Perluas Jangkauan Syiar, Panitia Zakat Sumbersari Salurkan 1,7 Ton Beras Hingga Jawa Tengah

Sleman — Panitia Penerimaan dan Penyaluran Zakat Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, kembali menunjukkan peran strategisnya dalam mendistribusikan amanah umat pada Idulfitri 1447 Hijriah. Bertempat di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Kamis (19/3/2026), lembaga sosial keagamaan ini berhasil menghimpun zakat fitrah sebanyak ,9 kilogram beras dan uang tunai senilai untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan melampaui batas wilayah kabupaten.

Kegiatan tasyaruf atau penyaluran zakat ini merupakan tradisi yang telah terjaga selama puluhan tahun di Sumbersari. Pola pengelolaannya dilakukan dengan menghimpun sebagian zakat dari jemaah masjid di seluruh wilayah Kalurahan Sumbersari untuk kemudian disalurkan kembali secara kolektif. Langkah ini diambil guna memastikan distribusi zakat lebih efektif dan menjangkau lembaga pendidikan serta masyarakat dhuafa di wilayah yang minim akses bantuan.

Ketua Panitia Zakat Kalurahan Sumbersari, Agus Iskandar, menjelaskan bahwa pihaknya berkoordinasi erat dengan para pengurus masjid tingkat lokal dalam proses pengumpulan ini. Menurutnya, pemusatan distribusi di tingkat kalurahan dilakukan untuk menjawab banyaknya permohonan bantuan yang masuk, baik dari lembaga sosial, pondok pesantren, maupun madrasah yang tersebar di berbagai daerah.

“Kami mengajukan permohonan kepada Panitia Zakat di masjid-masjid se-Sumbersari, kemudian hasilnya kami kumpulkan untuk disalurkan ke daerah-daerah yang memang sangat membutuhkan. Dengan cara ini, bantuan tidak menumpuk di satu titik saja. Kami ingin memastikan bahwa kebahagiaan hari raya juga dirasakan oleh saudara-saudara kita di luar wilayah,” ujar Agus Iskandar di sela kesibukan penyaluran.

Sekretaris Panitia, Sugiyanto, menambahkan bahwa tahun ini jangkauan distribusi meliputi wilayah Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, hingga merambah ke Sukoharjo, Jawa Tengah. Sementara untuk bantuan berupa uang tunai, panitia memprioritaskan penyalurannya bagi warga dhuafa di lingkungan internal Kalurahan Sumbersari sebagai bentuk kepedulian terhadap tetangga terdekat.

Rasa syukur mendalam diungkapkan oleh para penerima manfaat, salah satunya Muhsin yang merupakan perwakilan dari Pondok Pesantren Darurat Fitkroh Tawangsari, Sukoharjo. Ia menempuh perjalanan cukup jauh untuk menerima amanah zakat tersebut demi kelangsungan hidup para santri di pondoknya. Hal senada disampaikan oleh Asnhiyar, pengelola Pondok Pesantren Al Uswah MAN 1 Sleman, yang mengelola ratusan santri.

“Zakat ini sangat bermanfaat untuk kelangsungan pondok, terutama bagi konsumsi santri-santri yang kami kelola. Kami sangat membutuhkan bantuan pangan seperti ini karena jumlah santri yang cukup banyak. Kami berharap program di Sumbersari ini terus aktif dan istikamah dalam membantu dunia pendidikan Islam. Semoga seluruh panitia selalu mendapat berkah dan rida dari Allah SWT,” ungkap Asnhiyar.

Aksi nyata yang dilakukan oleh warga Sumbersari ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dalam berzakat mampu menjadi solusi nyata bagi ketahanan pangan lembaga pendidikan agama. Melalui sistem manajemen zakat yang rapi, ketimpangan distribusi bantuan dapat diminimalisir sehingga manfaat zakat fitrah benar-benar terasa secara luas dan tepat sasaran bagi para mustahik. (Giek/KIM Moyudan)




Pesta Buah di Perempatan Jalan, Tradisi Syawalan Unik Warga Kayen Condongcatur

Sleman — Suasana berbeda terlihat di kawasan RW 45 Kayen, Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (21/3/2026) pagi. Alih-alih menggelar acara di dalam gedung formal, warga setempat memilih perempatan jalan di depan pos ronda sebagai lokasi silaturahmi terbuka. Tradisi Syawalan ini menjadi daya tarik tersendiri dengan konsep pesta buah dan jajanan tradisional yang dinikmati bersama di ruang terbuka.

