Momentum Khatmil Qur’an di Masjid Al Hikmah Sedogan, Rawat Tradisi dan Syiar Islam di Bulan Ramadan

Sleman — Gema ayat suci Al-Qur’an memenuhi serambi Masjid Al Hikmah Sedogan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, dalam acara puncak Khatmil Qur’an, Senin (16/3/2026). Tradisi khataman Al-Qur’an ini menjadi magnet spiritual bagi jemaah laki-laki maupun perempuan yang berkumpul untuk merayakan tuntasnya pembacaan 30 juz di tengah kemuliaan bulan suci Ramadan.

Prosesi Khatmil Qur’an berlangsung penuh khidmat di bawah bimbingan langsung Muhdi Harjono selaku rois dan imam Masjid Al Hikmah. Jemaah tampak larut dalam kekhusyukan saat bait-bait terakhir Al-Qur’an dilantunkan secara bersama-sama, yang kemudian ditutup dengan doa khataman sebagai simbol permohonan rahmat dan keberkahan bagi seluruh lingkungan masyarakat sekitar.

Pengasuh takmir Masjid Al Hikmah, Juwarno, menekankan bahwa inti dari pelaksanaan Khatmil Qur’an adalah penguatan hubungan batin antara hamba dengan Sang Pencipta melalui kitab suci. Ia mengingatkan bahwa momen khataman ini merupakan garis awal untuk melangkah ke tahap yang lebih tinggi, yakni mendalami makna di balik setiap ayat yang telah dibaca.

“Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca hingga khatam, tetapi juga untuk dipahami dan diamalkan secara istikamah dalam kehidupan sehari-hari. Belajar Al-Qur’an adalah kewajiban setiap Muslim, namun tanggung jawab kita tidak berhenti di situ saja. Tradisi khataman ini adalah sarana kita untuk terus belajar dan mengajarkannya kembali kepada orang lain,” ujar Juwarno dalam tausiyahnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Khatmil Qur’an di Masjid Al Hikmah menjadi ruang edukasi bagi masyarakat tentang adab memuliakan Al-Qur’an. Jemaah diajak untuk membiasakan diri menyimak dengan tenang setiap kali ayat suci dibacakan agar rahmat Tuhan senantiasa mengalir. Selain dimensi spiritual, kegiatan ini secara nyata mampu menguatkan budaya literasi keagamaan dan mempererat silaturahmi antarjemaah di tingkat akar rumput.

Melalui tradisi Khatmil Qur’an yang terjaga rutin ini, jemaah diingatkan bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang dinamis. Tradisi yang sederhana namun penuh makna ini membuktikan bahwa nilai-nilai Islam tetap hidup subur di Lumbungrejo, membawa ketenangan dan kebijaksanaan bagi siapa saja yang menjadikan Al-Qur’an sebagai tuntunan hidupnya. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Jaka Tingkir Perkuat Budaya Baca Pelajar di Sleman

Sleman — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman terus melakukan manuver strategis untuk menumbuhkan kegemaran membaca di kalangan generasi muda. Melalui program inovasi bertajuk Jelajah Perpustakaan menuju Literasi yang Terkini dan Responsif atau Jaka Tingkir, pemerintah daerah berupaya menghadirkan layanan literasi yang lebih inklusif dan interaktif bagi para siswa di seluruh wilayah Sleman.

Program ini dirancang untuk mengubah citra perpustakaan yang semula dipandang statis menjadi pusat pembelajaran yang dinamis dan menyenangkan. Dengan mendatangi langsung institusi pendidikan, Jaka Tingkir memberikan pengalaman belajar yang segar bagi pelajar melalui berbagai koleksi buku dan edukasi literasi informasi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Christina Rini Puspitasari, menjelaskan bahwa fokus utama inovasi ini bukan sekadar teknis membaca, melainkan penguatan kemampuan analisis siswa. Menurutnya, di era digital yang penuh dengan arus informasi, kemampuan pelajar dalam menyaring dan memanfaatkan data secara bijak menjadi kompetensi yang sangat krusial.

“Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan memanfaatkan informasi secara bijak. Melalui inovasi ini, diharapkan semakin banyak siswa di Sleman yang tertarik untuk mengeksplorasi pengetahuan dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis agar siap menghadapi tantangan masa depan,” ujar Christina Rini Puspitasari di ruang kerjanya, Senin (16/3/2026).

Dalam pelaksanaannya, program Jaka Tingkir mengandalkan armada perpustakaan keliling sebagai media untuk menjangkau masyarakat secara luas. Fleksibilitas mobil perpustakaan ini memungkinkan layanan menyasar sekolah-sekolah di wilayah pedesaan hingga daerah yang memiliki akses terbatas terhadap fasilitas perpustakaan konvensional. Pendekatan jemput bola ini dinilai efektif dalam memangkas jarak antara sumber ilmu dengan para pencarinya.

Christina Rini Puspitasari menambahkan bahwa kehadiran armada keliling tersebut membawa berbagai koleksi mulai dari buku pengetahuan hingga majalah yang dapat diakses langsung oleh siswa di lingkungan sekolah mereka. Langkah ini sekaligus menjadi strategi pemerintah dalam membangun ekosistem literasi yang kuat dengan melibatkan peran aktif guru serta orang tua siswa.

“Armada keliling Jaka Tingkir mendatangi langsung ke sekolah-sekolah, menyajikan berbagai koleksi buku, majalah, dan sumber belajar lainnya, sekaligus mendekatkan layanan perpustakaan kepada mereka yang membutuhkan. Kami ingin memberikan pengalaman membaca yang lebih menyenangkan dan relevan bagi anak-anak agar membaca menjadi kebiasaan positif sehari-hari,” lanjutnya.

Secara regulasi, program ini merupakan implementasi dari Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 22 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Perpustakaan. Komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan standar layanan ini diharapkan mampu melahirkan generasi literat yang memiliki daya saing tinggi. Dengan pendekatan yang interaktif, perpustakaan kini diposisikan sebagai ruang kreatif yang mampu menginspirasi pelajar untuk terus belajar sepanjang hayat. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Sasar Tertib Administrasi, Pemkal Condongcatur Gelar Musrenbangkal Penyesuaian RPJMKal 2028-2029

Sleman — Pemerintah Kalurahan Condongcatur menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kalurahan (Musrenbangkal) guna menyesuaikan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kalurahan (RPJMKal) periode 2028-2029. Agenda yang berlangsung di ruang Wacana Loka Kalurahan Condongcatur pada Senin (16/3/2026) ini dilakukan sebagai tindak lanjut atas perubahan regulasi masa jabatan lurah.

Langkah strategis ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 yang memperpanjang masa jabatan lurah dari enam tahun menjadi delapan tahun. Dengan adanya penambahan masa jabatan selama dua tahun tersebut, arah kebijakan pembangunan kalurahan perlu diselaraskan agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menjelaskan bahwa penyusunan tambahan RPJMKal ini merupakan kewajiban administratif yang harus rampung sebelum akhir Maret 2026. Penyesuaian ini mencakup visi dan misi pembangunan yang akan dilaksanakan pada dua tahun tambahan masa jabatan tersebut, sehingga keberlanjutan program tetap terjamin secara legalitas.

“Pemerintah Kalurahan melakukan Musrenbangkal untuk mewujudkan tertib administrasi. Penetapan RPJMKal harus sudah dilakukan paling lambat tanggal 31 Maret 2026 dan disampaikan kepada Bupati serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan melalui Panewu selambat-lambatnya tanggal 8 April 2026 mendatang,” ungkap Reno Candra Sangaji di hadapan 60 peserta musyawarah.

Selain membahas regulasi, lurah juga memberikan peringatan terkait adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat yang berdampak pada pemangkasan Dana Desa secara signifikan. Kondisi ini menuntut pemerintah kalurahan untuk lebih selektif dalam menyusun skala prioritas program pembangunan hingga tahun 2029 mendatang.

“Perlu kami sampaikan bahwa pada tahun 2026 program 40 juta rupiah per RW masih tetap berjalan. Namun, untuk tahun 2027 sampai dengan 2029 kemungkinan nilainya akan mengalami penyesuaian atau pengurangan seiring keterbatasan anggaran. Oleh karena itu, melalui forum ini kita perlu bersama-sama menentukan program yang benar-benar prioritas agar pembangunan di Condongcatur tetap berjalan baik,” tambah Reno Candra Sangaji.

