Gairahkan Literasi, Tiga Sanggar Sastra Sleman dan Magelang Ajak Penulis Pemula “Menulis Tanpa Henti”

Sleman — Tiga sanggar sastra lintas wilayah berkolaborasi menggelar kegiatan proses kreatif penulisan cerita pendek bertajuk “Mengeja Sastra” di Kafe Ndi Kopine, Bligo, Magelang, Minggu (19/4/2026). Kolaborasi yang melibatkan Sanggar Maton, Omah Luweng Ijo, dan Semak Kata ini bertujuan memfasilitasi para penggiat literasi pemula dalam mengasah kemampuan merangkai ide menjadi karya fiksi yang berkualitas.

Kegiatan yang diikuti sekitar 20 peserta dari Sleman, Kota Yogyakarta, dan Magelang ini menghadirkan dua penulis aktif, Ninuk Retno Raras dan Herry Mardiyanto. Melalui format bincang santai, para peserta diajak mendalami teknik dasar kepenulisan, mulai dari cara memantik imajinasi, menyusun struktur cerita, hingga membangun konflik yang mampu mengikat emosi pembaca.

Penanggung jawab kegiatan, Agus Suprihono, menekankan bahwa kunci utama dalam menulis cerpen adalah kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Menurutnya, ide cerita tidak selalu harus dicari dari hal-hal yang rumit, melainkan bisa muncul dari pengamatan terhadap kejadian sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

“Kegiatan ini harapannya dapat diambil manfaatnya oleh penulis pemula untuk bekal dalam menciptakan karya sastra. Dari percakapan orang asing di kafe, kejadian unik di jalan, atau perilaku orang-orang di tempat umum, semuanya bisa diolah menjadi cerita yang menarik jika kita jeli melihatnya,” ujar Agus Suprihono di sela kegiatan.

Ninuk Retno Raras turut membagikan pengalamannya selama puluhan tahun berkecimpung di dunia sastra. Ia menyarankan para penulis pemula untuk memulai karya mereka dengan mengangkat pengalaman pribadi yang emosional, kemudian mengembangkannya dengan bumbu fiksi agar lebih dramatis. Ia juga menekankan bahwa kebiasaan membaca adalah syarat mutlak bagi seorang penulis untuk memperkaya referensi gaya bahasa dan keragaman tema.

“Mengangkat pengalaman hidup sendiri yang emosional atau menarik, lalu menambahkannya dengan bumbu fiksi, itu yang saya lakukan di awal menjadi penulis. Menulis adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan kekayaan diksi dari hasil membaca banyak karya orang lain,” tutur Ninuk Retno Raras.

Sementara itu, Herry Mardiyanto memberikan panduan teknis agar cerpen tetap padat dan tidak melebar. Ia menyarankan agar penulis pemula fokus pada penggunaan dua hingga empat tokoh saja serta menekankan pada satu momen krusial dalam cerita. Dalam kegiatan tersebut, tercetus jargon “Menulis Tanpa Henti” sebagai semangat bagi peserta untuk terus berlatih tanpa terbebani rasa takut akan melakukan kesalahan dalam menulis.

“Cukup gunakan dua sampai empat tokoh agar cerita tetap padat dan tidak melebar. Fokuslah pada satu konflik yang kuat serta latar yang spesifik untuk menciptakan suasana. Intinya adalah terus menulis tanpa henti, karena teknik akan semakin terasah seiring dengan jam terbang kita berkarya,” jelas Herry Mardiyanto.

Kegiatan “Mengeja Sastra” ini diakhiri dengan diskusi interaktif yang memberikan ruang bagi peserta untuk membedah tantangan dalam proses kreatif masing-masing. Melalui sinergi antar-sanggar ini, diharapkan muncul bibit-bibit penulis baru yang mampu mewarnai khazanah sastra di tingkat regional maupun nasional. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Solusi Krisis Air Bersih, Lokakarya di Sleman Dorong Pemanfaatan Air Hujan Jadi Air Minum Sehat

Sleman — Ketersediaan air tawar dunia yang hanya tersisa tiga persen kini menghadapi ancaman serius akibat pencemaran, penggundulan hutan, dan bencana alam. Menanggapi fenomena tersebut, Kelompok Pencinta Bumi menyelenggarakan Lokakarya Bijak Kelola Air Hujan di Sarasvita FCJ Center, Condongcatur, Depok, Sleman, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan ini bertujuan mengedukasi masyarakat bahwa air hujan bukan sekadar sisa alam yang terbuang, melainkan pilihan air minum sehat dan gratis.

Dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta, Muhamad Kundarto, menjelaskan bahwa keterbatasan air tanah dapat diatasi dengan memanen air hujan yang selama ini hanya terbuang ke laut melalui sungai. Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan berupa curah hujan tinggi yang menyediakan sumber air melimpah secara alami dan relatif bersih dari polutan.

“Upaya menanggulangi pencemaran air bisa dimulai dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta bahan kimia pembersih lantai dan pewangi pakaian dalam kehidupan sehari-hari. Air hujan adalah anugerah karena ketersediaannya melimpah dan murah. Setiap tetes yang kita jaga adalah harapan bagi bumi dan kehidupan kita di masa depan,” ujar Muhamad Kundarto dalam paparannya.

Selain ketersediaan, aspek kesehatan menjadi fokus utama dalam lokakarya ini. Ketua Bank Sampah Kalurahan Caturtunggal, Emanuel Sigit Kuncoro, memaparkan bahwa kualitas tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas air yang dikonsumsi, mengingat 70 persen tubuh manusia terdiri dari air. Ia menyarankan agar air hujan diproses melalui metode ionisasi atau penyetruman selama sekitar empat jam untuk meningkatkan kualitasnya.

“Ionisasi bertujuan memecah molekul air menjadi ion yang lebih kecil sehingga lebih mudah masuk ke dalam sel tubuh untuk membawa nutrisi dan mengeluarkan racun. Air hujan sangat baik untuk konsumsi, terutama jika sudah terionisasi hingga bersifat basa dengan pH di atas tujuh. Semakin tinggi pH, maka semakin baik kualitas airnya bagi kesehatan,” jelas Emanuel Sigit Kuncoro.

Pemanfaatan ini dapat dilakukan dengan membangun instalasi pemanen air hujan sederhana di rumah-rumah warga. Air dari atap dialirkan melalui talang menuju filter instalasi untuk diendapkan sebelum diolah menjadi air minum. Biaya pembuatan instalasi ini dapat disesuaikan dengan anggaran masing-masing keluarga, mulai dari sistem yang sederhana hingga yang lebih kompleks.

Perwakilan Kelompok Pencinta Bumi, Suster Meita FCJ, menekankan bahwa gerakan ini merupakan bentuk nyata dalam merawat bumi. Lokakarya yang dihadiri oleh 45 peserta dari berbagai latar belakang ini juga menerapkan konsep ramah lingkungan yang ketat, seperti menghidangkan pangan lokal tanpa kemasan plastik sekali pakai dan menggunakan pembungkus daun alami.

“Kelompok kami adalah kumpulan pribadi yang memiliki kesamaan pemikiran dalam upaya merawat bumi. Dengan penyajian makanan alami seperti ini, kami berharap sisa konsumsi hanyalah sampah organik yang cepat terurai dan tidak membebani bumi. Intinya adalah niatan kita untuk memanfaatkan air hujan demi kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan,” tutur Suster Meita FCJ.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak lagi mengabaikan potensi air hujan dan mulai beralih pada pola konsumsi mandiri yang lebih ramah lingkungan serta hemat biaya. (Kusnadi/KIM Berbah)




Agribisnis Jamur Lingzhi Sleman Jadi Rujukan Pembelajaran Mahasiswa Polbangtan

Sleman — Tren gaya hidup sehat berbasis herbal mendorong komoditas jamur lingzhi menjadi peluang agribisnis bernilai ekonomi tinggi. Keberhasilan ini dibuktikan oleh Jamal Farming di Barak 1, Margoluwih, Seyegan, Sleman, yang melalui rumah produksi Cendawan Jamur Jogya kini bertransformasi menjadi sentra produksi sekaligus pusat rujukan edukasi bagi calon petani milenial.

Dengan menerapkan sistem budidaya modern, Jamal Farming mengembangkan jamur lingzhi menggunakan metode tumpuk di dalam kumbung yang suhunya terjaga pada kisaran 30 derajat Celcius dengan kelembapan 70 hingga 80 persen. Pola intensif ini terbukti efektif dalam menghasilkan panen yang optimal, meskipun setiap media tanam atau baglog hanya mengalami satu kali masa panen guna menjaga kualitas kandungan herbalnya.

Potensi strategis ini menarik perhatian Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta untuk menerjunkan mahasiswinya dalam program magang selama empat bulan. Para mahasiswa dari jurusan Agribisnis Hortikultura Biofarmaka tersebut mempelajari siklus lengkap mulai dari teknik budidaya, manajemen usaha, hingga strategi pemasaran tanaman obat.

