Jaring Atlet Muda Berbakat, Kapanewon Ngaglik Siapkan Kontingen Menuju PORKAB Sleman 2026

Sleman — Kapanewon Ngaglik mulai memanaskan mesin kompetisi dengan menggelar seleksi ketat bagi para atlet muda berbakat sebagai persiapan menghadapi Pekan Olahraga Kabupaten (PORKAB) Sleman 2026. Sebanyak 98 atlet terbaik dari berbagai kalurahan ambil bagian dalam penjaringan ini untuk memperebutkan posisi di enam cabang olahraga unggulan.

Kegiatan seleksi yang berlangsung intensif pada Minggu hingga Senin, 12-13 April 2026, tersebut mencakup cabang olahraga atletik, futsal, voli, bulu tangkis, catur, dan tenis meja. Para peserta menunjukkan antusiasme luar biasa di berbagai gelanggang olahraga di wilayah Ngaglik demi membuktikan kualitas mereka sebagai putra-putri daerah yang layak mewakili kapanewon di tingkat kabupaten.

Ketua Koordinator Olahraga Kapanewon Ngaglik, Cahyo Wening, menyatakan bahwa semangat yang ditunjukkan para atlet muda ini menjadi modal berharga bagi prestasi olahraga daerah. Ia optimis bahwa proses seleksi yang transparan dan disiplin akan menghasilkan skuat yang kompetitif dan mampu berbicara banyak di ajang PORKAB mendatang.

“Semangat para peserta menjadi energi positif dalam membangun prestasi olahraga di Ngaglik. Kami berharap melalui proses seleksi ini akan lahir atlet-atlet terbaik yang mampu memberikan hasil maksimal dan membawa pulang medali di ajang PORKAB mendatang. Fokus kita bukan hanya partisipasi, tapi prestasi yang membanggakan,” ujar Cahyo Wening di sela-sela pemantauan seleksi.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan official cabang olahraga atletik, M Nur Setyo, menilai kualitas bibit-bibit muda yang muncul tahun ini sangat menjanjikan. Menurutnya, seleksi ini bukan hanya pintu masuk menuju PORKAB, melainkan juga batu loncatan bagi para atlet untuk menapaki jenjang kompetisi yang lebih tinggi seperti Pekan Olahraga Daerah (PORDA) DIY.

“Bibit-bibit muda yang muncul dalam seleksi ini sangat menjanjikan. Selain dipersiapkan untuk PORKAB, para atlet juga berpeluang untuk dilirik dalam ajang pencarian bakat yang nantinya dapat mengantarkan mereka ke ajang yang lebih tinggi. Kami sangat bangga melihat kedisiplinan mereka mengikuti arahan tim pelatih dan official,” kata M Nur Setyo.

Dengan kombinasi kerja keras atlet dan dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat, Kapanewon Ngaglik memasang target tinggi untuk mencetak prestasi gemilang di tingkat kabupaten. Penjaringan ini diharapkan menjadi langkah awal dari perjalanan panjang para atlet muda Ngaglik untuk menembus level nasional hingga internasional di masa depan. (ESK/KIM DSN Ngaglik)




Susun Program Kerja 2026, Takmir Masjid Besar Baiturrahman Klidon Prioritaskan Renovasi dan Transparansi

Sleman — Pengurus Masjid Besar Baiturrahman Klidon (MBBK) Sukoharjo, Ngaglik, resmi menggelar Rapat Kerja Takmir Masjid (RKTM) sebagai langkah nyata menjalankan amanah organisasi periode 2026, Minggu (12/4/2026). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut pascapengukuhan pengurus oleh Bupati Sleman pada Januari lalu, dengan fokus utama pada pembenahan fasilitas fisik serta penguatan manajemen keuangan yang akuntabel.

Rapat yang dihadiri oleh pengurus harian dan para ketua divisi ini menjadi ajang pemaparan rencana strategis yang akan dijalankan selama satu tahun ke depan. Dalam prosesnya, setiap divisi diminta menyusun program kerja yang terukur guna memastikan pelayanan kepada jamaah berjalan optimal dan profesional.

