Komunikasi Persuasif, Senjata Utama Penyuluh Lingkungan Hidup

Sleman – Kemampuan public speaking dan keterampilan berkomunikasi kini menjadi kompetensi utama yang wajib dimiliki oleh penyuluh lingkungan hidup dan fasilitator. Tidak hanya menyampaikan informasi, mereka juga dituntut mampu membangun kepercayaan, menggerakkan partisipasi, serta mengubah perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Hal itu diungkapkan Founder dan Psikolog ARETE Consultante, Vincentius Wedha dalam kegiatan Workshop Training of Trainers (TOT) Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah Kabupaten Sleman Tahun 2026, Rabu (8/4/2026) di Prima SR Hotel and Convention. Kegiatan ini diikuti oleh 33 peserta yang akan berperan aktif dalam edukasi dan pendampingan masyarakat di bidang lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, public speaking ditekankan sebagai proses berbicara di depan khalayak dengan tujuan tertentu, mulai dari menyampaikan informasi hingga mempengaruhi dan menggerakkan audiens. Kemampuan ini menjadi bagian penting dari komunikasi publik yang melibatkan berbagai komponen seperti komunikator, pesan, media, komunikan, gangguan, dan konteks.

Di tengah meningkatnya tantangan isu lingkungan seperti pengelolaan sampah dan perubahan iklim, pendekatan komunikasi yang persuasif dinilai lebih efektif dibanding sekadar penyampaian data. Penyuluh dituntut mampu menyederhanakan pesan yang kompleks agar mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat.

“Public speaking bukan sekadar berbicara di depan orang banyak, tetapi bagaimana kita bisa menyentuh cara berpikir dan perasaan audiens,” ujar Wedha di hadapan peserta.

Ia menjelaskan bahwa keterampilan komunikasi memiliki peran strategis bagi kader lingkungan, di antaranya untuk mempermudah proses edukasi dan sosialisasi, mempersuasi dan mendorong perubahan perilaku, memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, menangani keluhan dan resistensi, serta meningkatkan partisipasi masyarakat.

Wedha pun menekankan pentingnya kemampuan mendengar aktif sebagai bagian dari komunikasi efektif. Penyuluh tidak hanya dituntut menyampaikan materi, tetapi juga memahami kebutuhan serta kondisi masyarakat yang dihadapi.

“Komunikasi itu dua arah. Penyuluh yang baik adalah mereka yang mampu mendengarkan sebelum memberikan solusi,” tandasnya.

Selain itu, penggunaan bahasa yang sederhana dan relevan dengan kehidupan sehari-hari menjadi faktor penting dalam keberhasilan penyampaian pesan. Pendekatan yang terlalu teknis justru berpotensi menjadi hambatan dalam komunikasi di lapangan.

“Kalau kita bicara dengan istilah ilmiah yang rumit, pesan tidak akan sampai. Gunakan bahasa yang membumi agar masyarakat merasa dekat,” ungkap Wedha.

Ia juga mengingatkan adanya hambatan dalam public speaking dan komunikasi, terutama dari faktor eksternal seperti penolakan, sikap apatis masyarakat, gangguan lingkungan, hingga keterbatasan sarana dan prasarana.

Kepercayaan diri dan empati pun menjadi fondasi penting dalam membangun komunikasi yang efektif. Penyuluh yang mampu tampil percaya diri namun tetap rendah hati dinilai lebih mudah diterima oleh masyarakat.

“Orang tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi juga merasakan bagaimana kita menyampaikannya,” jelasnya.

Dengan penguasaan keterampilan komunikasi yang baik, para penyuluh lingkungan hidup dan fasilitator diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang efektif. Mereka diharapkan dapat mendorong kesadaran kolektif masyarakat serta menciptakan dampak nyata dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Satlat Demak Ijo Sleman Pertahankan Tradisi Bancakan sebagai Wujud Syukur Prestasi

Sleman – Tradisi bancakan yang dilakukan Satuan Latihan (Satlat) Tarung Derajat Demak Ijo Sleman, Rabu malam (8/4/2026) di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden menjadi momentum penting dalam meneguhkan rasa syukur atas keberhasilan para petarungnya dalam berbagai ajang kompetisi. Kegiatan ini bukan sekadar makan bersama, melainkan sarat nilai kebersamaan, solidaritas, dan penghormatan terhadap proses panjang yang telah dilalui.

