Kemenag Sleman Perkuat Sinergi Lintas Sektor, Teken MoU dengan Sejumlah Instansi

Sleman — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman menjalin kerja sama strategis dengan sejumlah instansi lintas sektor sebagai upaya memperkuat layanan publik dan tata kelola pemerintahan.

Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Badan Narkotika Nasional, Badan Pertanahan Nasional, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman.

Penandatanganan MoU berlangsung di sela Rapat Kerja Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman Tahun 2026, yang digelar pada Selasa (31/3/2026) di Ramada by Wyndham Hotel.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, Nadhif dalam sambutannya menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Kolaborasi dan sinergitas ini sebagai upaya untuk penguatan layanan publik, sarana edukasi sosial, penguatan data dan administrasi sekaligus untuk mendukung tata kelola pemerintahan yang baik,” ujarnya.

Rapat kerja tahun ini mengusung tema Asta Protas Bergerak, Kemenag Semakin Berdampak. Dalam kesempatan tersebut, Nadhif juga menyinggung program prioritas daerah, yakni Sleman Religi, yang merupakan amanat dari Bupati Sleman, Harda Kiswaya.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan sinergi lintas sektor, tetapi juga mendorong generasi muda untuk lebih dekat dengan aktivitas keagamaan guna membentuk masyarakat yang agamis dan berakhlak mulia.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Ahmad Bahiej, menegaskan bahwa rapat kerja ini merupakan tindak lanjut untuk menyatukan visi dan arah kebijakan dari tingkat pusat hingga daerah.

Ia mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kemenag Sleman untuk lebih aktif hadir di tengah masyarakat.

“Kerja kita tidak hanya untuk urusan duniawi namun juga untuk akhirat,” tuturnya di hadapan peserta raker yang terdiri dari jajaran pimpinan, kepala madrasah, kepala KUA, hingga pejabat fungsional.

Ahmad Bahiej juga menyoroti pentingnya peran rumah ibadah sebagai ruang pelayanan masyarakat, termasuk melalui program Rumah Ibadah Ramah Pemudik.

Selain itu, ia mendorong optimalisasi pengelolaan zakat dengan mendaftarkan unit pengumpul zakat di masjid dan pondok pesantren serta melaporkan hasilnya kepada Badan Amil Zakat Nasional.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengapresiasi berbagai capaian prestasi yang diraih Kemenag Sleman, mulai dari kinerja organisasi hingga penghargaan individu. Salah satu penghargaan Pegawai Teladan 2025 diraih oleh Tri Wahyuni.

“Saya dukung Sleman sebagai Kemenag nomor satu di DIY,” ujarnya Ahmad Bahiej.

Rangkaian kegiatan rapat kerja ditutup dengan penandatanganan deklarasi komitmen mewujudkan Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBK-WBBM), serta penandatanganan berita acara perjanjian kinerja dan pakta integritas oleh seluruh jajaran pimpinan, kepala madrasah, dan kepala KUA se-Kabupaten Sleman.




Cari Jati Diri dan Regenerasi, Sentra Bambu Sendari Eksis di Tengah Modernisasi

Sleman – Di pinggiran utara Yogyakarta, tepatnya di wilayah Sendari, denyut industri kerajinan bambu masih bertahan di tengah arus modernisasi. Sejak 1975, kawasan ini dikenal sebagai sentra mebel bambu yang pernah berjaya hingga menembus pasar internasional. Kini, di balik deretan kios dan anyaman bambu yang tertata rapi, tersimpan kegelisahan tentang identitas dan masa depan.

Berada di Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Sentra Industri Mebel Bambu “Bambu Indah” menjadi etalase utama karya para pengrajin. Tidak kurang dari 50 pengrajin masih bertahan di kawasan ini. Berbagai produk ditawarkan, mulai dari meja kursi, lincak, hingga kerajinan anyaman seperti kap lampu dan tudung saji.

Ketua Paguyuban Pengrajin Bambu Sendari, Radiyono menjelaskan bahwa produk asli khas Sendari sejatinya adalah mebel bambu. Namun, seiring perkembangan pasar, para pelaku usaha juga memajang produk anyaman dari luar daerah.

“Sebenarnya yang asli buatan pengrajin Sendari adalah mebel berupa meja kursi dan lincak. Namun dalam perkembangannya, kios Sendari juga memajang kerajinan anyaman bambu dari luar Sendari,” jelasnya, Rabu (1/4/2026).

Menurutnya, fleksibilitas menjadi kunci keberlangsungan usaha. Para pengrajin kini tidak hanya mengandalkan produk khas, tetapi juga menyesuaikan dengan permintaan konsumen.

“Pengrajin juga sering mendapat order sesuai dengan keinginan dari pembeli,” imbuh Radiyono.

