GEMPAR di Pasar Cebongan, Kapanewon Mlati Dorong Penguatan Ekonomi Rakyat

Sleman – Dalam upaya memperkuat denyut nadi ekonomi kerakyatan, Kapanewon Mlati menggelar kegiatan Gerakan Meramaikan Pasar Rakyat (GEMPAR), yang dipusatkan di Pasar Cebongan, Jumat (24/4/2026).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Panewu Mlati, Dyah Purwanti bersama jajarannya. Suasana pasar tampak lebih meriah dengan kehadiran unsur Forkopimcam, mulai dari perwakilan Koramil hingga pemerintah kalurahan.

Turut hadir dalam aksi ini Lurah Tlogoadi dan Lurah Sumberadi, masing-masing didampingi oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kalurahan serta jajaran pengurus PKK Kapanewon Mlati. Kehadiran mereka bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk dukungan nyata dengan berbelanja langsung di lapak-lapak pedagang pasar tradisional.

Panewu Mlati, Dyah Purwanti, menyampaikan bahwa gerakan ini merupakan langkah strategis untuk memotivasi masyarakat agar kembali mencintai dan berbelanja di pasar rakyat.

“Melalui kegiatan GEMPAR, diharapkan mampu menumbuhkembangkan perekonomian di sektor perdagangan, khususnya di wilayah Kapanewon Mlati, sehingga pedagang lokal semakin berdaya dan sejahtera,” ungkapnya.

Dengan adanya kolaborasi lintas sektor ini, Pasar Cebongan diharapkan tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi wilayah. (Rd. Novendra Jordan / KIM Mlati)




Simulasi Gempa di Wukirsari Tingkatkan Kesiapsiagaan Warga Hadapi Bencana

Sleman — Dalam rangka menyambut Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) Nasional 2026 yang diperingati setiap 26 April, Pemerintah Kalurahan Wukirsari menggelar simulasi bencana gempa bumi di Balai Kalurahan, Kamis (24/4/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Siap untuk Selamat: Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana.”

Simulasi melibatkan pamong dan staf kalurahan, para dukuh, serta anggota Kampung Siaga Bencana. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan, kemampuan evakuasi mandiri, serta memperkuat koordinasi saat terjadi situasi darurat.

Kegiatan diawali dengan briefing di Ruang Rapat Sadewa yang dipimpin oleh Carik Wukirsari sekaligus Ketua Kampung Siaga Bencana, Ruswantoro bersama Jagabaya Wukirsari, Nana Widiatmanto.

Dalam arahannya, Ruswantoro menegaskan bahwa simulasi ini merupakan bagian penting dalam membangun kesiapan nyata.

“Simulasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi untuk memastikan seluruh pamong dan masyarakat memahami langkah yang harus dilakukan saat terjadi bencana,” ujarnya.

Usai pengarahan, peserta kembali ke posisi masing-masing dan aktivitas dibuat menyerupai kondisi kerja normal guna menghadirkan situasi yang realistis. Saat sirine berbunyi sebagai tanda terjadinya gempa, seluruh peserta segera menerapkan prosedur Drop, Cover, and Hold On dengan berlindung di bawah meja dan melindungi diri dari potensi bahaya.

Dalam skenario simulasi, terdapat korban luka yang harus ditangani sebagai bagian dari latihan tanggap darurat. Setelah gempa dinyatakan reda, peserta melakukan evakuasi menuju titik kumpul melalui jalur yang telah ditentukan dengan tertib dan terorganisir.

“Yang terpenting saat gempa adalah tetap tenang dan mengikuti prosedur evakuasi dengan benar. Kepanikan justru meningkatkan risiko,” ungkap Jagabaya Wukirsari, Nana Widiatmanto.

Di titik kumpul, dilakukan pendataan untuk memastikan seluruh peserta telah dievakuasi dengan aman. Tim evakuasi kemudian menyisir setiap ruangan untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal. Korban yang ditemukan dievakuasi menggunakan tandu dan segera mendapatkan penanganan dari tim medis.

Tim kesehatan memberikan pertolongan pertama secara sigap, didukung koordinasi yang solid antara tim evakuasi dan tim medis. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi evaluasi guna mengidentifikasi kekurangan serta meningkatkan kesiapsiagaan ke depan.

Melalui simulasi ini, Pemerintah Kalurahan Wukirsari berharap kesadaran dan kesiapan masyarakat terhadap bencana semakin meningkat. Dengan latihan yang berkelanjutan, Wukirsari diharapkan menjadi wilayah yang tangguh dan responsif dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana. (Lilik/KIM Wara Aji Cangkringan)




Deteksi Dini Tumbuh Kembang, Puskesmas Depok II Gelar PKAT bagi Bayi Usia 6 Bulan

Sleman – Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan anak sejak dini, Puskesmas Depok II menyelenggarakan kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT) pada Jumat (24/4/2026) di Aula Puskesmas Depok II. Kegiatan ini diikuti oleh 16 balita, khususnya bayi usia 6 bulan, bersama orang tua mereka.

PKAT merupakan layanan pemeriksaan kesehatan anak yang komprehensif sebagai bagian dari integrasi layanan primer, dengan fokus pada upaya promotif dan preventif untuk memantau tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Melalui kegiatan ini, petugas kesehatan melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan gangguan tumbuh kembang, sekaligus mengevaluasi pemberian ASI dan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Orang tua juga mendapatkan edukasi terkait pola asuh yang tepat guna mendukung pertumbuhan optimal anak.

Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan, pemantauan pertumbuhan, serta konsultasi langsung mengenai gizi dan perawatan bayi. Para orang tua tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, khususnya pada sesi edukasi yang memberikan tambahan wawasan dalam pengasuhan anak.