Pelatih Satlat Tarung Derajat Demak Ijo, Feriyadi menegaskan bahwa tradisi ini merupakan bagian dari pembinaan karakter atlet. Tidak hanya fokus pada prestasi, namun juga membangun mental yang rendah hati dan tidak mudah berpuas diri meskipun telah meraih kemenangan.

Menurutnya, keberhasilan dalam kompetisi merupakan hasil kerja keras kolektif yang melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu, bancakan menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan bersama sekaligus sarana mempererat hubungan antaranggota.

“Bancakan digelar secara sederhana namun penuh makna, dengan menyajikan hidangan yang dinikmati bersama di atas alas daun pisang. Suasana keakraban begitu terasa ketika para petarung, pelatih, dan pengurus duduk sejajar tanpa sekat, mencerminkan semangat kesetaraan dalam keluarga besar tarung derajat,” ungkap Feriyadi.

Para petarung pun menyambut kegiatan ini dengan antusias. Mereka merasakan bahwa bancakan menjadi ruang refleksi atas perjalanan latihan yang penuh disiplin dan pengorbanan. Momen ini juga menjadi pengingat bahwa setiap capaian harus disertai rasa syukur.

Selain itu, tradisi bancakan dapat memperkuat nilai-nilai kearifan lokal yang terus dijaga di tengah modernisasi dunia olahraga. Satlat Tarung Derajat Demak Ijo menunjukkan bahwa prestasi tinggi dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya tradisional.

Lebih lanjut, Muhammad Ruslan yang juga pelatih tarung derajat di Satlat Demak Ijo menambahkan, kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi atlet muda agar memahami pentingnya menghargai proses. Dengan duduk bersama dan berbagi makanan, mereka belajar perihal arti kebersamaan, solidaritas, dan saling menghormati.

“Di sisi lain, bancakan memperlihatkan kepada masyarakat bahwa olahraga bela diri seperti tarung derajat memiliki dimensi sosial dan budaya yang kuat. Masyarakat akan memahami bahwa olahraga bela diri bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang nilai-nilai sosial, moral, dan budaya yang dijaga oleh petarung dan pengurus,” timpalnya.

Dengan terus mempertahankan tradisi bancakan, keluarga besar Satlat Tarung Derajat Demak Ijo berharap semangat kebersamaan, rasa syukur, dan disiplin akan tetap menjadi fondasi dan energi positif bagi petarung dalam menghadapi kompetisi berikutnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Pastikan Jaminan Kesehatan Tepat Sasaran, Kapanewon Depok Verifikasi Data BPJS Nonaktif

Sleman — Pemerintah Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, bergerak cepat melakukan verifikasi faktual terhadap data peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan yang berstatus nonaktif. Langkah ini dilakukan melalui pengecekan langsung ke lapangan atau ground check di Padukuhan Dero, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kamis (9/4/2026).

Kegiatan yang melibatkan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) ini bertujuan untuk menyisir kembali data warga agar program jaminan kesehatan yang dibiayai oleh pemerintah benar-benar menyasar masyarakat yang membutuhkan. Petugas mendatangi satu per satu rumah calon penerima manfaat guna memverifikasi kondisi sosial ekonomi terkini serta mencocokkan kesesuaian data administrasi kependudukan.

Perwakilan Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Subekti Handayani, menegaskan bahwa validasi data secara langsung merupakan instrumen penting untuk menjamin kualitas penyaluran bantuan sosial. Hal ini dilakukan guna menghindari adanya bantuan yang tidak tepat sasaran akibat data yang sudah tidak relevan atau tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

“Ground check dilakukan dengan mendatangi langsung calon penerima manfaat untuk memverifikasi kondisi sosial ekonomi serta kesesuaian data administrasi di lapangan. Dari hasil verifikasi ini, kita akan mendapatkan data penting yang dibutuhkan sehingga jaminan kesehatan benar-benar diberikan kepada mereka yang memang berhak menerima,” ujar Subekti Handayani di sela kegiatan verifikasi.

