Kawal Kesejahteraan Petani, Kalurahan Margorejo Gelar Public Hearing Pengawasan Regulasi Pertanian

Sleman — Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, memperkuat komitmennya dalam melindungi hak-hak petani melalui pengawasan kebijakan yang partisipatif. Langkah ini diwujudkan dengan menggelar forum public hearing bertajuk Pengawasan Pelaksanaan Peraturan Daerah DIY Nomor 11 Tahun 2020 tentang Pelindungan dan Pemberdayaan Petani yang berlangsung di ruang pertemuan Kalurahan Margorejo, Sabtu (4/4/2026).

Kegiatan strategis ini menjadi ruang evaluasi bersama antara pemerintah, legislatif, dan kelompok tani se-Margorejo guna memastikan regulasi tersebut berjalan efektif di tingkat akar rumput. Forum ini juga bertujuan mengidentifikasi berbagai kendala aktual yang dihadapi petani, mulai dari persoalan distribusi pupuk, fluktuasi harga hasil panen, hingga kebutuhan mendesak akan pendampingan teknologi pertanian modern.

Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan, menegaskan bahwa pengawasan kebijakan bukan hanya monopoli pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Sebagai penerima manfaat utama, petani didorong untuk berani memberikan masukan kritis agar implementasi peraturan di lapangan tidak melenceng dari tujuan awal pemberdayaan.

“Kami ingin memastikan bahwa Perda ini tidak hanya dipahami secara administratif, tetapi juga benar-benar diawasi bersama pelaksanaannya di sawah-sawah kita. Peran petani sangat penting dalam memberikan masukan langsung agar kebijakan ini terus diperbaiki dan benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujar Abdul Azis Muh Ridwan di hadapan perwakilan kelompok tani.

Senada dengan hal tersebut, Anggota Komisi C DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan, Haris Sugiharta, menekankan bahwa legislatif memiliki kewajiban moral untuk mengawal fungsi pengawasan secara ketat. Menurutnya, sinergi antara fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan harus berjalan seimbang agar alokasi dana daerah benar-benar menyentuh sektor prioritas seperti pertanian yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan.

“Sebagai wakil rakyat, kami memiliki tiga fungsi utama yang harus dijalankan. Pertama, legislasi untuk menyusun regulasi yang berpihak pada rakyat. Kedua, fungsi anggaran untuk memastikan dana mendukung sektor pertanian. Dan ketiga, fungsi pengawasan untuk memastikan seluruh program berjalan sesuai aturan serta tepat sasaran. Forum ini adalah bagian dari fungsi pengawasan tersebut,” tegas Haris Sugiharta.

Narasumber utama dalam kegiatan ini, Susanto Budi Raharjo yang merupakan Staf Ahli Fraksi PDI Perjuangan DIY, mengulas secara komprehensif bahwa regulasi pelindungan petani harus mencakup jaminan akses sarana produksi dan perlindungan terhadap risiko usaha tani. Tanpa mekanisme kontrol yang kuat dari masyarakat, program pemberdayaan berpotensi menjadi tidak optimal dan kehilangan substansinya.

Diskusi yang dipandu oleh Carik Margorejo, Ariyanto Wibowo, ini berhasil menjaring berbagai aspirasi krusial yang diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah. Melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah kalurahan, DPRD, dan para petani, Margorejo berupaya menciptakan tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel demi mewujudkan kesejahteraan petani yang berkelanjutan di wilayah Sleman. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Hujan Angin Terjang Condongcatur, BPBD Sleman dan Relawan Sigap Evakuasi Pohon Tumbang di Tiga Lokasi

Sleman — Cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah Kelurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Jumat (3/4/2026) sore. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul WIB tersebut mengakibatkan sejumlah pohon tumbang dan kerusakan bangunan di tiga titik lokasi berbeda, namun dipastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Titik pertama berada di area parkir Hotel Grand Keisha, di mana dua pohon berdiameter 30 sentimeter roboh menimpa pagar hotel. Tak berselang lama, pohon sonokeling berdiameter 40 sentimeter di kawasan Terminal Condongcatur juga patah dan menimpa jaringan listrik serta kios rumah makan milik warga bernama Abdul Hakim. Kerusakan material dilaporkan terjadi pada bagian atap kios akibat hantaman dahan pohon yang cukup besar.