Carik Condongcatur, Riska Dian Nur Lestari, memandu jalannya musyawarah dengan memaparkan lima bidang rencana kerja kalurahan yang meliputi penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, pemberdayaan masyarakat, serta penanggulangan bencana. Ia menekankan bahwa penyusunan dokumen ini tetap mengedepankan partisipasi masyarakat sebagaimana diatur dalam Peraturan Bupati Sleman.

Ketua BPKal Condongcatur, Sunarto, mengapresiasi komitmen pemerintah kalurahan dalam menjaga pendekatan perencanaan berbasis aspirasi dari tingkat bawah. Ia menyarankan agar ke depannya optimalisasi pendapatan asli kalurahan melalui aset-aset seperti Pasar Desa Colombo lebih dimaksimalkan guna menopang pembangunan di tengah efisiensi dana dari pusat.

Kegiatan Musrenbangkal ini diakhiri dengan penandatanganan berita acara penyusunan tambahan RPJMKal tahun anggaran 2028-2029. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Lurah, BPKal, Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan, tokoh masyarakat, serta perwakilan unsur perempuan dan pemuda, sebagai simbol dimulainya babak baru perencanaan pembangunan yang lebih adaptif bagi warga Condongcatur. (Wasana/KIM Depok)




386 Ketua RT dan RW se-Caturtunggal Terima Insentif Tahap Pertama

Sleman — Pemerintah Kalurahan Caturtunggal secara resmi menyalurkan insentif kepada 386 Ketua RT dan RW yang tersebar di 20 padukuhan di wilayah tersebut. Penyerahan insentif yang berlangsung di Pendopo Puspadenta Kalurahan Caturtunggal pada Senin (16/3/2026) ini menjadi bentuk nyata penghargaan pemerintah atas dedikasi para pengurus kewilayahan sebagai ujung tombak pelayanan publik.

Pemberian insentif dilakukan secara simbolis kepada perwakilan Ketua RT dan RW. Keberadaan pengurus di tingkat akar rumput ini dinilai memiliki peran krusial dalam menjembatani program-program pemerintah kalurahan agar langsung menyentuh masyarakat, menjaga kerukunan, hingga memastikan ketertiban di lingkungan terkecil.

Penjabat Lurah Caturtunggal, Feri Ferdian, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kerja keras para Ketua RT dan RW yang tidak kenal lelah melayani warga. Menurutnya, sinergi yang kuat antara aparatur desa dan pengurus lingkungan merupakan kunci keberhasilan pembangunan di wilayah Caturtunggal yang memiliki dinamika sosial cukup tinggi.

“Atas nama Pemerintah Kalurahan Caturtunggal, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kinerja dan pengabdian para Ketua RT dan RW yang selama ini telah menjadi garda terdepan dalam melayani masyarakat. Kehadiran Bapak dan Ibu sekalian sangat membantu kami dalam memastikan program-program pemerintah berjalan dengan baik di lapangan,” ujar Feri Ferdian di hadapan para pengurus.

Dalam momentum yang berdekatan dengan suasana hari raya tersebut, Feri Ferdian juga menyampaikan permohonan maaf serta harapan agar kebersamaan yang telah terjalin dapat terus terjaga. Ia menegaskan bahwa pada tahun anggaran 2026 ini, penyaluran insentif direncanakan dilakukan dalam dua termin, di mana termin pertama diberikan pada hari ini dan termin kedua akan menyusul pada akhir tahun mendatang.

Selain penyampaian apresiasi, pemerintah kalurahan juga memberikan informasi penting terkait masa transisi kepengurusan RT dan RW di wilayah Caturtunggal yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada Juni mendatang. Transisi ini diharapkan dapat berjalan lancar demi keberlanjutan roda organisasi di tingkat padukuhan.

