Tekan Prevalensi Perokok Remaja, Mahasiswa KKN Unriyo Kenalkan Terapi Ketuk SEFT di Berbah

Sleman — Maraknya tren merokok dan konsumsi minuman keras di kalangan remaja menjadi perhatian serius bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) KKB 18A Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo). Sebagai langkah nyata penyelamatan generasi muda, para mahasiswa menggelar penyuluhan kesehatan sekaligus mengenalkan teknik terapi mandiri Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) di Mushola Jogomangsan, Padukuhan Rejosari, Jogotirto, Kapanewon Berbah, Sleman, Sabtu (28/3/2026) malam.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas mudahnya akses produk rokok bagi anak-anak dan remaja di lingkungan sekitar. Lemahnya pengawasan orang tua serta paparan iklan yang masif dinilai menjadi pemicu utama rokok kini dianggap sebagai gaya hidup. Padahal, dampak buruk nikotin dan tar tidak hanya mengintai perokok aktif, namun juga membahayakan masyarakat di sekitarnya sebagai perokok pasif.
Perwakilan mahasiswa KKN Unriyo, Fitriani, menjelaskan bahwa rokok merupakan hasil olahan tembakau yang mengandung zat adiktif berbahaya bagi jantung dan paru-paru. Selain itu, kebiasaan merokok pada remaja sering kali menjadi pintu masuk bagi perilaku berisiko lainnya, seperti konsumsi minuman keras yang dapat merusak organ tubuh dan menurunkan kesadaran.
“Rokok mengandung nikotin yang menimbulkan sensasi ketagihan sehingga sulit bagi seseorang untuk berhenti. Jika terus dibiarkan, kandungan tar dan zat berbahaya lainnya bisa memicu kanker paru-paru hingga penyakit jantung koroner. Kami ingin remaja di Rejosari menyadari bahwa perilaku ini tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga meresahkan lingkungan sosial,” ujar Fitriani di hadapan para remaja peserta penyuluhan.
Sebagai solusi praktis untuk memutus rantai kecanduan, para mahasiswa memperkenalkan terapi SEFT atau tapping. Terapi emosi ini bekerja dengan cara mengetuk ringan titik-titik akupunktur pada tubuh menggunakan ujung jari. Teknik ini dipercaya mampu membangkitkan harapan, meningkatkan rasa percaya diri, serta mengurangi stres yang sering menjadi alasan seseorang sulit melepaskan ketergantungan pada rokok dan miras.
Proses terapi diawali dengan pengetukan sebanyak tujuh kali pada titik puncak kepala atau ubun-ubun, kemudian berlanjut ke ujung alis mata, tulang pipi, bawah hidung, dan bawah mulut. Titik selanjutnya berada di bawah leher, bawah ketiak, hingga area dada. Gerakan sederhana ini dirancang agar bisa dipraktikkan secara mandiri oleh siapa pun yang memiliki keinginan kuat untuk berubah.
“Lakukan terapi ini secara berurutan serta dilandasi permohonan tulus kepada Tuhan dengan niat yang kuat untuk sembuh. Kunci utama dari keberhasilan terapi ini adalah konsistensi dan kemauan diri untuk lepas dari jeratan zat adiktif. Kami berharap melalui teknik sederhana ini, para remaja memiliki sarana untuk mengelola emosi dan keinginan merokok mereka secara lebih positif,” tambah Fitriani.
Melalui edukasi ini, mahasiswa KKN Unriyo berharap para remaja di Padukuhan Rejosari dapat menjadi agen perubahan bagi kawan sebaya mereka. Sinergi antara pengetahuan medis dan teknik terapi emosional diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bebas dari pengaruh buruk zat adiktif di wilayah Berbah. (Kusnadi/KIM Berbah)



