Tantangan Menjaga Kedalaman Dakwah di Tengah Algoritma Digital

Sleman — Fenomena pergeseran ruang dakwah dari mimbar tradisional ke platform digital menjadi bahasan utama dalam talkshow bertajuk “Akar Budaya dalam Arus Dakwah Digital: Refleksi Budaya, Literasi, dan Dakwah di Zaman Algoritma”. Kegiatan yang digelar dalam rangka Miladiyah ke-27 UKM JQH Al Mizan UIN Sunan Kalijaga ini berlangsung di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Senin (20/4/2026).

Acara ini menghadirkan dua tokoh penting, yakni pengasuh Pondok Pesantren Kali Opak sekaligus budayawan muslim, Jadul Maula, serta penulis sekaligus pendiri akun dakwah populer Dawuh Guru, Ali Adhim. Diskusi ini diikuti oleh ratusan mahasiswa, penggiat literasi, serta peserta lomba yang ingin mendalami bagaimana pesan agama tetap memiliki substansi kuat di tengah derasnya arus informasi media sosial.

Dalam pemaparannya, Jadul Maula menegaskan bahwa agama tidak pernah hadir di ruang hampa, melainkan selalu tumbuh dan berkembang di tengah denyut budaya masyarakat. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan Islam berakar kuat di Nusantara adalah berkat kemampuannya menyatu dengan tradisi lokal. Pesantren, menurutnya, memiliki posisi sentral sebagai benteng pelestarian budaya sekaligus penjaga nilai-nilai keislaman yang moderat.

“Agama dan budaya itu berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan. Islam memberikan arah etik dan nilai-nilai spiritual, sementara budaya menjadi medium ekspresi serta wadah bagi nilai-nilai tersebut untuk membumi di tengah masyarakat,” ungkap Jadul Maula.

Di sisi lain, Ali Adhim menyoroti tantangan teknis dan moral yang dihadapi para pendakwah di era digital. Ia tidak menampik bahwa media sosial dan platform video merupakan sarana paling efektif untuk menjangkau generasi muda saat ini. Namun, ia memperingatkan adanya risiko penyederhanaan pesan keagamaan demi mengejar keterlibatan atau engagement yang tinggi dari netizen.

“Di ekosistem digital, pesan sering kali dinilai hanya dari jumlah tayangan dan interaksi, bukan lagi pada kedalaman maknanya. Ini menjadi tantangan besar bagi para dai agar tetap menjaga substansi materi dakwah agar tidak dangkal hanya demi viral. Kita harus bijak menggunakan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, agar tetap pada koridor kebenaran,” jelas Ali Adhim.

Melalui talkshow ini, UKM JQH Al Mizan berupaya mendorong para anggotanya dan generasi muda pada umumnya untuk menjadi agen dakwah yang adaptif namun tetap memegang teguh kaidah menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik. Pemanfaatan media digital harus dilandasi tujuan mulia agar pesan damai Islam dapat tersampaikan secara luas tanpa kehilangan ruh budaya asalnya.

Kegiatan ditutup dengan penekanan pentingnya literasi digital bagi para penggiat dakwah. Dengan literasi yang baik, diharapkan konten-konten keagamaan yang muncul di ruang publik digital tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga mampu memberikan pencerahan yang menyejukkan bagi masyarakat luas di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Turun ke Sungai, Lurah Wukirsari Pimpin Aksi Bersih Kali Tepus Bersama Warga

WUKIRSARI — Pemerintah Kalurahan Wukirsari menegaskan komitmennya terhadap pelestarian ekosistem air melalui aksi nyata di lapangan. Lurah Wukirsari, Handung Tri Rahmawan, turun langsung menyusuri aliran sungai dalam kegiatan bersih Sungai Tepus yang dipusatkan di wilayah Dusun Kiyaran pada Minggu (19/4/2026) pagi.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman bersama Komunitas Kali Tepus ini mengedepankan semangat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor. Sejak pagi hari, para relawan yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat telah berkumpul di Pendopo Dusun Kiyaran untuk mendapatkan arahan teknis sebelum menyisir aliran sungai yang melintasi pemukiman warga tersebut.