Subekti juga mengimbau agar proses pendataan ini berjalan secara objektif dan transparan. Ia meminta masyarakat untuk memberikan informasi sejujur-jujurnya mengenai kondisi ekonomi keluarga kepada petugas, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penetapan status penerima bantuan.

“Kami sangat mengharapkan peran aktif masyarakat untuk memberikan data yang akurat dan sesuai dengan kenyataannya. Kejujuran informasi ini sangat krusial karena kita ingin bantuan pemerintah benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga kurang mampu,” tambahnya.

Melalui langkah proaktif ini, Pemerintah Kapanewon Depok berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan publik di sektor kesejahteraan sosial. Verifikasi berkala seperti ini diharapkan mampu menciptakan sistem jaminan kesehatan yang lebih efektif, akuntabel, dan berkelanjutan bagi seluruh warga di wilayah Kabupaten Sleman. (Athiful/KIM Depok)




Atasi Krisis Sampah, Pemkab Sleman Targetkan Satu Padukuhan Satu Kelompok Pengelola Mandiri

Sleman — Kabupaten Sleman kini tengah berpacu dengan waktu untuk membenahi sistem pengelolaan limbah menyusul laporan kinerja periode 2020–2025 yang menunjukkan perlunya perubahan strategi besar-besaran. Pertumbuhan penduduk yang pesat serta penutupan TPA Piyungan menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk segera meninggalkan pola lama dan beralih ke pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat.

Langkah strategis ini dipertegas dalam Workshop Training of Trainers (TOT) Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) tahun 2026 di Hotel dan Convention Prima SR, Rabu (8/4/2026). Sebanyak 33 pendamping dari wilayah Sleman Barat, meliputi Kapanewon Seyegan, Godean, Minggir, dan Moyudan, dibekali kemampuan teknis untuk mengawal transformasi pengelolaan sampah di tingkat akar rumput.

Koordinator Pendamping Kawasan DLH Kabupaten Sleman, Dias Oktri Raka Setiadi, mengungkapkan bahwa model pembuangan terbuka atau open dumping yang selama ini dipraktikkan harus segera dihentikan. Selain merusak estetika, pola tersebut memicu munculnya gas metana yang berisiko ledakan serta polusi lindi yang membahayakan kesehatan lingkungan.

“Permasalahan sampah menjadi tantangan yang semakin kompleks seiring pertumbuhan penduduk. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan sampah yang terpadu dengan melibatkan berbagai pihak. Kita tidak bisa lagi sekadar membuang, tetapi harus mengelola sejak dari sumbernya guna menghindari risiko gas rumah kaca maupun dioksin berbahaya akibat pembakaran sampah yang tidak tepat,” ujar Dias Oktri Raka Setiadi di hadapan para peserta.

Berdasarkan data tahun 2025, setiap individu di Sleman rata-rata menghasilkan 0,36 kilogram sampah per hari, dengan dominasi sampah organik mencapai 52 persen. Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman mencanangkan target ambisius yakni pembentukan satu Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) di setiap padukuhan. KPSM ini dapat berupa bank sampah, sistem sedekah sampah, maupun tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R).

“Kami menargetkan satu padukuhan memiliki satu KPSM. Fokus utama pendampingan ini adalah memastikan setiap wilayah mampu melakukan pemilahan dan pengolahan sampah dari tingkat rumah tangga. Melalui sistem digital Siosestu, seluruh aktivitas KPSM akan terdaftar secara resmi di DLH, sehingga memudahkan proses operasional, monitoring, hingga evaluasi secara transparan dan real-time,” tegas Dias.

Untuk memperkuat gerakan ini, Pemkab Sleman juga menggandeng berbagai elemen masyarakat mulai dari relawan JPSM Sehati, Asosiasi TPS3R Resep, hingga anggota Pramuka Saka Kalpataru. Para petugas P3S yang baru dilatih ini akan memiliki masa kontrak sembilan bulan untuk melakukan sosialisasi di 17 kapanewon serta memfasilitasi pembentukan KPSM baru yang mandiri dan aktif.

