Perkuat Perlindungan Sosial, DMI Condongcatur Dorong Takmir Masjid Jadi Peserta BPJS Kesehatan PBI

Sleman — Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Ranting Condongcatur mengambil langkah nyata dalam memperkuat jaminan sosial bagi para pejuang keagamaan. Melalui kegiatan sosialisasi yang digelar di Masjid Babul Jannah, Leles, Ngringin, Sabtu (18/4/2026), DMI mendorong para pengurus takmir masjid se-Kalurahan Condongcatur untuk mendapatkan perlindungan kesehatan melalui skema kepesertaan BPJS Kesehatan.

Kegiatan ini menyasar para pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dengan tujuan meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya jaminan kesehatan. Selain sebagai bentuk perlindungan diri, takmir masjid dinilai memiliki posisi strategis dalam mengedukasi warga di lingkungan masing-masing mengenai program strategis nasional tersebut.

Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam, dalam sambutannya menekankan bahwa takmir masjid adalah garda terdepan dalam pelayanan umat. Menurutnya, pemerintah kalurahan sangat mendukung kolaborasi dengan DMI untuk memastikan kesejahteraan para pengurus masjid lebih terjamin, sehingga mereka dapat menjalankan tugas keagamaan dengan lebih tenang.

“Takmir masjid adalah ujung tombak di tengah masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap informasi mengenai BPJS Kesehatan dapat tersampaikan secara luas melalui masjid, sehingga masyarakat juga semakin sadar akan pentingnya memiliki jaminan kesehatan untuk masa depan,” ujar Al Thouvik Sofisalam di hadapan para peserta.

Ketua DMI Ranting Condongcatur, Suyono, memberikan apresiasi tinggi atas dukungan Pemerintah Kalurahan Condongcatur. Ia menjelaskan bahwa program ini dikhususkan bagi pengurus takmir yang memenuhi kriteria untuk diusulkan sebagai kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI), yang iurannya akan ditanggung oleh APBD Kabupaten Sleman. Langkah ini melengkapi jaminan sosial sebelumnya yang telah diberikan kepada mereka.

“Kami menyambut baik sosialisasi program BPJS Kesehatan untuk takmir masjid di Condongcatur dengan pembiayaan melalui PBI dari anggaran APBD Sleman. Sebelumnya, para pengurus takmir masjid di wilayah ini juga telah diikutkan dalam program BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan kerja yang menyeluruh,” ungkap Suyono.

Lebih lanjut, Suyono mengungkapkan bahwa DMI Condongcatur saat ini tengah menginisiasi pembentukan Forum Takmir Masjid tingkat kalurahan. Forum ini diproyeksikan sebagai wadah komunikasi resmi untuk memudahkan koordinasi, sinergi, serta standarisasi manajemen masjid yang meliputi bidang administrasi, kemakmuran, dan perawatan fisik bangunan sesuai standar Kementerian Agama.

“Forum ini nantinya akan menjadi tempat pembinaan dan standarisasi pengelolaan kemasjidan. Kami ingin struktur kepengurusan takmir idealnya terbagi dalam tiga bidang utama, yakni Idaroh untuk manajemen, Imaroh untuk kemakmuran, dan Ri’ayah untuk pembangunan fisik. Dengan manajemen yang rapi dan pengurus yang terlindungi jaminan sosial, masjid akan semakin kuat sebagai pusat pemberdayaan umat,” pungkas Suyono. (Wasana/KIM Depok)




Warisan Kuliner di Ujung Tanduk, Jenang Upih Cibuk Kidul Berjuang Melawan Kepunahan

Sleman — Di tengah pesatnya modernisasi kuliner, sebuah warisan tradisional bernama Jenang Upih di Padukuhan Cibuk Kidul, Kalurahan Margoluwih, kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Kuliner khas yang menjadi identitas wilayah wisata mina padi ini terancam punah seiring menyusutnya jumlah perajin dan sulitnya mendapatkan bahan baku spesifik.

Jenang Upih, atau sering disebut Jenang Upeh, memiliki keunikan yang tidak ditemukan pada jenis jenang lainnya. Proses pembuatannya sangat bergantung pada beras varietas PB 5, jenis padi yang kini mulai langka di pasaran. Selain bahan baku yang khusus, teknik memasaknya pun masih mempertahankan cara tradisional dengan menggunakan pelepah pinang sebagai cetakan sekaligus pemberi aroma khas.

