Hadapi Krisis Sampah di Sleman, Bank Sampah Sejati Asri Konsisten Kelola Limbah Menjadi Nilai Ekonomi

Sleman — Persoalan sampah di Kabupaten Sleman kini memasuki fase krusial menyusul kebijakan desentralisasi pengelolaan sampah pascapenutupan TPA Piyungan sejak Mei 2024 lalu. Dengan volume sampah harian yang mencapai 700 ton dan berpotensi melonjak hingga 936 ton saat musim liburan, eksistensi kelompok pengelola sampah mandiri di tingkat padukuhan menjadi ujung tombak dalam mengatasi krisis lingkungan ini.
Sebagai bagian dari solusi nyata di lapangan, Bank Sampah Sejati Asri yang berlokasi di Sejati Pasar, Sumberarum, Moyudan, terus membuktikan eksistensinya. Sejak berdiri pada Mei 2017, lembaga ini konsisten mengedukasi warga untuk memilah sampah rumah tangga mereka menjadi tabungan yang bernilai ekonomi. Saat ini, sebanyak 30 nasabah aktif secara rutin menyetorkan sampah kering mereka setiap bulan.
Ketua Bank Sampah Sejati Asri, Sri Marzunah, mengungkapkan bahwa perjalanan mengelola bank sampah di tengah arus modernisasi memiliki tantangan tersendiri. Meski jumlah nasabah sempat mengalami penurunan dibandingkan awal berdiri, pihaknya tetap bertahan demi menjaga kelestarian lingkungan di wilayah Sumberarum.
“Saat awal berdiri, kami memiliki 40 nasabah, tetapi ada yang mundur karena lebih memilih menjual langsung kepada pencari rongsokan keliling. Namun, kami tetap bertahan karena misi utama kami adalah pengelolaan yang terorganisir. Setiap bulannya, kami mampu menampung rata-rata 40 kilogram berbagai jenis sampah yang kemudian diambil oleh pihak ketiga untuk didaur ulang,” ujar Sri Marzunah di Rumah Pengelolaan Sampah, Minggu (12/4/2026).
Selain fluktuasi jumlah nasabah, kendala utama yang dihadapi saat ini adalah minimnya keterlibatan generasi muda dalam operasional pengelolaan sampah. Sri Marzunah menekankan bahwa tenaga muda sangat dibutuhkan, terutama dalam mengoperasikan sistem pelaporan digital terbaru dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman.
“Kami masih sangat membutuhkan tenaga muda dalam kegiatan ini, apalagi sekarang laporan harus menggunakan aplikasi Sios Estu. Aplikasi Sistem Informasi Operasional Pengelolaan Sampah Terpadu ini merupakan terobosan baru untuk melaporkan pengelolaan sampah secara akurat ke pemerintah daerah. Kami berharap anak muda tidak lagi canggung untuk terjun langsung mengurusi sampah demi masa depan lingkungan mereka,” tambahnya.
Eksistensi Bank Sampah Sejati Asri ini sejalan dengan target Pemerintah Kabupaten Sleman yang mencanangkan gerakan “Satu Padukuhan Satu Kelompok Pengelola Sampah” pada tahun 2026. Di Kapanewon Moyudan sendiri, telah tumbuh sekitar 35 kelompok pengelola sampah, baik dalam bentuk bank sampah maupun sedekah sampah. Keberadaan kelompok-kelompok ini diharapkan mampu mengurangi beban sampah daerah dengan menyelesaikan persoalan mulai dari level terkecil.
Seluruh hasil penjualan sampah yang dikumpulkan nasabah Sejati Asri ditabung dan dibagikan setiap akhir tahun. Model ini terbukti tidak hanya membantu menciptakan lingkungan yang bersih, tetapi juga memberikan tambahan pendapatan bagi warga. Melalui konsistensi para pengurus, Bank Sampah Sejati Asri optimistis kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah akan terus meningkat di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. (Giek/KIM Moyudan)



