisional dan toko swalayan, tim masih menemukan sejumlah produk yang telah kedaluwarsa, kemasan rusak dan kotor, robek akibat gigitan tikus, hingga produk yang telah berjamur.

Melalui kegiatan ini diharapkan kesadaran pedagang semakin meningkat sekaligus memberikan perlindungan bagi masyarakat dalam memperoleh pangan yang aman, sehat, dan layak konsumsi menjelang Idulfitri. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Perkuat Ekonomi Kerakyatan, Kapanewon Gamping Resmikan Gerai GEMPITA

Sleman – Bazar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sekaligus peresmian Gerai UMKM Gamping untuk Kita (GEMPITA) digelar di area pelayanan Kantor Pemerintah Kapanewon Gamping, Sleman, Selasa (10/3/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan, mempromosikan, sekaligus memperluas pemasaran produk UMKM lokal kepada masyarakat.

Peresmian gerai dilakukan oleh Panewu Gamping, Suyanto dan dihadiri perwakilan Kepolisian Sektor Gamping, Komando Rayon Militer 17/Gamping, pengurus Forum UMKM Kalurahan, para pelaku usaha, tokoh masyarakat, serta warga sekitar.

Kehadiran Gerai GEMPITA di lingkungan kantor pelayanan publik diharapkan menjadi etalase produk unggulan UMKM Gamping yang mudah diakses masyarakat yang datang untuk mengurus berbagai keperluan administrasi.

Panewu Gamping, Suyanto menegaskan bahwa keberadaan Gerai GEMPITA merupakan bentuk dukungan nyata pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Menurutnya, UMKM memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

“Penempatan gerai di area pelayanan kantor kapanewon bukan tanpa alasan. Lokasi tersebut setiap hari dikunjungi masyarakat sehingga memiliki potensi besar untuk memperkenalkan berbagai produk UMKM lokal, mulai dari kuliner, kerajinan, busana, hingga produk kreatif lainnya,” jelas Suyanto.

Sementara itu, Panewu Anom Gamping, Kurnia Astuti menambahkan bahwa selain menjadi sarana promosi, bazar UMKM yang digelar bersamaan dengan peresmian gerai juga memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk berinteraksi langsung dengan konsumen.

“Melalui bazar ini, masyarakat dapat melihat kualitas produk lokal sekaligus memberikan dukungan nyata dengan membeli produk UMKM,” ujarnya.

Kurnia Astuti menjelaskan bahwa di wilayah Gamping terdapat sekitar UMKM dengan berbagai jenis produk, beberapa di antaranya sudah menjadi produk unggulan. Saat ini, terdapat 35 pelaku usaha yang produknya telah dipajang di Gerai GEMPITA setelah melalui proses kurasi, sementara beberapa lainnya masih dalam tahap seleksi.

“Berkaitan dengan omzet penjualan, sejak soft launching GEMPITA pada 6 Februari 2026 hingga akhir Februari atau kurang lebih tiga minggu, omzet sudah mencapai , sehingga memiliki potensi untuk terus berkembang,” ungkapnya.

Para pelaku usaha yang tergabung dalam Forum UMKM Kalurahan menyambut baik hadirnya Gerai GEMPITA. Mereka menilai fasilitas tersebut dapat menjadi wadah bersama untuk mempromosikan produk unggulan daerah sekaligus meningkatkan daya saing usaha kecil di tengah persaingan pasar yang semakin luas.

Melalui Gerai GEMPITA, produk UMKM Gamping diharapkan tidak hanya dikenal oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh para tamu dan pengunjung dari berbagai daerah yang datang ke kantor kapanewon.

Dengan adanya bazar dan peresmian Gerai GEMPITA ini, Pemerintah Kapanewon Gamping berharap tercipta ekosistem ekonomi lokal yang semakin kuat. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan mampu mendorong UMKM Gamping berkembang lebih maju, mandiri, dan berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Gelar Sarasehan, MTTM Seyegan Tekankan Peran Aktif Generasi Muda Memakmurkan Masjid

Sleman – Majelis Taklim Takmir Masjid (MTTM) Kapanewon Seyegan menggelar sarasehan dan buka puasa bersama dengan tema “Pembinaan Remaja Masjid”, pada Senin (9/3/2026). Kegiatan yang berlangsung di Joglo Narto Atmojo ini diikuti oleh 30 peserta yang merupakan perwakilan takmir masjid se-Kapanewon Seyegan.

Selain sebagai ajang silaturahmi antar pengurus masjid, sarasehan ini juga menjadi forum pembinaan bagi takmir yang berencana mengajukan proposal bantuan kepada Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui program bantuan dari gubernur.

Salah satu pengurus MTTM yang mewakili anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DIY, Afifudin menyampaikan bahwa pada tahun 2026 terdapat lima masjid yang akan menerima bantuan dari Pemerintah DIY. Ia menekankan bahwa pengurus masjid perlu mempersiapkan proposal dengan baik karena persyaratan administrasi kini semakin ketat.

Dalam kesempatan itu, Afifudin juga menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan masjid. Menurutnya, meskipun telah tersedia waktu khusus untuk konsultasi dan pembinaan, kesempatan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengurus maupun jamaah.