Sejumlah pihak turut ambil bagian dalam aksi lingkungan ini, mulai dari jajaran Polsek Cangkringan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Wukirsari, hingga warga dari Hunian Tetap (Huntap) Dongkelsari. Untuk memaksimalkan jangkauan pembersihan, para peserta dibagi menjadi dua kelompok besar yang menyisir titik berbeda guna memastikan seluruh sampah dan material penghambat aliran air dapat terangkat dengan sempurna.

Lurah Wukirsari, Handung Tri Rahmawan, tampak aktif membaur di tengah warga dengan memungut sampah di sepanjang aliran sungai. Kehadirannya bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi simbol kepemimpinan partisipatif yang diharapkan mampu memantik semangat warga dalam menjaga keasrian lingkungan tempat tinggal mereka.

“Menjaga kebersihan sungai adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah atau komunitas tertentu saja. Dengan turun langsung seperti ini, kita ingin menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa lingkungan yang bersih dan sehat dimulai dari kepedulian kecil setiap individu terhadap sumber airnya,” ujar Handung Tri Rahmawan di sela-sela kegiatannya membersihkan sungai.

Sepanjang kegiatan, suasana kebersamaan begitu kental terasa. Berbagai jenis sampah plastik dan limbah rumah tangga yang sebelumnya mengotori aliran sungai berhasil diangkat, sehingga kondisi Sungai Tepus kini nampak jauh lebih bersih dan alirannya kembali lancar. Efek jangka pendeknya adalah pengurangan risiko banjir luapan saat hujan deras sekaligus mengembalikan fungsi sungai sebagai elemen estetika desa.

Lebih dari sekadar aksi fisik, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mempererat sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan komunitas pecinta alam. Partisipasi aktif dari berbagai elemen ini menunjukkan bahwa tantangan lingkungan di tingkat lokal dapat diatasi dengan baik melalui pola kolaborasi yang terencana.

Pemerintah Kalurahan Wukirsari berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut dan bertransformasi menjadi budaya masyarakat setempat. Dengan meningkatnya kesadaran publik untuk tidak membuang sampah ke sungai, Kali Tepus diharapkan tetap terjaga kelestariannya sehingga mampu memberikan manfaat ekologis dan ekonomi yang berkelanjutan bagi kehidupan warga di sekitarnya. (Lilik/KIM Wara Aji Cangkringan)




Revitalisasi Olahraga Tradisional Jadi Kunci Perkuat Identitas Bangsa di Era Digital

Sleman — Upaya menjadikan permainan rakyat dan olahraga tradisional sebagai instrumen pembangunan karakter bangsa dinilai kian relevan di tengah derasnya arus globalisasi. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya lokal Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran sosial dan etika yang selaras dengan prinsip-prinsip Pancasila.

Permainan tradisional seperti gobak sodor, egrang, hingga bakiak panjang terbukti mampu menanamkan nilai kerja sama, sportivitas, dan tanggung jawab sejak dini. Aktivitas fisik ini mengajarkan setiap individu untuk menghargai aturan, menjunjung tinggi kejujuran, serta membangun solidaritas kelompok yang kuat dalam interaksi sosial langsung.

Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman, Syukron Arief Muttaqin, menegaskan pentingnya integrasi olahraga tradisional ke dalam sistem pendidikan dan kegiatan kemasyarakatan. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri pembukaan lomba olahraga tradisional dalam rangka HUT ke-92 Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Lapangan Baratan, Candibinangun, Sleman, Minggu (19/4/2026) siang.

“Di era globalisasi dan digitalisasi saat ini, kita dihadapkan pada tantangan degradasi nilai sosial. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan berbasis budaya yang mampu memperkuat identitas sekaligus membangun kepribadian generasi muda yang berakar pada nilai luhur bangsa. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda yang berintegritas,” ujar Syukron Arief Muttaqin di sela-sela kegiatan.

