Mengenal TPU Seyegan, “Rumah Masa Depan” Warga Sleman

Sleman – Tak banyak yang mengetahi bahwa di wilayah Sleman barat terdapat Taman Pemakaman Umum milik Pemerintah Kabupaten Sleman bernama TPU Seyegan. TPU tersebut terletak di Padukuhan Beran, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, dan menjadi satu dari dua TPU yang dikelola pemerintah daerah.

Dibangun pada 2008 dengan konsep pemakaman bercitra taman, TPU Seyegan telah menjadi tempat peristirahatan terakhir lebih dari seribu jenazah. Desain arsitektur tertata dengan tata letak dinamis dan lanskap alami perbukitan menjadikan seluruh elemen tampak harmonis. Topografi perbukitan dengan kontur terasering alami membuat makam tertata mengikuti lekuk tanah, memperkuat kesan tenang dan damai.

Sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di bawah Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Sleman, TPU Seyegan hadir menjawab persoalan jangka panjang, semakin terbatasnya lahan makam di wilayah permukiman. Wilayah Seyegan dipilih melalui kajian mendalam, dengan pembebasan lahan milik warga Margodadi dan Margoluwih serta sebagian Tanah Kas Desa.

Kepala UPTD TPU Seyegan, Retno Handayani, menjelaskan bahwa dari total luas 5,1 hektare, sebagian digunakan untuk fasilitas pendukung seperti perkantoran, pendopo, taman, dan area parkir.

“Praktis lahan yang tersisa hanya cukup untuk sekitar makam,” ujarnya saat ditemui di kantor TPU, Selasa (3/3/2026).

Kawasan TPU Seyegan dibagi menjadi empat blok, yakni Blok A untuk makam Muslim, Blok B untuk non-Muslim, Blok C untuk makam campuran, dan Blok D untuk warga terlantar.

Dalam perjalanannya, pengelolaan TPU juga menyesuaikan regulasi terbaru. Setelah terbit Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022, retribusi pelayanan pemakaman tidak lagi diperkenankan. Selanjutnya, Pemerintah Kabupaten Sleman menerbitkan Peraturan Bupati Sleman Nomor 127 Tahun 2025 sebagai perubahan atas Perbup Nomor 34 Tahun 2024 tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan TPU dan Krematorium Kabupaten Sleman.

Melalui regulasi tersebut, pemanfaatan tanah makam ditetapkan gratis. Adapun layanan yang masih dikenakan retribusi meliputi penggunaan ambulans, keranda, pendopo, kremasi, dan wisma.

“Peruntukan makam di TPU Seyegan diperuntukkan bagi warga Sleman, warga dengan alamat berjarak tempuh lebih dari enam jam atau urang lebih 360 km. Kemudian warga yang meninggal di Sleman namun tidak dapat dimakamkan di tempat asalnya, serta yang memiliki keluarga sedarah derajat satu warga Sleman,” jelas Retno.

Prosedur pemakaman dimulai dari pengajuan ahli waris ke kantor TPU dengan melampirkan fotokopi KTP dan Surat Keterangan Kematian. Pengelola kemudian menentukan blok dan petak makam, melakukan penggalian, hingga pemasangan plakat dan pusara.

“Keberadaan jenazah di TPU juga dilakukan perpanjangan setelah tiga tahun,” tandas Retno.

Jika tidak ada respons dari ahli waris setelah tiga kali pemberitahuan, makam dapat diambil alih pemerintah untuk dimanfaatkan kembali, mengingat perluasan lahan sudah tidak memungkinkan.

Ke depan, pengelolaan TPU Seyegan diharapkan dapat bertransformasi menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), serta menghadirkan inovasi pendaftaran daring seperti yang telah diterapkan di Kota Bandung.

Dengan pengelolaan profesional dan pelayanan prima, TPU Seyegan kerap menjadi lokasi studi tiru dari berbagai daerah seperti Bantul, Surakarta, Semarang hingga Papua.

TPU Seyegan bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan representasi pelayanan publik yang tertata, manusiawi, dan visioner. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Kemilau Ramadhan, RSUP Dr. Sardjito Gelar Pelatihan Perawatan Jenazah Islami

Sleman – Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito menyelenggarakan pelatihan perawatan jenazah secara islami dan edukasi kesehatan bagi masyarakat, dalam kegiatan bertajuk Kemilau Ramadhan. Program ini menjadi wujud amaliah nyata rumah sakit dalam menebar kebaikan dan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat selama bulan suci.

Kegiatan edukatif tersebut dilaksanakan pada Rabu (4/3/2026), di Ruang Diklat lantai empat gedung utama RSUP Dr. Sardjito. Panitia telah mempersiapkan acara dengan matang guna memastikan kenyamanan dan kelancaran pelatihan yang diikuti ratusan peserta.

