Aisyiyah Sleman Gelar Syawalan, Perkuat Peran Mencerdaskan Generasi dan Peduli Semesta

Sleman — Pimpinan Daerah ’Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan Syawalan dalam rangka Silaturahmi Idulfitri 1447 H di Pendopo Bupati Sleman, Selasa (14/4/2026). Mengusung tema “Aisyiyah Bergerak untuk Mencerdaskan Generasi Unggul dan Peduli Semesta”, kegiatan ini diikuti jajaran PDA, PCA, dan PRA se-Kabupaten Sleman.

Acara berlangsung khidmat diawali dengan doa pembuka, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Aisyiyah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari sejumlah tokoh dan pimpinan organisasi.

Ketua PDA Kabupaten Sleman, Hanik Rosyadah, dalam sambutannya menegaskan bahwa Aisyiyah memiliki tanggung jawab besar dalam mencerdaskan generasi unggul sekaligus menjaga kelestarian semesta. Menurutnya, peran tersebut menuntut kesungguhan seluruh kader untuk terus bergerak dan berkontribusi nyata di tengah masyarakat.

Sementara itu, perwakilan Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah DIY, Zulaiha, menyampaikan apresiasi atas kiprah Aisyiyah Sleman yang dinilai aktif dalam berbagai program persyarikatan, termasuk dalam aksi kemanusiaan. Ia menyebutkan bahwa Aisyiyah Sleman menjadi salah satu donatur terbanyak di DIY dalam bantuan bencana ke Aceh.
“Aisyiyah harus terus berdaya, bergerak, dan memberikan dampak,” ujarnya.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, dalam sambutannya menyampaikan pesan Bupati Sleman yang mengapresiasi kontribusi Aisyiyah di berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Ia berharap Aisyiyah dapat terus menjadi mitra strategis pemerintah serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan ikrar syawalan yang dipandu oleh Sunarti serta doa yang dipimpin Ketua PDM Kabupaten Sleman, Harjaka.

Dalam sesi hikmah syawalan, Eny Harjanti menyampaikan tausiah tentang pentingnya peran ibu dalam menyiapkan generasi unggul. Ia menekankan bahwa ibu memegang amanah besar dalam menentukan masa depan bangsa, sebagaimana tercermin dalam lirik Mars Aisyiyah, “di tanganmulah nasib bangsa.”

Melalui kegiatan ini, Aisyiyah Sleman meneguhkan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam pembangunan sumber daya manusia sekaligus menjaga keseimbangan antara kemajuan generasi dan kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan syawalan ini juga menjadi momentum mempererat silaturahmi serta memperkuat semangat kebersamaan antaranggota dalam menjalankan misi organisasi. (Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi)




Sinergi RS Condong Catur dan Kalurahan Perkuat Upaya Penurunan Stunting

Sleman – Komitmen dalam menekan angka stunting terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Rumah Sakit Condong Catur (RS CC) bersama Pemerintah Kalurahan Condongcatur menggelar siniar edukatif bertajuk “Sinergi Medis dan Strategi Wilayah: Upaya Terpadu Penurunan Stunting di Condongcatur”, yang dilaksanakan di RS Condongcatur, Selasa (14/4/2026).

Siniar ini menghadirkan narasumber dari sisi kebijakan dan medis, yaitu Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, serta dokter spesialis anak RS Condong Catur, dr. Dhyah Listya Palupi, yang dipandu oleh Kusdy Arjuna (Mr. Info) sebagai pembawa acara. Kegiatan ini akan segera ditayangkan melalui kanal YouTube resmi RS Condong Catur sebagai bagian dari edukasi publik.

Dalam pemaparannya, Lurah Condongcatur menyampaikan bahwa angka stunting di wilayahnya masih menjadi perhatian serius. Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 59 kasus, dan berhasil ditekan menjadi 51 kasus di tahun 2025. Penurunan ini merupakan hasil dari upaya berkelanjutan pemerintah kalurahan bersama tenaga kesehatan dan masyarakat.

Pemerintah Kalurahan Condongcatur terus menggencarkan berbagai program strategis, di antaranya Program DAHSYAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) yang berfokus pada pemberdayaan keluarga dalam mengolah pangan lokal bergizi, serta program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil berisiko.

Selain itu, penguatan 40 Posyandu juga dilakukan melalui kolaborasi aktif antara kalurahan, Puskesmas Depok II dan RS Condong Catur dengan dukungan kader-kader kesehatan profesional yang telah tersertifikasi oleh Dinas Kesehatan Sleman.

