BUMKal BOS Sardonoharjo Perkuat Ketahanan Pangan, Jadi Rujukan Studi Tiru Nasional

Sleman — Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Oerip Soemohardjo (BOS) Sardonoharjo kembali membuktikan tajinya sebagai salah satu penggerak ekonomi desa paling progresif di Kabupaten Sleman. Melalui Musyawarah Kalurahan (Muskal) Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tahun Buku 2025 yang digelar di Aula Kalurahan Sardonoharjo, Selasa (10/3/2026), BUMKal BOS memaparkan capaian strategisnya, terutama dalam penguatan ketahanan pangan berbasis masyarakat yang kini menjadi sorotan luas.
Keberhasilan BUMKal BOS dalam mengelola berbagai unit usaha tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh warga lokal, tetapi juga telah menarik perhatian nasional. Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho, menyatakan kebanggaannya atas konsistensi jajaran pengurus dalam menjaga eksistensi lembaga di tengah dinamika ekonomi yang menantang. Ia menyebut bahwa tata kelola yang profesional telah menempatkan Sardonoharjo sebagai destinasi studi tiru bagi banyak daerah di Indonesia.
“BUMKal BOS dalam kondisi seperti saat ini masih bisa eksis, bahkan menjadi rujukan bagi banyak daerah di luar Sleman untuk belajar. Ini menunjukkan pengelolaannya berjalan sangat baik. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung program Halo Bumdes Niaga, Home Care, hingga Farm agar perekonomian kalurahan kita semakin kokoh,” ujar Harjuno Wiwoho saat memberikan sambutan di hadapan unsur Muspika dan pendamping desa.
Apresiasi senada datang dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman. Perwakilan Dinas PMK Sleman, Ekowati, mengungkapkan bahwa berdasarkan pemeringkatan resmi, BUMKal BOS telah menyandang kategori “Maju”. Status ini menandakan kelembagaan BOS berada di level unggul dibandingkan sebagian besar BUMKal lain di wilayah Sleman karena dinilai mampu menerapkan prinsip akuntabilitas dan partisipasi publik secara nyata.
Direktur BUMKal BOS, Cahyo Binarto, dalam paparannya menjelaskan bahwa fokus utama tahun ini adalah hilirisasi produk ketahanan pangan. Program tersebut mencakup usaha tematik ayam kampung, ayam petelur yang dikelola Kelompok Wanita Tani (KWT), hingga budidaya ikan dan dukungan permodalan bagi petani. Pihaknya melakukan intervensi mulai dari hulu hingga hilir, termasuk memproduksi bibit ayam (DOC), pakan, hingga suplemen ternak secara mandiri.
“Kami membangun rantai produksi yang terintegrasi, mulai dari persiapan infrastruktur hingga penguatan pemasaran produk telur dan daging. Fokus kami bukan hanya pada profit lembaga, tetapi bagaimana kolaborasi dengan kelompok tani dan komunitas lokal ini benar-benar memberikan nilai tambah ekonomi bagi para peternak dan petani di Sardonoharjo,” terang Cahyo Binarto.
Kini, Sardonoharjo tidak hanya dikenal sebagai lumbung pangan desa, tetapi juga berkembang menjadi pusat wisata edukasi. Berbagai pelatihan mulai dari ternak kambing, unggas, hingga budidaya melon hidroponik rutin digelar untuk melayani kunjungan belajar dari berbagai pemerintah desa dan lembaga dari dalam maupun luar Pulau Jawa. Muskal tersebut diakhiri dengan penandatanganan berita acara kesepakatan, menandai diterimanya laporan pertanggungjawaban pengurus secara bulat oleh forum. (Andy Ahmad/KIM DSN NGAGLIK)