Materi pelatihan disampaikan langsung oleh para ahli kesehatan dan tokoh agama berpengalaman, di antaranya Probosuseno dan Noor Asyiqah Sofia yang memberikan wawasan medis mendalam terkait prosedur perawatan jenazah dari sisi kesehatan dan syariat Islam.

Pelatihan dibagi menjadi dua sesi, yakni pukul WIB dan pukul WIB, sehingga peserta dapat memilih waktu yang sesuai dengan jadwal masing-masing. Selain mendapatkan materi praktik dan teori, peserta juga memperoleh bingkisan berbuka puasa serta sertifikat elektronik dengan syarat hadir tepat waktu dan mengisi daftar presensi.

Salah satu nrasumber sekaligus penyelenggara, Farhan Ali, menyampaikan apresiasi atas tingginya antusiasme masyarakat. Menurutnya, jumlah peserta yang mencapai ratusan orang menunjukkan besarnya kebutuhan warga akan keterampilan praktis dalam pengurusan jenazah.

“Kegiatan ini bertujuan memberikan bekal keterampilan yang benar dan sesuai syariat kepada masyarakat dalam mengurus jenazah,” ujarnya.

Sementara salah satu peserta, Nura, mengungkapkan rasa syukur karena dapat mengikuti pelatihan bermanfaat tersebut tanpa dipungut biaya.

“Saya berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar di masa mendatang,” tandas Nura.

Acara berlangsung lancar dengan partisipasi aktif peserta dan dukungan narasumber yang kompeten di bidangnya. Melalui Kemilau Ramadhan, RSUP Dr. Sardjito berharap kontribusi sosial ini dapat memperkuat pemahaman masyarakat sekaligus mempererat nilai kepedulian dan kebersamaan di bulan suci. (Ajeng KIM DSN Ngaglik)




Dukung Sarana Ibadah, Kapanewon Gamping Berikan Bantuan di Mushola Babusalam

Sleman – Pemerintah Kapanewon Gamping menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan sarana ibadah melalui pemberian bantuan dana pengembangan masjid dalam agenda safari tarawih yang digelar di Mushola Babusalam, Banyuraden, Gamping, Sleman, Selasa (3/3/2026). Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat fungsi masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat.

Dalam sambutannya, Panewu Gamping, Suyanto menyampaikan bahwa bantuan dana ini tidak sekadar bersifat fisik, namun juga sebagai bentuk perhatian terhadap keberlangsungan aktivitas keagamaan di tingkat kalurahan. Masjid dan mushola diharapkan mampu menjadi pusat pembinaan umat yang berkelanjutan.

“Pengembangan masjid memiliki peran strategis dalam membangun kualitas kehidupan masyarakat. Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga berfungsi sebagai ruang edukasi, pemberdayaan ekonomi umat, serta penguatan nilai-nilai sosial dan kebersamaan,” tuturnya.

Pemberian bantuan menjadi wujud sinergi antara pemerintah dengan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan pembangunan berbasis keagamaan. Pemerintah menyadari bahwa pembangunan fisik tempat ibadah perlu diimbangi dengan partisipasi aktif masyarakat dalam memakmurkan masjid.

Kegiatan safari tarawih sendiri menjadi momentum yang tepat untuk mempererat hubungan antara pemerintah dan warga. Melalui kegiatan ini, pemerintah dapat menyerap aspirasi masyarakat sekaligus menyampaikan program-program pembangunan secara langsung.

Suyanto berharap bantuan dana pengembangan masjid ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan fasilitas dan kegiatan keagamaan, sehingga Mushola Babusalam semakin berkembang dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat Banyuraden dan sekitarnya.

Adi Suryanto selaku Ketua Takmir Mushola Babusalam menyambut baik bantuan tersebut dan menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan. Bantuan dana ini rencananya akan dimanfaatkan untuk meningkatkan fasilitas mushola agar lebih nyaman dan representatif bagi jama’ah.

Selain itu, pihaknya berharap bantuan tersebut dapat mendorong peningkatan aktivitas keagamaan, seperti pengajian rutin, pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak, serta kegiatan sosial berbasis masjid. Dengan fasilitas yang memadai, peran mushola di tengah masyarakat diharapkan semakin optimal.

Dengan adanya bantuan dana pengembangan masjid ini, Mushola Babusalam diharapkan dapat berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan yang lebih aktif dan inklusif. Upaya ini sekaligus memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius dan harmonis. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Ramadan Penuh Makna, KUA Ngaglik Beri Motivasi Spiritual Guru SLB Autisma Dian Amanah

Sleman – Tim KUA Kapanewon Ngaglik menyambangi SLB Autisma Dian Amanah pada Selasa (3/3/2026), untuk memberikan motivasi spiritual kepada seluruh tenaga pendidik. Kegiatan ini bertujuan memperkuat mentalitas guru dalam mendidik putra-putri berkebutuhan khusus, khususnya anak dengan autisme.