“Sinergi antara otoritas medis dan kebijakan anggaran di kalurahan adalah kunci. Kita tidak hanya memberikan bantuan makanan, tetapi juga memastikan sistem rujukan dari posyandu ke rumah sakit berjalan tanpa kendala,” ungkap Reno Candra Sangaji.

Sementara itu dari sisi medis, Dhyah menegaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, melainkan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Ia menjelaskan bahwa ciri-ciri stunting meliputi tinggi badan di bawah standar, penurunan kemampuan kognitif, serta tampilan wajah yang terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.

Lebih lanjut, Dhyah menekankan pentingnya ASI eksklusif, MPASI bergizi seimbang, pola asuh yang tepat, serta stimulasi dini melalui interaksi aktif dengan anak.

“Pemantauan tumbuh kembang secara rutin menjadi langkah krusial dalam memastikan anak tumbuh optimal,” ujarnya.

Ia juga memaparkan sistem rujukan terintegrasi dalam penanganan stunting, dimulai dari deteksi dini di Posyandu, pemeriksaan lanjutan di Puskesmas, hingga penanganan oleh dokter spesialis di rumah sakit jika diperlukan. Sistem ini memastikan setiap anak mendapatkan penanganan yang tepat dan terkoordinasi.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pencegahan stunting sebenarnya dapat dimulai sejak sebelum kehamilan. Program perencanaan kehamilan (promil) menjadi langkah penting, tidak hanya bagi pasangan yang mengalami kesulitan memiliki anak, tetapi juga sebagai upaya preventif untuk melahirkan generasi sehat. Asupan nutrisi seperti asam folat, zat besi, serta pemeriksaan kesehatan rutin menjadi faktor penting sejak awal.

“Tantangan terbesar yang masih dihadapi adalah rendahnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap program posyandu. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan dan pendekatan persuasif menjadi kunci dalam meningkatkan partisipasi masyarakat” ungkapnya Dhyah.

Melalui siniar ini, RS Condong Catur menegaskan perannya tidak hanya sebagai fasilitas layanan kesehatan, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan kolaborasi dalam upaya menciptakan generasi bebas stunting. RS Condong Catur menyediakan layanan lengkap mulai dari konsultasi tumbuh kembang anak, layanan kesehatan ibu dan anak, hingga pendampingan program kehamilan (promil) yang didukung oleh tenaga medis profesional dan fasilitas modern.

Masyarakat diharapkan dapat lebih aktif memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia serta rutin mengikuti kegiatan posyandu sebagai langkah nyata dalam pencegahan stunting. (Wasana / KIM Depok)




Koordinasi Kewaspadaan Dini dan Pembauran Kebangsaan Diperkuat, Sleman Gelar Rapat Lintas Forum

Sleman — Upaya memperkuat deteksi dini potensi gangguan sosial sekaligus memperkokoh persatuan di tengah masyarakat terus digencarkan pemerintah daerah. Salah satunya melalui rapat koordinasi yang melibatkan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) dan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman.

Kegiatan yang digelar pada Selasa (14/4/2026) di Griyo Dahar Taman Merdiko ini menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial di tingkat akar rumput. Rapat tersebut dihadiri para pengurus dan anggota FKDM serta FPK yang memiliki peran penting sebagai mitra pemerintah dalam memantau dinamika masyarakat.

Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Tempel, Heni Ristiawan, menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan komitmen para anggota FKDM dan FPK dalam menjaga stabilitas wilayah.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran FKDM dan FPK yang selama ini konsisten menjadi garda terdepan dalam menjaga kewaspadaan dini di masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menginformasikan bahwa ke depan, pertemuan rutin kedua forum tersebut tidak dapat dilaksanakan setiap bulan seperti sebelumnya. Hal ini merupakan dampak dari kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah pusat.

“Memang, ke depan pertemuan rutin tidak bisa dilakukan setiap bulan seperti sebelumnya karena adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat. Namun, hal ini tidak boleh menyurutkan semangat kita bersama,” tegas Heni.

Menurutnya, keterbatasan anggaran justru harus menjadi momentum untuk memperkuat inisiatif, komunikasi, dan koordinasi secara mandiri di lapangan.

“Semangat kebersamaan dan kepedulian sosial harus tetap menjadi kekuatan utama forum ini dalam menjalankan tugasnya,” sambungnya.

Sementara itu, Plt Panewu Tempel, Muhammad Arif Rahman menegaskan bahwa kolaborasi antara FKDM dan FPK menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks.