Ketua Takmir Masjid Besar Baiturrahman Klidon yang baru, Ujang Mukhsin, menekankan bahwa tugas ketakmiran adalah tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan prinsip kolektif kolegial. Ia mengingatkan bahwa kerja sama antar-divisi menjadi kunci agar seluruh program yang telah direncanakan tidak tumpang tindih dan dapat terlaksana sesuai target.

“Tugas ketakmiran ini adalah amanah dari jamaah yang harus kita niatkan sebagai ibadah untuk mendapatkan rida Allah SWT. Saya menekankan agar seluruh pengurus bekerja bersama-sama secara kolektif kolegial sehingga pekerjaan terbagi habis dan saling mendukung. Dalam manajemen anggaran, keuangan juga wajib dikelola secara transparan dan akuntabel. Jika transparansi ini terjaga, kepercayaan jamaah pasti meningkat dan dukungan pembiayaan untuk memakmurkan masjid akan mengalir dengan sendirinya,” ujar Ujang Mukhsin saat memberikan sambutan.

Dalam pemaparan program kerja yang disampaikan melalui presentasi digital tersebut, terdapat delapan divisi serta kesekretariatan dan perbendaharaan yang telah menyepakati skala prioritas. Untuk tahun 2026, takmir sepakat memberikan perhatian khusus pada peningkatan kenyamanan fasilitas utama ibadah.

Beberapa poin prioritas yang segera dieksekusi dalam waktu dekat antara lain pengadaan tujuh karpet baru untuk ruang utama serta renovasi total tempat wudu dan toilet. Pimpinan rapat menegaskan bahwa renovasi fasilitas sanitasi menjadi prioritas utama tahun ini agar jamaah dapat beribadah dengan lebih khusyuk dan nyaman.

Pasca-kesepakatan RKTM ini, setiap divisi diminta segera menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) secara detail. Program-program yang belum dapat terakomodasi pada tahun ini akan tetap dicatat sebagai bahan evaluasi untuk rencana kerja tahun berikutnya. Melalui perencanaan yang matang ini, Masjid Besar Baiturrahman Klidon diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan yang mandiri dan berdaya bagi masyarakat sekitar. (Suripto/KIM Ngaglik)




Wujudkan Lingkungan Bersih, Ibu-Ibu PKK Karangasem Condongcatur Gerakkan Sedekah Sampah

Sleman — Kelompok PKK RT 15 RW 12 Karangasem, Padukuhan Gempol, Kalurahan Condongcatur, menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui aksi Sedekah Sampah pada Minggu (12/4/2026). Langkah kecil yang diinisiasi oleh kaum ibu ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat dimulai dari lingkup terkecil seperti tingkat RT.

Sejak pagi, warga tampak antusias membawa berbagai jenis sampah anorganik rumah tangga yang telah dipilah, seperti botol plastik mineral, kardus, hingga tumpukan kertas bekas. Sampah-sampah bernilai ekonomi ini dikumpulkan untuk disalurkan melalui program sedekah sampah. Hasil dari penjualan sampah tersebut nantinya akan dikelola untuk kepentingan sosial, sehingga selain lingkungan menjadi bersih, warga juga mendapatkan manfaat secara kolektif.

Ketua PKK RT 15, Tatik, menegaskan bahwa gerakan ini merupakan upaya sederhana namun memiliki makna mendalam bagi keberlangsungan ekosistem di wilayahnya. Menurutnya, program ini secara tidak langsung mendidik masyarakat untuk mulai menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) dalam kehidupan sehari-hari guna mengurangi timbunan sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir.

“Kegiatan sedekah sampah ini adalah wujud kepedulian kami terhadap lingkungan dari hal yang paling kecil. Selain dapat memberikan hasil secara ekonomi untuk kas atau sosial, kegiatan ini juga secara otomatis membuat lingkungan pemukiman menjadi lebih bersih, rapi, dan sehat bagi anak-anak serta keluarga kami,” ujar Tatik di sela-sela kegiatan pengumpulan sampah.