Sejak pagi hari, seluruh lapisan warga mulai dari balita hingga lansia berkumpul memadati area terbuka tersebut. Acara ini turut dihadiri oleh perangkat dukuh, ketua RT, tokoh masyarakat, hingga ketua takmir masjid setempat. Menariknya, suasana kebersamaan ini juga diikuti oleh warga negara asing asal Amerika Serikat yang sedang tinggal di wilayah tersebut, yang turut berbaur mengikuti prosesi jabat tangan massal.

Ketua RW 45 Kayen, Sukirman, menjelaskan bahwa pemilihan waktu di pagi hari pada H+2 Lebaran merupakan langkah strategis agar seluruh warga bisa hadir. Menurutnya, acara syawalan yang biasanya digelar malam hari atau sepekan setelah lebaran sering kali terkendala oleh kesibukan warga yang mulai kembali bekerja atau memiliki agenda lain.

“Kami sengaja mentradisikan Syawalan warga dilaksanakan pagi hari pada saat 2 Syawal karena suasana lebaran masih sangat terasa hangat. Semua bisa hadir mulai dari balita sampai lansia berkumpul bersama dan saling bersalam-salaman. Bahkan hari ini ada warga asing yang ikut bergabung merasakan kebersamaan kami,” ujar Sukirman di sela acara.

Selain hidangan melimpah seperti wajik, aneka kue kering, hingga berbagai jenis buah-buahan, acara tahun ini juga dimeriahkan dengan pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) bagi anak-anak. Sebanyak 79 anak, mulai dari tingkat balita hingga pelajar kelas 3 SMA, masing-masing mendapatkan uang saku sebesar Rp15 ribu sebagai bentuk apresiasi dan berbagi kebahagiaan di hari raya.

Sekretaris RW 45, Untung Maryanto, menyebutkan bahwa pemberian THR ini merupakan inisiatif pribadi pengurus untuk memberikan kegembiraan ekstra bagi generasi muda di wilayah mereka. Ia berharap langkah ini dapat memancing kepedulian warga lainnya untuk ikut berbagi di masa mendatang sehingga nilai yang diterima anak-anak bisa lebih besar.

“Anak-anak mulai dari balita sampai SMA tanpa terkecuali yang hadir kami beri THR untuk memberikan kegembiraan di momen Idulfitri ini. Kami harapkan ke depan ada warga lainnya yang terketuk untuk ikut memberikan THR lagi sehingga kebahagiaan yang dirasakan bisa lebih luas,” tutur Untung Maryanto yang memandu jalannya prosesi jabat tangan warga.

Sebelum puncak acara Syawalan ini, pengurus RW 45 juga telah mendistribusikan paket parsel lebaran senilai Rp150 ribu kepada 132 kepala keluarga di wilayah tersebut. Dana parsel tersebut bersumber dari kas RW serta dukungan donatur khusus, sebagai upaya memastikan seluruh warga dapat merayakan hari kemenangan dengan penuh suka cita. (Wasana/KIM Depok)




Pantau Kesiapan Mudik di Perbatasan, Ketua PMI DIY Apresiasi Dedikasi Relawan di Pos Pelayanan Tempel

Sleman — Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Prabukusumo, melakukan peninjauan langsung terhadap kesiagaan pos pelayanan kesehatan di jalur utama mudik, Jalan Magelang, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Rabu (18/3/2026). Peninjauan ini dilakukan guna memastikan kesiapan personel dan fasilitas pendukung dalam melayani para pemudik yang melintasi perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Ketua PMI Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini. Dalam arahannya, Prabukusumo yang akrab disapa Gusti Prabu memberikan apresiasi tinggi kepada para relawan yang bertugas di garda terdepan selama libur lebaran. Menurutnya, dedikasi para relawan merupakan jantung dari gerakan kemanusiaan yang dijalankan oleh PMI di seluruh wilayah DIY.

“Para relawan adalah garda terdepan dan jantungnya PMI. Penghargaan dan apresiasi yang tinggi kami haturkan untuk mereka yang telah bekerja sukarela mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Saya berpesan agar tetap menjaga kesehatan pribadi dan selalu mengedepankan prinsip-prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit dalam melayani masyarakat,” ujar Prabukusumo di sela peninjauan pos pelayanan Tempel.

Prabukusumo juga menghimbau kepada masyarakat yang melakukan perjalanan mudik untuk mempersiapkan diri dengan informasi perjalanan yang matang serta memiliki keterampilan dasar penanganan kedaruratan. Meskipun PMI telah bersinergi dengan berbagai instansi pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi untuk memberikan pelayanan terbaik, faktor kewaspadaan diri dari para pemudik tetap menjadi hal yang utama.