Momentum bulan suci Ramadan dimanfaatkan sebagai landasan untuk meningkatkan dedikasi dan semangat pengabdian para guru. Pihak penyelenggara berharap kegiatan ini menjadi suntikan energi positif bagi para pejuang pendidikan di wilayah Ngaglik, Sleman.

Kepala SLB Autisma Dian Amanah, Umu Afifah Isriyati menyambut hangat kehadiran para penyuluh agama. Ia menilai sinergi tersebut sebagai langkah penting dalam meningkatkan kualitas spiritual seluruh elemen pendidikan di sekolah.

“Kami sangat bersyukur atas kehadiran tim penyuluh karena bimbingan keagamaan ini sangat dibutuhkan oleh guru dan anak didik,” ujarnya.

Ia menambahkan, kerja sama antara KUA Ngaglik dan pihak sekolah diharapkan terus berlanjut demi kemajuan pendidikan khusus.

“Tugas mendidik anak berkebutuhan khusus adalah ladang pahala yang sangat besar, terutama saat dijalankan pada bulan suci Ramadan,” tuturnya.

Dalam kegiatan tersebut, tiga penyuluh agama diterjunkan, yakni Wahyu Nurul Ilmiyati, Muhammad Syaiful Ghozi, dan Tarwadi. Mereka menyampaikan materi yang menggugah hati agar para guru tetap bersemangat dan menyadari besarnya pahala dari tugas mulia yang diemban.

Pesan utama yang disampaikan menekankan bahwa Allah melipatgandakan pahala bagi hamba yang sabar dalam mendampingi dan mengasuh anak-anak istimewa. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap paparan materi yang disampaikan.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Tengah SLB Dian Amanah, Jalan Sawah Joglo, berjalan dalam suasana khidmat. Setiap pesan motivasi diharapkan menjadi pengingat akan kemuliaan profesi guru, baik dalam perspektif agama maupun sosial.

Acara ditutup dengan doa bersama agar seluruh pendidik diberi kesehatan, kekuatan, dan keistiqamahan dalam menjalankan ibadah puasa serta tugas pengabdian. Semangat tanpa batas menjadi harapan yang ingin diteguhkan melalui pertemuan singkat namun penuh makna tersebut. (Ajeng KIM DSN Ngaglik)




SMD Jadi Langkah Awal Perencanaan Program Kesehatan di Condongcatur

Sleman – Puskesmas Depok II menyelenggarakan kegiatan Survei Mawas Diri (SMD) dengan melibatkan berbagai unsur lintas sektor di wilayah Kalurahan Condongcatur. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Wacanaloka Kalurahan Condongcatur, pada Selasa (3/3/2026).

SMD bertujuan mengidentifikasi permasalahan kesehatan dan sosial di masyarakat sekaligus menggali potensi solusi secara bersama. Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan Polsek Depok Timur, Lurah Condongcatur, BPKal, TP PKK Kalurahan, kader perwakilan Darbih, staf Kamituwa, staf Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Babinsa, dukuh, Bhabinkamtibmas, serta UPTD Yandik Depok dan unsur terkait lainnya.

Kepala Puskesmas Depok II, Rr Endang Sulistyowati, menyampaikan bahwa melalui kegiatan SMD diharapkan dapat dilakukan pemetaan masalah secara menyeluruh di tengah masyarakat.

“SMD menjadi langkah awal dalam perencanaan program kesehatan berbasis data dan partisipasi warga,” tuturnya.

Sementara itu, Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menegaskan bahwa pemerintah kalurahan senantiasa mendukung program yang dilaksanakan Puskesmas maupun lintas sektor lainnya.

“Hal ini sebagai bentuk komitmen bersama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” tandas Reno.

Pelaksanaan SMD dijadwalkan berlangsung mulai 5 Maret hingga 15 April 2026. Pada tahun ini, terdapat tiga prioritas masalah yang menjadi fokus utama, yakni meningkatnya kasus leptospirosis, terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, serta tren peningkatan kasus mangkir TB, khususnya terkait kepatuhan minum obat.

Melalui pengisian kuesioner, diskusi, dan pemetaan masalah di tingkat padukuhan, diharapkan data yang terkumpul mampu memberikan gambaran riil kondisi kesehatan masyarakat. Hasil SMD nantinya akan dibahas lebih lanjut dalam Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) guna menyusun rencana tindak lanjut serta solusi pemecahan masalah secara kolaboratif.

Dengan sinergi lintas sektor ini, berbagai persoalan kesehatan di Kalurahan Condongcatur diharapkan dapat ditangani secara terpadu demi terwujudnya masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera. (Tri Suhartati / KIM Depok)