Jagabaya Condongcatur, Rudi Antariksawan, menjelaskan bahwa Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Sleman bersama relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) Condongcatur langsung bergerak cepat melakukan asesmen dan pemotongan pohon di lokasi kejadian. Sinergi antara petugas, Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta warga setempat membuat proses pembersihan material pohon yang melintang dapat diselesaikan dalam waktu singkat sehingga akses jalan dan area publik kembali kondusif.

“Dalam kejadian di area terminal, kios milik Abdul Hakim mengalami kerusakan pada bagian genteng dan usuk. Meski demikian, kami bersyukur tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Tim di lapangan langsung melakukan pemotongan pohon menggunakan gergaji mesin untuk mengamankan lokasi dan mencegah bahaya lebih lanjut dari jaringan listrik yang tertimpa,” ujar Rudi Antariksawan saat meninjau proses evakuasi.

Dampak angin kencang juga dilaporkan terjadi di Jalan Puri Gejayan, Kaliwaru. Sapuan angin yang menyerupai puting beliung mengakibatkan kerusakan pada beberapa rumah warga, termasuk kediaman milik Subagyo yang dihuni oleh enam jiwa. Selain merusak bagian atap rumah, terjangan angin juga memutus kabel sambungan listrik di area pemukiman tersebut, yang kemudian langsung dikoordinasikan dengan pihak PLN untuk penanganan lebih lanjut.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada BPBD Sleman, para relawan kebencanaan, serta masyarakat yang sangat sigap dalam merespons bencana ini. Menurutnya, koordinasi yang solid antara perangkat wilayah dan tim pencari fakta di lapangan menjadi kunci utama cepatnya pemulihan kondisi lingkungan pasca-badai.

“Terima kasih atas kerja sama dan sinergi yang sangat baik sehingga kejadian pohon tumbang di wilayah Condongcatur dapat dengan cepat teratasi. Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah, terutama ketika hujan deras disertai angin kencang. Jangan berteduh di bawah pohon besar maupun baliho karena sangat rawan roboh saat angin kencang menerjang,” pungkas Reno Candra Sangaji. (Wasana/KIM Depok)




Bentengi Anak dari Gempuran Media Sosial, Dosen UMY Berikan Edukasi Pola Asuh Islami bagi Warga Merdikorejo

Sleman — Di tengah masifnya paparan konten digital yang kian sulit terbendung, peran orang tua dalam membentuk karakter anak menjadi tantangan yang semakin kompleks. Merespons kondisi tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar pelatihan pola asuh Islami bagi pengurus Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah di lingkungan Merdikorejo, Kapanewon Tempel, Sleman.

Kegiatan yang berlangsung di Aula SD Muhammadiyah Gondanglegi ini diikuti oleh 60 peserta. Fokus utama pelatihan adalah memberikan panduan praktis bagi orang tua agar mampu menjaga kualitas mental dan spiritual anak di era disrupsi informasi. Hal ini dipandang krusial karena tanpa arahan yang jelas, anak-anak berisiko lebih banyak menyerap nilai-nilai dari media sosial dibandingkan didikan orang tua.

Dosen Prodi Manajemen UMY, Siti Syah Handayani, menekankan bahwa dalam pandangan Islam, anak merupakan titipan sekaligus ujian keimanan yang harus dijaga dengan penuh kehati-hatian. Menurutnya, orang tua memiliki kewajiban utama untuk memberikan asupan nilai yang tepat pada pemikiran anak sejak dini, terutama mengenai ketauhidan, adab, dan sopan santun.

“Anak adalah ladang pahala sekaligus perhiasan dunia bagi orang tua. Di tengah gempuran media sosial yang bertubi-tubi, orang tua harus ekstra waspada dalam memberikan input pada pemikiran anak. Kita harus membangun karakter mereka dengan nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab agar mereka memiliki filter yang kuat terhadap konten-konten yang tidak jelas arahnya,” ujar Siti Syah Handayani di hadapan para orang tua.

