Belajar dari Banyuraden, Trimulyo Dorong Reformasi Administrasi Kalurahan

Sleman – Sebagai bagian dari upaya strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui penguatan sistem administrasi yang efektif, transparan, dan akuntabel, Pemerintah Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Sleman, melaksanakan kegiatan studi tiru terkait tata kelola pemerintahan bidang administrasi di Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (15/4/2026).

Rombongan dari Pemerintah Kalurahan Trimulyo yang terdiri dari lurah, pamong, Badan Permusyawaratan Kalurahan, Tim Penggerak PKK, lembaga pemberdayaan masyarakat, yang didampingi Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Sleman disambut langsung oleh Lurah Banyuraden, Sudaisman beserta jajarannya.

Pertemuan di ruang rapat Kalurahan Banyuraden tersebut berlangsung dalam suasana dialogis. Di mana kedua belah pihak saling berbagi pengalaman dan strategi dalam mengelola administrasi pemerintahan.

Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama memaparkan tata kelola pemerintahan serta berbagai inovasi yang telah dilakukan, mulai dari digitalisasi arsip, sistem pelayanan berbasis teknologi informasi, hingga mekanisme pengawasan internal yang ketat. Hal ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi kerja sekaligus meminimalisasi potensi kesalahan administrasi.

Selain itu, Pemerintah Kalurahan Banyuraden juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia aparatur kalurahan. Pelatihan rutin, pendampingan teknis, serta budaya kerja yang disiplin menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas administrasi pemerintahan.

“Reformasi birokrasi merupakan komitmen bersama untuk mewujudkan pemerintah kalurahan yang profesional, bersih, dan melayani. Asesmen ini bukan sekedar penilaian administratif, namun menjadi sarana pembinaan dan pendampingan agar kalurahan semakin adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” papar Hendy.

Diskusi yang berlangsung menyoroti pentingnya integrasi antara sistem administrasi dengan pelayanan publik. Administrasi yang tertata dengan baik akan berdampak langsung pada kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah kalurahan, sekaligus memperkuat legitimasi kelembagaan.

Sementara itu, Lurah Trimulyo, Cholik Harmoko menyampaikan bahwa studi tiru ini penting sebagai sarana pembelajaran langsung terhadap praktik baik (best practices) yang telah diterapkan di Kalurahan Banyuraden. Menurutnya, tantangan administrasi pemerintahan semakin kompleks, sehingga dibutuhkan inovasi dan adaptasi yang berkelanjutan.

“Tata kelola administrasi yang baik bukan hanya soal kerapihan dokumen, tetapi juga menyangkut sistem pelayanan yang cepat, tepat, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, studi tiru menjadi langkah konkret untuk mempercepat proses perbaikan internal,” ungkapnya.

Pihaknya berharap, kegiatan studi tiru tidak berhenti pada tataran kunjungan semata, melainkan dapat diimplementasikan secara nyata di Kalurahan Trimulyo. Komitmen untuk melakukan tindak lanjut menjadi poin penting agar hasil pembelajaran benar-benar memberikan dampak signifikan.

“Kolaborasi semacam ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pemerintahan kalurahan yang profesional, transparan, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat,” pungkas Cholik. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




PSM Kabupaten Sleman Hadiri Pembukaan Jambore PSKS DIY 2026 di Bejiharjo Edupark

Sleman – Perwakilan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kabupaten Sleman mengikuti kegiatan pembukaan Jambore Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) DIY Tahun 2026 yang diselenggarakan di Bejiharjo Edupark, Karangmojo, Gunungkidul, pada Kamis (16/4/2026).

Kegiatan pembukaan jambore tersebut berlangsung pada tanggal 16-17 April 2026, yang dihadiri oleh Bupati Gunungkidul serta Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala Dinas Sosial DIY beserta jajaran pemerintah daerah, pendamping sosial, dan berbagai unsur PSKS dari kabupaten/kota se-DIY dan lain sebagainya.

Kehadiran PSM Kabupaten Sleman mengikuti Jambore dua hari mendatang merupakan wujud komitmen untuk terus meningkatkan kapasitas, mempererat sinergi, serta memperkuat peran sosial di tengah masyarakat.

Melalui jambore ini, para peserta diharapkan dapat saling berbagi pengalaman, memperluas wawasan, dan memperkuat jejaring antar pelaku kesejahteraan sosial di DIY.

Ketua PSM Kabupaten Sleman, Siti Maimunah mengatakan kegiatan ini disambut baik sebagai ajang silaturahmi sekaligus mempererat kebersamaan antar pelaku sosial.

