Satlat Demak Ijo Sleman Pertahankan Tradisi Bancakan sebagai Wujud Syukur Prestasi

Sleman – Tradisi bancakan yang dilakukan Satuan Latihan (Satlat) Tarung Derajat Demak Ijo Sleman, Rabu malam (8/4/2026) di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden menjadi momentum penting dalam meneguhkan rasa syukur atas keberhasilan para petarungnya dalam berbagai ajang kompetisi. Kegiatan ini bukan sekadar makan bersama, melainkan sarat nilai kebersamaan, solidaritas, dan penghormatan terhadap proses panjang yang telah dilalui.

Pelatih Satlat Tarung Derajat Demak Ijo, Feriyadi menegaskan bahwa tradisi ini merupakan bagian dari pembinaan karakter atlet. Tidak hanya fokus pada prestasi, namun juga membangun mental yang rendah hati dan tidak mudah berpuas diri meskipun telah meraih kemenangan.

Menurutnya, keberhasilan dalam kompetisi merupakan hasil kerja keras kolektif yang melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu, bancakan menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan bersama sekaligus sarana mempererat hubungan antaranggota.

“Bancakan digelar secara sederhana namun penuh makna, dengan menyajikan hidangan yang dinikmati bersama di atas alas daun pisang. Suasana keakraban begitu terasa ketika para petarung, pelatih, dan pengurus duduk sejajar tanpa sekat, mencerminkan semangat kesetaraan dalam keluarga besar tarung derajat,” ungkap Feriyadi.

Para petarung pun menyambut kegiatan ini dengan antusias. Mereka merasakan bahwa bancakan menjadi ruang refleksi atas perjalanan latihan yang penuh disiplin dan pengorbanan. Momen ini juga menjadi pengingat bahwa setiap capaian harus disertai rasa syukur.

Selain itu, tradisi bancakan dapat memperkuat nilai-nilai kearifan lokal yang terus dijaga di tengah modernisasi dunia olahraga. Satlat Tarung Derajat Demak Ijo menunjukkan bahwa prestasi tinggi dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya tradisional.

Lebih lanjut, Muhammad Ruslan yang juga pelatih tarung derajat di Satlat Demak Ijo menambahkan, kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi atlet muda agar memahami pentingnya menghargai proses. Dengan duduk bersama dan berbagi makanan, mereka belajar perihal arti kebersamaan, solidaritas, dan saling menghormati.

“Di sisi lain, bancakan memperlihatkan kepada masyarakat bahwa olahraga bela diri seperti tarung derajat memiliki dimensi sosial dan budaya yang kuat. Masyarakat akan memahami bahwa olahraga bela diri bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang nilai-nilai sosial, moral, dan budaya yang dijaga oleh petarung dan pengurus,” timpalnya.

Dengan terus mempertahankan tradisi bancakan, keluarga besar Satlat Tarung Derajat Demak Ijo berharap semangat kebersamaan, rasa syukur, dan disiplin akan tetap menjadi fondasi dan energi positif bagi petarung dalam menghadapi kompetisi berikutnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Pastikan Jaminan Kesehatan Tepat Sasaran, Kapanewon Depok Verifikasi Data BPJS Nonaktif

Sleman — Pemerintah Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, bergerak cepat melakukan verifikasi faktual terhadap data peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan yang berstatus nonaktif. Langkah ini dilakukan melalui pengecekan langsung ke lapangan atau ground check di Padukuhan Dero, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kamis (9/4/2026).

Kegiatan yang melibatkan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) ini bertujuan untuk menyisir kembali data warga agar program jaminan kesehatan yang dibiayai oleh pemerintah benar-benar menyasar masyarakat yang membutuhkan. Petugas mendatangi satu per satu rumah calon penerima manfaat guna memverifikasi kondisi sosial ekonomi terkini serta mencocokkan kesesuaian data administrasi kependudukan.