Dukungan serupa juga datang dari warga setempat yang merasa sangat terbantu dengan adanya sistem jemput bola atau pengumpulan kolektif seperti ini. Salah satu warga, Andi Masmirah, mengaku senang karena sampah yang biasanya hanya menumpuk kini bisa memiliki nilai guna yang lebih baik. Ia berharap antusiasme warga yang tinggi saat ini dapat terus terjaga secara konsisten.

“Kami sangat menyambut baik inisiatif ini karena mempermudah warga dalam membuang sampah kering yang masih bisa didaur ulang. Saya berharap ke depan program sedekah sampah ini dapat terus berkembang, dilaksanakan secara rutin, dan memberikan manfaat yang jauh lebih luas bagi masyarakat Karangasem,” ungkap Andi Masmirah.

Pemerintah Kalurahan Condongcatur menyambut baik gerakan mandiri ini sebagai bagian dari solusi mengatasi krisis sampah daerah. Melalui konsistensi kegiatan sedekah sampah, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya semakin meningkat. Ke depan, gerakan ini diproyeksikan menjadi budaya baru di lingkungan Padukuhan Gempol demi menciptakan kualitas hidup yang lebih baik dan lingkungan yang berkelanjutan. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Tingkatkan Kualitas SDM, Satuan Pelayanan Gizi Nasional Sasar Kelompok Rentan di Sleman

Sleman — Upaya memperkuat ketahanan gizi masyarakat terus digencarkan melalui pendekatan berbasis komunitas dengan menempatkan kader kesehatan sebagai ujung tombak. Melalui sosialisasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang digelar di Ruang Pertemuan Kalurahan Lumbungrejo, Tempel, Senin (13/4/2026), pemerintah memperkuat edukasi dan pendampingan gizi guna mencetak generasi masa depan yang berkualitas.

Kegiatan ini menghadirkan jajaran pimpinan SPPG di wilayah Tempel untuk menyelaraskan program nasional dengan kebutuhan masyarakat di tingkat desa. Fokus utama pertemuan ini adalah memberikan pemahaman mendalam bagi para kader kesehatan mengenai peran strategis layanan gizi dalam intervensi pencegahan stunting serta kekurangan gizi kronis pada kelompok rentan.

Kepala SPPG Tempel Margorejo 2, Fauzi Adami, menjelaskan bahwa SPPG merupakan unit layanan di bawah naungan Badan Gizi Nasional yang mengelola penyediaan makanan bergizi secara terprogram. Unit ini berfungsi sebagai pusat layanan yang tidak hanya mendistribusikan asupan sehat, tetapi juga memastikan setiap menu yang diberikan memenuhi standar gizi seimbang bagi tumbuh kembang manusia.

“SPPG hadir sebagai pusat layanan gizi yang tidak hanya menyediakan makanan sehat, tetapi juga menjadi bagian dari intervensi pemerintah dalam mencegah masalah gizi seperti stunting. Layanan kami menyasar kelompok yang paling membutuhkan, mulai dari balita, ibu hamil, ibu menyusui, hingga para siswa menengah kejuruan agar mereka memiliki fisik yang kuat untuk belajar dan berkarya,” ujar Fauzi Adami di hadapan para kader kesehatan se-Kalurahan Lumbungrejo.

Dalam implementasinya, SPPG di wilayah Tempel telah rutin mendistribusikan makanan dengan komposisi gizi lengkap yang meliputi protein hewani seperti lele dan ayam, serta protein nabati, sayuran, dan buah-buahan. Saat ini, terdapat 19 titik layanan serupa yang telah beroperasi di seluruh wilayah Kabupaten Sleman sebagai bagian dari strategi nasional memperkuat ketahanan pangan dan gizi berbasis wilayah.

Apresiasi terhadap program ini disampaikan oleh Kamituwa Lumbungrejo, Suwanto, yang mewakili pemerintah kalurahan setempat. Ia menilai keberadaan kader kesehatan sebagai jembatan informasi sangat krusial agar program Badan Gizi Nasional ini dapat diterima dan dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat luas. Sinergi antara pemerintah dan relawan di lapangan diharapkan mampu menciptakan dampak nyata dalam jangka panjang.

