Paguyuban Dukuh Condongcatur Gelar Silaturahmi Syawalan ke Para Purna Tugas

Sleman — Dalam momentum Hari Raya Idulfitri 1447 H, Paguyuban Dukuh Condongcatur (BOGE: Rabo Wage) kembali menggelar kegiatan rutin silaturahmi dan syawalan dengan mengunjungi para purna tugas dukuh di wilayah Kalurahan Condongcatur, Rabu (25/3/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh 18 dukuh se-Kalurahan Condongcatur ini diawali dengan berkumpul di Kantor Kalurahan Condongcatur pada pukul WIB. Selanjutnya, rombongan bergerak bersama mengunjungi kediaman para purna tugas dukuh dengan rute dimulai dari Dukuh Ngropoh, kemudian ke Dukuh Gempol, Dukuh Pondok, dan berakhir di Dukuh Kayen.

Sementara itu, kunjungan ke Dukuh Joho tidak dapat dilakukan karena yang bersangkutan sedang berada di luar kota.

Ketua Paguyuban Dukuh Condongcatur, Ribut Suparman yang juga menjabat sebagai Dukuh Dero menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk penghargaan kepada para mantan dukuh atas pengabdian mereka selama bertugas.

Selain itu, tradisi syawalan juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi serta menjaga kerukunan di tengah masyarakat.

“Saat ini purna tugas dukuh yang masih ‘sugeng’ ada tujuh orang, sehingga kunjungan kita laksanakan secara berkelompok dari satu kediaman ke kediaman lainnya,” ujarnya.

“Di setiap tempat, kami saling menanyakan kabar, bersyukur semuanya dalam keadaan sehat, dilanjutkan saling bermaaf-maafan serta menikmati hidangan sederhana yang telah disiapkan. Suasana kekeluargaan sangat terasa sepanjang kegiatan berlangsung,” sambung Suparman.

Ia menambahkan, kegiatan silaturahmi ini juga bertujuan memberikan dukungan moral kepada para purna tugas agar tetap semangat menjalani masa pensiun, menjaga kesehatan, serta terus memberikan bimbingan kepada para dukuh yang masih aktif bertugas.

Adapun tujuh purna tugas dukuh di Condongcatur yang masih aktif dalam kegiatan silaturahmi ini yaitu H. Sukris (Sanggrahan), H. Sumadi (Kaliwaru), Mujiyono (Ngropoh), Teguh Subroto, BA (Pondok), Purwanto (Kayen), H. Djupriyono (Joho), dan Sabar Wijaya (Gempol).

Melalui kegiatan ini, diharapkan hubungan antara para purna tugas dan dukuh yang masih aktif semakin erat, serta nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan tetap terjaga di masa mendatang. (Wasana / KIM Depok)




Gelar Halal Bihalal Perdana Usai Lebaran, Kapanewon Moyudan Perkuat Sinergi dengan Masyarakat

Sleman — Memasuki hari kerja pertama setelah libur Lebaran, Pemerintah Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman menggelar kegiatan halal bihalal sebagai ajang mempererat silaturahmi dan kebersamaan. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu (25/3/2026) di Pendopo Kapanewon Moyudan.

Acara tersebut dihadiri oleh seluruh unsur Forum Pimpinan Kapanewon (Forpimka) Moyudan, lurah dan pamong se-Kapanewon Moyudan, serta warga masyarakat yang turut meramaikan suasana penuh kehangatan tersebut.

Panewu Moyudan, Agung Dwi Maryoto menyampaikan bahwa kegiatan halal bihalal ini menjadi ajang silaturahmi antara jajaran pemerintah kapanewon dengan masyarakat. Ia berharap momentum ini dapat memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam pelaksanaan pembangunan di wilayah Moyudan.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap jalinan silaturahmi antara Pemerintah Kapanewon, Forpimka, dan masyarakat semakin erat sehingga sinergitas dan kolaborasi kerja dapat terus meningkat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Agung juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Ia mengakui bahwa dalam memberikan pelayanan, masih terdapat kekurangan.