Rabikem, salah satu perajin generasi kedua yang masih bertahan, mengungkapkan bahwa keterikatan antara bahan dan alat masak ini bersifat mutlak. Menurutnya, penggunaan bahan pengganti hanya akan merusak tekstur dan rasa asli yang telah diwariskan turun-temurun.

“Jenang Upih ini tidak bisa dibuat dari sembarang beras, harus menggunakan varietas PB 5. Kalau bukan itu, hasilnya tidak akan jadi. Begitu juga dengan pelepah pinang, itu kuncinya. Kalau tidak pakai pelepah, bukan Jenang Upih namanya,” ujar Rabikem di sela aktivitas produksinya, Sabtu (18/4/2026)

Proses pembuatan kudapan ini memerlukan ketelatenan ekstra. Adonan tepung beras harus dikukus dalam pelepah pinang selama empat jam, kemudian didiamkan semalaman agar teksturnya mengeras dengan sempurna. Rabikem sendiri harus memulai rutinitasnya sejak pukul dua dini hari agar bisa menjajakan dagangannya di Pasar Bibis Gancahan sebelum matahari terbit.

Meski pembuatannya rumit, jenang ini dijual dengan harga yang sangat merakyat, berkisar antara dua hingga lima ribu rupiah. Biasanya, Jenang Upih disajikan bersama pelengkap seperti tempe bacem, tahu bacem, atau gembus yang dibungkus daun pisang. Namun, harga murah dan rasa yang nikmat belum menjamin keberlanjutan tradisi ini.

Rabikem menceritakan bahwa dulu terdapat sekitar 20 perajin di Cibuk Kidul, namun kini jumlahnya menyusut tajam hanya menyisakan empat orang saja. Faktor usia dan sulitnya regenerasi menjadi bayang-bayang kelam bagi masa depan kuliner ini.

“Sekarang tinggal empat orang saja yang masih membuat. Harapan saya, anak-anak atau generasi muda mau meneruskan usaha ini supaya identitas desa kami tidak hilang ditelan zaman,” ungkap Rabikem dengan nada penuh harap.

Saat ini, warga di sekitar sungai mulai mencoba membudidayakan pohon pinang secara mandiri untuk menjaga ketersediaan pelepah, sementara beberapa petani lokal kembali menanam padi PB 5. Upaya swadaya ini diharapkan dapat memperpanjang napas Jenang Upih sebagai warisan budaya non-bendawi yang harus dilestarikan oleh masyarakat Sleman dan sekitarnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Targetkan Kemandirian dari Rumah, JPSM Sehati Sleman Bedah Strategi Pengelolaan Sampah Berbasis Keluarga

Sleman — Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Sehati Kabupaten Sleman terus memperkuat strategi penanganan sampah dengan mendalami inovasi berbasis komunitas yang sukses diterapkan di wilayah perkotaan. Dalam pertemuan rutin yang digelar di Aula Bappeda Sleman pada Jumat (17/4/2026), para pegiat lingkungan ini membedah program “Keluarga Mas JOS” sebagai model kemandirian sampah dari level rumah tangga.

Program Keluarga Mas JOS atau Masyarakat Jogja Olah Sampah merupakan inisiatif yang menekankan pada perubahan perilaku mendasar di tingkat domestik. Pendekatan ini dinilai sangat relevan untuk diterapkan di Kabupaten Sleman guna mengurangi beban sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir melalui gerakan pemilahan dan pengolahan langsung dari sumbernya.

Ketua Forum Bank Sampah Kota Yogyakarta, Aman Yuriadijaya, yang hadir sebagai narasumber utama menjelaskan bahwa keberhasilan program ini bertumpu pada lima langkah praktis. Langkah tersebut meliputi pemilahan sampah dari dapur, penyaluran sampah anorganik ke bank sampah, pengolahan sampah organik secara mandiri, gerakan menghabiskan makanan untuk menekan angka sisa makanan, hingga penggunaan wadah berulang untuk mengurangi plastik sekali pakai.