Perwakilan Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Subekti Handayani, menegaskan bahwa validasi data secara langsung merupakan instrumen penting untuk menjamin kualitas penyaluran bantuan sosial. Hal ini dilakukan guna menghindari adanya bantuan yang tidak tepat sasaran akibat data yang sudah tidak relevan atau tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

“Ground check dilakukan dengan mendatangi langsung calon penerima manfaat untuk memverifikasi kondisi sosial ekonomi serta kesesuaian data administrasi di lapangan. Dari hasil verifikasi ini, kita akan mendapatkan data penting yang dibutuhkan sehingga jaminan kesehatan benar-benar diberikan kepada mereka yang memang berhak menerima,” ujar Subekti Handayani di sela kegiatan verifikasi.

Subekti juga mengimbau agar proses pendataan ini berjalan secara objektif dan transparan. Ia meminta masyarakat untuk memberikan informasi sejujur-jujurnya mengenai kondisi ekonomi keluarga kepada petugas, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penetapan status penerima bantuan.

“Kami sangat mengharapkan peran aktif masyarakat untuk memberikan data yang akurat dan sesuai dengan kenyataannya. Kejujuran informasi ini sangat krusial karena kita ingin bantuan pemerintah benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga kurang mampu,” tambahnya.

Melalui langkah proaktif ini, Pemerintah Kapanewon Depok berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan publik di sektor kesejahteraan sosial. Verifikasi berkala seperti ini diharapkan mampu menciptakan sistem jaminan kesehatan yang lebih efektif, akuntabel, dan berkelanjutan bagi seluruh warga di wilayah Kabupaten Sleman. (Athiful/KIM Depok)




Atasi Krisis Sampah, Pemkab Sleman Targetkan Satu Padukuhan Satu Kelompok Pengelola Mandiri

Sleman — Kabupaten Sleman kini tengah berpacu dengan waktu untuk membenahi sistem pengelolaan limbah menyusul laporan kinerja periode 2020–2025 yang menunjukkan perlunya perubahan strategi besar-besaran. Pertumbuhan penduduk yang pesat serta penutupan TPA Piyungan menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk segera meninggalkan pola lama dan beralih ke pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat.

Langkah strategis ini dipertegas dalam Workshop Training of Trainers (TOT) Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) tahun 2026 di Hotel dan Convention Prima SR, Rabu (8/4/2026). Sebanyak 33 pendamping dari wilayah Sleman Barat, meliputi Kapanewon Seyegan, Godean, Minggir, dan Moyudan, dibekali kemampuan teknis untuk mengawal transformasi pengelolaan sampah di tingkat akar rumput.

Koordinator Pendamping Kawasan DLH Kabupaten Sleman, Dias Oktri Raka Setiadi, mengungkapkan bahwa model pembuangan terbuka atau open dumping yang selama ini dipraktikkan harus segera dihentikan. Selain merusak estetika, pola tersebut memicu munculnya gas metana yang berisiko ledakan serta polusi lindi yang membahayakan kesehatan lingkungan.

“Permasalahan sampah menjadi tantangan yang semakin kompleks seiring pertumbuhan penduduk. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan sampah yang terpadu dengan melibatkan berbagai pihak. Kita tidak bisa lagi sekadar membuang, tetapi harus mengelola sejak dari sumbernya guna menghindari risiko gas rumah kaca maupun dioksin berbahaya akibat pembakaran sampah yang tidak tepat,” ujar Dias Oktri Raka Setiadi di hadapan para peserta.

Berdasarkan data tahun 2025, setiap individu di Sleman rata-rata menghasilkan 0,36 kilogram sampah per hari, dengan dominasi sampah organik mencapai 52 persen. Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman mencanangkan target ambisius yakni pembentukan satu Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) di setiap padukuhan. KPSM ini dapat berupa bank sampah, sistem sedekah sampah, maupun tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R).

“Kami menargetkan satu padukuhan memiliki satu KPSM. Fokus utama pendampingan ini adalah memastikan setiap wilayah mampu melakukan pemilahan dan pengolahan sampah dari tingkat rumah tangga. Melalui sistem digital Siosestu, seluruh aktivitas KPSM akan terdaftar secara resmi di DLH, sehingga memudahkan proses operasional, monitoring, hingga evaluasi secara transparan dan real-time,” tegas Dias.