“Atas nama pribadi maupun Pemerintah Kapanewon Moyudan, kami mohon maaf lahir dan batin apabila dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat belum dapat sepenuhnya sempurna,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Agung berharap ibadah puasa Ramadan yang telah dijalani dapat memberikan dampak positif, khususnya dalam meningkatkan kinerja aparatur pemerintah.

“Semoga dari ibadah puasa Ramadan ini, kami bersama seluruh jajaran dapat meningkatkan kinerja dan kapasitas sebagai pelayan masyarakat,” imbuhnya.

Selain itu, Agung juga menyoroti potensi besar yang ada di wilayahnya terutama di sektor pertanian. Ia menilai potensi tersebut perlu diberdayakan secara optimal melalui kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diyakini mampu meningkatkan ketahanan pangan di Moyudan sekaligus mengembalikan wilayah tersebut sebagai lumbung padi di DIY.

“Kami optimistis, dengan kerja sama yang baik, potensi pertanian di Moyudan dapat dikembangkan lebih maksimal sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan dan mengembalikan Moyudan sebagai lumbung padi di DIY,” pungkasnya. (Giek / KIM Moyudan)




Lurah Condongcatur Gelar Open House Halal Bihalal, Pererat Silaturahmi Warga

Sleman – Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji menggelar open house halal bihalal di kediamannya, Joglo Cepit Soropadan, Condongcatur, Depok, Sleman, pada Minggu (22/3/2026). Kegiatan ini menjadi tradisi tahunan yang selalu dinanti masyarakat sebagai ajang silaturahmi tanpa sekat antara pemimpin dan warga.

Open house dibagi dalam dua sesi, yakni sesi pagi yang diikuti pamong kalurahan, serta sesi siang hingga sore yang terbuka untuk masyarakat umum. Sejak pagi hari, warga mulai berdatangan dari berbagai padukuhan, RW, dan RT di Condongcatur, bahkan dari luar wilayah.

Tradisi ini bermula pada tahun 2016, di awal kepemimpinan Reno Candra Sangaji. Saat itu, muncul gagasan sederhana untuk menghadirkan ruang temu yang inklusif antara lurah dan masyarakat. Pendopo Cepit pun dibuka lebar pada hari kedua Syawal, menyambut siapa saja yang ingin bersilaturahmi.

“Sejak saat itu, tradisi ini terus berjalan setiap tahun. Pendopo Cepit selalu dipenuhi gelombang kebersamaan. Warga yang dulunya asing kini menjadi akrab, dan guyub rukun tumbuh sebagai budaya,” ujar Reno di sela-sela menerima tamu.

Memasuki tahun ke-10 pada 2026, kegiatan ini semakin istimewa. Lebih dari porsi bakso disiapkan untuk masyarakat, lengkap dengan sajian lain seperti es krim, teh, aneka snack, tape, kacang, hingga hidangan khas Lebaran. Sejak dini hari, para relawan Condongcatur telah bergotong royong menyiapkan seluruh kebutuhan acara.

Suasana hangat terlihat dari interaksi warga yang datang dari berbagai latar belakang, mulai dari pengurus tempat ibadah, pemuda, komunitas, hingga keluarga. Anak-anak, remaja, hingga tokoh masyarakat menyatu dalam satu ruang, saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan.

Lebih dari sekadar jamuan, kegiatan ini juga sarat nilai. Halal bihalal menjadi momentum untuk melebur kesalahan, mempererat persaudaraan, dan membangun kembali hubungan sosial yang mungkin sempat renggang.

Pada sesi pagi bersama pamong kalurahan, Reno menekankan pentingnya momentum Syawalan sebagai ajang introspeksi dan saling memaafkan.

“Karena setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pamong kalurahan yang telah menjalankan tugas dengan baik dalam melayani masyarakat.

“Mohon doa restu agar kami diberikan kelancaran dan kemudahan dalam mengemban amanah, sehingga dapat terus melayani dan mensejahterakan masyarakat melalui sinergi dan kerja sama,” imbuhnya.

