Resmi Kantongi Nomor Induk Kebudayaan, Paguyuban Seni Budaya Tempel Komitmen Rawat Tradisi

Sleman — Ekosistem pelestarian seni budaya di wilayah Kabupaten Sleman mendapatkan penguatan baru dengan resminya Paguyuban Seni Budaya Tempel (PSBT) terdaftar di Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Pengukuhan ini ditandai dengan penyerahan Nomor Induk Kebudayaan Daerah secara resmi kepada pengurus paguyuban di Surowangsan, Margorejo, Tempel, Sabtu (11/4/2026).

Penyerahan surat keputusan dengan nomor registrasi tersebut dilakukan bertepatan dengan momentum Halalbihalal Syawal 1447 Hijriah. Kehadiran payung hukum formal ini menjadi babak baru bagi para penggiat seni di wilayah Tempel untuk lebih leluasa dalam mengembangkan serta mengakses kebijakan strategis pemerintah di bidang kebudayaan.

Ketua Paguyuban Seni Budaya Tempel, Wahyu Herlambang, mengungkapkan bahwa meski penetapan ini patut disyukuri, ada tanggung jawab besar yang kini dipikul oleh seluruh anggota. PSBT dituntut tidak hanya menjaga kelestarian seni yang masih eksis, tetapi juga memiliki misi besar untuk menghidupkan kembali berbagai kekayaan tradisi yang mulai pudar di tengah masyarakat.

“Penetapan ini adalah amanah bagi kami untuk terus bergerak. Seni budaya bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan yang mengandung nilai-nilai kehidupan luhur yang harus diwariskan turun-temurun. Di dalam warisan tradisi itu tersimpan nilai kebersamaan, kesabaran, serta penghormatan kepada alam yang menjadi identitas bangsa,” ujar Wahyu Herlambang saat memberikan sambutan.

Paguyuban ini memiliki keunikan tersendiri karena anggotanya berasal dari latar belakang profesi yang sangat beragam. Mulai dari seniman, guru, pengusaha, petani, hingga pensiunan, mereka bersatu dalam visi yang sama untuk merawat warisan tradisional. Keberagaman ini menjadi kekuatan bagi PSBT untuk melakukan pendekatan pelestarian budaya ke berbagai lapisan masyarakat secara lebih fleksibel.

Wahyu menambahkan bahwa tantangan ke depan tidaklah mudah, terutama terkait keterbatasan fasilitas dan pendanaan. Namun, semangat para anggota dipastikan tidak akan padam karena dorongan kecintaan yang besar terhadap tanah kelahiran. Baginya, kegiatan yang sederhana namun konsisten jauh lebih bermakna daripada seremoni besar tanpa keberlanjutan.

“Meskipun saat ini kami bergerak dalam keterbatasan, baik dana maupun fasilitas yang seadanya, kegiatan paguyuban harus tetap berjalan. Kami ingin menunjukkan bahwa kecintaan pada seni budaya tradisional di wilayah Tempel mampu mengalahkan segala keterbatasan fisik yang ada. Kami akan tetap konsisten memberikan laporan rutin sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan administratif kepada dinas,” tegas Wahyu.

Dengan resminya status hukum ini, Paguyuban Seni Budaya Tempel diharapkan mampu menjadi motor penggerak bagi bangkitnya pusat-pusat ekspresi budaya di tingkat kapanewon. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya kolektif masyarakat Sleman dalam menjaga ketahanan budaya di tengah gempuran modernisasi yang kian masif. (Sadhono Hadi/KIM Senyum)




Buka Ruang Dialog, DPRD Sleman Ajak Mahasiswa Terlibat Aktif Kawal Kebijakan Publik

Sleman — Lembaga legislatif Kabupaten Sleman menegaskan komitmennya untuk menyediakan ruang dialog yang konstruktif bagi kalangan mahasiswa guna menyerap aspirasi dan gagasan segar bagi pembangunan daerah. Hal tersebut ditekankan oleh Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Sleman, Ani Martanti, saat memberikan sambutan kunci dalam acara Pelantikan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sleman Masa Khidmat 2025-2026 di Pendhapa DPRD Sleman, Sabtu (11/4/2026).