“Kami sangat berharap sosialisasi ini memberikan manfaat nyata bagi para kader, sehingga informasi tentang pentingnya gizi dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat luas. Dengan pemahaman yang benar, masyarakat akan lebih sadar untuk menjaga pola makan sehat bagi keluarganya,” ungkap Suwanto.

Melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tenaga kesehatan dan partisipasi aktif kader desa, program pemenuhan gizi di Sleman kini bergeser dari sekadar pengobatan menjadi upaya pencegahan yang berkelanjutan. Langkah ini dipandang sebagai investasi besar negara dalam memastikan setiap warga negara memiliki akses terhadap asupan yang memadai demi mewujudkan sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Hadapi Tantangan Digital, Kesbangpol Sleman Bekali Warga Donoharjo Latihan Dasar Bela Negara

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) terus berupaya memperkokoh jiwa patriotisme masyarakat di tengah gempuran arus informasi digital. Hal ini diwujudkan melalui pembukaan Latihan Dasar Bela Negara yang dipusatkan di Balai Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Senin (13/4/2026).

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari hingga 15 April 2026 ini mengusung tema “Meneguhkan Kembali Bela Negara di Era Digital untuk Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa”. Sebanyak 60 perwakilan masyarakat dari berbagai unsur di Kalurahan Donoharjo dilibatkan secara aktif untuk mendalami nilai-nilai kebangsaan yang adaptif dengan perkembangan zaman.

Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Nurlia Ardianti Putri, saat membuka acara menyatakan bahwa penguatan rasa cinta tanah air merupakan tanggung jawab kolektif, termasuk lembaga legislatif. Menurutnya, di era digital yang penuh dengan potensi polarisasi, nilai-nilai bela negara harus menjadi kompas bagi masyarakat dalam berinteraksi dan menjaga harmoni sosial di tingkat akar rumput.

“Lembaga legislatif berkomitmen penuh mendukung program yang memperkuat nilai kebangsaan. Kita ingin memastikan bahwa setiap warga negara memiliki imunitas yang kuat terhadap ideologi yang dapat memecah belah bangsa, terutama melalui ruang digital. Semangat bela negara harus hadir sebagai solusi atas tantangan persatuan saat ini,” ujar Nurlia Ardianti Putri dalam sambutannya.

Senada dengan hal tersebut, narasumber dari Pusat Pengembangan Bela Negara UPN Veteran Yogyakarta, Hari Kusuma Satria Negara, menekankan bahwa bela negara bukan lagi sekadar kewajiban formal kenegaraan, melainkan panggilan moral yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mendorong peserta untuk menjadi agen perubahan yang menyebarkan semangat gotong royong di lingkungannya.

“Bela negara adalah panggilan moral setiap warga. Mulailah dari diri sendiri, lingkungan terdekat, dan teruskan ke masyarakat luas. Mari kita jaga Indonesia dengan cinta, aksi nyata, dan semangat gotong royong yang tidak pernah padam, khususnya di media sosial dan ruang publik lainnya,” tegas Hari Kusuma Satria Negara di hadapan para peserta.

Selain penguatan mental dan moral, peserta juga dibekali materi mengenai pertahanan negara yang disampaikan oleh Danramil Ngaglik, M. Mustofa. Dalam paparannya yang merujuk pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002, ia menekankan bahwa sistem pertahanan Indonesia bersifat semesta, yang artinya melibatkan seluruh komponen masyarakat sebagai kekuatan pendukung yang strategis.

Melalui pelatihan intensif ini, Kesbangpol Sleman berharap para peserta dapat menjadi motor penggerak dalam menjaga kondusivitas wilayah. Dengan pemahaman bela negara yang kontekstual, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menghadapi tantangan digital sekaligus menjadi garda terdepan dalam merawat keutuhan NKRI mulai dari level kalurahan. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)