Open house halal bihalal ini berlangsung dari pukul hingga WIB. Sementara itu, kegiatan Syawalan kedinasan Pemerintah Kalurahan Condongcatur bersama pamong dan lembaga kalurahan dijadwalkan berlangsung pada 30 Maret 2026 di Pendopo Kromoredjan.

Selama satu dekade, tradisi ini telah menjadi simbol kuat kebersamaan warga Condongcatur. Harapannya, kegiatan ini terus berlanjut sebagai ruang silaturahmi yang menginspirasi, memperkuat persaudaraan, serta menjaga nilai guyub rukun dalam kehidupan bermasyarakat. (Wasana / KIM Depok)




Bregodo Wongso Manggolo Sleman Meriahkan Grebeg Syawal Kraton Yogyakarta

Sleman – Perhelatan Grebeg Syawal yang digelar Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada Jumat (20/3/2026), berlangsung khidmat dan penuh semarak. Salah satu yang menjadi sorotan dalam tradisi tahunan tersebut adalah partisipasi Bregodo Wongso Manggolo dari Kendal, Bangunkerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman.

Dalam prosesi Grebeg Syawal, kirab diawali dengan arak-arakan gunungan menuju Masjid Agung Kauman, Kepatihan, dan Mangkubumen. Di antara barisan prajurit bregada yang terlibat, Bregodo Wongso Manggolo tampil menonjol dengan formasi rapi, busana adat lengkap, serta iringan musik tradisional yang khas.

Salah satu pengurus Bregodo Wongso Manggolo, Ahmad Sujadi, menyampaikan rasa bangga atas kesempatan berpartisipasi dalam tradisi tersebut. Ia menegaskan bahwa keikutsertaan mereka bukan sekadar tampil, melainkan wujud pengabdian dalam menjaga warisan budaya.

“Keikutsertaan kami dalam Grebeg Syawal adalah bentuk kecintaan terhadap tradisi leluhur sekaligus amanah untuk melestarikannya,” ujarnya.

Bregodo Wongso Manggolo sendiri berasal dari wilayah Kendal, Bangunkerto, Turi, Sleman. Kehadiran mereka dalam Grebeg Syawal bukanlah hal baru, melainkan bagian dari keterlibatan rutin masyarakat dalam mendukung agenda budaya kraton. Penampilan mereka dinilai mampu memperkaya dinamika kirab yang selama ini identik dengan prajurit internal kraton.

Selain Wongso Manggolo, sejumlah bregodo dari wilayah Sleman turut ambil bagian. Namun, konsistensi dan kekompakan barisan Wongso Manggolo menjadikan mereka sebagai salah satu kelompok yang mencuri perhatian sepanjang prosesi berlangsung.

Grebeg Syawal merupakan tradisi peninggalan era Kerajaan Mataram Islam yang digelar untuk memperingati Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini juga menjadi simbol sedekah raja kepada rakyat melalui gunungan yang diperebutkan masyarakat, sekaligus mencerminkan hubungan harmonis antara kraton dan warga.

Dukuh Kendal, Agus Dwi S, berharap partisipasi ini dapat memotivasi generasi muda untuk turut menjaga budaya. Menurutnya, kegiatan seperti Grebeg Syawal menjadi sarana efektif dalam menanamkan nilai kebersamaan dan gotong royong.

“Kami berharap generasi muda ikut bangga dan terlibat dalam pelestarian budaya. Tradisi ini harus terus hidup di tengah perkembangan zaman,” katanya.

Partisipasi aktif Bregodo Wongso Manggolo dalam Grebeg Syawal 2026 tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa pelestarian tradisi merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi antara kraton dan masyarakat menjadi kunci utama agar warisan budaya tetap lestari dan relevan di masa kini.

(Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi)




Syiar dan Kreativitas Pemuda, Belasan Kelompok Meriahkan Parade Takbir Keliling di Sumbersari

Sleman — Gema takbir berkumandang memecah keheningan malam di wilayah Kapanewon Moyudan saat Ikatan Pengasuh Pengajian Sumbersari (IPPS) kembali menggelar Parade Takbir Keliling Idulfitri 1447 Hijriah. Kegiatan yang berpusat di Lapangan Sumbersari, Moyudan, Sleman, pada Kamis (19/3/2026) ini menjadi panggung kreativitas sekaligus media dakwah bagi ratusan generasi muda di tingkat kalurahan.

Acara pembukaan berlangsung meriah dengan dihadiri sejumlah tokoh penting, mulai dari jajaran DPRD Provinsi DIY, Panewu Moyudan beserta unsur pimpinan kapanewon, hingga Lurah Sumbersari dan perangkat desa. Guna memastikan kelancaran dan keamanan arus lalu lintas selama parade berlangsung, panitia melibatkan sinergi dari Satlinmas Sumbersari, Forum Komunikasi Losari, serta personil SAR DIY Unit Moyudan.

Ketua Panitia, Taufik Narasika, dalam laporannya menyebutkan bahwa kompetisi tahun ini diikuti oleh 15 kelompok yang terbagi dalam dua kategori utama. Kategori A diperuntukkan bagi regu dengan jumlah peserta lebih dari seratus orang, sementara Kategori B diikuti oleh kelompok dengan personil di bawah 99 orang. Selain memperebutkan piala bergilir, panitia juga menyiapkan uang pembinaan bagi para pemenang sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras mereka dalam menyiapkan properti dan koreografi.

“Parade takbir keliling tahun ini merupakan hasil kolaborasi yang luar biasa dari 15 kelompok peserta. Kami berharap kegiatan ini bukan semata-mata untuk memeriahkan suasana hari raya, tetapi benar-benar dijadikan sebagai sarana dakwah yang efektif di tengah masyarakat. Kreativitas yang ditampilkan adalah cermin semangat keislaman yang kuat dari para pemuda kita,” ujar Taufik Narasika di sela persiapan pemberangkatan peserta.

Lurah Sumbersari, Sukadi, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi IPPS dalam menyelenggarakan event tahunan ini. Menurutnya, kreativitas generasi muda dalam merancang maskot dan properti parade harus terus dipupuk karena menjadi modal penting dalam pembangunan bangsa di masa depan. Ia pun berpesan agar seluruh peserta tetap menjunjung tinggi sportifitas dan menjaga kondusifitas wilayah sepanjang rute parade.

“Kreativitas generasi muda harus selalu dipupuk untuk keberlangsungan pembangunan masa depan bangsa. Jadikanlah Parade Takbir Keliling ini sebagai ajang silaturahmi yang nyata, agar persatuan dan kesatuan di Sumbersari tetap terjaga erat melalui semangat ukhuwah islamiyah,” tutur Sukadi dalam sambutannya.

Senada dengan hal tersebut, Panewu Moyudan, Agung Dwi Maryoto, yang membacakan pesan tertulis Bupati Sleman, menyatakan bahwa pemerintah kabupaten memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada penyelenggara. Ia mencatat adanya peningkatan kualitas estetika dan inovasi dari para peserta setiap tahunnya. Baginya, lomba ini adalah kompetisi sehat yang harus disikapi dengan bijak, baik oleh pemenang maupun peserta yang belum berhasil meraih juara.

Anggota DPRD Provinsi DIY, Muhammad Yazid, yang hadir dalam acara tersebut juga menambahkan bahwa kegiatan yang sudah berlangsung puluhan tahun di Sumbersari ini memiliki tiga nilai filosofis penting bagi umat. Pertama adalah semangat berdakwah (ghirah), kedua sebagai ajang silaturahmi massal jemaah se-Sumbersari, dan ketiga sebagai wahana inovasi seni. Ia meyakini tim juri bekerja secara objektif dan menjunjung kredibilitas dalam menilai setiap kelompok yang tampil. (Giek/KIM Moyudan)