Untuk memperkuat gerakan ini, Pemkab Sleman juga menggandeng berbagai elemen masyarakat mulai dari relawan JPSM Sehati, Asosiasi TPS3R Resep, hingga anggota Pramuka Saka Kalpataru. Para petugas P3S yang baru dilatih ini akan memiliki masa kontrak sembilan bulan untuk melakukan sosialisasi di 17 kapanewon serta memfasilitasi pembentukan KPSM baru yang mandiri dan aktif.

Indikator keberhasilan program ini nantinya akan diukur dari peningkatan persentase pengolahan sampah dalam Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). Dias menekankan bahwa TOT ini hanyalah langkah awal dari perjuangan panjang menciptakan Sleman yang aman, sehat, resik, dan indah melalui gerakan ASRI yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat.

“TOT ini adalah tahapan awal untuk membekali pendamping dalam melakukan fasilitasi di lapangan. Keberhasilan kita akan diukur dari seberapa banyak KPSM yang aktif dan mampu masuk dalam jajaran pengelola terbaik. Dengan langkah serentak ini, kami optimistis Sleman mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Borong 56 Medali dan Juara Umum POPDA DIY, Prestasi Satlat Demak Ijo Jadi Potret Keberhasilan Pembinaan Atlet Pelajar di Kabupaten Sleman

Sleman — Capaian gemilang Satuan Latihan (Satlat) Tarung Derajat Demak Ijo yang sukses mengoleksi 56 medali dalam lima tahun terakhir menjadi indikator kuat kemajuan pembinaan olahraga di Kabupaten Sleman. Keberhasilan ini dinilai bukan sekadar kemenangan di atas matras, melainkan refleksi dari sehatnya ekosistem pembinaan atlet muda yang kini tengah berkembang pesat di wilayah tersebut.

Dominasi Satlat Demak Ijo, khususnya saat meraih predikat Juara Umum cabang olahraga tarung derajat pada POPDA DIY 2026, menggambarkan bahwa pola pembinaan di tingkat akar rumput telah berjalan selaras dengan target pemerintah daerah. Hal ini membuktikan bahwa sinergi antara satuan latihan, sekolah, dan orang tua mampu melahirkan atlet-atlet kompetitif yang siap bersaing di kancah provinsi maupun nasional.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Agung Armawanta, menegaskan bahwa prestasi kolektif tersebut merupakan bukti nyata bahwa manajemen olahraga di Sleman berada pada jalur yang benar. Keberhasilan Satlat Demak Ijo menjadi barometer bagi cabang olahraga lain dalam hal konsistensi pembinaan dan pengembangan bakat sejak dini.

“Capaian prestasi yang diraih para atlet di ajang POPDA DIY 2026 merupakan indikator positif bagi perkembangan olahraga pelajar di Kabupaten Sleman. Ini menunjukkan bahwa pembinaan di tingkat sekolah dan satuan latihan telah berjalan dengan sangat baik. Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama satlat, tetapi juga memperkuat posisi Sleman sebagai kekuatan utama olahraga di DIY,” ujar Agung Armawanta di Banyuraden, Rabu malam (8/4/2026).

Selain keunggulan teknik, perkembangan atlet di Sleman kini juga menitikberatkan pada penguatan karakter dan integritas. Pola pembinaan yang dilakukan di Satlat Demak Ijo menjadi contoh bagaimana seorang petarung dibentuk untuk tidak hanya tangguh di arena, tetapi juga memiliki disiplin dan etika yang tinggi di kehidupan sehari-hari.

Menanggapi tren positif ini, Pemerintah Kabupaten Sleman terus menunjukkan komitmennya dengan merencanakan pemberian bonus penghargaan bagi para peraih medali. Langkah strategis ini diambil untuk menjaga momentum prestasi dan memastikan motivasi atlet muda di Sleman tetap tinggi dalam menatap kompetisi-kompetisi mendatang.