Kegiatan yang dihadiri oleh berbagai tokoh nasional dan elemen organisasi kepemudaan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah. Dalam pandangan Ani Martanti, mahasiswa memegang posisi strategis sebagai jembatan antara kepentingan masyarakat dengan pemangku kebijakan. Oleh karena itu, DPRD Sleman menyatakan kesiapannya untuk menjadi mitra diskusi yang terbuka bagi setiap kritik maupun masukan yang bersifat membangun.

Ani Martanti menekankan bahwa peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial harus diwujudkan melalui cara-cara yang kritis namun tetap solutif. Ia mendorong mahasiswa untuk tidak ragu menyampaikan ide-ide kreatif melalui jalur komunikasi resmi dan forum diskusi yang sehat di lembaga legislatif. Menurutnya, keterlibatan pemuda adalah kunci dalam memastikan setiap kebijakan publik tetap berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

“Mahasiswa harus berani tampil, menyampaikan ide, dan terlibat aktif dalam proses pembangunan daerah. DPRD membuka ruang seluas-luasnya untuk diskusi, sehingga terjadi sinergi antara pemuda dan pemangku kebijakan. Kami ingin memastikan bahwa suara mahasiswa didengar secara langsung di rumah rakyat ini,” ujar Ani Martanti di hadapan ratusan aktivis mahasiswa.

Lebih lanjut, Ani menjelaskan bahwa kontribusi mahasiswa terhadap daerah tidak selalu harus dilakukan melalui aksi demonstrasi di jalanan. Ia melihat potensi besar jika mahasiswa mulai mengedepankan kajian ilmiah, riset mendalam, serta partisipasi aktif dalam program pemberdayaan masyarakat. Pendekatan berbasis data dan aksi nyata dinilai akan memberikan dampak positif yang lebih kuat dan berkelanjutan bagi kemajuan Kabupaten Sleman.

Selain membuka saluran aspirasi, DPRD Sleman juga menaruh harapan besar pada organisasi kemahasiswaan untuk lebih serius dalam melakukan kaderisasi. Program pengembangan kapasitas diri, seperti pelatihan kepemimpinan dan penguatan literasi digital, dianggap sangat mendesak untuk membentuk sumber daya manusia yang unggul dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman yang begitu cepat.

“Penguatan kapasitas kader dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan kepemimpinan hingga pengembangan keterampilan komunikasi publik. Dengan bekal tersebut, kader mahasiswa diharapkan mampu tampil sebagai pemimpin masa depan yang adaptif dan memiliki daya saing tinggi untuk membawa perubahan positif bagi bangsa,” tandasnya.

Langkah proaktif DPRD Sleman dalam menggandeng mahasiswa ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem demokrasi yang lebih inklusif dan partisipatif. Keterbukaan ini menjadi peluang emas bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam merumuskan arah masa depan daerah secara bermartabat dan intelektual. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Guru Adalah Pembangun Generasi, Bukan Penikmat

Sleman — Esensi profesi guru sebagai pembangun peradaban menjadi sorotan utama dalam kegiatan Halalbihalal Keluarga Besar Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kapanewon Depok. Dalam pertemuan yang digelar di Teatrikal Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga pada Sabtu (11/4/2026) tersebut, para pendidik diajak untuk merefleksikan kembali niat dan keteguhan hati dalam membimbing anak usia dini.

Akademisi dari Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), Joko Prasojo, menegaskan bahwa pengabdian di lembaga PAUD bukanlah sekadar aktivitas rutin pendidikan. Menurutnya, peran guru PAUD memiliki nilai filosofis mendalam sebagai investasi kehidupan yang manfaatnya akan kembali kepada diri sendiri, keluarga, serta masa depan para anak didik.

“Jiwa guru adalah membangun, bukan menikmati. Apa yang dilakukan di lembaga PAUD merupakan nilai kehidupan yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun keluarga. Membangun fondasi karakter anak bangsa membutuhkan usaha yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar menikmati hasil, sehingga setiap pendidik dituntut memiliki keteguhan dan kesungguhan hati,” ujar Joko Prasojo di hadapan ratusan pendidik PAUD.

Lebih lanjut, Joko mengingatkan para pendidik agar tidak goyah dalam menjalankan peran strategis mereka, termasuk mengenai persoalan kesejahteraan. Ia menekankan pentingnya keikhlasan sebagai pilar utama profesi guru. Hal ini juga selaras dengan perjuangan organisasi Himpaudi yang terus berupaya mendorong kesetaraan bagi guru PAUD nonformal agar mendapatkan pengakuan yang lebih baik di mata hukum dan negara.