Salah satu mahasiswa Polbangtan, Ananda Putri, mengungkapkan bahwa pengalaman lapangan di Jamal Farming memberikan perspektif baru yang tidak didapatkan di bangku perkuliahan. Menurutnya, tempat ini menjadi lokasi belajar yang komprehensif karena mengintegrasikan sisi produksi dengan manajemen bisnis yang profesional.

“Kami melihat Jamal Farm sebagai tempat belajar yang lengkap, karena tidak hanya fokus pada produksi tetapi juga manajemen usaha dan pemasaran. Ini peluang besar bagi generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian modern yang tidak hanya menjanjikan secara ekonomi, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat,” ujar Ananda Putri di sela kegiatannya, Sabtu (18/4/2026).

Senada dengan rekannya, Amanda Mutiara menilai bahwa sektor biofarmaka memiliki prospek cerah seiring dengan kuatnya tren kembali ke alam di tengah masyarakat. Komoditas seperti jamur lingzhi kini tidak hanya dicari sebagai bahan herbal tradisional, tetapi juga menjadi bahan baku vital bagi industri kesehatan dan kosmetik skala besar.

“Kerja sama dengan pelaku industri seperti ini memberi kami pengalaman nyata dalam membangun jiwa wirausaha di bidang pertanian. Permintaan pasar terhadap tanaman biofarmaka sangat tinggi, terutama karena tren back to nature yang semakin kuat di masyarakat saat ini,” jelas Amanda Mutiara.

Keberadaan Jamal Farming sebagai mitra pendidikan diharapkan mampu mempercepat transformasi sektor pertanian di bawah naungan Kementerian Pertanian untuk mencetak petani milenial yang adaptif teknologi. Dengan pendekatan teknologi dan sistem agribisnis terpadu, budidaya jamur lingzhi di Sleman ini membuktikan bahwa pertanian mampu menjadi ladang usaha yang modern, bergengsi, dan berkelanjutan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Harmoni Gamelan Sholawat di Sleman Mengajak Generasi Muda Cintai Budaya Jawa

Sleman — Upaya merawat kearifan lokal kembali digaungkan melalui perhelatan budaya bertajuk Nguri-Uri Budaya Nusantara yang digelar di Joglo Singodikoro, Kadisono, Margorejo, Tempel, Sleman, Sabtu (18/4/2026) malam. Acara ini menyuguhkan pertunjukan Gamelan Sholawat yang menjadi simbol perpaduan harmonis antara kesenian tradisi Jawa dengan nilai-nilai spiritual keagamaan.

Mengusung tema “Senjakala Agama dan Kebudayaan Nusantara”, kegiatan ini tidak hanya menjadi panggung seni, tetapi juga ruang refleksi tentang keterkaitan erat antara budaya dan religiusitas. Kehadiran musik gamelan yang mengiringi lantunan sholawat menciptakan suasana damai yang inklusif bagi masyarakat yang hadir.

Pimpinan Pondok Pesantren Roudlotul Fattah Pleret, Fuad Plered, yang hadir sebagai pengisi utama menegaskan bahwa budaya dan agama merupakan dua pilar yang saling menguatkan jati diri bangsa. Ia menekankan bahwa mencintai budaya lokal, khususnya budaya Jawa, merupakan bentuk penghormatan nyata kepada para leluhur.

“Kenapa dalam setiap pengajian selalu kita nyanyikan Indonesia Raya tiga stanza? Karena itu bukan sekadar lagu kebangsaan, tetapi doa untuk seluruh rakyat Indonesia. Jika kita tidak suka atau tidak mencintai budaya Jawa, artinya kita telah durhaka kepada leluhur nenek moyang kita yang telah mewariskan peradaban tinggi ini,” ujar Fuad Plered dalam tausiyahnya.

Lebih lanjut, Fuad menjelaskan bahwa tradisi gamelan memiliki akar sejarah panjang yang membuktikan kemajuan peradaban nenek moyang dalam bidang metalurgi jauh sebelum masa dakwah para wali. Namun, ia mengingatkan bahwa kepemilikan alat musik saja tidak cukup tanpa adanya upaya regenerasi yang konsisten. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mengajak generasi muda agar mau mempelajari dan mencintai gamelan di tengah gempuran budaya modern.