“Jambore PSKS DIY 2026 ini mengusung tagline “Berdaya dan Bermartabat”, yang diharapkan dapat menjadi semangat bersama dalam meningkatkan peran dan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Jambore ini pun menjadi momentum penting untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dalam mendukung pelayanan sosial yang lebih baik, sehingga keberadaan para relawan sosial dapat semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. (Tri Suhartati KIM Depok)




DLHK DIY Berikan Pembinaan Pengelolaan Sampah Mandiri di Kranggan 2 Berbah

Sleman — Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DLHK DIY) memberikan pembinaan pengelolaan sampah mandiri kepada masyarakat Padukuhan Kranggan 2, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Rabu (15/4/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari pokok pikiran (pokir) anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Balai Muslimin, Pucung, Jogotirto tersebut dihadiri oleh warga setempat yang antusias mengikuti pembinaan terkait pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Lurah Jogotirto, Mitha Mayasari menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Rahayu Widi Nuryani serta DLHK DIY atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap pembinaan ini dapat meningkatkan kesadaran dan semangat masyarakat dalam mengelola sampah.

“Semoga pembinaan ini mampu mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah, sehingga tercipta lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman,” ujarnya.

Anggota DPRD DIY Fraksi PKB, Rahayu Widi Nuryani menyampaikan bahwa program pembinaan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah yang saat ini menjadi isu krusial, terutama pascapenutupan TPA Piyungan.

Menurutnya, pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.

“Melalui program ini, kami berharap masyarakat semakin peduli dan mampu mengelola sampah secara mandiri,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Rahayu juga menyerahkan secara simbolis bantuan peralatan pengolah sampah berupa ember tumpuk. Alat tersebut digunakan untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos padat dan pupuk cair yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (P2KLH) DLHK DIY, Syamsu Agung Wijaya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang lingkungan hidup, yang menyasar masyarakat dan komunitas.

Ia menambahkan, pembinaan ini mengusung tema pengelolaan sampah mandiri, dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai jenis-jenis sampah, cara pemilahan, serta penanganan sampah organik, anorganik, dan residu.

“Diharapkan masyarakat dapat mengubah cara pandang terhadap sampah. Jika dikelola dengan baik, sampah bukan lagi menjadi sesuatu yang kotor dan menjijikkan, tetapi memiliki nilai ekonomi,” jelasnya.

Materi pembinaan juga disampaikan oleh praktisi dari Paguyuban Eco Sae Migunani, Maya Permatasari. Ia menjelaskan bahwa sampah terbagi menjadi tiga jenis, yakni organik, anorganik, dan residu.

Sampah organik merupakan sampah yang mudah terurai, seperti sisa makanan, buah, dan sayuran. Sementara itu, sampah anorganik merupakan sampah yang sulit terurai, seperti plastik, kaca, dan karet, yang umumnya masih memiliki nilai jual.

Adapun sampah residu adalah sampah yang tidak dapat didaur ulang atau tidak memiliki nilai ekonomi, seperti styrofoam, pembalut, dan sampah yang telah terkontaminasi.

“Perlu diperhatikan, sampah anorganik dapat menjadi residu apabila tercampur atau terkontaminasi dengan sampah organik. Oleh karena itu, pemilahan sejak awal sangat penting,” ujarnya.

Kegiatan ini turut didampingi oleh petugas DLHK Sleman sebagai pendamping lapangan di wilayah Kapanewon Berbah.

Melalui pembinaan ini, diharapkan masyarakat mampu mengelola sampah secara mandiri, sehingga dapat mengurangi beban lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

(Kusnadi KIM Berbah)




Paguyuban Kaur Pangripta Sleman Gelar Syawalan, Perkuat Silaturahmi dan Soliditas Anggota

Sleman – Paguyuban Kaur Pangripta Kabupaten Sleman menggelar syawalan dan halalbihalal, di Secluded By Karma Resto, Karangmloko Sariharjo Ngaglik Sleman, Rabu (15/4/2026). Kegiatan ini sebagai ajang mempererat tali silaturahmi antar anggota.

Acara tersebut dihadiri para pengurus dan anggota Paguyuban Kaur Pangripta dari 86 kalurahan se-Kabupaten Sleman. Selain itu, turut hadir pula para mantan Kaur Pangripta, baik yang telah purna tugas maupun yang telah mutasi ke jabatan lain di lingkungan pemerintahan kalurahan masing-masing.

Ketua Paguyuban Kaur Pangripta Sleman, Yuni Cahyana dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pengurus dan anggota yang telah meluangkan waktu untuk hadir dalam kegiatan tersebut ditengah kesibukannya.

Ia menekankan bahwa momentum syawalan ini menjadi sarana penting untuk mempererat persaudaraan dan memperkuat solidaritas antar anggota.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap Paguyuban Kaur Pangripta semakin kompak, guyub rukun, dan nyawiji dalam mengemban tugas di masing-masing kalurahan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Yuni menyampaikan, Paguyuban Kaur Pangripta merupakan wadah koordinasi para kepala urusan perencanaan dari seluruh kalurahan di Sleman.