“Langkah ini merupakan wujud komitmen pemerintah daerah dalam memberikan motivasi sekaligus penghargaan atas dedikasi dan perjuangan para atlet. Kami optimistis bahwa potensi atlet muda di daerah masih sangat besar dan perlu terus didorong melalui ekosistem pembinaan yang solid dan berkelanjutan,” tandas Agung.

Keberhasilan Satlat Demak Ijo kini menjadi inspirasi bagi berbagai organisasi olahraga lainnya di Sleman. Dengan pola pembinaan yang terstruktur dan dukungan penuh dari pemerintah daerah, Kabupaten Sleman diproyeksikan akan terus menjadi lumbung atlet berbakat yang berkontribusi bagi kemajuan olahraga nasional. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Tekan Angka Anak Tidak Sekolah, Pemkab Sleman Dorong Pelatihan Vokasi Sebagai Solusi Mandiri

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman terus memperkuat strategi penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) dengan mengedepankan pendekatan keterampilan praktis. Melalui kegiatan sosialisasi dan verifikasi data yang digelar di Youth Center Yogyakarta, Tlogoadi, Kamis (9/4/2026), pemerintah daerah mendorong jalur pendidikan nonformal dan pelatihan vokasi sebagai alternatif strategis bagi generasi muda yang terputus dari jalur sekolah formal.

Kegiatan ini menghadirkan praktisi dari Balai Latihan Kerja (BLK) untuk memberikan perspektif solusi yang lebih aplikatif bagi permasalahan sosial ekonomi yang sering menjadi akar penyebab anak putus sekolah. Fokus utama dalam pertemuan ini adalah bagaimana memberikan bekal nyata agar anak-anak tersebut tetap memiliki daya saing dan produktivitas meski berada di luar sistem sekolah konvensional.

Instruktur BLK Sleman, Muhammad Faishal Fakhri Wibowo, menekankan bahwa jalur vokasi harus dipandang sebagai peluang besar untuk mencetak tenaga kerja mandiri. Menurutnya, anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah tetap memiliki hak untuk berkembang melalui penguasaan keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

“Tidak semua anak harus kembali ke jalur pendidikan formal. Yang terpenting adalah mereka tetap mendapatkan keterampilan yang relevan agar bisa mandiri dan produktif. Melalui pelatihan di BLK, mereka dipersiapkan tidak hanya untuk menjadi tenaga kerja yang siap pakai, tetapi juga memiliki mentalitas untuk membuka peluang usaha sendiri di masyarakat,” ujar Muhammad Faishal Fakhri Wibowo di hadapan para peserta.

Berbagai program kejuruan ditawarkan sebagai solusi konkret, mulai dari tata boga, teknologi informasi, teknik las, otomotif, hingga teknisi ponsel dan kelistrikan. Keberagaman pilihan ini diharapkan mampu mengakomodasi minat bakat anak-anak ATS sehingga mereka kembali terhubung dengan ekosistem ekonomi yang lebih luas. Program-program tersebut dirancang secara intensif untuk mengasah kemampuan teknis sekaligus penguatan soft skill.

Sinergi antara pemerintah daerah, lembaga pelatihan, dan elemen masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini. Verifikasi data lapangan yang dilakukan secara akurat menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk memastikan setiap bantuan atau intervensi pelatihan tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi nyata yang dihadapi oleh masing-masing anak.

Antusiasme peserta, termasuk perwakilan dari 33 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Sleman, menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa penanganan ATS membutuhkan pendekatan yang fleksibel. Dengan melibatkan instruktur ahli, kegiatan ini membuka wawasan baru bahwa pendidikan berkualitas dapat ditempuh melalui jalur keterampilan yang langsung menyentuh dunia kerja.

Langkah strategis ini merupakan bagian dari kontribusi nyata Kabupaten Sleman dalam mendukung agenda nasional peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui optimalisasi jalur vokasi, diharapkan tidak ada lagi generasi muda di Sleman yang tertinggal dalam proses pembangunan daerah hanya karena hambatan akses pendidikan formal. (SBD/KIM Senyum Tempel)