Sementara itu, Ketua PMI Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini, menjelaskan bahwa pada Lebaran tahun 2026 ini pihaknya mengoperasikan 17 posko pelayanan yang tersebar di tingkat kapanewon serta satu posko utama di Markas PMI Kabupaten Sleman. Tim terpadu lintas sektor ini akan bersiaga di berbagai lokasi strategis mulai tanggal 18 hingga 24 Maret 2026 untuk mengantisipasi dinamika arus mudik dan balik.

“Untuk pelayanan Unit Donor Darah di Sleman, kami tetap terbuka setiap hari mulai pukul delapan pagi hingga setengah sepuluh malam. Sedangkan untuk permintaan darah dari rumah sakit, layanan kami tersedia penuh selama 24 jam. Kami ingin memastikan kebutuhan medis masyarakat tetap terpenuhi dengan baik selama masa libur lebaran ini,” jelas Mafilindati Nuraini.

Guna menjaga ketersediaan stok darah selama Ramadan, PMI Kabupaten Sleman juga memberikan apresiasi khusus bagi para pendonor. Selain fasilitas pemeriksaan kolesterol, glukosa, asam urat, dan konsultasi dokter secara gratis, para pendonor di markas kabupaten berkesempatan mendapatkan doorprize berupa unit ponsel. Khusus pada bulan Ramadan ini, kuota hadiah ponsel ditambah menjadi dua unit sebagai bentuk terima kasih atas kepedulian masyarakat dalam membantu sesama di bulan suci. (Kusnadi/KIM Berbah)




Perkuat Tata Kelola ZIS, 14 Masjid di Condongcatur Resmi Kantongi SK Unit Pengumpul Zakat Baznas

Sleman — Pemerintah Kalurahan Condongcatur terus melakukan langkah strategis dalam mengoptimalkan pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) di tingkat akar rumput. Hingga memasuki pertengahan Maret 2026, sebanyak 14 masjid dari total 83 masjid di wilayah Condongcatur secara resmi telah menerima Surat Keputusan (SK) sebagai Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sleman.

Ke-14 masjid tersebut antara lain Masjid Ar Rahmah (Gempol), Masjid Prayan Raya (Soropadan), Masjid Nurul Mutaqin (Tiyasan), Masjid Ash Sobar (Soropadan), Masjid Nurul Hidayah (Kayen), Masjid Darussalam (Ganjuran), dan Masjid Sultan Agung (Babadan Baru). Selain itu, terdapat Masjid Al Hidayah (Gorongan), Masjid Nurul Huda (Joho), Masjid Miftahul Jannah (Gempol), Masjid Jami Syafii (Gaten), Mushola Al Iklas (Perumnas), Masjid Fatkhurrahman (Cepit), serta Masjid Muhajirin (Perumnas).

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Ranting Condongcatur, Suyono, menjelaskan bahwa pemberian SK ini bertujuan agar pengumpulan dan penyaluran dana umat dilakukan secara legal dan syar’i. Momentum ini menandai transformasi pengelola zakat di masjid dari yang semula bertindak sebagai wakil muzaki menjadi Amil yang memiliki dasar hukum kuat dari negara.

“UPZ adalah lembaga yang dibentuk untuk mengumpulkan dan menyalurkan ZIS dari masyarakat kepada yang berhak menerimanya. Harapan kami ke depan, pengumpulan dana masyarakat dapat dilakukan secara legal dan syar’i, serta memberikan banyak kemudahan bagi muzaki dalam menyalurkan zakatnya kepada mustahik dengan diimbangi pengurus yang berintegritas dan transparan,” ujar Suyono saat menghadiri serah terima zakat di Masjid Nurul Hidayah Kayen, Kamis (19/3/2026).

Suyono menambahkan, pembentukan UPZ sangat penting untuk meningkatkan efisiensi penyaluran dan menjamin akuntabilitas dana zakat. Menurutnya, pengelola ZIS wajib memiliki izin dari Baznas untuk dapat disebut sebagai Amil yang sah secara regulasi. Langkah ini juga dimaksudkan untuk mendukung berbagai program sosial dan kemanusiaan di lingkungan sekitar masjid secara lebih efektif.

Apresiasi senada disampaikan oleh Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji. Ia menilai kehadiran 14 UPZ perdana ini merupakan tonggak awal untuk mendorong masjid-masjid lainnya di Condongcatur agar segera mengikuti langkah serupa. Pemerintah kalurahan berkomitmen mendukung penguatan kelembagaan ini demi kesejahteraan warga yang membutuhkan.