Selain aspek pola asuh, penguatan ideologi organisasi juga menjadi poin penting dalam pertemuan tersebut. Dosen Hubungan Internasional UMY, Sugeng Riyanto, memaparkan strategi pengenalan Muhammadiyah sejak dini sebagai langkah awal pengkaderan yang natural. Ia menyarankan penggunaan media audio visual, pemasangan simbol organisasi di rumah, hingga mengajak anak mengunjungi amal usaha Muhammadiyah agar mereka merasa memiliki kedekatan emosional dengan gerakan tersebut.

Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Merdikorejo, Ida Eri Kurniawati, menyambut baik inisiatif akademisi UMY ini dan berharap kolaborasi serupa dapat terus berlanjut di masa depan. Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap aktivitas dakwah di tingkat ranting, pihak UMY juga menyerahkan hibah berupa pengeras suara aktif dan sejumlah gulung tikar untuk menunjang kegiatan rutin warga Muhammadiyah dan Aisyiyah setempat.

Sinergi antara dunia perguruan tinggi dan organisasi masyarakat ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan keluarga yang tangguh secara spiritual dan adaptif secara sosial. Dengan pembekalan yang tepat, para orang tua di Merdikorejo diharapkan dapat menjadi benteng pertama bagi anak-anak mereka dalam menghadapi tantangan zaman yang kian dinamis. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Saring Talenta Sains Terbaik, UNY Gelar Seleksi Tahap II Kontingen ONMIPA-PT 2026

Sleman — Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tancap gas mempersiapkan delegasi terbaiknya untuk berlaga di ajang bergengsi Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ONMIPA-PT) tahun 2026. Sebanyak 41 mahasiswa terpilih mengikuti pembinaan intensif sekaligus seleksi tahap II yang dipusatkan di Gedung Magister-Doktor FMIPA UNY, Sabtu (4/4/2026).

Para peserta yang lolos hingga tahap ini terbagi dalam empat bidang keilmuan utama, yakni Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses panjang penjaringan dan pemantapan kualitas akademik mahasiswa sebelum diterjunkan ke tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung di Universitas Airlangga, Surabaya, di bawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Koordinator ONMIPA-PT UNY, Tsania Nur Diyana, menegaskan bahwa seleksi tahap kedua ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan instrumen krusial untuk mengukur kesiapan mental dan ketajaman analisis mahasiswa. Menurutnya, persaingan di tingkat nasional menuntut standar kemampuan pemecahan masalah yang sangat tinggi.

“Melalui pembinaan ini, kami berupaya menguatkan pemahaman konsep, kemampuan analisis, serta ketajaman problem solving mahasiswa pada masing-masing bidang. Seleksi tahap II menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa kontingen yang dikirim benar-benar siap bersaing dan membawa pulang prestasi di tingkat nasional. Kami ingin memastikan setiap mahasiswa memiliki mental juara sebelum berangkat ke Surabaya,” ujar Tsania Nur Diyana di sela-sela kegiatan.

Mekanisme pembinaan dilakukan dengan pola yang ketat, mencakup pendalaman materi lanjutan, latihan soal berbasis standar olimpiade internasional, hingga evaluasi performa secara berkala. Tsania menambahkan bahwa ajang ONMIPA-PT yang telah rutin digelar sejak 2009 ini merupakan wadah strategis bagi universitas untuk mencetak generasi saintifik yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki integritas dan daya saing global.

