Tekan Angka Anak Tidak Sekolah, Pemkab Sleman Dorong Pelatihan Vokasi Sebagai Solusi Mandiri

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman terus memperkuat strategi penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) dengan mengedepankan pendekatan keterampilan praktis. Melalui kegiatan sosialisasi dan verifikasi data yang digelar di Youth Center Yogyakarta, Tlogoadi, Kamis (9/4/2026), pemerintah daerah mendorong jalur pendidikan nonformal dan pelatihan vokasi sebagai alternatif strategis bagi generasi muda yang terputus dari jalur sekolah formal.
Kegiatan ini menghadirkan praktisi dari Balai Latihan Kerja (BLK) untuk memberikan perspektif solusi yang lebih aplikatif bagi permasalahan sosial ekonomi yang sering menjadi akar penyebab anak putus sekolah. Fokus utama dalam pertemuan ini adalah bagaimana memberikan bekal nyata agar anak-anak tersebut tetap memiliki daya saing dan produktivitas meski berada di luar sistem sekolah konvensional.
Instruktur BLK Sleman, Muhammad Faishal Fakhri Wibowo, menekankan bahwa jalur vokasi harus dipandang sebagai peluang besar untuk mencetak tenaga kerja mandiri. Menurutnya, anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah tetap memiliki hak untuk berkembang melalui penguasaan keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
“Tidak semua anak harus kembali ke jalur pendidikan formal. Yang terpenting adalah mereka tetap mendapatkan keterampilan yang relevan agar bisa mandiri dan produktif. Melalui pelatihan di BLK, mereka dipersiapkan tidak hanya untuk menjadi tenaga kerja yang siap pakai, tetapi juga memiliki mentalitas untuk membuka peluang usaha sendiri di masyarakat,” ujar Muhammad Faishal Fakhri Wibowo di hadapan para peserta.
Berbagai program kejuruan ditawarkan sebagai solusi konkret, mulai dari tata boga, teknologi informasi, teknik las, otomotif, hingga teknisi ponsel dan kelistrikan. Keberagaman pilihan ini diharapkan mampu mengakomodasi minat bakat anak-anak ATS sehingga mereka kembali terhubung dengan ekosistem ekonomi yang lebih luas. Program-program tersebut dirancang secara intensif untuk mengasah kemampuan teknis sekaligus penguatan soft skill.
Sinergi antara pemerintah daerah, lembaga pelatihan, dan elemen masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini. Verifikasi data lapangan yang dilakukan secara akurat menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk memastikan setiap bantuan atau intervensi pelatihan tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi nyata yang dihadapi oleh masing-masing anak.
Antusiasme peserta, termasuk perwakilan dari 33 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Sleman, menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa penanganan ATS membutuhkan pendekatan yang fleksibel. Dengan melibatkan instruktur ahli, kegiatan ini membuka wawasan baru bahwa pendidikan berkualitas dapat ditempuh melalui jalur keterampilan yang langsung menyentuh dunia kerja.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari kontribusi nyata Kabupaten Sleman dalam mendukung agenda nasional peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui optimalisasi jalur vokasi, diharapkan tidak ada lagi generasi muda di Sleman yang tertinggal dalam proses pembangunan daerah hanya karena hambatan akses pendidikan formal. (SBD/KIM Senyum Tempel)