“Kami berharap keberadaan UPZ ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menunaikan zakat, sekaligus memastikan penyaluran kepada mustahik berjalan lebih tepat sasaran, transparan, dan akuntabel. Ke depan, kami siap mendorong masjid-masjid lainnya untuk segera menyusul, sehingga manfaat ZIS dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ungkap Reno Candra Sangaji.

Berdasarkan ketentuan yang berlaku, UPZ memiliki tugas untuk menghitung dan mengumpulkan zakat serta infak dari jemaah sesuai syariat. Mereka juga berwenang melaksanakan pendistribusian langsung kepada mustahik sesuai asnaf (golongan penerima), dengan kewajiban memberikan laporan tertulis secara berkala kepada Baznas Kabupaten Sleman sebagai bentuk pertanggungjawaban publik. (Wasana/KIM Depok)




Gerakan Zakat Fitrah Sedogan Perkuat Solidaritas, Distribusikan 1,7 Ton Beras untuk Warga Membutuhkan

Sleman — Mendekati penghujung Ramadan 1447 Hijriah, semangat berbagi di tingkat akar rumput semakin menguat melalui pengelolaan zakat fitrah yang terorganisir. Salah satu aksi nyata terlihat di Padukuhan Sedogan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, di mana panitia zakat setempat berhasil menghimpun dan menyalurkan bantuan pangan dalam jumlah signifikan untuk menjaga ketahanan sosial warga.

Kegiatan pengumpulan zakat fitrah yang dipusatkan di Mushola Sabililla Rosyad Sedogan pada Kamis (19/3/2026) ini bukan sekadar menjalankan ritual keagamaan tahunan. Gerakan ini menjadi instrumen penting untuk memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali, dapat menyambut hari raya Idulfitri dengan ketersediaan pangan yang mencukupi di meja makan mereka.

Ketua panitia zakat, Hari Widodo, menjelaskan bahwa kesadaran warga Sedogan untuk menunaikan kewajiban tepat waktu sangat tinggi. Berdasarkan data panitia, dari total 522 jiwa wajib zakat, terkumpul sebanyak kilogram beras. Seluruh hasil pengumpulan tersebut langsung didistribusikan kepada 139 kepala keluarga yang masuk dalam kategori penerima manfaat (mustahik), dengan besaran masing-masing sekitar 12,5 kilogram beras.

“Zakat fitrah bukan sekadar kewajiban individu, tetapi juga wujud nyata kepedulian sosial. Kami berupaya agar zakat yang terkumpul bisa dibagikan secara adil dan tepat sasaran. Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa kebahagiaan Idulfitri dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama dalam mencukupi kebutuhan pangan pokok mereka,” ujar Hari Widodo di sela proses distribusi.

Dalam teknis pelaksanaannya, panitia menetapkan standar zakat berupa beras minimal 2,5 kilogram per jiwa atau pilihan konversi uang tunai sebesar . Standar ini ditentukan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi wilayah setempat serta harga pasar beras saat ini agar nilai manfaat yang diterima oleh mustahik tetap optimal.

Ketua LPMkal Sedogan, Sutardi, menilai bahwa pengelolaan zakat berbasis komunitas seperti ini jauh lebih efektif karena faktor kedekatan emosional dan akurasi data warga. Menurutnya, transparansi dalam penyaluran menjadi kunci utama mengapa partisipasi masyarakat terus meningkat setiap tahunnya. Pendekatan lokal ini terbukti mampu memperkuat jaring pengaman sosial di tingkat padukuhan.

“Ketika zakat dikelola di tingkat komunitas, transparansi dan kedekatan emosional menjadi kunci. Ini yang membuat kepercayaan publik tetap terjaga. Gerakan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong masih menjadi fondasi kuat dalam kehidupan sosial masyarakat kita, terutama di bulan suci Ramadan,” ungkap Sutardi.

Fenomena gerakan zakat di Sedogan ini mencerminkan potret besar kedermawanan masyarakat Indonesia yang terus terjaga. Dengan pengelolaan yang amanah dan distribusi yang merata, zakat fitrah diharapkan tidak hanya menjadi pembersih diri bagi yang menunaikan, tetapi juga menjadi solusi nyata dalam menekan kesenjangan sosial di tengah kegembiraan menyambut hari kemenangan. (SBD/KIM Senyum Tempel)