“Kami berharap kebersamaan dan sinergi yang telah terjalin selama ini dapat terus kita jaga demi kemajuan Kalurahan Caturtunggal. Penguatan peran RT dan RW sangat penting, terutama menjelang masa transisi kepengurusan agar pelayanan kepada warga tidak mengalami kendala,” tambah Feri Ferdian.

Para pengurus RT dan RW yang hadir menyambut positif perhatian dari pemerintah kalurahan tersebut. Mereka berharap dukungan dan ruang koordinasi yang terbuka dapat terus dipertahankan guna mewujudkan lingkungan Caturtunggal yang lebih tertib, aman, dan sejahtera. Kegiatan ini pun diakhiri dengan silaturahmi antara pengurus lingkungan dan jajaran perangkat kalurahan. (Oktaviana/KIM Depok)




RW 45 Kayen Condongcatur Konsisten Bagikan Paket Lebaran Selama 16 Tahun

Sleman — Menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, pengurus RW 45 Padukuhan Kayen, Kalurahan Condongcatur, kembali menghidupkan tradisi sosial yang telah terjaga selama belasan tahun. Pada Minggu (15/3/2026), sebanyak 132 paket bingkisan lebaran didistribusikan kepada seluruh keluarga di wilayah tersebut sebagai wujud apresiasi dan upaya mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Uniknya, proses distribusi dilakukan dengan skema jemput bola oleh para pemuda yang tergabung dalam Ikatan Muda Mudi Kayen RW 45 (IMAMIKA ’45). Paket senilai Rp150 ribu per unit yang berisi bahan pangan pokok seperti minyak goreng, gula pasir, sirup, hingga roti kaleng tersebut diantar langsung ke rumah-rumah warga. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap keluarga merasakan kebahagiaan menyambut hari raya sekaligus menumbuhkan semangat berbagi di kalangan generasi muda.

Ketua RW 45, Sukirman, menjelaskan bahwa kegiatan ini telah menjadi agenda rutin tahunan selama 16 tahun terakhir. Dana penyediaan paket bersumber dari pengelolaan kas RW yang dikombinasikan dengan bantuan para donatur lokal yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Bagi pengurus, bingkisan ini bukan sekadar bantuan materi, melainkan simbol kebersamaan.

“Bingkisan ini sebagai ‘Tondo Tresno’ atau ucapan terima kasih atas kerja sama yang baik antara warga dan pengurus RW selama ini. Kami berharap kegiatan ini dapat terus berlangsung dan semakin mempererat rasa kebersamaan serta kepedulian di antara warga masyarakat. Kebersamaan adalah modal utama kami dalam membangun lingkungan,” ujar Sukirman di sela kegiatan distribusi.

Keberhasilan program ini tidak lepas dari manajemen keuangan yang transparan di tingkat RW. Bendahara RW 45, Darisman, mengungkapkan bahwa prinsip pengelolaan dana mengacu pada asas dari warga, oleh warga, dan untuk warga. Setiap pemasukan, baik dari jimpitan ronda malam maupun uang pembangunan, dilaporkan secara rutin dalam pertemuan warga setiap malam Selasa Kliwon. Selain untuk bingkisan lebaran, dana tersebut juga dialokasikan untuk pemeliharaan aset, sarana prasarana, hingga santunan sosial bagi warga yang sakit atau meninggal dunia.

“Kami rutin membuat laporan tertulis setiap enam bulan sekali yang diedarkan ke seluruh warga sebagai bentuk transparansi dan tanggung jawab pengurus. Manajemen terbuka inilah yang membuat warga percaya untuk terus berkontribusi. Hasilnya kembali lagi ke warga dalam berbagai bentuk, termasuk paket lebaran dan pembangunan fasilitas lingkungan,” jelas Darisman.

Selain pembagian bingkisan, RW 45 juga dikenal memiliki tradisi Syawalan yang unik pada setiap 2 Syawal. Alih-alih menyewa gedung, warga memilih berkumpul di depan pos ronda atau perempatan jalan agar suasana lebih mencair dan dapat dihadiri oleh seluruh lapisan usia, mulai dari balita hingga lansia. Tradisi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam mengelola kerukunan warga melalui langkah-langkah sederhana namun bermakna. (Wasana/KIM Depok)