Syukron menambahkan bahwa olahraga asli Indonesia bukan sekadar aktivitas rekreatif, melainkan wahana pendidikan karakter yang efektif. Dalam setiap pergerakan dan strategi permainan, terkandung nilai disiplin dan kejujuran yang menjadi modal utama dalam kehidupan bermasyarakat. Semangat ini dinilai sangat sejalan dengan napas Pancasila yang menekankan keseimbangan antara hak individu dan kewajiban kolektif.

Lebih lanjut, ia menyoroti nilai gotong royong yang menjadi elemen kunci dalam membangun solidaritas sosial melalui olahraga rakyat. Pola interaksi yang intensif dalam permainan tradisional membentuk karakter individu yang tidak egois dan lebih berorientasi pada kepentingan bersama. Hal ini dianggap sebagai penawar bagi kecenderungan generasi muda saat ini yang lebih akrab dengan permainan digital bersifat individualistik.

“Nilai-nilai dalam olahraga tradisional ini selaras dengan semangat Pancasila. Ada keseimbangan antara individu dan kelompok. Di tengah dominasi budaya populer global, revitalisasi permainan rakyat menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara modernitas dan kearifan lokal agar jati diri bangsa tidak terkikis,” tambahnya.

KPOTI Sleman bersama pemerintah daerah terus mendorong pengarusutamaan olahraga tradisional sebagai bagian dari pembangunan nasional. Langkah konkret seperti integrasi ke dalam kurikulum pendidikan, penyelenggaraan festival budaya secara rutin, serta dukungan terhadap komunitas pelestari diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan warisan luhur ini tetap lestari bagi generasi mendatang. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Siapkan Pemimpin Masa Depan, Pemkab Sleman Gelar Pembinaan Organisasi Kepemudaan di Ngaglik

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman terus berkomitmen mencetak generasi muda yang tangguh, komunikatif, dan inspiratif melalui rangkaian pembinaan Organisasi Kepemudaan (OKP). Kegiatan yang berlangsung pada Senin (20/4/2026) ini digelar di Rumah Makan Ikan Manyung Bandulan, Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, dengan fokus utama penguatan kapasitas kepemimpinan di tingkat akar rumput.

Pembinaan ini diikuti oleh 40 perwakilan pemuda yang berasal dari Kapanewon Ngaglik dan Kapanewon Cangkringan. Selama dua hari, para peserta akan digembleng dengan berbagai materi mulai dari kepemimpinan, teknik berbicara di depan umum (public speaking), hingga penguatan kerja sama tim melalui aktivitas outbound yang dipandu oleh tim DSN Outbound dari Karang Taruna Sardonoharjo.

Sabarudin dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman dalam sambutannya menegaskan bahwa pemuda memiliki posisi tawar yang strategis sebagai agen perubahan. Ia mengingatkan bahwa menjadi pemimpin muda yang inspiratif harus dimulai dari gaya hidup yang sehat dan integritas diri yang kuat, termasuk keberanian untuk menjauhi narkoba serta minuman keras.

“Pemuda harus menjadi inspirasi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, menjaga kesehatan dengan pola makan bergizi dan rutin berolahraga sangatlah penting. Olahraga bukan hanya tentang kebugaran fisik, tetapi juga merupakan sarana membentuk karakter disiplin dan semangat juang yang tinggi bagi seorang pemimpin,” ujar Sabarudin di hadapan para peserta.

Lebih lanjut, Sabarudin memaparkan bahwa Dispora Sleman telah menyiapkan sejumlah agenda strategis pada tahun 2026 untuk mewadahi kreativitas pemuda, seperti pemilihan pemuda pelopor dan kegiatan kemah pemuda. Program-program tersebut dirancang untuk mengidentifikasi potensi unggul yang ada di setiap wilayah di Kabupaten Sleman.