Indikator keberhasilan program ini nantinya akan diukur dari peningkatan persentase pengolahan sampah dalam Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). Dias menekankan bahwa TOT ini hanyalah langkah awal dari perjuangan panjang menciptakan Sleman yang aman, sehat, resik, dan indah melalui gerakan ASRI yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat.

“TOT ini adalah tahapan awal untuk membekali pendamping dalam melakukan fasilitasi di lapangan. Keberhasilan kita akan diukur dari seberapa banyak KPSM yang aktif dan mampu masuk dalam jajaran pengelola terbaik. Dengan langkah serentak ini, kami optimistis Sleman mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Borong 56 Medali dan Juara Umum POPDA DIY, Prestasi Satlat Demak Ijo Jadi Potret Keberhasilan Pembinaan Atlet Pelajar di Kabupaten Sleman

Sleman — Capaian gemilang Satuan Latihan (Satlat) Tarung Derajat Demak Ijo yang sukses mengoleksi 56 medali dalam lima tahun terakhir menjadi indikator kuat kemajuan pembinaan olahraga di Kabupaten Sleman. Keberhasilan ini dinilai bukan sekadar kemenangan di atas matras, melainkan refleksi dari sehatnya ekosistem pembinaan atlet muda yang kini tengah berkembang pesat di wilayah tersebut.

Dominasi Satlat Demak Ijo, khususnya saat meraih predikat Juara Umum cabang olahraga tarung derajat pada POPDA DIY 2026, menggambarkan bahwa pola pembinaan di tingkat akar rumput telah berjalan selaras dengan target pemerintah daerah. Hal ini membuktikan bahwa sinergi antara satuan latihan, sekolah, dan orang tua mampu melahirkan atlet-atlet kompetitif yang siap bersaing di kancah provinsi maupun nasional.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Agung Armawanta, menegaskan bahwa prestasi kolektif tersebut merupakan bukti nyata bahwa manajemen olahraga di Sleman berada pada jalur yang benar. Keberhasilan Satlat Demak Ijo menjadi barometer bagi cabang olahraga lain dalam hal konsistensi pembinaan dan pengembangan bakat sejak dini.

“Capaian prestasi yang diraih para atlet di ajang POPDA DIY 2026 merupakan indikator positif bagi perkembangan olahraga pelajar di Kabupaten Sleman. Ini menunjukkan bahwa pembinaan di tingkat sekolah dan satuan latihan telah berjalan dengan sangat baik. Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama satlat, tetapi juga memperkuat posisi Sleman sebagai kekuatan utama olahraga di DIY,” ujar Agung Armawanta di Banyuraden, Rabu malam (8/4/2026).

Selain keunggulan teknik, perkembangan atlet di Sleman kini juga menitikberatkan pada penguatan karakter dan integritas. Pola pembinaan yang dilakukan di Satlat Demak Ijo menjadi contoh bagaimana seorang petarung dibentuk untuk tidak hanya tangguh di arena, tetapi juga memiliki disiplin dan etika yang tinggi di kehidupan sehari-hari.

Menanggapi tren positif ini, Pemerintah Kabupaten Sleman terus menunjukkan komitmennya dengan merencanakan pemberian bonus penghargaan bagi para peraih medali. Langkah strategis ini diambil untuk menjaga momentum prestasi dan memastikan motivasi atlet muda di Sleman tetap tinggi dalam menatap kompetisi-kompetisi mendatang.

“Langkah ini merupakan wujud komitmen pemerintah daerah dalam memberikan motivasi sekaligus penghargaan atas dedikasi dan perjuangan para atlet. Kami optimistis bahwa potensi atlet muda di daerah masih sangat besar dan perlu terus didorong melalui ekosistem pembinaan yang solid dan berkelanjutan,” tandas Agung.

Keberhasilan Satlat Demak Ijo kini menjadi inspirasi bagi berbagai organisasi olahraga lainnya di Sleman. Dengan pola pembinaan yang terstruktur dan dukungan penuh dari pemerintah daerah, Kabupaten Sleman diproyeksikan akan terus menjadi lumbung atlet berbakat yang berkontribusi bagi kemajuan olahraga nasional. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)