“Masjid perlu menjadi wadah pembinaan yang terarah agar generasi muda merasa memiliki ruang untuk berkontribusi dan beraktivitas,” ujarnya.

Narasumber lain dalam kegiatan ini, Ferry Nugroho, menekankan pentingnya peran pemuda dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045. Ia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki bonus demografi yang besar, dengan sekitar 64 persen penduduk merupakan generasi muda.

Namun demikian, menurutnya generasi muda saat ini juga menghadapi berbagai tantangan sosial, seperti tawuran, klitih, pergaulan bebas, hingga penyimpangan perilaku.

“Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim dan sekitar 64 persen merupakan pemuda sebagai bonus demografi, kita justru dihadapkan pada berbagai persoalan seperti tawuran, klitih, pergaulan bebas, hingga penyimpangan perilaku. Ini menjadi tantangan bagi masjid untuk merangkul mereka kembali,” jelas Ferry.

Ia juga mengajak para pengurus masjid untuk memahami pola pikir generasi muda masa kini serta meninjau kembali komposisi usia jamaah di masjid masing-masing.

Melalui forum sarasehan ini, pengurus MTTM menyatakan siap memberikan pendampingan kepada takmir masjid dalam mengembangkan kegiatan remaja masjid. Salah satu strategi yang disarankan adalah menghadirkan figur pemuda setempat yang mampu menjadi teladan sekaligus penggerak aktivitas di lingkungan masjid.

Dengan demikian, diharapkan masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang yang ramah bagi generasi muda serta pusat pembinaan yang mampu melahirkan generasi muslim yang aktif, berakhlak, dan berkontribusi bagi masyarakat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Semarak Ramadan, SLB Autisme Dian Amanah Latih Siswa Azan

Sleman – Suasana hangat menyelimuti Sekolah Luar Biasa (SLB) Autisme Dian Amanah saat kegiatan Pesantren Ramadan, pada Selasa (10/3/2026). Keterbatasan fisik maupun mental tidak menjadi penghalang bagi para siswa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara pihak sekolah dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Ngaglik. Sinergi tersebut diwujudkan melalui kehadiran para penyuluh agama Islam yang memberikan bimbingan spiritual secara intensif kepada para siswa.

Tiga penyuluh agama, yakni Wahyu Nurul Ilmiyati, Muhammad Syaiful Ghozi, dan Tarwadi, mendampingi anak-anak selama kegiatan berlangsung. Mereka menghadirkan pelatihan azan dan iqamah sebagai materi utama bagi seluruh peserta didik.

Pelatihan ini bertujuan membekali anak berkebutuhan khusus dengan keterampilan dasar ibadah sebagai seorang muslim. Selain memperkuat pemahaman keagamaan, kegiatan ini juga dirancang untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam kehidupan sosial.

Pesantren Ramadan dilaksanakan pada jam sekolah dengan pendampingan langsung dari guru dan Kepala Sekolah SLB Dian Amanah, Ummu Afifah.

“Anak didik kami sebelumnya sudah pernah mengikuti lomba adzan, sehingga materi ini sangat bermanfaat untuk memperbaiki lafaz mereka,” ujar Ummu Afifah.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para penyuluh agama dari KUA Ngaglik yang telah memberikan pendampingan dengan penuh kesabaran kepada para siswa.

“Kami sangat berterima kasih atas pendampingan para penyuluh KUA yang telah sabar memberikan bimbingan kepada seluruh siswa kami,” tambahnya.

Sementara itu, perwakilan KUA Ngaglik, Handoyo menyambut baik kegiatan tersebut karena semakin mempererat kerja sama yang telah terjalin antara KUA dan sekolah.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena semakin mempererat kerja sama yang telah terjalin lama antara pihak KUA dan sekolah. Program ini juga sangat mendukung visi Kementerian Agama dalam mewujudkan layanan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” kata Handoyo.

Pelatihan azan dan iqamah dipilih agar para siswa memahami tata cara ibadah secara benar sesuai syariat Islam. Para penyuluh menyampaikan materi dengan pendekatan yang sabar dan komunikatif agar pesan keagamaan dapat diterima dengan baik oleh anak-anak autisme.

Pihak sekolah berharap kemampuan adab serta pelafalan azan para siswa dapat meningkat setelah mengikuti pelatihan ini. Motivasi yang diberikan para instruktur diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan terhadap ibadah sejak dini.

Keceriaan tampak dari wajah para siswa saat mencoba melantunkan panggilan salat meski dengan berbagai tantangan yang mereka hadapi. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mempelajari ajaran agama dengan cara yang tepat.

Melalui kegiatan ini, sinergi antara SLB Dian Amanah dan KUA Ngaglik diharapkan terus berlanjut guna mendukung pembinaan generasi istimewa yang tetap religius. Penutupan kegiatan hari pertama pun meninggalkan kesan mendalam bagi para orang tua yang turut menyaksikan perkembangan spiritual putra-putri mereka. (Ajeng KIM DSN Ngaglik)