Dalam hal bahan baku, kualitas tetap menjadi prioritas. Bambu didatangkan dari berbagai daerah seperti Kulonprogo, Cangkringan, Turi, Pakem, hingga Purworejo. Dari sejumlah sumber tersebut, bambu asal Purworejo dinilai paling memenuhi spesifikasi karena karakteristiknya yang keras, lentur, tebal, dan memiliki ukuran yang sesuai.

Secara geografis, Sendari memiliki potensi strategis. Lokasinya berada di jalur penghubung Godean–Cebongan dan berdekatan dengan destinasi wisata Embung Senja. Namun demikian, potensi tersebut belum mampu mengangkat Sendari sebagai ikon wisata di wilayah Mlati.

Radiyono menyebutkan, Mlati sebenarnya memiliki tiga kawasan potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata terpadu, yakni Janturan dengan wisata budaya, Sendari dengan industri bambu, serta Ketingan dengan wisata burung kuntul.

Ia berharap ada event yang mampu mengintegrasikan ketiga kawasan tersebut.

Berbagai upaya pengembangan telah dilakukan, mulai dari pelatihan desain hingga pendampingan pemasaran oleh pemerintah dan perguruan tinggi. Namun hasilnya dinilai belum signifikan. Salah satu kendala utama justru berasal dari internal paguyuban.

“Sebagai paguyuban pengrajin bambu, Bambu Indah sendiri belum bisa berkoordinasi dengan sesama anggota. Kami diwadahi tapi berjalan sendiri-sendiri,” tutur Radiyono.

Selain itu, keterbatasan tenaga terampil dan ruang produksi juga menjadi tantangan serius. Untuk itu, ia berharap adanya langkah konkret dalam regenerasi pengrajin, salah satunya melalui pendidikan.

“Harapannya, mata pelajaran kerajinan ini masuk dalam kurikulum sekolah sehingga bisa menjawab persoalan tenaga skill yang berkurang,” ujarnya.

Harapan tersebut berangkat dari sejarah panjang kejayaan Sendari. Produk bambu dari kawasan ini pernah menembus pasar ekspor ke berbagai negara seperti Australia, Prancis, Belanda, hingga Suriname.

Kini, di tengah persaingan dan perubahan zaman, Sendari seakan tengah mencari kembali jati dirinya, antara mempertahankan tradisi dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar modern. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




 Syawalan Posbinaan Darbin 3 Puskesmas Depok II Perkuat Silaturahmi dan Edukasi Kesehatan Jiwa

Sleman – Kegiatan Syawalan sekaligus pertemuan rutin Posbinaan Darbin 3 Puskesmas Depok II diselenggarakan di Warung Makan dan Pemancingan Moro Seneng, Pugeran, Maguwoharjo, pada Selasa (31/3/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh Tim 3 Puskesmas Depok II yang dipimpin dr. Pita Pertiwi beserta jajaran, para dukuh, serta kader kesehatan dari 12 posyandu di wilayah Padukuhan Dero, Ngringin, Ngropoh, dan Gempol.

Acara berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Momentum Syawalan dimanfaatkan sebagai ajang saling memaafkan sekaligus mempererat tali silaturahmi antar kader dan tenaga kesehatan.

Ketua Posbinaan Darbin 3, Kristini Ribut Suparman dalam sambutannya menyampaikan bahwa Syawalan menjadi momen penting untuk memperkuat kebersamaan dan meningkatkan semangat pengabdian.

“Syawalan ini menjadi momentum untuk saling memaafkan dan mempererat kebersamaan di antara kita,” ungkapnya.

Sementara itu, dr. Pita Pertiwi juga menyampaikan ucapan minal aidzin wal faidzin serta apresiasi dan terima kasih atas dedikasi para kader posyandu yang selama ini aktif dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Selain kegiatan silaturahmi, acara juga diisi dengan penyampaian materi mengenai kesehatan jiwa masyarakat dan remaja oleh psikolog Puskesmas Depok II, Pandu N. Pratama.

Dalam pemaparannya, Pandu menyampaikan bahwa kesehatan jiwa merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh, mencakup kemampuan individu dalam mengelola stres, berinteraksi sosial, serta berfungsi secara produktif.

Materi tersebut juga menyoroti berbagai risiko gangguan kesehatan jiwa pada setiap rentang usia.

Pada remaja, permasalahan yang sering muncul antara lain tekanan akademik, pengelolaan emosi, hingga pergaulan sosial.

“Sementara pada usia dewasa, faktor stres, tekanan hidup, serta kondisi psikologis menjadi pemicu utama gangguan kesehatan jiwa,” ujarnya.

Peserta juga diberikan pemahaman terkait deteksi dini gangguan jiwa, termasuk gejala psikosomatis akibat stres berkepanjangan. Selain itu, diperkenalkan teknik sederhana seperti square breathing untuk membantu mengelola stres dan menjaga kesehatan mental.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para kader posyandu semakin memahami pentingnya kesehatan jiwa serta mampu menjadi garda terdepan dalam edukasi dan deteksi dini di masyarakat.