Partisipasi aktif UNY dalam ajang ini juga selaras dengan semangat “Kampus Berdampak” yang terus digaungkan oleh pihak rektorat. Dengan penguatan riset dan kompetisi ilmiah, UNY berharap dapat melahirkan inovator-inovator muda yang mampu berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

“ONMIPA menciptakan atmosfer berkompetisi dan berprestasi yang sehat, serta mendorong tumbuh kembangnya budaya silih asuh di lingkungan pendidikan tinggi. Kami percaya bahwa dengan persiapan yang matang, kontingen UNY mampu memberikan performa terbaiknya dan menunjukkan kualitas riset serta keilmuan saintifik yang kita miliki di kancah nasional,” pungkas Tsania. (Athiful/KIM Depok)




Jagawarga Sardonoharjo Sleman, Transformasi Jaga Keamanan Jadi Penggerak Ekonomi Jahe Merah

Sleman — Organisasi Jagawarga di Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, membuktikan bahwa peran penjaga keamanan lingkungan kini telah bertransformasi menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi. Tidak sekadar melakukan piket ronda rutin, para personel Jagawarga di Padukuhan Jetis Baran kini sukses mengembangkan budidaya jahe merah skala industri di lereng Gunung Merapi, Jumat (3/4/2026).

Langkah inovatif ini dimotori oleh kelompok tani Jagawarga milenial di bawah kepemimpinan Suparjan. Sebanyak pohon jahe merah telah ditanam dengan sistem pengelolaan modern. Menariknya, proyek pertanian ini telah menjalin kemitraan strategis dengan salah satu perusahaan jamu terbesar di Indonesia. Kerja sama tersebut mencakup penyediaan bibit unggul, pendampingan teknis, hingga jaminan serapan hasil produksi untuk industri farmasi nasional.

Ketua Jagawarga Sardonoharjo, Suparjan, menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari keinginan warga untuk memiliki organisasi yang tidak hanya konsumsi, tetapi juga produktif. Melalui pemberdayaan lahan, para anggota Jagawarga kini memiliki sumber penghasilan tambahan yang berkelanjutan sembari tetap menjalankan fungsi pengamanan wilayah.

“Kami ingin Jagawarga menjadi organisasi yang mandiri dan memiliki manfaat ekonomi nyata bagi anggotanya. Penanaman pohon jahe merah ini adalah langkah awal untuk membuktikan bahwa pemuda dan warga senior bisa berkolaborasi di bidang agrobisnis. Dukungan bibit dan pembinaan dari perusahaan jamu nasional memastikan bahwa produk yang kami hasilkan memenuhi standar kualitas industri,” ujar Suparjan di Rumah Jagawarga Jetis Baran.

Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo memberikan apresiasi tinggi terhadap model ketahanan sosial berbasis ekonomi ini. Jagabaya Sardonoharjo sekaligus Kepala Bagian Pemerintahan Kalurahan, Cahyo Wening, menyatakan kesiapan pemerintah desa untuk memfasilitasi penggunaan tanah kalurahan bagi pengembangan usaha pertanian warga tersebut. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa sinergi dengan sektor swasta di wilayah Sardonoharjo telah membuka sekitar lowongan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat.

“Atas nama pemerintah kalurahan, kami sangat bangga melihat kemandirian Jagawarga. Ini adalah bentuk nyata ketahanan sosial di mana warga mampu menjaga keamanan sekaligus membangun ekonomi. Kami siap mendukung melalui akses lahan kalurahan agar skala produksi jahe merah ini bisa terus diperluas, sehingga kesejahteraan warga benar-benar meningkat,” ungkap Cahyo Wening.

Dari sisi keamanan, eksistensi Jagawarga tetap menjadi tulang punggung ketertiban wilayah. Ketua LPMKal Unit Padukuhan Jetis Baran, Agus Istiyadi, menjelaskan bahwa koordinasi keamanan selalu terintegrasi dengan Bhabinkamtibmas dan Babinsa. Silaturahmi rutin di Rumah Jagawarga menjadi kunci utama dalam meredam potensi konflik dan menjaga kondusivitas lingkungan di wilayah penyangga Yogyakarta ini.

“Kunci kekuatan kami adalah kekompakan dan komunikasi yang tidak pernah putus. Sinergi dengan aparat TNI dan Polri memastikan setiap jengkel wilayah terpantau aman, sementara program ekonomi memastikan warga tetap bersemangat dan solid dalam berorganisasi. Kami ingin model Jagawarga di Sardonoharjo ini menjadi percontohan nasional dalam membangun ketahanan masyarakat yang adaptif dan berkelanjutan,” tutur Agus Istiyadi. (ESK/KIM DSN)