Wujudkan Kepedulian Jelang Lebaran, WKSBM Ngupoyo Mukti Salurkan Santunan dan Paket Sembako di Ngemplak

Sleman — Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) Ngupoyo Mukti Balong, Bimomartani, menggelar aksi bakti sosial sebagai langkah nyata membantu warga prasejahtera menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Kegiatan yang berlangsung di Kompleks Tombo Ati, Ngemplak, Sleman, pada Minggu (8/3/2026) ini dihadiri oleh jajaran pemerintah kapanewon serta tokoh masyarakat setempat untuk memberikan dukungan langsung kepada keluarga penerima manfaat.

Dalam aksi kemanusiaan tersebut, pengurus WKSBM Ngupoyo Mukti menyalurkan santunan tunai kepada delapan anak yatim, piatu, dan yatim piatu dengan nominal masing-masing sebesar Rp150 ribu. Selain bantuan uang tunai, panitia juga membagikan 30 paket lebaran yang berisi bahan pokok untuk membantu meringankan beban ekonomi para kaum dhuafa di wilayah Balong dalam menyongsong hari kemenangan.

Panewu Ngemplak, Tri Akhmeriyadi, memberikan apresiasi mendalam atas inisiatif mandiri yang dilakukan oleh lembaga sosial tersebut. Menurutnya, Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) merupakan kelompok yang sering kali mengalami hambatan fungsi sosial sehingga sangat membutuhkan uluran tangan kolektif dari lingkungan terdekatnya. Ia menilai keberadaan WKSBM sangat strategis karena lahir dan tumbuh dari inisiatif warga sendiri.

“Alhamdulillah, WKSBM yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat Balong ini telah memberikan perhatian dengan sangat baik kepada warga yang membutuhkan. Karena lembaga ini tumbuh dari masyarakat, tentunya semua warga merasa memiliki atau handarbeni. Selain itu, pengurusnya jauh lebih dekat dan memahami secara detail siapa saja warga setempat yang memang memiliki permasalahan sosial mendesak untuk dibantu,” ujar Tri Akhmeriyadi saat memberikan sambutan.

Lebih lanjut, Tri Akhmeriyadi berpesan agar WKSBM Ngupoyo Mukti terus konsisten berkiprah meski tantangan dan hambatan dalam mengelola lembaga sosial tidaklah sedikit. Ia berharap kapasitas lembaga ini terus ditingkatkan agar daya jangkaunya semakin luas. Kepada para penerima manfaat, ia juga memberikan suntikan semangat agar bantuan yang diterima dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk keperluan lebaran yang bermanfaat.

“Semoga WKSBM tetap berdaya guna dan terus meningkatkan kapasitasnya sebagai lembaga sosial. Kami juga berpesan kepada para penerima bantuan untuk tidak berkecil hati menghadapi situasi ekonomi saat ini. Manfaatkan bantuan ini dengan bijak agar dapat membantu kecukupan kebutuhan keluarga selama masa lebaran nanti,” pungkas Tri Akhmeriyadi mengakhiri arahannya. (Giek/KIM Moyudan)




Tekan Angka Gizi Kurang, Puskesmas Depok II Gelar FGD Kajian Underweight Libatkan Akademisi dan Kader

Sleman — Puskesmas Depok II bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menggelar diskusi kelompok terfokus atau Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Kajian Underweight di Aula Puskesmas Depok II, Condongcatur, Senin pagi (9/3/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk memetakan akar permasalahan serta merumuskan solusi konkret dalam menangani kasus berat badan kurang pada anak bawah dua tahun (baduta) di wilayah tersebut.

Pertemuan strategis ini menghadirkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan akademisi dari STIKES Panti Rapih, pakar dari Lembaga Obrein, kader Posyandu, hingga para ibu yang memiliki baduta. Dalam diskusi tersebut, para peserta menggali berbagai faktor determinan yang menyebabkan anak mengalami gizi kurang, mulai dari aspek medis hingga kondisi sosial ekonomi di lingkungan keluarga.

Perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Prajna Adhityarani, menegaskan bahwa fenomena underweight tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi medis di puskesmas, melainkan butuh pendekatan langsung ke akar rumput. Melalui diskusi ini, pemerintah ingin mendengar langsung kendala yang dihadapi para ibu dan kader di lapangan agar kebijakan yang diambil tepat sasaran.

“Kegiatan FGD ini diharapkan mampu menggali berbagai permasalahan terkait kasus underweight di masyarakat sehingga dapat dicari langkah-langkah pemecahannya secara bersama. Kami ingin memastikan setiap anak di Sleman memiliki pertumbuhan yang optimal melalui intervensi yang berbasis pada data lapangan yang akurat,” ujar Prajna Adhityarani saat memberikan arahan dalam pembukaan diskusi.