Acara ditutup dengan ramah tamah yang semakin mempererat kebersamaan antar peserta. (Tri Suhartati KIM Depok)




KIM “Pijar Mlati” Resmi Dikukuhkan, Perkuat Keterbukaan Informasi di Mlati

Sleman – Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) “Pijar Mlati” resmi dikukuhkan pada Rabu (1/4/2026) di Pendopo Kapanewon Mlati. Kegiatan yang dimulai pukul WIB ini menjadi langkah awal dalam memperkuat keterbukaan informasi publik di wilayah Kapanewon Mlati.

Prosesi pengukuhan dipimpin langsung oleh Panewu Mlati, Dyah Purwanti yang secara resmi melantik pengurus KIM “Pijar Mlati” untuk periode 2026–2031.

Dalam sambutannya, Dyah Purwanti menyampaikan bahwa meskipun KIM “Pijar Mlati” merupakan forum yang baru terbentuk, keberadaannya diharapkan mampu menjadi jembatan informasi yang kredibel dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Kehadiran KIM diharapkan dapat mendorong terwujudnya masyarakat informasi yang cerdas, berdaya, serta memiliki literasi digital yang baik,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran KIM sebagai mitra pemerintah dalam menyebarluaskan informasi yang akurat, sekaligus menangkal penyebaran hoaks di tengah masyarakat.

Dengan dikukuhkannya KIM “Pijar Mlati”, diharapkan forum ini dapat berperan aktif dalam mendukung keterbukaan informasi publik, memperkuat komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, serta meningkatkan partisipasi warga dalam pembangunan di wilayah Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman. (Sri Rahayu / KIM Depok)




RAT Koperasi Desa Merah Putih Caturtunggal Bahas Pengembangan Usaha dan Penambahan Anggota

Sleman – Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Desa Merah Putih Kalurahan Caturtunggal digelar pada Selasa (31/3/2026) di Ruang Karang Tumaritis Kalurahan Caturtunggal. Kegiatan tersebut berlangsung lancar dengan partisipasi aktif dari seluruh anggota koperasi.

Acara itu dihadiri Penjabat Lurah Caturtunggal, Ketua BPKal, Business Assistant, pengurus koperasi, serta para anggota. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan dilanjutkan sambutan dari pengurus serta pemerintah kalurahan.

Ketua Koperasi Desa Merah Putih Caturtunggal, Sunu Agung Adi Cahyono dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif anggota, serta menekankan pentingnya menjaga komitmen bersama dalam mengembangkan koperasi.

Sementara itu, Penjabat Lurah Caturtunggal, Feri Ferdian menegaskan pentingnya sinergi antara pengurus dan anggota.

“Koperasi ini harus terus berjalan dan berkembang. Meskipun pelan, namun pasti. Dengan kebersamaan dan komitmen anggota, koperasi akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya warga Kalurahan Caturtunggal,” ujarnya.

Memasuki sidang pleno, agenda dilanjutkan dengan pembahasan dan pengesahan tata tertib serta penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) pengurus dan pengawas tahun buku 2025. Dalam laporan tersebut disampaikan bahwa koperasi menunjukkan perkembangan positif, termasuk peningkatan modal dan aktivitas usaha yang terus berjalan.

Pada sesi pandangan umum dan tanya jawab, anggota menyampaikan berbagai masukan strategis untuk pengembangan koperasi. Salah satu fokus utama adalah rencana penambahan anggota baru dengan target hingga 100 anggota dalam dua tahun mendatang.

Selain itu, dibahas pula penguatan bidang usaha koperasi, di antaranya pengembangan usaha penjualan sembako dengan estimasi keuntungan sekitar 2 persen. Anggota juga mengusulkan pengembangan usaha berbasis pesanan (by order) serta peluang kerja sama dengan berbagai pihak.

Dalam forum tersebut juga muncul harapan agar pengurus mendapatkan pendampingan dan bimbingan dalam pengembangan usaha, sekaligus peran koperasi dalam membantu memberikan solusi atas berbagai kendala di lapangan.

Kegiatan dilanjutkan dengan pengesahan LPJ, serta pembahasan dan pengesahan Rencana Kerja (RK) dan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Koperasi (RAPBK) tahun 2026. Acara kemudian ditutup dengan penandatanganan berita acara sebagai bentuk kesepakatan bersama.

Melalui pelaksanaan RAT ini, Koperasi Desa Merah Putih Kalurahan Caturtunggal diharapkan semakin berkembang secara profesional dan mampu memberikan manfaat nyata bagi anggota serta masyarakat luas. (Oktaviana / KIM Depok)