“Inti dari program ini adalah mengubah perilaku di tingkat keluarga. Kami tidak hanya meminta warga membuang sampah pada tempatnya, tetapi mengelola sampah tersebut agar selesai di sumbernya. Dengan lima langkah praktis ini, setiap rumah tangga diharapkan menjadi manajer sampah yang andal,” ujar Aman Yuriadijaya di hadapan para peserta JPSM Sehati.

Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan dalam diskusi tersebut adalah strategi pendekatan melalui organisasi kewanitaan, khususnya PKK. Peran ibu rumah tangga dinilai sangat vital dalam mendidik anggota keluarga lainnya untuk sadar lingkungan. Keberhasilan strategi ini terbukti dengan tercatatnya lebih dari 39 ribu kepala keluarga yang telah berpartisipasi secara resmi dan mendapatkan identitas sebagai keluarga sadar lingkungan.

Aman Yuriadijaya menambahkan bahwa validasi data melalui penempelan stiker di rumah-rumah warga menjadi bentuk apresiasi sekaligus pengawasan sosial yang efektif. “Kami melakukan pendekatan strategis melalui PKK karena mereka memiliki peran vital sebagai manajer sampah keluarga. Hasilnya, puluhan ribu keluarga kini memiliki identitas sebagai Keluarga Mas JOS, yang menandakan mereka telah mandiri dalam mengelola sampah,” tambahnya.

Melalui paparan inovatif ini, JPSM Sehati Sleman diharapkan dapat mengadopsi sistem serupa dengan menyesuaikan karakteristik masyarakat di Kabupaten Sleman. Penguatan organisasi perempuan dan ketertiban validasi data di lapangan menjadi pelajaran berharga yang dapat segera diimplementasikan untuk meningkatkan efektivitas bank-bank sampah mandiri di wilayah Sleman.

Diskusi interaktif ini ditutup dengan semangat sinergi antarwilayah untuk menuntaskan permasalahan sampah di lingkup Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan kolaborasi yang kuat, penanganan sampah diharapkan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kapasitas TPA, melainkan melalui gerakan mandiri yang berkelanjutan dari rumah-rumah warga. (Sri Rahayu/KIM Depok)




Seni Religius Didorong Jadi Magnet Wisata dan Kekuatan Budaya Mandiri

Sleman — Paguyuban Seni Religius (PASER) Kabupaten Sleman merayakan milad ke-13 yang dirangkaikan dengan acara Syawalan di Aula Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sabtu (18/4/2026). Momentum ini menjadi ajang refleksi bagi para pelaku seni religius untuk menjawab tantangan zaman, terutama dalam memperkuat posisi seni berbasis nilai agama di tengah dinamika pariwisata dan budaya modern.

Pembina PASER, Sancoko, mengungkapkan bahwa meskipun seni religius sempat menghadapi tantangan persepsi di masyarakat, saat ini perkembangannya menunjukkan tren positif. Seni religi kini mulai dilirik sebagai daya tarik wisata yang mampu memikat wisatawan domestik maupun mancanegara di berbagai destinasi unggulan di Kabupaten Sleman.

“Kesenian PASER itu religius, namun terkadang masih terkurung oleh anggapan-anggapan yang kurang pas. Meski begitu, perkembangannya sekarang jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Sekarang PASER sudah dimanfaatkan untuk menarik wisatawan di berbagai destinasi. Artinya, seni religius ini punya daya tarik yang kuat jika dikemas dengan baik,” ujar Sancoko di sela-sela acara.

Sancoko juga menyoroti potensi besar PASER mengingat jumlah kelompoknya yang paling banyak di Kabupaten Sleman. Namun, ia menyayangkan ruang ekspresi bagi para seniman religi ini masih tergolong terbatas dibandingkan jenis kesenian lainnya. Oleh karena itu, diperlukan langkah pembinaan yang lebih terstruktur dan revisi dalam pola pengemasan seni agar semakin dicintai dan digemari oleh masyarakat luas.

Dukungan pemerintah daerah mulai terlihat nyata dengan adanya alokasi anggaran sebesar Rp1,2 miliar untuk pengembangan sektor seni budaya, di mana 26 kelompok seni kini berada di bawah pembinaan intensif. Sancoko berharap suntikan dana dan pembinaan tersebut dapat memicu kemandirian setiap kelompok sehingga seni tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga motor penggerak ekonomi.