Hasil diskusi aktif antara narasumber seperti Sri Supadmi dari Lembaga Obrein, Dian Setyadi dari STIKES Panti Rapih, dan Yusuf Rendi dari Dinas Kesehatan mengungkap tiga faktor utama penyebab gizi kurang di wilayah Depok. Ketiga faktor tersebut meliputi pola asuh anak yang belum tepat, komposisi menu makan yang belum seimbang secara nutrisi, serta penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang masih perlu dioptimalkan oleh pihak keluarga.

Sebagai langkah antisipasi, forum juga mengevaluasi efektivitas berbagai program yang sudah berjalan, seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) siap saji dari Dinas Kesehatan dan program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) yang dikelola Pemerintah Kalurahan Condongcatur. Selain itu, inovasi swadaya masyarakat seperti program Garpu Ceting juga menjadi sorotan sebagai model partisipasi aktif warga dalam menjaga kecukupan gizi di lingkungan terkecil.

Salah satu kader Posyandu, Sri Maryaningsih, menyuarakan pentingnya perluasan dukungan dari sektor swasta untuk mengakselerasi penanganan gizi anak. Ia berharap dunia usaha dapat ikut berkontribusi dalam mewujudkan target nol kasus gizi kurang melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.

“Kami berharap ke depan semakin banyak pihak melalui program CSR yang tertarik mendukung program kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya penanganan gizi anak. Dengan dukungan kolektif dari pemerintah, akademisi, dan swasta, cita-cita untuk mewujudkan wilayah yang bebas dari kasus underweight dapat benar-benar tercapai demi masa depan generasi kita,” tutur Sri Maryaningsih.

Melalui hasil kajian dalam FGD ini, Puskesmas Depok II berkomitmen untuk menyusun panduan penanganan yang lebih efektif dan terintegrasi. Masukan dari para ibu baduta dan kader posyandu akan menjadi bahan evaluasi utama dalam meningkatkan layanan gizi, sehingga upaya pencegahan stunting dan gangguan pertumbuhan anak di wilayah Condongcatur dapat berjalan lebih optimal. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Gandeng Komunitas Otomotif, BNNK Sleman Kampanyekan Perang Melawan Narkoba Sambil Berbagi Takjil

Sleman — Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sleman terus memperluas jangkauan edukasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) dengan menyasar kalangan generasi muda. Bekerja sama dengan komunitas mobil Brionesia Jogja Istimewa (BRIJIST), BNNK Sleman menggelar aksi simpatik berupa sosialisasi bahaya narkoba, pembagian stiker, serta penyaluran ratusan paket takjil bagi pengguna jalan, Sabtu (7/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul WIB ini mengambil dua titik strategis dengan mobilitas tinggi, yakni kawasan Lapangan Denggung dan Jalan Raya Jogja-Solo. Dalam aksi tersebut, petugas BNNK bersama para anggota komunitas otomotif membagikan stiker “War On Drugs For Humanity” dan stiker “ANANDA BERSINAR” kepada ratusan pengendara. Melalui media stiker tersebut, BNNK Sleman menyisipkan pesan penting mengenai Gerakan 3 Berani, yaitu Berani Tolak, Berani Rehab, dan Berani Lapor, lengkap dengan informasi layanan pengaduan atau call center.

Kepala BNNK Sleman, Teguh Tri Prasetya, menyampaikan bahwa keterlibatan komunitas mobil merupakan langkah krusial dalam memperkuat pertahanan masyarakat terhadap pengaruh narkotika. Ia berharap kolaborasi ini tidak hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi sarana untuk meningkatkan wawasan kolektif para anggota komunitas sehingga mampu berkontribusi nyata dalam mewujudkan visi Sleman Sembada Bersinar atau Bersih Narkoba.

“Diharapkan dari kegiatan tersebut dapat meningkatkan sinergitas antara BNNK Sleman dan komunitas mobil Brionesia Jogja. Kami ingin menambah wawasan mereka dalam optimalisasi pelaksanaan P4GN sebagai bentuk tanggung jawab bersama untuk menjaga wilayah Sleman agar tetap bersih dari peredaran gelap narkoba,” ujar Teguh Tri Prasetya.

Kasubbag Umum BNNK Sleman, Dayu Purnama A, menambahkan bahwa pemilihan komunitas otomotif merupakan bagian dari strategi kebijakan P4GN untuk merangkul segmen pemuda di ruang-ruang hobi mereka. Menurutnya, komunitas otomotif memiliki daya jangkau yang luas dan soliditas yang tinggi, sehingga sangat efektif dijadikan mitra dalam membangun daya tangkal terhadap ancaman narkotika di tingkat akar rumput.