“Kaur Pangripta memiliki posisi strategis dalam memastikan sebuah perencanaan perencanaan yang dimulai dari bawah (button-up), yang menjadi katalisator semangat gotong royong dan keadilan sosial dimasyarakat. Di samping itu, Kaur Pangripta juga mempunyai peran vital dalam penyusunan dokumen seperti RPJMKal, RKP-Kal dan APBKal. Paguyuban ini diharapkan menjadi ruang produktif untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat kapasitas demi mendukung pembangunan kalurahan di Sleman yang berkualitas dan berkeadilan,” ungkapnya.

“Dalam waktu dekat program di masing-masing kalurahan adalah menyelesaikan Siklus Tahunan terkait RPJMKal Tambahan 2 Tahun Masa Jabatan Lurah,” sambung Yuni.

Kegiatan syawalan ini juga diisi dengan sesi perkenalan anggota baru dari Kalurahan Sidomoyo dan Kalurahan Umbulmartani. Selain itu, terdapat pula momen pamitan dari anggota yang telah mutasi jabatan, di antaranya dari Kalurahan Umbulmartani dan Kalurahan Margodadi, Kapanewon Sayegan.

Suasana keakraban dan kekeluargaan begitu terasa sepanjang acara, mencerminkan semangat kebersamaan yang terus dijaga oleh Paguyuban Kaur Pangripta Kabupaten Sleman. Diharapkan melalui kegiatan ini, sinergi dan komunikasi antar anggota semakin kuat dalam mendukung pelaksanaan tugas pemerintahan kalurahan yang lebih baik (Wasana / KIM Depok)




Warga Penen Ngaglik Ikuti Sosialisasi Pencegahan Kebakaran untuk Tingkatkan Kesiapsiagaan

Sleman – Masyarakat Padukuhan Penen, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, mengikuti kegiatan sosialisasi pencegahan bahaya kebakaran yang digelar di Aula Padukuhan Penen, Rabu (15/4/26).

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi potensi kebakaran yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Dukuh Penen, Matyanto dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap kinerja pemadam kebakaran yang dinilai cepat dan responsif. Ia juga menekankan pentingnya peran ibu rumah tangga dalam memahami penanganan kebakaran, mengingat tidak selalu terdapat anggota keluarga laki-laki di rumah saat kejadian berlangsung.

Kasi Pencegahan Kebakaran Satpol PP Kabupaten Sleman, Suwandi menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan pelatihan.

Ia mengungkapkan bahwa permintaan pelatihan serupa cukup tinggi, namun baru dapat direalisasikan di Padukuhan Penen pada tahun 2026, akibat keterbatasan jadwal dan anggaran.

“Meski demikian, kami tetap berkomitmen melanjutkan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat,” tandasnya.

“Kebakaran bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Warga diharapkan mampu melakukan penanganan awal secara mandiri dengan aman, sebelum petugas datang,” sambung Suwandi.

Ia menambahkan, saat terjadi kebakaran warga diharapkan membantu kelancaran akses petugas, memberikan informasi lokasi sumber air, serta menjaga keamanan lingkungan sekitar.

Selanjutnya, materi sosialisasi terkait teori dasar pencegahan dan penanggulangan kebakaran disampaikan oleh salah satu petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman, Sumarjono.

Pada kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa langkah utama dalam penanggulangan kebakaran ialah pencegahan, dengan cara mengenali dan mengatasi potensi kebakaran sejak dini.

“Kebakaran dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kelalaian manusia, gangguan hewan, hingga kerusakan instalasi listrik dan kebocoran gas,” ungkapnya.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penggunaan listrik, kompor gas, rokok, serta bahan mudah terbakar lainnya.

Selanjutnya warga diperkenalkan dengan berbagai alat pemadam, baik tradisional seperti air, pasir, dan handuk, maupun modern seperti APAR (Alat Pemadam Api Ringan). Peserta juga diberikan pemahaman tentang cara penggunaan APAR yang benar, termasuk memperhatikan arah angin dan teknik penyemprotan ke sumber api.

Disamping pemaparan materi, kegiatan tersebut juga diisi dengan praktik langsung pemadaman api ringan menggunakan selimut, anpenanganan kebakaran yang bersumber dari gas elpiji.

“Biaya pelatihan jauh lebih kecil dibandingkan kerugian akibat kebakaran. Oleh karena itu, kesiapsiagaan, perawatan alat, serta latihan secara berkala menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran di lingkungan masyarakat,” tutur Sumarjono. (Endarwati / KIM Donoharjo)