“Jangan pernah galau dengan rezeki, karena setiap ketentuan sudah diatur oleh Allah. Yang perlu kita jaga bersama adalah niat dan keikhlasan dalam menjalankan peran mulia ini. Kita semua jangan sampai lupa untuk terus menginvestasikan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anak kita sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat kelak,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Joko juga memperkenalkan konsep dua “sayap” utama bagi pendidik, yakni salat dan sabar. Ia menjelaskan bahwa sabar bukan berarti bersikap pasif, melainkan sebuah aksi aktif untuk terus berusaha dan berikhtiar sembari mengharap rida Tuhan dalam mendidik anak-anak yang memiliki karakteristik beragam.

Kegiatan halalbihalal ini menjadi ruang refleksi kolektif bagi para pendidik PAUD di wilayah Kapanewon Depok untuk mempererat solidaritas. Melalui penguatan mental dan spiritual ini, para guru diharapkan tetap optimis serta konsisten dalam mengawal fase emas pertumbuhan anak-anak sebagai calon pemimpin masa depan. Pendidikan anak usia dini kembali ditegaskan sebagai pilar mutlak bagi lahirnya generasi yang berkualitas dan berkarakter. (Athiful/KIM Depok)




Persiapan PORKAB, Percasi Depok Jaring Bibit Atlet Melalui Turnamen Catur Terbuka

Sleman — Gedung Sasana Anglocitatama Kapanewon Depok menjadi arena adu strategi bagi 42 pecatur dari berbagai wilayah di Kabupaten Sleman pada Sabtu (11/4/2026). Pengurus Percasi Ranting Kapanewon Depok menggelar Turnamen Catur Terbuka Non-Master sebagai langkah nyata untuk menjaring bibit atlet potensial di tingkat daerah.

Ajang ini bukan sekadar kompetisi biasa, melainkan fondasi penting untuk membentuk mentalitas juara sejak usia dini. Selain memupuk kecintaan pada seni catur, turnamen ini secara spesifik disiapkan untuk menyongsong agenda Pekan Olahraga Kabupaten (PORKAB) Sleman yang akan segera digelar.

Ketua Percasi Kabupaten Sleman, Nurhadi Indrawijaya, menekankan bahwa keberanian tampil dalam turnamen resmi adalah kunci utama bagi pengembangan pemain junior. Ia berharap turnamen di tingkat kapanewon ini dapat memunculkan talenta-talenta baru yang siap memperkuat kontingen daerah.

“Menang atau kalah adalah hal biasa, namun membangun keberanian tampil di ajang turnamen adalah kunci bagi pemain yunior. Terlebih, pada Mei mendatang kita akan menghadapi even PORKAB. Turnamen di Kapanewon Depok ini menjadi sarana seleksi untuk menjaring atlet yang akan kami persiapkan secara matang menuju ajang tersebut. Saya berharap hasil hari ini menjadi pelecut semangat bagi para juara untuk terus mengasah diri,” ujar Nurhadi Indrawijaya saat memberikan sambutan.

Semangat kompetisi tersebut disambut baik oleh pemerintah setempat. Panewu Anom Depok, Heri Subagyo, menyampaikan bahwa ajang ini merupakan ruang silaturahmi sekaligus tempat belajar bagi para pegiat catur. Sebagai bentuk dukungan, pihak kapanewon membuka secara resmi kompetisi tersebut melalui langkah pertama secara simbolis pada papan catur.

Berdasarkan hasil pertandingan yang berlangsung ketat, kategori Juara Yunior khusus wilayah Depok berhasil dimenangkan oleh Raja Ferdinan Abraham sebagai Juara I, disusul oleh Deri Azka Alfatih di posisi kedua, dan Dzakiandra Ibrahim Alfatih di posisi ketiga.

Sementara itu, pada kategori Kelas Umum yang diikuti peserta lintas wilayah, Yudan dari Mlati keluar sebagai Juara I. Di posisi kedua kembali ditempati oleh Raja Ferdinand Abraham dari Depok, disusul Aundra Altafiano Ardhana dari Gamping di posisi ketiga, dan Endang Wahyudin dari Ngemplak di peringkat keempat. Peringkat lima hingga sepuluh juga diisi oleh para pecatur berbakat dari Godean, Tempel, hingga Ngaglik.