Pengampu PKAT Puskesmas Depok II, Erna Widyaningsih menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memastikan kesehatan balita tetap terpantau sejak dini.

“Melalui PKAT, kami berharap tumbuh kembang balita dapat dipantau secara optimal sehingga apabila ditemukan permasalahan dapat segera ditangani,” ujarnya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan kesadaran orang tua terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin semakin meningkat, sehingga tumbuh kembang anak dapat terjaga dengan baik dan berkelanjutan. (Tri Suhartati KIM Depok)




Peluncuran SPPG Sumberrejo Tempel, Perkuat Layanan Gizi Berbasis Komunitas

Sleman — Upaya memperkuat pemenuhan gizi masyarakat terus didorong melalui peluncuran dan sosialisasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sleman Tempel Sumberrejo, yang digelar di Aula Kalurahan Sumberrejo, Tempel, Sleman, Jumat (24/4/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam membangun sistem layanan gizi yang terintegrasi dan berkelanjutan di tingkat komunitas. Acara dihadiri oleh unsur Pimpinan Muhammadiyah, pemerintah kapanewon, pemerintah kalurahan serta perwakilan TNI dan Polri, sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Dalam sambutannya, perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, H Yayan Suryana menegaskan bahwa isu gizi merupakan tantangan bersama yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

“SPPG ini diharapkan menjadi model pelayanan yang mampu menjangkau masyarakat secara langsung dan berkelanjutan. Muhammadiyah berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Untuk SPPG Sumberrejo ini adalah dapur ke-12 di wilayah Tempel yang bermitra dengan Muhammadiyah,”ujarnya.

Panewu Anom, Eni Yuliani pun mengapresiasi inisiatif tersebut. Ia menilai kehadiran SPPG menjadi bagian penting dalam memperkuat pelayanan dasar masyarakat.

“Kami menyambut baik peluncuran SPPG ini sebagai bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Program ini tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi generasi mendatang dan di seluruh Kapanewon Tempel ini merupakan SPPG ke-5 dari delapan yang direncanakan,” tuturnya.

Kepala SPPG Sumberrejo Tempel, Dwi Putro Wicaksono, menjelaskan bahwa kesiapan dapur dan sistem operasional menjadi fondasi utama layanan. 

“Kami memastikan setiap proses, mulai dari pengolahan hingga distribusi, memenuhi standar kualitas dan nilai gizi. Harapannya, layanan ini dapat berjalan konsisten dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Sesi pemaparan materi terkait kesiapan dapur SPPG dan mekanisme pelayanan menjadi perhatian utama para peserta. Diskusi interaktif yang berlangsung menunjukkan tingginya antusiasme terhadap implementasi program di lapangan, termasuk peluang replikasi di wilayah lain.

Peluncuran SPPG Sleman Tempel Sumberrejo ini diharapkan menjadi tonggak awal penguatan layanan gizi berbasis komunitas yang dapat diadaptasi di berbagai daerah di Indonesia. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)




Kenalkan Konservasi Air Sejak Dini, 230 Siswa SMP Labschool Cibubur Belajar Teknologi Air Hujan di SAH Banyu Bening Sleman

Sleman – Sebanyak 230 siswa Kelas VIII SMP Labschool Cibubur mengikuti kegiatan pembelajaran teknologi pemanfaatan air hujan di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Sleman, pada Kamis (23/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi lingkungan berbasis praktik langsung yang mengedepankan inovasi pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.

Dalam kunjungan tersebut, para siswa dikenalkan pada teknologi ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan), sebuah sistem yang dirancang untuk menangkap, menyaring, dan menyimpan air hujan agar dapat dimanfaatkan kembali dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi ini dinilai relevan sebagai solusi alternatif menghadapi potensi krisis air bersih di masa depan.

Para siswa tidak hanya menerima materi teoritis, namun juga diajak melihat secara langsung proses kerja instalasi ISLAH. Mulai dari tahap penangkapan air melalui atap bangunan, proses filtrasi bertingkat, hingga penyimpanan dalam tangki khusus yang menjaga kualitas air tetap layak digunakan.

Selain itu, siswa juga mempelajari teknologi elektrolisa air hujan yang digunakan untuk meningkatkan kualitas air melalui proses pemisahan senyawa menggunakan arus listrik. Metode ini memberikan pemahaman ilmiah kepada siswa mengenai potensi pengolahan air berbasis teknologi sederhana namun efektif.

Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih menjelaskan bahwa edukasi semacam ini penting untuk menanamkan kesadaran sejak dini terkait pentingnya konservasi air.

“Air hujan merupakan sumber daya yang melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat,’ ujarnya.

Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi siswa. Mereka dapat memahami keterkaitan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan isu lingkungan global.

“Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk pola pikir kritis sekaligus solutif terhadap permasalahan lingkungan,” tandas Sri.

Ia juga menjelaskan tentang konsep 5 M (Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, Mandiri). Pada konsep menampung diperkenalkan tekhnologi ISLAH, dimana air hujan disaring melalui tiga kali filterisasi.

Sedangkan dalam konsep mengolah, diperkenalkan tekhnologi Elektrolisa. Ccara kerjanya dengan memecah molekul air H2O di pecah menjadi gas Hidrogen(H2) dan gas oksigen (O2), agar meningkatkan kualitas air hujan yang sudah bagus menjadi air bermulti fungsi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya memahami pentingnya pelestarian lingkungan, tetapi juga mampu berkontribusi secara nyata melalui inovasi teknologi sederhana yang berdampak luas bagi keberlanjutan sumber daya air. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)