“BNNK Sleman bersinergi dengan komunitas BRIJIST sebagai langkah strategis untuk hadir langsung dan mensosialisasikan P4GN kepada generasi muda. Kegiatan sinergitas ini diharapkan dapat berjalan terus menerus guna menjaga generasi muda di komunitas otomotif agar memiliki daya tangkal yang kuat terhadap ancaman penyalahgunaan narkotika,” ungkap Dayu Purnama A di sela-sela pembagian takjil.

Ketua Brionesia Jogja Istimewa, Steven, menyambut positif kolaborasi ini dan menyatakan bahwa bulan Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk mempererat silaturahmi sekaligus berbagi pengetahuan yang bermanfaat bagi para anggotanya. Bagi komunitasnya, ancaman narkoba adalah masalah serius yang dapat merusak masa depan generasi pecinta otomotif jika tidak diantisipasi sejak dini.

“Kami bersinergi dengan BNNK Sleman sebagai bentuk kepedulian kami terhadap generasi muda dari ancaman bahaya narkoba. Pada bulan Ramadan ini, kegiatan tersebut menjadi wadah silaturahmi yang positif sekaligus menambah wawasan para anggota BRIJIST tentang kelembagaan BNNK Sleman dan bahaya narkotika yang nyata di sekitar kita,” tegas Steven.

Aksi sosial yang berakhir menjelang waktu berbuka puasa ini mendapat respons positif dari para pengendara yang melintas. Dengan pendekatan yang humanis dan santun, BNNK Sleman berharap informasi mengenai layanan rehabilitasi dan pelaporan dapat lebih dikenal luas oleh masyarakat, sehingga upaya pemberantasan narkotika di Kabupaten Sleman dapat berjalan lebih transparan dan partisipatif.




Sleman Matangkan Persiapan Lebaran 2026: 1.400 Personel Dikerahkan demi Stabilitas Harga dan Kelancaran Lalu Lintas

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman bersama Polresta Sleman dan jajaran Forkopimda mulai mematangkan strategi pengamanan menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Lintas Sektoral yang digelar di PrimaSR Hotel & Convention, Jumat (6/3/2026), pemerintah fokus pada tiga aspek utama yakni stabilitas harga pangan, rekayasa lalu lintas strategis, dan mitigasi gangguan kamtibmas guna menjamin kenyamanan pemudik di wilayah Bumi Sembada.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, memberikan perhatian khusus pada pengendalian inflasi dan ketersediaan bahan pokok di pasar. Ia menginstruksikan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk bergerak cepat memantau rantai distribusi agar tidak terjadi lonjakan harga yang memberatkan masyarakat. Selain itu, Harda meminta Badan Kesbangpol Sleman untuk lebih peka terhadap dinamika sosial guna mengidentifikasi potensi konflik sejak dini.

“Sinergi antarinstansi, komunikasi yang baik, serta kecepatan respons di lapangan menjadi kunci utama bagi kita semua dalam menjaga stabilitas daerah selama masa Lebaran ini. Kita harus memastikan masyarakat bisa beribadah dan merayakan Idulfitri dengan tenang tanpa terbebani masalah ekonomi maupun keamanan,” tegas Harda Kiswaya dalam arahannya.

Untuk mendukung kelancaran arus mudik, Polresta Sleman menyiapkan Operasi Ketupat Progo 2026 yang akan menerjunkan sedikitnya personel gabungan dari unsur TNI, Polri, instansi terkait, hingga relawan. Operasi yang mengusung tema “Mudik Aman, Keluarga Bahagia” ini dijadwalkan berlangsung selama 13 hari mulai 13 Maret 2026. Fokus pengamanan akan dipusatkan pada empat pos utama, yakni Pos Terpadu di Tempel sebagai gerbang utara, dua Pos Pengamanan di Gamping dan Prambanan, serta satu Pos Pelayanan di kawasan Ambarrukmo Plaza.

Plh Kapolresta Sleman, Roedy Yulianto, menjelaskan bahwa manajemen rekayasa lalu lintas akan diterapkan secara situasional, termasuk pemanfaatan pintu tol fungsional. Pihaknya juga akan melakukan penutupan sejumlah titik putar balik atau U-turn di jalur-jalur padat untuk mencegah penumpukan kendaraan yang sering memicu kemacetan panjang.

“Kami akan menerapkan skema rekayasa lalu lintas yang dinamis. Salah satu fokus utama kami adalah pemanfaatan Entry Toll Fungsional Purwomartani untuk arus balik. Selain itu, kami juga menyiapkan tim urai di titik-titik rawan macet seperti Simpang Empat Denggung dan pengamanan ekstra di destinasi wisata yang rawan longsor maupun kemacetan total, seperti jalur menuju Tebing Breksi dan Kaliurang,” ujar Roedy Yulianto.