“Harapannya, seluruh kelompok seni bisa hidup mandiri dan ikut menghidupi Sleman sebagai kota budaya, wisata, pelajar, dan industri. Kami ingin seni tidak hanya sekadar dilestarikan, tetapi juga diberdayakan dan dimasyarakatkan secara luas agar para pelakunya tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri,” tegasnya.

Terkait keberlanjutan, regenerasi menjadi fokus utama yang sedang digarap oleh PASER. Sancoko menekankan pentingnya sinergi dengan dunia pendidikan untuk mengenalkan seni religius sejak usia dini. Ia meyakini jika apresiasi budaya dimulai dari jenjang PAUD hingga sekolah menengah, Sleman akan memiliki fondasi budaya yang sangat kuat dan berdaya saing global. (SBD/KIM Senyum Tempel)




BUMKal Sari Dewi Maguwoharjo Gelar Panen Perdana Melon Premium

Sleman — Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Sari Dewi Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, mencatatkan capaian baru dalam sektor pertanian modern. Pada Jumat (17/4/2026), unit usaha milik desa ini sukses menyelenggarakan panen perdana komoditas melon organik yang dibudidayakan dengan sistem greenhouse di wilayah setempat.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi penguatan sektor hortikultura sekaligus upaya meningkatkan nilai ekonomi produk pertanian di tingkat kalurahan. Pemanfaatan teknologi greenhouse memungkinkan budidaya dilakukan secara lebih terkontrol dan menghasilkan buah dengan kualitas premium yang mampu bersaing di pasar modern.

Penjabat Lurah Maguwoharjo, Isti Fajaroh, menyampaikan bahwa keberhasilan panen ini merupakan buah dari optimalisasi anggaran Ketahanan Pangan Dana Desa tahun sebelumnya. Menurutnya, BUMKal Sari Dewi sengaja diarahkan untuk menjadi motor penggerak produktivitas warga melalui praktik pertanian yang berkelanjutan dan mandiri secara pangan.

“Pembangunan BUMKal Sari Dewi ini menggunakan anggaran Ketahanan Pangan Dana Desa sebagai upaya mendorong produktivitas dan kemandirian ekonomi masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa setiap jengkal lahan dan anggaran yang ada memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga Maguwoharjo melalui inovasi pertanian seperti ini,” ujar Isti Fajaroh di sela-sela kegiatan panen.

Varietas utama yang dipanen pada tahap awal ini adalah melon Dalmatian, sejenis melon premium yang memiliki ciri khas kulit putih dengan bercak hijau. Varietas ini dipilih karena memiliki daya adaptasi yang sangat baik untuk dikembangkan di dataran rendah hingga menengah, baik menggunakan metode hidroponik maupun media tanam lainnya. Selain Dalmatian, pengelola juga tengah menyiapkan panen varietas Sweet Lavender yang dikenal memiliki tekstur renyah dan rasa manis yang kuat pada pekan depan.

Guna memperluas akses edukasi dan pemasaran, pengelola BUMKal Sari Dewi juga membuka fasilitas greenhouse tersebut untuk umum melalui kegiatan wisata petik melon. Masyarakat diberikan kesempatan untuk masuk dan memanen sendiri buah pilihan mereka, sekaligus belajar mengenai teknik budidaya pertanian organik berbasis teknologi modern.

“Kegiatan wisata petik melon ini memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal secara langsung budidaya melon organik berbasis greenhouse. Kami berharap pengembangan BUMKal ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal serta memperluas akses masyarakat terhadap praktik pertanian yang lebih produktif,” tambah Isti Fajaroh.

Inovasi yang dilakukan BUMKal Sari Dewi Maguwoharjo ini diharapkan dapat menjadi percontohan bagi kalurahan lain di Kabupaten Sleman dalam mengelola potensi desa melalui sektor pertanian. Dengan pengelolaan yang profesional dan pemanfaatan teknologi, kemandirian desa dalam memproduksi komoditas bernilai tinggi kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang mampu mendongkrak pendapatan asli kalurahan. (Athiful/KIM Depok)