Momentum ini juga ditandai dengan penyerahan hibah seperangkat gamelan slendro dan pelog dari Pemerintah Kalurahan Margorejo kepada Joglo Singodikoro. Gamelan yang diberi nama Singo Langen Sih tersebut diserahkan langsung oleh pemerintah setempat sebagai bentuk komitmen nyata dalam pelestarian seni tradisi. Hibah ini diterima oleh pemangku Joglo Singodikoro, Chaerul Wardana.

Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan, menyampaikan bahwa pemerintah kalurahan akan terus mendukung kegiatan yang memadukan unsur warisan budaya dan nilai keagamaan. Ia berharap Joglo Singodikoro dapat menjadi pusat aktivitas kebudayaan yang mampu menarik minat pemuda desa untuk belajar kesenian Jawa secara rutin.

“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan. Harapannya, generasi muda tidak hanya mengenal nama gamelan, tetapi juga ikut melestarikan budaya Nusantara agar tidak hilang ditelan zaman,” tutur Abdul Azis Muh Ridwan.

Melalui perhelatan ini, semangat merawat budaya diharapkan terus tumbuh menjadi gerakan nyata yang melintasi berbagai generasi. Gamelan Sholawat terbukti menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan kebangsaan dan spiritualitas dengan cara yang sejuk, sekaligus menjaga identitas nasional di tengah arus globalisasi. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Motor Perpustakaan Sleman Tembus Pelosok, Dorong Budaya Literasi Anak Melalui Program Cendolmanis

Sleman — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman terus memperluas jangkauan literasi hingga ke tingkat akar rumput melalui layanan Motor Perpustakaan Keliling. Kendaraan roda tiga yang telah dimodifikasi menjadi motor boks ini menjadi ujung tombak pemerintah daerah dalam menyediakan akses bacaan bagi warga dan anak-anak, terutama di wilayah yang sulit dijangkau mobil perpustakaan besar.

Motor perpustakaan ini didesain khusus dengan rak buku yang tersusun rapi di dalam boks yang dapat dibuka dari sisi kiri dan kanan. Pintu boks yang membuka ke arah atas juga berfungsi sebagai peneduh bagi para pembaca. Meski menyediakan ratusan judul buku untuk berbagai kalangan usia, mayoritas koleksi yang dibawa adalah buku bacaan anak-anak guna merangsang minat baca sejak dini.

Petugas operasional Motor Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman, Karyanto, menjelaskan bahwa layanan ini hadir untuk memberikan kemudahan bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan. Saat menggelar lapak baca pada kegiatan Pasar Bersama di komplek Lapangan Pemda Sleman, Jumat (17/4/2026), ia menegaskan bahwa koleksi tersebut dapat dinikmati di tempat secara gratis.

“Semua buku ini kami sediakan untuk masyarakat dan boleh dibaca oleh siapa pun di lokasi. Namun, untuk menjaga ketersediaan koleksi bagi lokasi selanjutnya, buku-buku ini memang tidak diperbolehkan untuk dibawa pulang atau dipinjam,” ujar Karyanto di sela aktivitasnya melayani pembaca.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman saat ini mengoperasikan tiga unit motor perpustakaan untuk melayani sekolah dan pemukiman warga di seluruh Kabupaten Sleman. Setiap harinya, motor-motor ini bergerak secara dinamis menuju titik yang telah ditentukan, di mana satu unit motor ditargetkan mampu melayani dua lokasi berbeda dalam satu hari kerja.

Selain sekadar menyediakan buku, motor ini memikul misi besar dalam program Cerita dan Dongeng Literasi Masuk Berinteraksi di Sekolah atau yang dikenal dengan inovasi Cendolmanis. Program yang diluncurkan sejak awal 2024 ini bertujuan meningkatkan budaya literasi anak usia dini melalui pendekatan yang menyenangkan, yakni dengan menggandeng pendongeng handal untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada siswa.

Karyanto menambahkan bahwa kehadiran motor dengan bentuk yang unik tersebut sering kali menjadi daya tarik tersendiri yang memicu antusiasme anak-anak untuk mendekat dan mulai membuka buku. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas untuk mencari nafkah, melainkan sebuah pengabdian untuk menyiapkan generasi masa depan yang berwawasan luas.

“Penggunaan motor perpustakaan keliling ini terbukti efektif menarik perhatian anak-anak untuk mau membaca. Saya merasa bangga bisa membantu anak-anak meningkatkan literasi mereka dan ikut serta menyiapkan generasi emas. Semoga tugas pelayanan ini tidak hanya bermanfaat bagi warga, tetapi juga tercatat sebagai amal kebaikan,” pungkas Karyanto. (Kusnadi/KIM Berbah)