“Peran FKDM dan FPK sangat vital, terutama dalam mendeteksi potensi konflik sejak dini serta memperkuat nilai-nilai kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan informasi yang cepat di era digital turut membawa tantangan baru, mulai dari penyebaran hoaks hingga potensi gesekan sosial berbasis identitas. Oleh karena itu, sinergi antar elemen masyarakat menjadi kebutuhan mendesak.

“Koordinasi ini bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari ikhtiar bersama menjaga kondusivitas wilayah agar tetap aman, damai, dan harmonis,” tandas Arif.

Para peserta rapat juga diajak untuk meningkatkan sensitivitas sosial serta memperkuat komunikasi lintas kelompok. FKDM diharapkan mampu menjalankan fungsi deteksi dini secara optimal, sementara FPK berperan aktif dalam membangun jembatan antar komunitas yang beragam.

Salah satu peserta rapat, Imam Nayoko, menyampaikan bahwa forum seperti ini sangat membantu dalam menyamakan persepsi dan memperkuat jejaring di lapangan.

“Kami di lapangan sering berhadapan langsung dengan dinamika masyarakat. Dengan koordinasi seperti ini, kami jadi lebih siap dan terarah dalam mengambil langkah,” ungkapnya.

Langkah yang dilakukan di Sleman ini mencerminkan pendekatan preventif yang kini semakin diutamakan dalam tata kelola pemerintahan daerah di Indonesia. Tidak hanya berfokus pada penanganan masalah, tetapi juga pada pencegahan sejak dini melalui partisipasi aktif masyarakat.

Dengan semakin kuatnya sinergi antara pemerintah dan elemen masyarakat, diharapkan potensi konflik sosial dapat diminimalisir, sekaligus memperkuat fondasi persatuan bangsa di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)




Bangun Muslim Utuh, Kajian AKRAB Bahas Relasi Akhlak dan Syariat

Sleman — Wacana pemisahan antara akhlak dan syariat kembali menjadi sorotan dalam kajian keislaman bertajuk AKRAB (Aqidah Kokoh Relasi Aman Batin Tenang), yang kembali digelar di Omah Ketentreman Ayam Kremes Sehati Garongan Wonokerto, Turi, Sleman, pada Selasa (14/4/2026).

Kajian bertajuk “Kritik terhadap Dikotomi Akhlak dan Syariat” tersebut menghadirkan pemateri, Ustaz Iful Fitrah, yang saat ini tengah menempuh studi magister di bidang syariah di Hadramaut, Yaman. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa memisahkan akhlak dari syariat bukan hanya keliru secara konsep, tetapi juga berpotensi merusak cara pandang umat terhadap ajaran agama.

“Akhlak dan syariat itu bukan dua hal yang berdiri sendiri. Akhlak yang benar justru lahir dari ketaatan terhadap syariat. Jika syariat diabaikan, maka standar akhlak menjadi relatif dan mudah dipengaruhi oleh kepentingan manusia,” ujarnya.

Menurutnya, Islam tidak hanya menekankan nilai-nilai moral secara umum, tetapi juga memberikan kerangka aturan yang jelas sebagai pedoman hidup. Dalam konteks ini, syariat berfungsi sebagai fondasi, sementara akhlak menjadi manifestasi nyata dari ketaatan tersebut.

Ustaz Iful juga mengkritik kecenderungan sebagian masyarakat yang menilai kebaikan seseorang hanya dari sisi perilaku sosial, tanpa mempertimbangkan aspek kepatuhan terhadap ajaran agama. Padahal, dalam perspektif Islam, keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.

“Mengatakan ‘yang penting baik’ tanpa merujuk pada aturan Allah justru berbahaya. Karena ukuran ‘baik’ bisa berubah-ubah. Islam sudah menetapkan standar yang jelas melalui syariat,” tegasnya.

Kajian ini juga mengangkat pentingnya membangun pribadi muslim yang utuh. Tidak hanya baik dalam interaksi sosial, tetapi juga lurus dalam menjalankan ajaran agama.

Menurut Iful, pemahaman yang parsial terhadap Islam berpotensi melahirkan generasi yang kehilangan arah, baik secara moral maupun spiritual.

Menariknya, peserta kajian yang khusus jamaah laki-laki dan berasal dari berbagai latar belakang tampak antusias mengikuti diskusi yang berlangsung interaktif tersebut. Mereka tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan terkait fenomena sosial yang mereka temui sehari-hari.