Kegiatan yang berlangsung lancar ini menandai kesiapan mental dan teknis para atlet catur Sleman sebelum terjun ke level kompetisi yang lebih tinggi pada bulan depan. Kehadiran bibit-bibit unggul ini diharapkan mampu menjaga kesinambungan prestasi olahraga catur di Kabupaten Sleman. (Lidya Agustina/KIM Depok)




Ubah Sampah Jadi Berkah, Warga Dabag Sleman Konsisten Gerakkan Sedekah Sampah Teratai Kuning

Sleman — Kesadaran masyarakat Kabupaten Sleman dalam mengelola sampah secara mandiri terus menunjukkan tren positif yang inovatif. Salah satunya dibuktikan oleh warga Padukuhan Dabag, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, yang secara rutin menginisiasi Gerakan Sedekah Sampah Teratai Kuning. Program ini tidak hanya fokus pada pengurangan timbunan sampah di tingkat rumah tangga, tetapi juga menyulapnya menjadi instrumen bantuan sosial bagi warga yang membutuhkan.

Gerakan ini mengajak warga untuk menyumbangkan sampah kering yang masih memiliki nilai ekonomis, seperti botol plastik, kertas, hingga kardus. Sampah-sampah terpilah tersebut kemudian dikumpulkan dan dikelola untuk dikonversi menjadi dana sosial. Melalui cara ini, warga berhasil menekan pencemaran lingkungan sekaligus menciptakan sumber pendanaan mandiri untuk kegiatan kemanusiaan di lingkungan setempat.

Pegiat Sedekah Sampah Teratai Kuning, Maryati, menegaskan bahwa esensi dari gerakan ini adalah mengubah persepsi masyarakat terhadap limbah. Menurutnya, sampah yang selama ini dianggap beban justru bisa menjadi berkah jika dikelola dengan ketulusan dan manajemen yang baik. Dana yang terkumpul dari penjualan sampah tersebut dialokasikan untuk menyantuni kaum dhuafa serta mendukung operasional kegiatan sosial lainnya.

“Sedekah sampah merupakan gerakan sosial-lingkungan yang mengonversi sampah terpilah menjadi berkah. Selain efektif mengurangi timbunan sampah yang dibuang ke lingkungan, dana yang dihasilkan sangat membantu operasional dan pemberian bantuan bagi dhuafa di wilayah Padukuhan Dabag,” ujar Maryati saat ditemui pada Sabtu (11/4/2026).

Lebih lanjut, Maryati menjelaskan bahwa hasil pengelolaan sampah ini juga dimanfaatkan untuk menambah kas rumah ibadah dan membantu jamaah yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Program ini secara tidak langsung telah mengampanyekan perubahan perilaku masyarakat agar lebih bertanggung jawab terhadap konsumsi harian mereka. Dengan menyedekahkan sampah layak guna, masyarakat diajak untuk lebih peka terhadap kebersihan sekaligus solidaritas sosial.

Inovasi sosial di tingkat lokal ini menjadi contoh nyata bahwa penanganan krisis sampah dapat dimulai dari skala terkecil tanpa harus menunggu instruksi besar. Maryati berharap inisiatif serupa dapat tumbuh di wilayah lain di Sleman guna menciptakan lingkungan yang lebih asri dan bebas dari polusi plastik yang kian mengkhawatirkan.

“Kami sangat berharap gerakan ini dapat diperluas sehingga kita bisa bersama-sama mewujudkan lingkungan yang bersih dan mengurangi polusi secara signifikan. Sedekah sampah membuktikan bahwa kepedulian terhadap alam dan sesama manusia bisa berjalan beriringan dalam satu langkah nyata,” pungkas Maryati.

Gerakan Sedekah Sampah Teratai Kuning ini sekaligus memperkuat peran aktif masyarakat Sleman dalam pengelolaan sampah berbasis sumber. Langkah ini dipandang sangat relevan dengan upaya pemerintah daerah dalam menciptakan ekosistem lingkungan yang sehat, bersih, dan berkelanjutan demi masa depan generasi mendatang. (Athiful/KIM Depok)