Penyelenggaraan kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara eksekutif dan legislatif, di mana inisiatif pembinaan lahir melalui pokok-pokok pikiran anggota DPRD Kabupaten Sleman, Timbul Saptowo. Dukungan ini menunjukkan adanya komitmen lintas sektor dalam mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia di kalangan generasi muda.

Melalui pelatihan intensif ini, para peserta diharapkan tidak hanya mahir dalam berorganisasi secara teknis, tetapi juga mampu menjadi teladan positif bagi lingkungan sekitarnya. Dengan kemampuan komunikasi yang baik dan jiwa kepemimpinan yang matang, pemuda Sleman diproyeksikan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan daerah yang berkelanjutan. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




HUT ke-24 Paguyuban SMS di Jakarta, Wakil Bupati Sleman Dorong Perantau Jadi Agen Kebudayaan

Sleman — Paguyuban Sleman Manunggal Sembada (SMS) merayakan hari jadinya yang ke-24 dengan penuh kemeriahan di Anjungan DIY, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (19/4/2026). Momentum ini menjadi ajang penguat silaturahmi bagi warga perantau asal Bumi Sembada sekaligus penegasan peran mereka sebagai duta budaya di ibu kota.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, yang hadir langsung dalam acara tersebut menekankan bahwa masyarakat Sleman di perantauan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga citra daerah. Di usia yang hampir menyentuh seperempat abad, Paguyuban SMS diharapkan tidak hanya sekadar menjadi wadah berkumpul, tetapi juga menjadi motor penggerak pelestarian nilai-nilai luhur Yogyakarta di luar daerah.

“Nilai-nilai Manunggal Sembada yang kita junjung tinggi, yakni persatuan, kebersamaan, dan semangat gotong royong, merupakan kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Setiap anggota SMS adalah duta Sleman yang membawa warna baik daerah kita. Saya berharap setiap anggota memiliki kewajiban untuk ikut memajukan Sleman melalui kemampuan dan profesinya masing-masing,” ujar Danang Maharsa di hadapan ratusan anggota paguyuban.

Danang juga memberikan apresiasi tinggi kepada Paguyuban SMS yang konsisten mempromosikan kekayaan budaya lokal di Jakarta. Menurutnya, kolaborasi yang selama ini terjalin antara paguyuban dengan Pemerintah Kabupaten Sleman serta Pemerintah Daerah DIY harus terus diperkuat guna memastikan kearifan lokal tetap eksis di tengah arus modernisasi ibu kota.

Ketua Paguyuban SMS, Suharno, mengungkapkan bahwa peringatan tahun ini menyuguhkan berbagai kesenian khas daerah sebagai obat rindu bagi para perantau. Pertunjukan tersebut meliputi Guyon Maton, Lelagon, serta sajian campursari bertajuk Kamandaka Wuyung yang merupakan binaan Dinas Kebudayaan Sleman.

“Saya sangat berterima kasih atas dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sleman dan Pemerintah Daerah DIY melalui Dana Keistimewaan. Dengan dukungan tersebut, Paguyuban SMS mampu membawa potensi kebudayaan lokal Sleman untuk ditampilkan secara apik di Jakarta. Ini adalah bentuk nyata sinergi kita dalam merawat akar budaya,” tutur Suharno.

Selain menyuguhkan hiburan seni, acara ini juga diisi dengan aksi sosial berupa pemberian santunan kepada anak-anak yatim piatu melalui Baznas Sleman. Santunan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Danang Maharsa didampingi Wakil Ketua DPRD Sleman, Ani Martanti, sebagai bentuk syukur atas bertambahnya usia organisasi.

Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya Ketua Mahkamah Konstitusi RI Suhartoyo, Kepala Badan Kepegawaian Negara Zudan Arif Fakrulloh, Kepala Banhubda DIY Nugrohoningsih, serta jajaran pejabat lainnya. Kehadiran para tokoh ini semakin menegaskan eksistensi dan kontribusi masyarakat Sleman yang berkiprah di tingkat nasional.