Salah satu peserta, Nur Achmadi, mengaku kajian ini membuka perspektif baru dalam memahami hubungan antara akhlak dan syariat.

“Selama ini kita sering dengar ‘yang penting baik’, tapi ternyata tidak sesederhana itu. Kajian ini membuat saya lebih memahami bahwa kebaikan harus punya dasar yang jelas,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya dakwah yang mengedepankan penguatan pemahaman keislaman secara komprehensif. Di tengah arus modernitas dan relativisme nilai, kajian semacam ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara aspek spiritual dan sosial dalam kehidupan umat.

Dengan mengangkat tema yang relevan dan dekat dengan realitas masyarakat, kajian ini diharapkan mampu mendorong lahirnya kesadaran baru bahwa akhlak yang indah tidak bisa dilepaskan dari syariat yang lurus. Keduanya adalah satu kesatuan yang membentuk kepribadian muslim yang utuh. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)




Bupati Sleman Resmikan Masjid Baitul Makmur Karang Kalasan

Sleman — Bupati Kabupaten Sleman, Harda Kiswaya, meresmikan Masjid Baitul Makmur yang berlokasi di Dusun Karang Kalasan, Kalurahan Tirtomartani, Kapanewon Kalasan, Sabtu (11/4/2026).

Peresmian yang berlangsung di kompleks Masjid Baitul Makmur Karang Kalasan tersebut menandai selesainya pembangunan masjid pengganti dari Masjid Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP) yang terdampak proyek pembangunan jalan tol Jogja–Solo. Masjid lama harus direlokasi dan kini berdiri di lokasi baru yang berjarak sekitar 300 meter dari titik sebelumnya.

Ketua panitia, Sarjono, menjelaskan bahwa masjid baru dibangun dengan ukuran yang sama, yakni 17 x 17 meter persegi. Selain itu, dilakukan pula pengadaan lahan yang jauh lebih luas, mencapai meter persegi atau hampir satu hektare. “Hal ini menjadikan masjid sangat strategis untuk pengembangan ke depan,” ujarnya.

Wakil Ketua YAMP Pusat, Issantoso, menyampaikan bahwa secara nasional terdapat 999 masjid YAMP yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia menambahkan, terdapat dua masjid YAMP yang terdampak pembangunan jalan tol, yakni di Riau dan Yogyakarta, dan keduanya telah dibangun kembali sesuai ketentuan yang berlaku.

“Walaupun bangunannya berbeda, ciri khas YAMP seperti kubah dengan tulisan Allah dalam kotak segilima serta prasasti bertanda tangan Presiden RI ke-2 Soeharto tetap dipertahankan,” jelasnya. Ia juga menyebutkan bahwa di wilayah Yogyakarta terdapat 25 masjid YAMP, dengan 11 di antaranya berada di Sleman.

Sementara itu, Ketua Yayasan Ukhuwah Islamiyah mengungkapkan bahwa luas lahan yang kini mencapai lebih dari dua kali lipat dari sebelumnya membuka peluang pengembangan masjid menjadi pusat kegiatan keislaman. “Ke depan diharapkan menjadi masjid ramah musafir sekaligus Islamic Center Kalasan karena letaknya yang strategis di jalur utama Kalasan–Cangkringan,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Bupati Harda Kiswaya menyampaikan apresiasi atas kerja sama berbagai pihak, termasuk pihak pengembang jalan tol, dalam menghadirkan masjid yang lebih representatif. Ia berharap masyarakat dapat menjaga dan memakmurkan masjid tersebut.

“Masjid ini sudah dibangun dengan baik dan memiliki lahan yang luas. Mari kita rawat bersama. Para takmir diharapkan dapat menjalankan amanah dengan baik agar masjid ini tetap aman, nyaman, dan menjadi pusat kegiatan ibadah,” tuturnya.

Senada dengan itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan masjid secara optimal, seiring dengan luas lahan yang telah diperjuangkan dengan maksimal.

Dalam tausiah singkatnya, Bang Cooy mengingatkan bahwa membangun masjid bukanlah hal yang paling sulit, melainkan menjaga dan merawatnya. Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan masjid yang transparan dan akuntabel agar terhindar dari konflik internal.

Rangkaian acara ditutup dengan prosesi peresmian yang ditandai dengan pengguntingan pita di pintu utama masjid, dilanjutkan dengan memasuki area masjid untuk mulai dimanfaatkan sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya. (Srp / KIM Ngaglik)