Muhammadiyah Sleman Dorong Kemandirian Ekonomi Umat Berbasis Akidah di Bulan Ramadan

Sleman — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman melalui Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) menggelar kajian strategis bertajuk “Aqidah Islam untuk Penguatan Ekonomi Umat” di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman pada Sabtu (7/3/2026). Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi ratusan warga persyarikatan untuk menyelaraskan kekuatan spiritual dengan kemandirian ekonomi sebagai fondasi dakwah yang lebih kokoh di masa depan.
Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah Sleman, Susmiarto, bersama jajaran pimpinan daerah, cabang, hingga ranting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Kabupaten Sleman. Kehadiran para pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan kepala sekolah dalam forum ini menegaskan komitmen kolektif organisasi untuk mentransformasikan potensi jaringan besar Muhammadiyah menjadi kekuatan ekonomi yang nyata dan profesional.
Ketua PDM Sleman, Harjaka, saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk menata kembali niat dan etos kerja umat. Menurutnya, ibadah di bulan suci tidak boleh dipisahkan dari upaya membangun kehidupan sosial dan ekonomi yang sehat. Ia menekankan bahwa akidah yang kuat harus menjadi penggerak utama bagi setiap langkah warga Muhammadiyah dalam bermuamalah.
“Ramadan mengajarkan kita untuk menata hati, memperkokoh akidah, serta menjaga istiqomah dalam setiap langkah kehidupan. Kekuatan spiritual ini adalah fondasi penting bagi kita semua untuk membangun kehidupan ekonomi yang mandiri dan bermartabat, sehingga keberadaan umat memberikan manfaat luas bagi sesama,” ujar Harjaka dalam tausiah singkatnya di hadapan jamaah.
Pakar Ekonomi Syariah yang juga Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Riduwan, hadir sebagai narasumber utama dengan memaparkan urgensi koordinasi ekonomi di lingkungan persyarikatan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan ekonomi umat sangat bergantung pada etos kerja yang unggul dan profesionalisme, namun tetap harus berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Riduwan mendorong warga Muhammadiyah untuk memaksimalkan jaringan kolektif yang dimiliki agar tidak hanya menjadi penonton dalam perputaran ekonomi nasional.
“Kita perlu membangun etos kerja yang unggul dan mengembangkan usaha yang profesional, tetapi tetap harus berpegang teguh pada nilai-nilai Islam. Bagi kita, bisnis bukan hanya soal mencari keuntungan materi semata, melainkan juga sarana ibadah dan alat untuk pemberdayaan umat secara menyeluruh,” jelas Riduwan saat memotivasi para peserta kajian.
Senada dengan hal tersebut, narasumber dari Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) DIY, Nur Aisyah Haifani, menekankan bahwa kemandirian ekonomi adalah pilar penyokong dakwah. Jika umat memiliki kemandirian finansial, maka posisi tawar sosial dan efektivitas dakwah akan semakin kuat. Dalam kesempatan tersebut, panitia juga memperkenalkan program WisataMu dan layanan umrah melalui SCM Surya Citra Madani sebagai unit usaha nyata yang dapat dimanfaatkan oleh warga jamaah.
“Semangat ekonomi harus hidup di tengah masyarakat. Jika umat memiliki kemandirian ekonomi, maka kekuatan sosial dan dakwah juga akan semakin kokoh. Kemandirian ini hanya bisa terwujud jika semangat kewirausahaan terus ditularkan dan dikembangkan secara konsisten dari tingkat ranting,” ungkap Nur Aisyah Haifani.
Kegiatan yang diakhiri dengan buka puasa bersama dan salat Magrib berjamaah ini berhasil mempererat ukhuwah antarwarga Muhammadiyah Sleman. Forum ini menjadi titik awal bagi penguatan koordinasi ekonomi berbasis jamaah yang diharapkan mampu mencetak saudagar-saudagar baru yang berakidah kuat dan berdaya saing tinggi. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)