Terkait gangguan kamtibmas, kepolisian berkomitmen menindak tegas pelanggaran lalu lintas yang meresahkan, seperti penggunaan knalpot brong dan kendaraan roda dua yang nekat memasuki jalur cepat. Di sisi kesehatan dan keselamatan, BPBD Sleman disiagakan di jalur-jalur wisata dengan tanjakan curam, sementara RSUD Sleman, RSA UGM, dan RSUP Dr. Sardjito ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan utama guna menjamin percepatan pelayanan medis darurat selama masa libur panjang.




Antisipasi Pangan Kedaluwarsa, Tim Gabungan Ngaglik Sidak Minimarket Jelang Lebaran

Sleman — Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, tim gabungan yang terdiri dari Puskesmas Ngaglik II, Pemerintah Kapanewon Ngaglik, serta unsur keamanan memperketat pengawasan peredaran bahan pangan di masyarakat. Langkah ini diwujudkan melalui inspeksi mendadak (sidak) dan pembinaan yang menyasar lima minimarket di wilayah Kalurahan Donoharjo dan Sukoharjo pada Senin (9/3/2026).

Kepala Puskesmas Ngaglik II, Sri Mujiyanto, menegaskan bahwa pengawasan ini merupakan langkah krusial untuk mencegah terjadinya kasus keracunan pangan. Menurutnya, lonjakan permintaan kebutuhan pokok menjelang Lebaran sering kali dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk menyelipkan produk yang sudah tidak layak konsumsi ke rak penjualan.

“Pengawasan dilakukan untuk memastikan produk makanan yang beredar di masyarakat aman dikonsumsi. Keracunan pangan salah satu pencetusnya adalah makanan yang tidak layak konsumsi. Menjelang Lebaran biasanya permintaan meningkat sehingga kita perlu mengantisipasi sejak dini. Dalam kondisi toko ramai pembeli, terkadang ada yang menyelipkan produk kedaluwarsa, sementara di warung konvensional produk kedaluwarsa terkadang tetap dijual karena pedagang merasa sayang jika dibuang,” ujar Sri Mujiyanto.

Senada dengan hal tersebut, Panewu Ngaglik, Wawan Widiyantoro, menekankan bahwa kehadiran tim di lapangan bukan bertujuan untuk menjatuhkan pelaku usaha, melainkan demi perlindungan bersama. Ia menginstruksikan tim agar mengedepankan komunikasi yang santun dan efisien agar tidak mengganggu kenyamanan operasional toko maupun konsumen yang sedang berbelanja.

“Tujuan kita bukan mencari kesalahan, tetapi melindungi konsumen sekaligus produsen. Karena itu saat masuk lokasi harus diawali dengan permisi, memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan, dan menggunakan waktu secara efisien agar tidak menimbulkan rasa tidak nyaman,” tegas Wawan Widiyantoro saat memberikan arahan kepada tim sebelum turun ke lapangan.

Dalam teknis pemeriksaannya, petugas mencermati berbagai indikator kerusakan produk, mulai dari kemasan kaleng yang penyok, perubahan warna dan tekstur, hingga tanggal kedaluwarsa yang sudah lewat. Petugas kesehatan lingkungan Puskesmas Ngaglik II, Lina, mengungkapkan bahwa dalam sidak kali ini tim masih menemukan beberapa produk yang sudah kedaluwarsa namun masih dipajang di etalase, serta produk kalengan dalam kondisi rusak.

“Hasil sidak masih ditemukan produk kedaluwarsa yang ada di etalase dan belum ditarik, termasuk kemasan kaleng rusak serta makanan dengan kondisi sudah tidak layak. Produk-produk tersebut harus segera ditarik dari display dan pihak pengelola diminta segera menukarnya kepada produsen agar tidak sampai terbeli oleh masyarakat,” jelas Lina.

Menanggapi temuan tersebut, Wawan Widiyantoro kembali mengimbau warga Ngaglik agar menjadi konsumen yang lebih kritis saat berbelanja kebutuhan hari raya. Ia meminta masyarakat tidak hanya melihat harga, tetapi juga memeriksa kondisi fisik dan informasi pada kemasan secara mendalam.

“Pada kesempatan ini saya menghimbau kepada masyarakat Ngaglik untuk dapat menjadi konsumen yang cermat dan teliti dengan mengecek terlebih dahulu barang yang akan dibeli terkait bahan, kandungan gula, kondisi kemasan, serta tanggal kedaluwarsa sehingga mendapat barang yang benar-benar aman dikonsumsi,” pungkas Wawan Widiyantoro. (Endarwati/KIM Donoharjo)